ALHAYA, THE FUTURE OF AGRICULTURE

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 13 November 2019

ALHAYA, THE FUTURE OF AGRICULTURE

Alhamdulillah, kini negeri ini sudah punya visi hingga tahun 2045 yaitu 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Yang saya tangkap antara lain negeri ini akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 5 terbesar di dunia dengan tingkat kemiskinan yang mendekati 0%. Memang visi ini masih merupakan gambaran besar yang tentu memerlukan penjabaran detail dalam upaya pencapaiannya.

                  Alhamdulillah pula, saya bukan anggota kabinet, bukan seorang menteri, jadi saya bebas untuk memiliki visi saya sendiri tentang bagaimana negeri ini kedepannya. Sebelum kita bisa mencapai visi besar tersebut diatas, ataupun visi yang akan saya uraikan dibawah, kita harus tahu betul problema besar yang harus diatasi dihadapan kita yang bahkan lebih dekat dari tahun 2045.

                  Sebelum tahun 2030 bahkan, kita sudah akan memiliki sejumlah permasalahan serius yang harus terselesaikan, diantaranya adalah masalah minyak bumi kita yang kemungkinan besar akan habis, akan diisi atau diganti dari apa dan darimana? kedua adalah masalah air karena air bersih di tanah Jawa, Bali, dan Lombok yang hanya 4% dari cadangan air bersih nasional sementara penghuninya mencapai 60% dari penduduk negeri ini.

                  Yang ketiga karena air bersih atau air tawar juga sangat dibutuhkan untuk pertanian bahan makanan pokok kita, yaitu yang disebut PAJALE (Padi, Jagung, Kedelai), maka bersamaan dengan krisis air bersih di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok juga akan berdampak pada supply kebutuhan pangan bagi negeri ini secara keseluruhan. Walhasil apa yang disebut FEW (Food, Energy, and Water) adalah 3 masalah yang sangat serius yang akan menjadi batu sandungan pencapaian visi apapun yang kita gagas ke depan bila masalah ini tidak diatasi sedini mungkin. Maka, visi saya adalah negeri makmur 'Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur', yang dapat mengatasi seluruh kebutuhan Food, Energy, and Water nya secara sustainable.

                  Lantas apa yang saya usulkan untuk pencapaian pemenuhan kebutuhan dasar FEW yang sustainable tersebut ? Kita harus merubah sama sekali cara kita melihat 3 masalah ini. Untuk Food, kita tidak boleh lagi hanya tergantung pada PAJALE, karena dalam kondisi sekarang pun data kita tidak jelas, apakah produksi PAJALE kita cukup atau tidak, yang jelas kita import begitu banyak bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan kita.

                  Padi, jagung, dan kedelai amat sangat sulit ditingkatkan produksinya apalagi dengan kendala air untuk pertanian yang akan semakin langka. Kecil sekali kemungkinannya kita bisa memproduksi jagung, misalnya dari 7 ton/ha/panen menjadi 15 ton/ha/panen. Demikian pula padi akan sangat sulit mendongkrak dari rata - rata produksi dikisaran 5 ton/ha/panen menjadi rata - rata produksi di kisaran 10 ton/ha/panen. Apalagi kedelai kita yang kita jadikan protein nabati, tingkat produksinya hanya dikisaran 1.4 ton/ha/panen, sangat sulit untuk bisa meningkatkan menjadi kisaran 3 ton/ha/panen. Maka, pertanian masa depan yang saya visikan tidak lagi mengandalkan padi, jagung, dan kedelai, kita harus benar - benar mencari jenis tanaman lain yang produktivitas  per hektarnya bisa berpuluh kali lipat dari tanaman konvensional tersebut diatas.

                  Kita juga tidak bisa bertani mengandalkan air tawar yang ada, karena selain jumlahnya yang terus berkurang, juga sangat kita butuhkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting yaitu untuk air minum penduduk negeri ini yang semakin padat. Bahkan kita tidak bisa bertani di tanah - tanah subur seperti di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok, karena ketiga pulau ini akan dipenuhsesaki dengan penduduk dan berbagai kebutuhan infrastruktur, sehingga tanah - tanah pertaniannya perlahan tapi pasti akan terus bekurang. Jadi pertanyaannya adalah bertani apa kita ? yang hasilnya bisa berpuluh kali lipat dari PAJALE, tidak membutuhkan air tawar, dan tidak butuh tanah pertanian yang subur ?

                  Yang saya jagokan untuk komoditi pertanian masa depan ini adalah tanaman yang sangat kecil yaitu tanaman bersel tunggal yang secara umum disebut microalgae, meskipun tidak seluruhnya sebenarnya termasuk microalgae. Microalgae ini bisa tumbuh di tanah - tanah marginal, misalnya tanah - tanah pinggir pantai yang airnya asin sekalipun karena memang ada ribuan spesies microalgae air asin (air laut).

                  Disamping itu, Indonesia yang merupakan negeri dengan panjang garis pantai nomor 2 terpanjang di dunia setelah Kanada, maka dengan garis pantai yang sangat panjang tersebut, Indonesia merupakan negeri yang memiliki potensi tanaman berbasis air laut yang paling menjanjikan di dunia karena kita juga memilik sinar matahari sepajang tahun yang merupakan unsur vital untuk tumbuhnya tanaman termasuk microalgae ini.

                  Dari sisi productivity, microalgae juga sangat menjanjikan, dalam setiap liter media air laut yang kita pakai bisa untuk menghasilkan produksi dalam kisaran 0.15 - 0.3 gram biomassa/liter/hari, jadi satu hektar lahan microalgae air laut dengan kedalaman air 1 meter saja, hasil biomassa yang bisa dipanennya bisa mencapai kisaran 500 - 1000 ton biomassa microalgae/tahun/ha. Sejauh ini tidak ada pertanian lain yang productivity biomassanya seperti ini.

                  Dari sisi kandungan biomassa yang dihasilkan dalam setiap microalgae juga sangat menarik, karena ada ribuan varietas yang bisa kita pilih, maka kita bisa memilih yang produktivitas proteinnya paling tinggi misalnya, kandungan proteinnya bisa mencapai diatas 50% dari bobot kering biomassa microalgae tersebut. Kalau kita inginkan tanaman pengganti minyak sawit misalnya, jenis microalgae yang lain bisa memproduksi minyak lebih dari 50% dari bobot keringnya. Maka hasil minyak yang dihasilkan oleh microalgae per satuan luas tanamannya bisa berkisar anatar 20 - 40 kali lebih banyak dari tanaman kelapa sawit untuk luasan yang sama.

                  Maka dengan tanaman ini pula, microalgae bukan hanya tanaman untuk mencukupi kebutuhan pangan, tetapi juga bisa menjadi tanaman penghasil energi. Seorang profesor teman saya di IPB bahkan sudah sempat menghitung kalau Indonesia bisa mempunyai 2 juta hektar saja tanaman microalgae atau sekitar 15% dari luasan sawit kita, kita sudah akan berhenti import bahan bakar bahkan mungkin juga sudah bisa export bahan bakar ketika kebutuhan bahan bakar dalam negeri pun sudah mencapai 2 juta barrel/hari.

                  Lantas dari sisi air bersih, kalau yang kita kembangkan untuk pertanian pangan dan energi itu mengandalkan air laut, sedikit air bersih yang tersisa bisa benar - benar dijaga untuk kebutuhan air minum kita utamanya, dan kebutuhan air tawar lainnya. Apakah yang saya uraikan tersebut diatas adalah visi atau mimpi ?

                  Memang ada perbedaan yang sangat tipis antara visi dan mimpi. Visi selalu bisa dijabarkan menjadi misi, strategi, action plan, dan lain sebagainya. Sebaliknya bila ini hanya mimpi, maka tidak perlu penjabaran, ujug-ujug tahun 2045 kita makmur menjadi kekuatan ekonomi 5 terbesar di dunia dan dengan kemiskinan mendekati 0% tanpa harus ada penjelasannya juga tidak apa - apa, Lah wong cuman mimpi ? dan ini pun sudah bagus, setidaknya kita berani bermimpi,

                  Namun saya sangat ingin menjadikan apa yang saya uraikan tersebut diatas benar - benar sebuah visi, karena saya sudah melihat begitu banyak resources yang sebenarnya tersedia di hampir seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Mulai dari berbagai penelitian untuk memilih jenis microalgae yang sesuai dengan target yang ingin dihasilkan, berbagia teknik budidayanya, sampai juga dengan teknologi pemanenan dan teknologi pascapanen.

                  Bahkan teknologi untuk mengolah dari microalgae langsung menjadi bahan bakar diesel yang siap digunakan untuk kapal di pulau - pulau terpencil sekalipun kini sudah mulai ada. Dengan teknologi in-situ transesterification, misalnya microalgae segar bisa langsung diproses dengan satu kali langkah yang hasilnya bahan bakar yang sudah bisa langsung dipakai. Ini merupakan teknologi - teknologi yang sekarang sudah ada dan menjadi peluang terbaik untuk memajukan pulau - pulau terluar dan terdepan kita yang sering kesulitan untuk memperoleh bahan bakarnya.

 

                 

            Lah terus kalau semua ilmu yang dibutuhkan sudah ada yang mulai menelitinya, mengapa hingga kini belum juga menjadi solusi nasional kita atau bahkan juga belum menjadi solusi yang signifikan di tingkat global? disitulah letak tantangan berikutnya yang harus kita jembatani.

                  Semua ilmu yang dibutuhkan itu telah ada, namun yang sangat kurang adalah pengamalannya. Jadi yang dibutuhkan adalah jembatan untuk memfasilitasi pengamalan ilmu yang menumpuk di perpustakaan - perpustakaan perguruan tinggi dalam dan luar negeri, menjadi amal nyata menyelesaikan masalah - masalah konkret di lapangan.

                  Maka disinilah labinah atau batu bata yang saya pilih untuk saya perankan diatara tumpukan batu bata yang sudah tersusun untuk membangun negeri dan ummat ini. Saya hanya ingin mengisi kekosongan satu batu bata yang sekiranya pas untuk saya perankan sebagai warga negara yang ingin ikut bisa beramal memakmurkan bangsa ini.

                  Peran tersebut akan kita wujudkan dalam bentuk apa yang saya sebut madrasah kehidupan atau school of life yang saya beri nama, ALHAYA yang artinya life atau kehidupan. Berbeda dengan perguruan tinggi atau sekolah - sekolah yang selama ini sudah amat sangat banyak dibuat orang,  ALHAYA ini akan menggunakan pendekatan yang saya sebut Project Base Active Learning (PBAL). Jadi para peserta pembelajarannya tidak kita batasi usia, karena memang kewajiban belajar adalah sejak kita dibuaian sampai liang lahat, dan tidak juga dibatasi latar belakang, semua orang wajib belajar.

                  Jadi, terkait dengan masalah FEW tersebut diatas misalnya, yang akan kami hadirkan adalah project - project dari hulu ke hilir yang terkait dengan microalgae, yang pada project tersebutlah peserta bisa belajar dan mengamalkan ilmuya secara nyata. Karena tidak ada orang yang sempurna, tidak ada yang memiliki semua ilmu yang dibutuhkan, maka peserta dan para pengajar adalah fungsi yang bersifat dinamis. Perseta dalam satu subject, bisa menjadi pengajar untuk subject yg lain.

                  Seorang profesor aquaculture misalnya, dia akan mejadi pengajar kita. Kita belajar masalah teknik budidayanya, tetapi dia juga akan belajar dari peserta lain di lapangan untuk bagaimana menggerakan permodalannya dan bagaimana menjangkau pasar atau produk yang dihasilkannya. Microalgae yang kami gadang-gadang sebagai project pertanian masa depan ini hanya salah satu contoh bagaimana ALHAYA school of life berkontribusi membumikan ilmu yang sudah sangat banyak dikaji menjadi solusi nyata bagai problem - problem besar bangsa dan umat ini.

                  InsyaAllah kedepannya akan ada bidang lain yang juga akan menjadi project - project tersendiri seperti bioplastic yang kita butuhkan untuk mengerem kerusakan lingkungan dan lain sebagainya. Bagi Anda yang sepaham dengan visi tersebut dan tertarik untuk ikut mewujudkannya, apapun latar belakang Anda, Anda bisa bergabung di ALHAYA School of Life ini. Silahkan mendaftarkan diri di http://bit.ly/al-haya .