Food Security Defined

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 3 Juni 2020

Food Security Defined

Kalau food security itu dipahami sebagai tersedianya beras secara cukup, pasti kita akan mengalami banyak kesulitan untuk mencapainya. Produksi beras membutuhkan lahan-lahan yang paling subur di Jawa dengan air yang melimpah, sedangkan ketersediaan lahan dan air ini yang semakin hari semakin menjadi kendala ketika penduduk tumbuh.

 

Bila food security itu dipahami kita bisa terus membeli gandum yang cukup untuk membuat roti dan mie instan, pasti cadangan devisa kita akan terus tersedot untuk impor bahan pangan yang justru bertolak belakang dengan konsep food security itu sendiri.

 

Bila kita persepsikan food security itu adalah ketersediaan dan keterjangkauan harga daging  dan produk ternak lainnya bagi kebanyakan masyarakat kita, pasti kita justru akan semakin tergantung pada negara lain melalui dua cara, yaitu impor daging dan susu dari negeri-negeri yang bisa memproduksinya dengan murah, atau impor bahan baku pakan ternak yang terus meningkat agar kita bisa memproduksi daging, susu dan telur sendiri secara cukup.

 

Bila food security kita persepsikan pada kecukupan dan keterjangkauan bahan makanan pokok lainnya seperti gula, pasti kita juga akan terus memilih impor saja - karena meskipun Indonesia pernah menjadi eksportir gula terbesar di dunia tahun 1929, kini hampir seabad setelahnya kita menjadi salah satu negeri pengimpor gula terbesar di dunia. Produksi dalam negeri kita tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, dan kalau kita paksakan juga belum tentu menarik secara ekonomis.

 

Untungnya persepsi-persepsi tersebut di atas adalah salah semua. Food security atau ketahanan pangan telah didefinisikan dengan sangat baik oleh para ahlinya hampir seperempat abad lalu. Bila saja masing-masing negara memperhatikan dan memahami secara seksama definisi tersebut dan mengambil langkah yang semestinya, maka bukan hanya negara yang bisa memiliki ketahanan pangan, masing-masing daerah-pun bisa memenuhi ketahanan pangannya sendiri-sendiri.

 

Mari sekarang kita perhatikan definisi ketahanan pangan atau Food Security tersebut menurut World Food Summit 1996 yang saya kutip dari dokumen resminya FAO :

 

            Food security exists when all people, at all times, have physical and economic access            to sufficient, safe and nutritious food that meets their dietary needs and food             preferences for an active and healthy life”. (World Food Summit, 1996)

 

Perhatikan kata-kata kuncinya, antara lain terkait sufficient, safe, nutritious food, dietary needs dan healthy life. Dari definisi ini tidak ada satu-pun yang mengharuskan kita dapat memenuhi kebutuhan terhadap specific commodity tertentu seperti beras, gandum, daging, gula dan lain sebagainya. Artinya pemenuhan kebutuhan bahan pangan tersebut bisa dari bahan apa saja.

 

Sekarang kita lihat apa yang dibutuhkan manusia sebagai makanannya agar dia bisa memenuhi dietary needs-nya dan bisa hidup sehat ?

 

Pertama adalah kebutuhan karbohidrat, ini untuk memenuhi kebutuhan energinya. Bisa dipenuhi dari aneka biji-bijian seperti padi, gandum, jagung dan lain sebagainya. Tetapi karbohidrat juga ada di buah-buahan dan bahkan juga sebatas tertentu ada juga di sayuran, jadi kebutuhan karbohidrat ini relatif mudah dipenuhi karena banyak opsinya.

 

Kedua kebutuhan akan lemak, ini selain untuk energi, untuk menunjang pertumbuhan, juga untuk berbagai fungsi tubuh yang lain. Sumber lemak ini juga banyak, bisa dari hewani maupun nabati. Banyak sekali hasil tanaman yang mudah ditanam dan menghasilkan minyak yang baik, seperti kacang tanah dan kedelai untuk tanaman jangka pendek, juga kelapa dan avocado untuk tanaman jangka panjang. Artinya pemenuhan kebutuhan lemak yang baik juga banyak opsinya.

 

Ketiga adalah protein, selain sebagai sumber energi juga untuk pertumbuhan. Lagi-lagi sumber protein ini juga sangat banyak, baik yang bersifat hewani maupun nabati. Jadi pemenuhan kebutuhan ini bisa dari aneka jenis hewan dan ikan, baik yang kecil maupun yang besar selagi ada, kalau tidak ada juga tidak kurang hasil tanaman yang bisa menggantikannya seperti kedelai dan hasil kacang-kacangan lainnya.

 

Tidak kalah dengan kebutuhan yang bersifat makro dari karbohidrat, lemak dan protein tersebut, untuk bisa hidup sehat manusia juga membutuhkan unsur mikro sampai yang terkecilnya. Mulai dari vitamin dan mineral untuk menjalankan fungsi-fungsi tubuh dan membangun ketahanannya, phytonutrient untuk antioksidan dan fungsi ketahanan tubuh lainnya, aneka enzim untuk membantu pencernaan dan metabolisme sel dan yang tidak kalah penting adalah hormon yang antara lain memfasilitasi agar umat manusia bisa terus berkembang biak sehingga tidak punah.

 

Kabar baiknya adalah hampir keseluruhan unsur-unsur mikro tersebut dapat dipenuhi dengan aneka sayur dan buah yang mudah tanam sendiri di pekarangan sekitar kita atau setidaknya tidak harus impor dari negeri lain.

 

Jadi, intinya untuk mencapai food security, negeri subur seperti kita amat sangat memungkinkan untuk bisa mencapainya justru ketika kita kembali ke prinsip dasar apa yang dimaksud food security seperti yang didefinisikan dalam World Food Summit tersebut diatas. Kita jangan terkecoh dengan usaha-usaha yang justru mengalihkan kita dari upaya ini karena demi kepentingan kelompok-kelompok tertentu yang mengambil keuntungan terbesar dari perdagangan bahan pangan besar, seperti beras gandum daging dan gula, yang mereka berdalih untuk ketahanan pangan, padahal sejatinya adalah untuk mencari keuntungan semata untuk dirinya atau kelompoknya sendiri.

 

Kita juga jangan terkecoh untuk merusak alam dengan membanjiri lahan-lahan kita dengan pupuk-pupuk kimia dan aneka pestisida dengan alasan untuk bisa mencapai ketahanan pangan, karena mayoritas kelompok tanaman yang secara cukup memenuhi kebutuhan pangan yang bernutrisi dan sehat itu tidak membutuhkan pupuk-pupuk kimia apalagi pestisida.

 

Pemenuhan kebutuhan pangan itu sifatnya fitrah dan ini pasti bisa diupayakan tanpa merusak dan mengganggu kesetimbangan alam. Dan bagi ummat yang beriman sebenarnya petunjuk itu sangat jelas. Bila manusia pada umumnya membutuhkan setidaknya 9 komponen makanan, sebut saja mulai dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, serat, fitonutrien, enzim, hormon, dan entah apa lagi yang ilmu manusia akan menemukan kebutuhan kita lainnya, sesungguhnya kita dimudahkan Allah bagi yg percaya dan yakin bahwa semua kebutuhan unsur di dalam makanan tersebut sepenuhnya terpenuhi dari rangkaian ayat-ayat-NYA di QS 80: 27-32 .

 

Jadi kalau Anda susah-susah mendefiniskan makanan yang sehat itu apa, coba Anda hafalkan 6 ayat tersebut diatas dan lihatlah di sekitar Anda yang mungkin di tanam untuk memenuhinya, misalnya bila disebutkan kurma dan anggur, maka idealnya ini 2 jenis buah-buahan yang diunggulkan namun bukan berarti kalau tidak ada buah ini kita tidak bisa makan yang sehat, banyak sekali penggantinya yang tidak kalah sehatnya juga di sekitar kita seperti pisang mangga dan lain sebagainya.

 

Disebut pula disitu zaitun, ini memang mengandung keistimewaan karena disebut setidaknya di 7 ayat di Al-Qur'an tentang zaitun ini, salah satunya resep untuk penggunaannya yaitu dengan mencelup atau melumuri atau mengolesi makanan kita dengannya (QS Al-mu'minun: 20). Fungsi lemak ini selain menambah selera, juga menjadi pelarut untuk beberapa fitonutrien yang ada di makanan kita. Tetapi, kalau tidak ada zaitun bisa juga kita gantikan misalnya dengan minyak kelapa atau bahkan bisa juga dengan buah alpukat. Karena selain alpukat mengandung minyak yang sangat banyak, dia juga mengandung enzim lipase dan dia juga akan bisa melarutkan banyak fitonurien agar mudah diserap oleh tubuh kita.

 

Hampir semua tanaman yang disebut di ayat-ayat tersebut diatas mudah kita carikan pengganti di sekitar kita. Jadi, berpegang kepada ayat-ayat ini, kita seharusnya dapat memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri. Bahkan kita juga diingatkan Allah kalau kita lalai dalam memperhatikan makanan kita ini, kita distempel sebagai orang-orang yang tidak menjalankan perintah-NYA. Maka kita harus secara sungguh-sungguh memperhatikan makanan kita ini. (QS 80: 23&24).