Mandiri Energi A La Green Oil Community

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 13 Agustus 2020

Mandiri Energi A La Green Oil Community

Ketika kami menggagas Green Oil Community yang merupakan ajang berkumpulnya masyarakat yang ingin belajar mandiri energi, masyarakat yang memproduksi dan menggunakan energinya sendiri, diluar dugaan responnya amat sangat baik. Dalam 2 pekan, telah bergabung lebih dari 200 anggota baik yang mewakili perorangan maupun perusahaan.

 

Seyogyanya komunitas ini akan bertemu pekan ini untuk kick off project nya, namun karena isu korona yang merebak di masyarakat, sebagai bentuk kehati-hatian, kami juga menghindari pertemuan publik skala besar kecuali benar-benar sudah aman. Sebagai penggantinya, tulisan ini dapat menjadi briefing ringkas untuk para anggota yang telah bergabung, maupun yang hendak bergabung. Dalam tulisan ini akan dijelaskan apa visi misi Green Oil Community ini dan project strategis apa yang sudah bisa dimulai.

 

Visi kami sederhana, yaitu masyarakat yang mandiri energi, mampu memproduksi dan mau menggunakan energinya sendiri. Adapun misinya adalah untuk menyiapkan segala perbekalan yang diperlukan baik dari sisi ilmu, teknologi, dan skills yang terkait dengan produksi dan penggunaan berbagai sumber energi baru terbarukan yang ada di sekitar kita.

 

Untuk mengimplementasikan visi misi tersebut, strategi yang digunakan kami formulasikan dalam 3 kata yang masing-masingnya merupakan ringkasan strategi itu sendiri. Tiga kata tersebut adalah " Pragmatis Dan Perspektif " .  'Pragmatis' maksudnya adalah menggunakan bahan-bahan dan teknologi yang ada di sekitar kita atau yang paling memungkinkan untuk diadakan di sekitar kita.

 

'Dan' maksudnya adalah kami tidak harus memilih bahan atau sumber energi 'ini atau itu', tetapi kami menggunakan semuanya yang memungkinkan yaitu menggunakan 'ini dan itu'. Adapun 'Perspektif' adalah untuk melihat suatu solusi itu layak atau tidak, kami selalu menggunakan perspektif ruang dan waktu.

 

Satu solusi bisa jadi tidak ekonomis di satu tempat dan saat ini, tetapi bisa jadi solusi ini satu-satunya yang paling memungkinkan untuk digunakan di tempat lain saat ini juga. Misalnya solusi menggunakan kacang tanah sebagai sumber biodiesel secara umum tidak ekonomis untuk dilakukan di tanah Jawa dan daerah-daerah lain yang masih bisa memperoleh bahan bakar solar dengan murah.

 

Namun di daerah-daerah terpencil yang bahan bakar solar pun harus diterbangkan dengan pesawat terbang, sangat bisa jadi menanam kacang tanah adalah merupakan solusi bagi masyarakat setempat dan solusi bagi anggaran subsidi pemerintah untuk bahan bakar daerah terpencil ini.

 

Maka untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, ada beberapa milestone yang saat ini sudah mulai kita rintis di lingkungan Green Oil Community ini. Milestone pertama adalah adanya alat sederhana yang bisa menjadi enabling tools bagi masyarakat untuk bisa membuat minyak dari apa saja yang ada disekitarnya.

 

Enabling tools ini model nya sudah ada di Indonesia Startup Center dan bisa ditiru ataupun dibeli oleh masyarakat yang membutuhkannya. Saat ini pula sedang dibuat mesin yang lebih canggih untuk kelompok masyarakat atau perusahaan yang hendak memproduksi minyak dalam skala yang lebih besar yang tentu tidak bisa lagi dilakukan dengan manual.

 

Setelah minyak sudah bisa kita buat dengan alat-alat yang ada, mesin berikutnya yang sudah selesai perancangannya adalah mesin serbaguna yang kami sebut After Oil ETR 100 seperti dalam ilustrasi di tulisan ini. After Oil adalah startup yang merancangnya, sedangkan ETR singkatan dari Esterification and Trans-esterification Reactor, dan angka 100 menunjukan kapasitas reaktan.

Gambar 1 After Oil ETR 100

 

Dengan mesin ini, minyak apapun dari sumber apapun, baik yang berupa minyak sudah jadi seperti minyak goreng dan minyak jelantah, ataupun minyak yang masih asli (crude) hasil pemerasan dari biji-bijian semuanya bisa diolah menjadi biodiesel. Untuk minyak yang sudah jadi, prosesnya 1 langkah dengan mesin tersebut yaitu proses trans-esterification.

 

Untuk minyak yang masih mentah atau crude terutama yang berasal dari biji-bijian yang tidak enak dimakan seperti biji karet dan biji nyamplung, maka prosesnya memerlukan 2 langkah, yaitu esterifikasi dahulu baru kemudian transesterifikasi. Keduanya dilakukan di dalam mesin yang sama sehingga menekan biaya modal atau investasi.

 

Dari desain yang kompak dan modular, After Oil ETR 100 tersebut bisa disusun berbagai proses pembuatan biodiesel dalam berbagai skala produksi. Bisa untuk skala coba-coba, maupun skala komersial. Keduanya bisa dilakukan dengan mesin utama yang sama ini hanya tinggal kepandaian dan frekuensi penggunaannya saja.

 

Seperti sebuah wajan yang ibu-ibu bisa gunakan untuk memeasak nasi goreng keluarganya, tetapi di tangan para chef, wajan yang sama tersebut bisa untuk memberi makan 1 restoran penuh sepanjang hari. Lantas dimana keterlibatan anggota dari komunitas ini ?

 

Mayoritas anggota yang mendaftar ingin mulai menggunakan bahan bakarnya sendiri. Maka untuk masyarakat perkotaan ini bisa segera diwujudkan dengan membangun apa yang kami sebut Independent Energy Station (IES). Karena bahan baku utamanya yang paling pragmatis untuk masyarakat perkotaan adalah minyak jelantah, maka dengan mesin After Oil ETR 100 tersebut yang ditempatkan di sejumlah daerah, dia sudah bisa menjadi stasiun bahan bakar milik komunitas ini yang pada awalnya dibuat oleh anggota dan hanya untuk para anggota.

 

Untuk perusahaan-perusahaan yang beroperasi di daerah terpencil dan masyarakat kepulauan pun dalam waktu dekat bisa segera dibangunkan IES nya sendiri. Namun karena di daerah terpencil maupun masyarakat kepulauan bahan baku yang ada adalah dari tanaman-tanaman setempat, bisa dari tanaman yang sudah ada seperti kelapa, nyamplung, karet dan lain sebagainya, maka mesin yang sama tersebut berfungsi ganda yaitu sebagai prosesor untuk esterifikasi dan sekaligus juga prosesor untuk transesterifikasi.

 

Komunitas ini juga tidak terbatas pada kalangan pengguna dan penyuplai bahan baku saja, tetapi juga terbuka bagi para peneliti di bidang energi baru terbarukan dan para pabrikan yang tertarik untuk memproduksi masal mesin-mesin yang kami butuhkan. Mesin masterpiece kami yang kami sebut After Oil ETR 100 tersebut misalnya dapat diproduksi oleh bengkel-bengkel Anda, bila bengkel Anda memiliki peralatan yang cukup untuk membuat spherical dari bahan baja tahan karat. Gambar teknisnya tersedia di kami bagi yang benar-benar mampu memproduksinya.

 

Lantas dimana peluang dari komunitas ini untuk eksis kedepan? Yang jelas sejauh ini data yang ada saat ini menunjukan cadangan minyak berbasis fosil kita akan habis dalam waktu kurang dari 10 tahun, maka dalam 10 tahun kedepan harga bahan bakar akan terus melambung dan pada akhirnya keberadaannya pun menjadi tidak terjamin.

 

Maka komunitas yang telah belajar lebih dahulu ini insyaAllah akan bisa lebih siap bila saat itu benar-benar terjadi. Peluang lain saat ini yang ada adalah di berbagai daerah terpencil dan kepulauan dimana harga bahan bakar seyogyanya sama dengan daerah perkotaan di Jawa, tetapi kenyataannya ketersediaan bahan bakar tidak selalu ada, maka bila kita bisa bantu masyarakat daerah terpencil dan kepualaun ini untuk mengadakan bahan bakarnya sendiri sekaligus kita akan dapat membantu masyarakat dan pemerintah.

 

Masyarakat akan dapat terlibat dalam pengadaan bahan bakar dengan menanam atau mengumpulkan biji-bijian yang menjadi sumber bahan bakar, sedangkan pemerintah bisa menghemat subsidi transportasi bahan bakar dan bisa menggunakan subsidi ini ke keperluan lain yang bisa lebih dirasakan oleh masyarakat setempat.

 

Bila visi kami tersebut teruwjud pada waktunya, saya membayangkan di IES di seluruh Indonesia masyarakat akan berlalu lalang mengunjunginya. Ada yang datang karena ingin menyetorkan biji-bijian yang dihasilkannya dan ada yang datang untuk mengisi energi terhadap mobil traktor dan berbagai mesin yang selama ini dijalankan dengan bahan baku solar.

 

Lebih dari itu, anggota komuitas ini juga termasuk masyarakat para pemilik kendaraan yang menggunakan energi listrik kedepan, baik motor maupun mobil listrik. Minyak adalah bentuk stored energy sehingga dengan mudah minyak yang berasal dari tanaman-tanaman ini diubah menjadi energi listrik dengan mesin-mesin genset yang saat ini sudah ada di pasaran.  Dan listrik yang dihasilkannya akan berupa green electricity, karena listriknya tidak dihasilkan dari bahan bakar fosil yang mencemari lingkungan.

 

Dengan visi dan misi tersebut diatas, bagi para anggota dan calon anggota yang ingin terlibat lebih cepat sebelum kami bisa dengan aman mengadakan pertemuan umumnya, sudah dapat menghubungi kami untuk bisa terlibat dalam proses-proses testing berbagai bahan dan juga bagi yang berminat bisa mulai terlibat dalam rancang bangun produksi alat-alat dan mesin-mesin yang kita perlukan bersama.

 

Maka dengan tulisan ini, tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap seluruh anggota yang belum sempat berkumpul, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, keberadaaan Green Oil Community resmi kita hadirkan bersama-sama.