Introducing CTO - Crude Tamanu Oil

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 3 Juni 2020

Introducing CTO - Crude Tamanu Oil

Di dunia energi, kita paling familiar dengan istilah crude oil, yaitu minyak mentah yang diambil dari perut bumi sampai dasar lautan. Namun sumber energi berbasis fosil ini tidak bisa sustainable. Di Indonesia, cadangannya akan habis dalam satu dasawarsa kedepan. Saat ini pun kita sudah menjadi pengimport crude oil yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan kita.  

 

Lantas pemerintah berinisiatif untuk mengurangi ketergantungan import ini dengan mensubstitusinya sebagian menggunakan biodiesel yang berasal dari Crude Palm Oil (CPO). Masalahnya adalah bila semakin besar CPO ini digunakan untuk substitusi bahan bakar, dia akan berebut dengan CPO yang digunakan sebagai bahan pangan (minyak goreng).

 

CPO yang di-divide dari komoditi eksport juga akan berdampak pada menurunkan cadangan devisa kita dari sektor ini. Sedangkan ekspansi CPO agar bisa memproduksi CPO yang lebih banyak lagi juga tidak mudah karena penanamannya yang sering dikaitkan dengan isu dampak lingkungan, kebakaran hutan dan lain sebagainya.

 

Isu-isu ini bisa saja tidak benar, namun secara politik dagang global juga cukup mengganggu. Maka kembali kepada solusi yang selalu saya angkat dalam tulisan-tulisan saya, bahwa dalam pengadaan energi baru terbarukan, kita harus terbuka terhadap solusi 'dan' dan tidak terpaku pada solusi 'atau' . Kita tidak perlu memilih sumber bahan bakar ini karena lebih baik dari yang itu, karena masing-masing bisa kita gunakan untuk saling melengkapi satu sama lain.

 

Dalam kesempatan ini saya perkenalkan sumber bahan bakar yang sebenarnya tidak baru karena sudah dipakai sejak perang dunia ke-2, namun perlu di reintroduce atau diperkenalkan ulang karena bahan bakar yang satu ini sering luput dari potensi yang kita perhatikan. Bahan bakar 'baru' ini saya sebut CTO, kependekan dari Crude Tamanu Oil atau minyak mentah dari biji nyamplung.

 

Mengapa CTO ini saya pandang sebagai sumber yang sangat menjanjikan bagi bauran bahan bakar (fuel mix) kita ? Karena yang jelas tamanu oil bila diproses jadi biofuel dia langsung memenuhi standard bahan bakar diesel tertinggi yang diakui oleh standard Amerika ASTM maupun Eropa EM. Produktivitas CTO juga tidak kalah dengan  CPO, yaitu dikisaran 5.000 Liter CTO per hektar per tahun.

 

Tanaman tamanu sendiri sangat cocok ditanam di hampir seluruh penjuru bumi nusantara karena dia bisa hidup di ketinggian 0-500 mdpl, dapat hidup di tanah liat sampai bahkan bisa tumbuh di tanah berpasir sekalipun, bisa hidup di daerah yang curah hujannya sangat rendah sekitar 700 mm/tahun hingga daerah yang curah hujannya sangat tinggi diatas 5.000 mm/tahun sekali pun.

 

Kemampuan tamanu yang bisa hidup di tanah berpasir dan panas juga membuat tanaman ini ideal untuk pertanian pesisir sekaligus mencegah abrasi air laut. Lebih dari itu, tanaman tamanu memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan dengan kelapa sawit. Yaitu pada akhir masa usia produktifnya, tanaman sawit menjadi liability besar bagi pemiliknya karena biaya peremajaannya yang sangat tinggi, sebaliknya tanaman tamanu yang sudah tua, semakin tua semakin menjadi aset yang mahal bagi pemiliknya karena kayu tamanu adalah kayu yang sangat kuat yang secara historis banyak digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapal di negeri-negeri kepulauan.

 

Dengan segala kelebihan tersebut pun, tetap kami tidak akan menganjurkan tamanu menjadi pengganti sawit, karena minyak tamanu tidak bisa menjadi minyak goreng. Jadi solusi 'dan' tersebutlah yang saya usulkan. Tamanu bisa co-exist dengan tanaman sawit karena justru bisa saling mengisi.

 

Tanaman kelapa sawit yang sudah sangat luas sekarang akan cukup memadai bila diarahkan untuk bahan baku pangan dan produk-produk turunan lainnya yang sudah sangat luas penggunaannya. Bahkan CPO juga tetap bisa mengisi celah kebutuhan biodiesel yang memang terus menganga karena menurunnya produksi kita.

 

Sementara itu, tamanu dalam hal ini, CTO-nya bisa mulai di-develop untuk melengkapi kebutuhan bahan bakar mesin-mesin berat yang membutuhkan diesel yang akan terus meningkat. Alhamdulillah, berkat dukungan para pembaca tulisan-tulisan saya, riset kami dari hulu ke hilir tentang tamanu oil ini berjalan cukup lancar dan cepat.

 

Hingga saat ini, startup-startup dalam binaan kami di Indonesia Startup Center insyaAllah sudah menguasai dari hulu ke hilir produksi biodiesel berbasis tamanu ini. Mulai dari teknologi pembibitan tanamannya, penanaman, pemanenan, pasca panen, ekstraksi, refinery, transesterifikasi, dan lain-lain. Bahkan dalam waktu dekat, insyaAllah demo site dalam bentuk mini plant juga akan siap di Jabodetabek untuk menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat yang ingin menerapkannya.

 

Tetapi kami tidak muluk-muluk untuk bersaing dengan para raksasa energi dalam pengadaan bahan bakar ini. Paling tidak pada tahap awal, kami hanya akan mulai di ujung grafik yang disebut 'long tail', yaitu di pasar yang selama ini tidak digarap oleh pemain-pemain besar. Pasar ini misalnya adalah untuk memenuhi kebutuhan kapal-kapal nelayan di pulau-pulau terpencil, kebutuhan energi di project-project di daerah terpencil, dan lain sebagainya.

 

Lantas bagaimana sisi ekonomisnya dengan target pasar yang seperti ini ? Apakah bisa menguntungkan dari sisi ekonomi ? Pertama, bisnis tidak harus diukur dengan nilai hasil yang berupa keuntungan. Keberhasilan usaha juga bisa diukur dari sisi kebermanfaatannya bagi masyarakat.

 

Bahan bakar berbasis tamanu ini bisa saja tidak ekonomis di awal pengenalannya ini bila diperkenalkan di pulau jawa, dimana harga bahan bakar bersubsidi tersedia dimana-mana. Tapi bisa dibayangkan manfaatnya bila bahan bakar ini kami hadirkan di pulau yang waktu tempuhnya 2 hari perjalanan dari pulau besar terdekat yang bisa men-supply bahan bakr bersubsidi.

 

Lantas bagaimana bisnis modelnya pengadaan bahan bakar ini untuk pulau atau daerah terpencil ? Konsepnya adalah pemberdayaan masyarakat. Masyarakat diberdayakan untuk menanam tanaman tamanu ini di daerah tanah-tanah tegalan yang selama ini banyak terabaikan. Pada waktunya, 3-4 tahun mendatang tamanu mulai berbuah, masyarakat bisa menyetorkannya ke unit-unit produksi terdekat di daerah yang bersangkutan.

 

Karena unit pengolahan tamanu menjadi CTO sampai menjadi biodiesel ini bisa dibuat dalam skala kecil, tingkat koperasi desa pun bisa memiliki processing unit-nya sendiri. Berapa pun harga bahan bakar yang diproduksi dan dijual oleh koperasi unit desa atau oleh BUMDES setempat tersebut, dananya akan kembali ke masyarakat yang memproduksi buah tamanunya. Ini akan menjadi sumber putaran ekonomi bagi desa yang bersangkutan.

 

Bagaimana dengan masa tunggu yang bisa sampai 4 tahun ? Tidak perlu ada masa tunggu karena menanam tamanu tidak membutuhkan biaya besar. Sambil lalu masyarakat bisa menanam ini di sela-sela kegiatan lain, tahu-tahu tanaman tamanu sudah besar dan mulai berbuah. Ini karena tamanu secara natif di Indonesia juga masih dianggap tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya.

 

Namun bagi masyarakat yang ingin menanamnya secara serius di tanah yang disiapkan khusus, maka selama masa tunggu tamanu berbuah, tanah yang sama bisa diisi dengan tanaman kacang tanah. Tanaman kacang tanah ini berdaya guna ganda dalam project ini. Pertama dia akan mengisi kebutuhan bahan bakar dalam waktu dekat sebelum tamanu berbuah karena kacang tanah sudah mulai dipanen dalam waktu kurang dari 4 bulan.

 

Sementara itu, keberadaan tanaman kacang tanah di kebuh tamanu juga mengisi hara tanah karena tanaman kacang tanah merupakan jenis tanaman Leguminosae yang bisa memfiksasi nitrogen dari udara. Jadi tanaman kacang tanah akan menyuburkan lahan sambil mengisi kebutuhan bahan bakar daerah atau project terpencil sebelum tamanu menjadi rindang dan menghasilkan buahnya.

 

Project Tamanu oil atau CTO ini juga dalam big picture penyediaan energi baru terbarukan yang kami rencakan bisa bersifat komplementer dengan bahan bakar lain yang kami siapkan dari microalgae maupun dari farnesene. Banyak teknologi yang beririsan sehingga teknologi yang kami gunakan untuk memproses CTO sampai biodiesel generasi ketiga ini nantinya juga akan sangat berguna untuk memproses biofuel yang berasal dari microalgae maupun farnesene.

 

Dengan konsep semacam ini, project CTO ini juga akan sangat cocok untuk menjadi mitra CSR industri-industri besar terutama industri-industri yang mengolah bahan tambang karena bisa ikut memperbaiki dampak lingkungan dan dampak sosial sekaligus memenuhi kebutuhan energinya sendiri.

 

Bagi Anda atau perusahaan yang tertarik untuk menerapkan konsep CTO ini untuk CSR maupun untuk pemenuhan kebutuhan energi, dapat menghubungi kami di This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. atau menghubungi melalui kontak dari website ini.