Distributed Energy for National Security

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 17 Februari 2020

Distributed Energy for National Security

Hari - hari ini kita lagi heboh tentang wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kita yang diobok -  obok oleh nelayan asing. Tentu pemerintah kita sigap untuk mengamankan kedaulatan ekonomi ini. Tetapi untuk jangka panjang, memang harus dibangun ketahanan yang terbangun dari kehidupan masyarakat kita sendiri, bukan hanya untuk Natuna dan bukan hanya untuk pulau - pulau terluar saja, tetapi untuk seluruh wilayah Indonesia sampai ke daerah - daerah terpencil sekali pun harus mudah mengakses energi.

 

 

Ketersediaan energi dengan harga yang terjangkau adalah salah satu faktor yang sangat dominan agar nelayan - nelayan kita bisa menjangkau dengan leluasa ke seluruh Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang jaraknya bisa mencapai 200 mil. Saat ini memang pemerintah menjamin kesatuan harga bahan bakar, tetapi prinsip dasar ekonomi pasti juga berlaku.

 

Bila bahan bakar itu dalam satu harga untuk wilayah - wilayah yang sangat jauh dari sentra produksi atau distribusi bahan bakar, pasti muncul biaya yang besar setidaknya untuk biaya pengiriman. Selain disparitas harga karena sebaran wilayah negeri ini yang sangat luas dan dengan berbagai tingkat kesulitan logistiknya, kesinambungan atau sustainability dari bahan bakar kita sendiri juga masih menyisakan tanda tanya besar. Apa bahan bakar kita di masa depan ketika kebutuhan kita semakin meningkat sementara bahan bakar fosil yang selama ini digunakan terus mengalami penurunan tingkat produksi ?

 

Dalam hal mengatasi supply bahan bakar ini, kita harus membuka pikiran kita seluas luasnya sehingga bisa menerima solusi 'dan', karena tidak ada satu solusi bahan bakar pun yang fit for all. Kita tidak bisa memilih bahan bakar ini atau itu, solusi kita harus bisa menerima bahan bakar kita adalah ini dan itu. Jadi seluruh potensi pencarian bahan bakar harus dibuka seluas - luasnya agar tercapai bauran yang paling sesuai untuk negeri 13.000 pulau ini.

 

Dalam konteks menambah wawasan potensi bahan bakar inilah saya memberikan alternatif bahan bakar baru yang menurut saya sangat do able, yaitu bahan bakar setara diesel yang disebut secara ilmiahnya adalah Farnesene (C15H24). Kenapa saya pilih bahan bakar ini ? karena Farnesene bisa diolah dari berbagai sumber hayati yang ada di sekitar kita, baik itu berupa gula, karbohidrat, pati, dan bahkan lignoselulosa atau secara umum farnesene ini bisa dihasilkan dari sumber berbagai biomasa yang ada di sekitar kita.

 

Di dunia, Farnesene sudah memasuki tahap komersialisasi di Brazil dengan menggunakan bahan dasar tebu. Bahkan, salah satu pemain top minyak dunia sedang memfinalisasi uji terakhir untuk menghasilkan biojet atau bahan bakar pesawat berbasis Farnesene. Di Amerika sendri, berbagai project bahan bakar berbasis Farnesene juga sedang diujicobakan dengan menggunakan tanaman sorgum dan bahkan juga dari bahan - bahan lignoselulosa.

 

Saya melihat peluang Farnesene ini bisa dilakukan secara terdistribusi, atau tidak harus menggunakan pendekatan modal besar, sehingga dia bisa cocok untuk dikembangkan di pulau - pulau terpencil kita. Bahkan bayangan saya, sekala koperasi desa saja mestinya bisa memproduksi Farnesene nya sendiri.

 

Secara kasar, prosesnya kurang lebih seperti orang membuat tape atau peuyeum, yaitu melakukan fermentasi dari bahan karbohidrat atau pati menjadi bahan yang menghasilkan alkohol atau etanol. Tetapi dalam produksi Farnesene, proses yang mirip ini tidak menghasilkan etanol, melainkan menghasilkan rantai hidrokarbon yang lebih panjang, yaitu C15H24 atau Farnesene tersebut.

 

Lantas bagaimana mikroba bisa kita perintahkan untuk menghasilkan Farnesene ini ? diperlukan kerja keras kita untuk menemukan dan menghasilkan mikroba yang memproduksi enzim yang sesuai agar biomasa yang didekomposnya menghasilkan Farnesene ini. Butuh ilmu biologi khusus memang untuk ini, yaitu ilmunya para ahli bioteknologi atau lebih spesifiknya para ahli synthetic biology dan para ahli kimia organik yang sangat memahami proses semacam ini.

 

Seolah men-jelimet ilmunya, tetapi begitu SOP nya disusun, mikroba yang dibutuhkan sudah terstandardisasi, maka proses menghasilkan Farnesene ini bisa dimassalkan menjadi pekerjaan masyarakat awam yang mau belajar. Inilah yang saya sebut konsep distributed energy itu, yaitu masyarakat yang kita latih untuk mampu menghasilkan energinya sendiri.

 

Nantinya, energi berbasis Farnesene ini bisa dibuat oleh masyrakat awam sebagaimana masyarakat Sunda yang sudah banyak pandai memproduksi peuyeum yang dijual di pinggir - pinggir jalan Jawa Barat hingga kini. Dahulu pastinya ada yang mengajari mereka membuat peuyeum, maka sekarang menjadi common knowledge and skills, yang saya bayangkan tidak lama lagi kita harus bisa mengajari masyarakat awam untuk memproduksi diesel berbasis Farnesene ini.

 

Pertanyaan berikutnya adalah bahan baku dasar apa yang akan kita buat untuk menghasilkan Farnesene ini ? memang dia bisa dibuat dari tebu, sorgum, singkong, maupun berbagai biomasa lainnya. Masalahnya adalah biomasa yang juga digunakan untuk pangan tersebut tentu utamanya untuk pangan.

 

Pilihan kedua adalah mengggunakan bahan baku dari limbah pertanian. Ini tidak berebut dengan pangan, maka layak untuk dijadikan salah satu bahan dasar pembuatan Farnesene. Meskipun demikian, bahan dasar yang kedua ini, produksinya masih seiring dengan hasil produksi pertanian itu sendiri, sehingga di daerah - daerah yang pertaniannya tidak berkembang karena ketidaksesuaian daerah misalnya, bahan dasar jenis kedua ini mungkin juga tidak tersedia.

 

Masalah berikutnya adalah produksi biomasa jenis kedua ini juga tergantung dengan siklus pertanian itu sendiri. Biomasa sisa jagung misalnya perlu menunggu 4 bulan, biomasa sisa padi perlu menunggu 3.5 bulan, dan seterusnya.

 

Maka yang saya jagokan berikutnya untuk menghasilkan biofuel generasi ketiga yaitu yang tidak berebut dengan pangan dan tidak bergantung dengan pertanian adalah biofuel yang mengandalkan produksi biomasa yang bisa dihasilkan dimana saja, baik daerah subur maupun daerah gersang, daerah yang airnya banyak maupun daerah yang kering kerontang, daerah yang airnya tawar maupun daerah yang airnya asin, dan biomasa ini juga tumbuh sangat cepat, yang bahkan bisa dipanen setiap pekan. Itulah biomasa yang dihasilkan oleh tanaman bersel tunggal, yang secara umum kita sebut microalgae.

 

Teknologi yang ada hingga saat ini adalah memproduksi biofuel berupa biodiesel dari kandungan minyak yang dihasilkan oleh microalgae tertentu. Otomatis membutuhkan microalgae varietas tertentu yang memang kandungan minyaknya cukup besar seperti Neochloris oleoabundans, Botryrococcus braunii, Chlorella vulgaris, dan lain sebagainya. Namun dengan konsep Farnesene, karena bahan biomasa yang kita butuhkan adalah karbohidrat, maka pilihan jenis microalgae yang bisa kita eksplorasi menjadi semakin luas.

 

Jadi seperti cerita fiksi ilmiah, tetapi ini sangat do able bila kita benar - benar persiapkan segala sesuatunya, termasuk laboratorium - laboratorium biotek canggih untuk menghasilkan mikroba khusus dalam proses - proses Farnesene tersebut. Tetapi ini pun tidak harus membeli dan kita biayai sendiri, saya mengenal setidaknya 2 laboratorium perguruan tinggi yang mampu melakukan ini.

 

Pada waktunya nanti, yang saya bayangkan adalah masyarakat yang mandiri atau masyarakat yang ber-swasembada energi sehingga mereka bisa mengolah pertanian dengan traktor - traktornya tanpa harus menunggu solar atau diesel yang didatangkan dari tempat yang jauh. Juga masyarakat pesisir bisa menanam microalgae dan mengolahnya langsung menjadi bahan bakar setara diesel yang bahkan lebih bersih dari diesel sehingga mereka bisa mengarungi lautan luas dan mempertahankan kedaulatan ekonomi negeri ini.

 

Bahkan masyrakat perkoataan yang sudah akan berganti menggunakan mobil listrik pun akan membutuhkan bahan bakar diesel ini, mengapa ? bayangkan kalau mobil Anda adalah Tesla-X yang storage energinya 100 kWH, sedangkan listrik dirumah Anda hanya 10.000 watt, maka dengan mematikan seluruh lampu dan AC di rumah Anda sekali pun, mengisi energi Tesla-X Anda perlu waktu 10 jam.

 

Loh di era mobil listrik, PLN akan menyediakan high speed charger sehingga untuk men-charge mobil listrik hanya perlu waktu setengah jam. Ini pun masih bermasalah, mengapa ? bayangkan kalau mobil Anda perlu nongkrong setengah jam untuk di charge kembali, berapa panjang antrian mobil - mobil lain untuk menunggu diisi ulang ini ketika mobil listrik bertambah banyak. Inilah salah satu kendala mengapa populasi mobil listrik tidak secepat yang kita harapkan pertumbuhannya di negeri ini.

 

Tetapi bayangkan bila dikomplek perumahan Anda tersedia kebun microalgae sendiri yang diolah menjadi Farnesene sendiri, sehingga pendapatan RW di lingkungan Anda adalah listrik bertenaga tinggi yang diberi bahan bakar Farnesene ini. Maka, ketika Anda pulang ke rumah di malam hari, tinggal memarkir mobil Anda di komplek Anda sendiri bersama mobil - mobil tetangga Anda dan besok pagi sudah kembali terisi penuh.

 

Yang ingin saya sampaikan adalah di era apa pun, apakah era mobil internal combustion engine seperti yang sekarang, maupun di era mobil listrik nanti, tetap sangat dibutuhkan ketersediaan bahan bakar cair, khususnya diesel atau setara diesel. karena degan bahan bakar inilah mesin - mesin besar seperti kapal, pesawat terbang, dan bahkan generator set dinyalakan.

 

Era yang saya bayangkan tersebut diatas insyaAllah akan terjadi cepat atau lambat, dan di Indonesia Startup Center, menyongsong era seperti ini kami sudah siapkan dua institusi untuk menghadapinya, pertama adalah institusi yang fokusnya mengedukasi masyarkat untuk siap menghadapi era dimana energi dan pangan mungkin tidak semudah yang bisa kita peroleh sekarang.

 

Pendidikan ini kami lakukan dengan konsep project based active learning di ALHAYA SCHOOL of LIFE. Sedangkan untuk persiapan investasi teknologi dan lain - lain yang menuntut pengelolaan secara bisnis, dikelola oleh startup khusus yang kami beri nama sesuai zaman yang kita antisipasi, yaitu yang kita sebut AFTEROIL.

 

Startup AFTEROIL saat ini sudah berumur lebih dari satu tahun dan sudah terdaftar di regulatory sandbox OJK. Tetapi karena era yang diantisipasinya masih akan panjang, maka masih sangat banyak pekerjaan yang perlu dipersiapkan. Untuk itu, bila Anda memiliki visi yang sama dengan yang kami bayangkan tersebut diatas, Anda kami undang untuk bisa bergabung dengan kami di sisi edukasinya (alhaya.id) maupun disisi bisnisnya (afteroil.id) bila kompetensi dan minat Anda sesuai. Bersama - sama dengan seluruh elemen masyarakat yang memiliki concern yang sama untuk membangun ketahanan negeri ini, maka insyaAllah kita bisa berkontribusi dari sisi energinya.