STARTUP CHALLENGE FOR SCIENTIST AND RESEARCHER

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Sabtu, 7 Desember 2019

STARTUP CHALLENGE FOR SCIENTIST AND RESEARCHER

Bahwasanya Indonesia adalah negeri tropis yang terkaya dalam biodiversity yang kita sudah mafhum, tetapi kekayaan itu baru sebatas potensi. Dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas bagi semua komponen bangsa agar potensi kekayaan tersebut dapat menjadi solusi yang bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin penduduk negeri.

 

 

Dari kalangan ilmu pengetahuan pun kita tidak kurang-kurang penguasaannya, berbagai perguruan tinggi terbaik ada di negeri ini. Demikian pun dengan sejumlah lembaga penelitian yang mengkaji hampir seluruh aspek kehidupan telah lama berkembang di negeri kepulauan ini. Lantas apa masalahnya sehingga kemakmuran belum juga bisa optimal untuk kita nikmati setelah 74 tahun merdeka?

 

Kami melihatnya bukan masalah ilmu yang kurang, atau ketiadaan penelitian yang terkait, tetapi lebih kepada pengamalan di lapangan yang belum optimal. Di era menjamurnya startup dalam dasawarsa terakhir ini, kami melihat model penerapan ala startup inilah yang sangat memungkinkan untuk mendekatkan ilmu pengetahuan dan hasil riset dengan aplikasinya di lapangan.

 

Bila lahirnya startup startup digital saja sudah begitu banyak berkontribusi pada pergerakan ekonomi anak negeri, bisa dibayangkan bila kita juga berhasil meluncurkan startup startup unggulan yang memberi solusi nyata pada berbagai persoalan kehidupan. Maka pada kesempatan ini, hasil kolaborasi Indonesia Startup Center dan Alhaya School of Life ingin mengajak seluas-luasnya kepada para ilmuwan dan peneliti untuk bisa membangun startup startup nya sendiri yang terkait dengan disiplin ilmunya atau yang dikembangkan dari hasil penelitiannya.

 

Untuk tahap awal ini kami pilihkan tema yang terkait dengan agroindustri berbasis microalgae. kami pilih tanaman bersel tunggal yang merupakan nenek moyang seluruh tanaman di muka bumi ini karena melihat potensinya yang sangat besar dan dia bisa dibudidayakan di seluruh wilayah Indonesia termasuk di daerah-daerah yang sangat kering sekali pun dan bahkan juga di daerah pesisir pantai yang berair payau atau asin sekali pun.

 

Pertumbuhan tanaman bersel tunggal yang berkembang biak melalui mitosis atau membelah diri, memungkinkan tanaman ini tumbuh secara eksponensial dari satu menjadi dua menjadi empat menjadi delapan, enam belas, tiga dua, dan seterusnya. Pertumbuhan eksponensial semacam ini tidak dimiliki oleh tanaman besar yang selama ini kita andalkan.

 

Sinar matahari yang bisa kita nikmati sepanjang tahun juga menjadi modal utama kita untuk bisa bercocok tanam microalgae ini sepanjang waktu. Tiga unsur lain yang dibutuhkan untuk bercocok tanam ini juga bisa dimiliki oleh semua orang, tidak pandang bulu, yaitu udara khususnya CO2, air, dan hara.

 

Microalgae adalah tanaman air tetapi justru dia amat sangat hemat air karena dalam bercocok tanam microalgae, air tidak dikonsumsi habis, melainkan lebih sebagai media yang bisa digunakan berulang ulang. Ruang lingkup startup yang bisa terlibat pun tidak terbatas karena dari tanaman inilah sesungguhnya ekosistem kehidupan di alam ini berkembang sejak pertama kalinya bumi ini menghadirkan kehidupan.

 

Maka, sejumlah bidang ilmu dan penelitian kami undang untuk terlibat dalam penggarapan ekosistem kehidupan yang bermula dari microalgae ini. Yang dibutuhkan mulai dari para biologist untuk mengidentifikasi dan mengembangkan strain-strain microalgae paling berpotensi untuk menghasilkan unsur makro seperti protein, lemak, dan karbohidrat, sampai juga strain-strain yang berpotensi menghasilkan unsur mikro, pigmen, dan phytonutrient yang bernilai tinggi.

 

Misalnya untuk menghasilkan biodiesel kita butuhkan microalgae yang paling efektif menghasilkan minyak. Untuk menghasilkan pigmen biru yang mahal, kita butuh microalgae yang menghasilkan phycocyanin terbaik dan seterusnya. Penelitian-penelitian yang terkait di bidang ini sudah banyak dilakukan di dalam maupun diluar negeri, kembali tantangannya dalah tinggal membumikannya di lapangan.

 

Kita juga butuhkan para insyinyur yang mampu mengembangkan segala alat dan mesin yang dibutuhkan untuk budidaya, alat panen, penanganan pasca panen sampai kepada biorefinery untuk produk turunan. Bagi para insinyur elektro misalnya, sesungguhnya membuat alat-alat berbasis ultrasonic, microwave dan lain sebagainya tentu tidaklah sulit, tetapi ini akan mejadi tantangan sendiri ketika harus digunakan untuk bisa mengolah hasil tanaman yang ukurannya hanya sekitar 4 micron ini.

 

Maka inilah peluang juga bagi Anda para insyinyur elektro yang ingin terlibat dalam proyek ini. Demikian pula bagi para food technologist maupun pharmacist, Anda berpeluang untuk bisa mengurai dan mengambil bioactive compound yang terbaik dan bernilai tinggi yang bisa dihasilkan oleh tanaman yang menyebar diseluruh alam ini.  

 

Peluang Andalah untuk bisa memaksimalkan nilai dari hasil bumi yang selama ini cenderung terabaikan ini menjadi industri nilai tambah yang bernilai sangat tinggi di masa kini dan nanti. Lantas apa peluang bagi masyarakat awam yang bukan scientist maupun researcher seperti contoh-contoh tersebut diatas ?

 

Anda memiliki peluang yang sama baiknya dengan mereka, tetapi Anda perlu lebih dulu banyak banyak belajar tentang seluk beluk microalgae ini. Untuk inilah, kami telah hadirkan sekolah Alhaya School of Life yang kelas perdananya mengambil bidang Agroindustri berbasis microalgae.

 

Silahkan Anda bergabung dengan lebih dari 200 orang yang telah mendaftar sebelumnya di bit.ly/al-haya atau menghubungi This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Bagi yang sudah mendaftar namun belum sempat mengikuti kelas perdananya, insyaAllah kelas kedua akan dimulai pertengahan Desember 2019.