Distributed FEW

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 13 Agustus 2020

Distributed FEW

Pandemi Covid-19 yang berdampak sangat luas secara global dan memukul ekonomi dunia ke situasi krisis yang terburuk setelah perang dunia ke-2 harusnya menyisakan pelajaran yang sangat-sangat penting bagi seluruh umat manusia di zaman super modern ini. Bahkan di zaman yang semua teknologi begitu maju, ternyata kita tidak berdaya melawan musuh bersama yang begitu kecil yang tiba-tiba saja meluluh-lantakan ekonomi dunia.

 

Pelajarannya antara lain adalah bahwa virus ini sendiri menyebar dengan begitu pesat justru di era globalisasi karena pergerakan dan interaksi manusia yang sangat global nyaris tidak ada tempat di dunia yang bebas dari virus ini, kecuali daerah-daerah terpencil yang interaksinya dengan manusia lain terbatas.

 

Bahkan di tingkat nasional, upaya untuk mengisolasi daerah demi daerah pun ternyata tidak mudah, karena begitu banyak ketergantungan satu daerah terhadap daerah lainnya dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Dari sini seharusnya kita bisa memetik pelajaran yang sangat berharga di antaranya adalah bagaimana seharusnya suatu negara atau suatu daerah bisa semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri, sehingga memiliki daya tahan yang lebih baik bila kejadian seperti pandemi Covid-19 ini berulang di masa depan.

 

Belajar dari masa lalu dimana ketika Eropa mengalami Black Death virus yang sangat ganas yang membunuh ribuan orang di Eropa Barat pada abad ke-16, itu pun tidak sampai ke Eropa Timur, Turki dan sebelah timurnya Turki karena saat itu pergerakan manusia tidak sebesar saat ini. Lantas apakah kita harus mengisolir diri kembali ke zaman dimana teknologi, transportasi, dan telekomunikasi belum semaju sekarang? Jawabannya tentu tidak. Kita justru harus bisa belajar dari teknologi yang sangat maju, contohnya di bidang teknologi informasi salah satunya dengan apa yang disebut Blockchain.

 

Pada dasarnya Blockchain adalah distributed ledgers dengan mengandalkan bukan pada satu komputer untuk menyimpan data, tetapi dengan sejumlah besar nodes yang satu sama lain saling memverifikasi dan bisa saling menggantikan. Jadi dengan konsep distributed ledgers inilah teknologi Blockchain dikenal istilah 'no single point of failure', kegagalan pada satu node tidak bisa menggagalkan seluruh sistem.

 

Lantas apakah konsep seperti ini bisa dijalankan untuk pemenuhan kebutuhan kita? Secara filosofi sangat memungkinkan. Khususnya pada pemenuhan kebutuhan pokok di bidang Food Energy and Water. Saya melihat peluang besar untuk menggunakan sistem distributed tersebut sehingga ketahanan pangan, energi dan air menjadi jauh lebih baik, sehingga negara bahkan juga daerah-daerah lebih mudah bertahan jika situasi seperti pandemi Covid-19 ini berulang.

 

 

 

Berikut contoh aplikasi distributed resources pada pemenuhan kebutuhan pangan, energi dan air. Di bidang pangan awalnya kita mempunyai bahan pokok makanan yang sendiri-sendiri di masing-masing daerah. Bahan pangan pokok diproduksi dan dikonsumsi di daerah tersebut. Ada daerah yang memproduksi beras, maka daerah tersebut makan beras, ada daerah yang memproduksi jagung dia makan jagung, ada daerah yang memproduksi sagu dia makan sagu dan seterusnya.

 

Namun setengah abad terakhir, terjadi sentralisasi bahan makanan ini menjadi semua makan beras, dan sebagian beras ini harus diimport oleh institusi pemerintah dan didistribusikan ke segenap penjuru. Konsep bahan kebutuhan pokok berupa makanan yang tadinya terdistribusi, setengah abad terakhir telah menjadi tersentralisasi atau paling banter terdesentralisasi.

 

Contoh lain di bidang makanan adalah terjadi juga setengah abad terakhir dimana ada introduksi makanan baru yang tiba-tiba saja menjadi seperti makanan pokok kedua bagi bangsa ini. Makanan tersebut adalah mie instan yang tentu saja proses pengadaannya sangat tersentralisasi karena bahan baku utamanya pun sepenuhnya diimport.

 

Lantas apa memungkinkan di zaman seperti ini kita mendesentralisasi atau bahkan mengembalikan ke konsep terdistribusinya bahan makanan pokok kita, dimana bahan pokok diporduksi di seluruh wilayah dan digunakan di daerah tempat produksinya, baru kelebihannya untuk diperdagangkan dengan daerah lain yang membutuhkan ?

 

Mestinya sangat bisa dan harusnya bisa berjalan lebih cepat. Ketika awal-awalnya mie instan diperkenalkan ke masyarakat negeri ini pada tahun 70-an, saat itu belum ada teknologi internet apalagi sosial media, tetapi dengan kepandaian para pemasar dengan berbagai bentuk iklannya, mereka bisa menggiring preferensi makanan kita menjadi tiba-tiba saja kita memiliki makanan pokok kedua, yaitu mie instan yang hadir di setiap krisis.

 

Bahkan di musim pandemi Covid-19 ini dia menjadi bahan makanan yang hampir selalu ada di setiap rumah, stocknya pun diperebutkan dari gerai-gerai yang menjualnya. Sekarang di era sosial media dan teknologi informasi internet berkecepatan tinggi, seharusnya lebih mudah lagi untuk memperkenalkan konsep makanan yang sehat dan bisa diproduksi oleh setiap kita di lingkungan kita masing-masing.

 

Bila kita perhatikan petunjuknya dalam surat 'Abasa ayat 27 - 32, kita diberi petunjuk yang lengkap tentang jenis-jenis makanan untuk kita. Dari sejumlah makanan yang disebut dalam 6 ayat tersebut, satu ayat atau 1/6 bagian menyebut tentag biji-bijian, dan satu ayat lagi yang menyebut tentang produk hewani, selebihnya 4 dari 6 ayat adalah terkait dengan buah-buahan, sayur, dan rempah.

 

Maka kalau makanan kita dengan konsep seperti ini, yaitu sedikit makan biji-bijian, sedikit makan produk hewan, tetapi banyak banyak makan buah dan sayur maka kita seharusnya akan memiliki ketahanan pangan yang jauh lebih baik sampai ke daerah-daerah. Karena berbeda dengan biji-bijian yang butuh tanah khusus untuk memproduksinya dan ternak yang juga membutuhan bahan makanan dari biji-bijian pada umumya, sedangkan buah, sayur dan rempah bisa kita tanam di tanah yang sangat terbatas sekalipun.

 

Bahkan dengan teknologi kekinian, buah, sayur dan rempah bisa ditanam secara vertikal dengan teknolgi hidroponik dan lain sebagainya, sehingga tidak ada alasan bagi setiap kita untuk bisa memproduksi paling tidak sebagian dari kebutuhan makanan kita.

 

Kalau kampanye banyak-banyak makan buah dan sayur ini dilakukan secara masif, dan toh ini pun yang sering dianjurkan oleh para dokter, maka selain membangun ketahanan pangan, kita juga akan menciptakan pasar baru yang sangat besar bagi setiap daerah yang mau menggerakannya dan pasarnya ada di depan mata kita sendiri yaitu siapa saja yang mebutuhkan bahan makanan yang sehat. Inilah konsep distributed food yang bisa mulai kita fikirkan implementasinya dan bisa menjadi peluang siapa pun yang mau menekuninya.

 

Untuk energi pun demikian, saat ini kebutuhan energi kita dipenuhi secara sangat tersentralisir oleh segelintir BUMN dan perusahaan besar yang bergerak di bidang energi. Bisa jadi ini yang paling efisien ketika sumber energi kita adalah hasil tambang yang dikeruk dari perut bumi karena untuk eksplorasinya membutuhkan investasi yang besar. Hal yang sama juga hanya bisa dilakukan perusahaan besar bila sumber energi itu adalah menyangkut investasi-investasi besar seperti membangun bendungan untuk PLTA dan lain sebagainya.

 

Tetapi energi masa depan tidak harus sama dengan energi yang kita gunakaan saat ini, bahkan untuk saat ini pun energi untuk daerah-daerah terpencil belum tentu energi tersentralisir ini yang paling efisien. Bisa jadi harga minyak dalam posisi terendah seperti sekarang tetapi masyarakat di daerah terpencil siapa pun yang memenuhi kebutuhan energi tetap merogoh kantongnya dalam-dalam karena biaya pengiriman energinya yang besar. Bahkan tidak jarang bahan bakar pun harus diangkut pesawat larena inilah satu satunya jalan untuk mengantar bahan bakar ke daerah terpencil tersebut.

 

Di sisi lain energi alternatif juga tersedia sangat beragam. Ada biomasa yang melalui proses gasifikasi dengan mudah bisa diubah menjadi listrik dan bahkan juga bahan bakar cair yang kita sebut Bio-DME. Karena biomasa ada disetiap daerah bahkan di daerah yang terpencil pun sudah ada, maka energi berbasis biomasa ini sangat mungkin diadaakan untuk daerah yang terpencil tersebut.

 

Ada biofuel yang dengan mudah bisa diolah dari tanaman-tanaman seperti kacang tanah, kelapa, nyamplung, dan tanaman-tanaman penghasil minyak lainnya, yang ini juga bisa menjadi sumber bahan bakar cair bagi hampir setiap daerah yang membutuhkannya. Disamping itu masih ada energi-energi lain seperti angin, microhydro, gelombang, sinar matahari dan lain sebagainya yang bisa diupayakan secara terdistribusi sehingga pengadaannya tidak harus tersentralisasi.

 

Bila daerah mau belajar mulai memikirkan swasembada energinya ini, maka daerah tersebut juga akan memiliki daya tahan ekonomi yang lebih baik ketika pandemi seperti ini terulang kembali.

 

Bagaimana dengan air ? Inilah ironinya, air yang turun relatif merata di seluruh penjuru nusantara ini tiba-tiba saja menjadi tersentralisir atau paling banter terdesentralisasi kepada sekelompok usaha-usaha yang mengolah air minum. Air yang masa jenisnya 1 Kg/m3 artinya 1 liter air setara 1 kg harus dibawa dari pegunungan sampai ke kota-kota menjadi minuman orang kota. Padahal ongkos terbesar dari minuman tersebut bukanlah pada airnya, tetapi pada kemasan dan juga proses transportasinya.

 

Secara alami selain air turun relatif merata, air juga mengalir lewat air tanah ke seluruh penjuru dengan ketinggian yang sama menuju titik yang paling rendah. Air yang ada dipegunungan intinya sama dengan air di perkotaan, yang membedakannya adalah cemaran-cemarannya. Maka ketika air dengan cemaran-cemaran tersebut dihilangkan menjadi air dengan TDS 0, maka air dengan TDS 0 ini sama baiknya dipegunungan maupun diperkotaan, selebihnya tinggal diisi dengan mineral yang sesuai dengan kebutuhan kita.

 

Berbagai teknolgi penjernihan air yang murah kini mudah didapat, maka seharusnya air bersih pun lebih mudah didapat di segala penjuru tanpa harus menunggu kiriman dari pusar-pusat pengemasan air. Bahkan lebih jauh dari ini, untuk daaerah-daerah yang benar-benar tidak memiliki sumber air tawar, masih ada air yang berasal dari udara. Untuk setiap m3 udara mengandung 10 - 20 gram air tergantung pada rasio humiditynya. Tinggal masalah waktu saja untuk manusia modern bisa menambang air langsung dari udara.

 

Bahkan salah satu Startup di Amerika yang juga sudah berkomunikasi dengan saya, mereka sudah bisa menambang air langsung dari udara dan sudah mulai dikomersialisasikan saat ini, hanya karena alatnya yang masih mahal, saya sendiri belum merekomendasikannya. Yang saya rekomendasikan khususnya untuk negeri kepualau seperti kita yag tinggal di Nusantara ini adalah air laut. Karena 2/3 dari wilayah kita adalah laut, jadi kalau kita bisa memproses secara efisien air laut menjadi air tawar, maka kita tidak akan kesulitan air ini di masa depan.

 

Inspirasinya pun sudah diingatkan Allah di Al-Qur,an tentang air yang kita minum yaitu air yg turun dari langit tetapi dia tidak asin atau tidak pahit padahal kita tahu bagian terbesar dari air yang turun sebagai air hujan adalah hasil penguapan air laut. Tetapi ketika turun hujan, air laut pun tidak menjadi asin.

 

Tinggal masalah waktu lagi untuk kita bisa memproses air laut menjadi air tawar, dengan inspirasi proses terjadinya hujan tersebut dengan cara yang paling efisien, saat ini pun Anda bisa menguapkan air laut dengan kecepatan sekitar 0.3 L/m2/jam dengan sinar matahari, maka tinggal sedikit penelitian dan pengembangan, kita bisa memproses penguapan ini secara lebih efisien.

 

Intinya adalah baik pengadaan pangan, energi, dan bahkan air semuanya tersedia bahan dasarnya di sekitar kita. Kalau saja kita bisa menjadikan pandemi global Covid-19 ini sebagai sumber inspirasi yang menyadarkan kita tentang betapa pentingnya kemandirian dan daya tahan pangan, energi, dan air yang kita bangun, maka insyaAllah kita akan bangkit sebagai bangsa yang lebih kuat daya saing dan daya tahannya secara global kedepan. InsyaAllah.