Productivity Gap and Capital Trap

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 13 November 2019

Productivity Gap and Capital Trap

Sudah hampir setahun ini saya nyaris tidak bisa membaca dan menulis karena harus menjalani serangkaian operasi mata yang sampai saat ini sudah berjalan 6 kali, dan mudah -mudahan yang ketujuh minggu depan merupakan final-nya. Namun, kerinduan untuk bisa menulis dan menyapa komunitas pembaca tulisan saya mendorong saya untuk tidak sabar menulis lagi, meskipun harus dibantu oleh orang lain.

                  Bisa Anda bayangkan bila pekerjaan utama kita itu adalah membaca dan menulis, kemudian pada suatu hari Anda sama sekali tidak bisa membaca dan menulis lagi, apa jadinya ? ternyata tidak seburuk yang dibayangkan kebanyakan orang, karena ketika Allah mengurangi satu nikmat-NYA pada diri kita, Dia menambah kita dengan nikmat yang lain. Ini juga untuk menjawab pertanyaan masyarakat yang biasa membaca tulisan saya hampir setiap hari dahulunya, kemudian tiba - tiba tidak menulis sama sekali.

                  Periode itu karena saya berusaha memahami nikmat lain apa yang ditambah oleh-NYA ketika nikmat penglihatan saya dikurangi hingga pernah nyaris tinggal kurang dari 10% nya. Salah satu nikmat yang baru saya sadari belakangan adalah berupa kemampuan untuk bisa melihat yang tidak kasat mata, membaca yang tidak tertulis, dan mendengar yang tidak bersuara.

              Misterikah ini? tidak sama sekali dan bisa dijelaskan dengan sangat mudah. Hanya perlu latihan sedikit, Anda yang berpenglihatan sempurna pun insyaAllah bisa melakukannya. Namun, ide untuk melakukannya itulah yang muncul saat kegelapan menghampiri kita, kita tidak berupaya untuk mengembangkan kemampuan melihat yang seperti ini ketika penglihatan kita sempurna.

                  Saya beri contoh ilustrasi gambar dibawah, 2 pie chart yang saya sandingkan. Pie chart ini adalah data produktivitas tenaga kerja di negeri ini dan kontribusinya pada Produk Domestik Bruto (PDB). Sebelum Anda membaca penjelasan lebih jauh dari saya di bawah, coba perhatikan pada 2 pie chart yang saya sandingkan tersebut.

                  Perhatikan pada 2 pie chart tersebut dan perhatikan apa yang salah dari kondisi yang digambarkannya ? dan perhatikan sekali lagi apa yang Anda lihat, ada yang salah dari situasi yang digambarkan oleh 2 pie chart tersebut ?

 

 

                 Yang saya lihat dari remang - remang penglihatan mata saya saat ini yang sudah beranjak membaik meskipun baru 15% kira - kira, saya melihat ada ketimpangan yang luar biasa pada situasi yang digambarkannya. Ketimpangan ini saya sebut sebagai "Productivity Gap" atau jurang perbedaan produktivitas antara orang - orang yang bekerja di perusahaan besar dengan orang - orang yang bekerja di Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

                  Productivity Gap inilah yang juga saya gagal melihatnya ketika penglihatan saya masih sempurna dahulu, bahwa dahulu saya tidak bisa melihat ada yang salah ketika 96% tenaga kerja hanya berkontribusi pada 60% Produk Domestik Bruto kita, sedangkan 4% tenaga kerja yang bekerja di perusahaan - perusahaan besar, berkontribusi pada 40% Produk Domestik Bruto kita.

                  Artinya, orang - orang yang bekerja di perusahaan besar mampunyai tingkat produktivitas rata - rata 16 kali dari orang - orang yang bekerja di UMKM secara rata - rata. Nah, sekarang Anda sudah bisa melihat Productivity Gap tersebut ? So What ? yang lebih penting dari melihat Productivity Gap ini adalah bagaimana kita bisa melihat atau mengetahui 'Why' nya, mengapa orang yang bekerja di perusahaan besar mempunyai produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang bekerja di UMKM. Apa yang salah dengan ini ?

                  Tidak harus ada yang salah, namun kalau kita tidak melihatnya bermasalah artinya kita menerima kondidsi ini dan kita tidak perlu berusaha merubahnya, padahal productivity juga akan terkait dengan income atau pendapatan yang akan balik ke tenaga kerja yang bersangkutan.

                  Bagaimana kita akan bisa mengangkat pendapatan 96% tenaga kerja tersebut, mendekati pendapatan 4% sisanya bila produktivitasnya hanya 1/16 % nya. Jadi, kita harus melihat akar masalahnya untuk bisa memberikan solusinya. Kita tidak akan pernah bisa memberikan solusi bila masalahnya pun kita tidak bisa meihatnya.

                  Yang bisa saya lihat, salah satu penyebab yang menjadi kendala terbatasnya produktivitas di UMKM dibandingkan di sektor usaha besar adalah akses terhadap resources. Perusahaan besar memiliki segala akses untuk mengoptimalkan seluruh resources yang dibutuhkannya untuk berproduksi, baik itu akses terhadap sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, dan lain sebagainya. Akses yang sama inilah yang tidak dimiliki oleh UMKM.

                  Mereka kesulitan untuk bisa memiliki akses yang mumpuni terhadap sumberdaya yang dibutuhkannya, untuk menggaji orang - orang pintar yg dibutuhkannya, dan apalagi akses terhadap modal. Untuk yang terakhir ini bahkan ada tembok besar yang tidak bisa dilompati oleh rata-rata UMKM. Tembok besar itu bernama 'Bankable'

                  Ketika UMKM mendapat stempel 'Unbankable' atau tidak 'Bankable' dan ini melanda hampir pada keseluruhan UMKM, maka dia tidak bisa mengakses modal yang masih menjadi tumpuan harapan utama dari sektor usaha yang ada di negeri ini. Dana milik para pekerja di UMKM tersebut yang merupakan 96% tenaga kerja negeri ini, tentu adanya di bank mayoritasnya, karena saat ini sudah tidak ada waktunya lagi untuk menyimpan uang dibawah bantal.

                 Tetapi begitu uang ini masuk ke bank, nasibnya seperti ikan yang masuk ke dalam bubu. Dia bisa masuk, tetapi tidak bisa keluar lagi. Untuk menabung, semua orang bisa masuk menjadi penabung, tetapi untuk pinjaman produktif yaitu pinjaman yang dibukakan untuk bisa berproduksi, justru hanya usaha - usaha yang mendapat stempel 'Bankable' yang bisa melakukannya. Hal yang sama juga terjadi di pasar modal dan instrumen permodalan lainnya, seperti sukuk dan lain sebagainya yang hingga saat ini baru bisa diakses oleh usaha - usaha besar.

                  Bukankah sekarang sudah banyak usaha - usaha kecil yang melesat menjadi besar bahkan sangat besar melalui proses yang disebut sebagai startup? betul, perusahaan perusahaan startup yang meskipun modal awalnya kecil bisa melesat menjadi perusaahaan besar, melalui pemodalan venture capital dan lain sebagainya. Tetapi untuk yang kedua ini juga memiliki masalahnya sendri, untuk mereka ini bukan productivity gap yang dihadapi, tetapi capital trap atau jebakan modal.

                  Anak - anak muda yang cerdas dengan ide yang luar biasa cemerlang dan mampu mengeksekusinya dengan sangat baik, nyaris tanpa cela, maka dia dapat melesatkan usahanya menjadi usaha - usaha raksasa kebanggaan negeri ini. Namun dibelakang itu ada kesedihan yang juga tidak kalah mendalamnya, yaitu besarnya usaha - usaha itu disertai berlakunya kendali pada para raksasa - raksasa pemilik modal ,

                  Hanya dengan berbekal modalnya, para raksasa - raksasa kapital cukup duduk manis dikantornya masing - masing dan dari waktu ke waktu menyeleksi mana - mana usaha yang cemerlang dari putra putri terbaik negeri ini untuk akhirnya tinggal diambil, diakuisisinya tahap demi tahap, melalui serangkaian injeksi modal demi modal, dan akhirnya tinggal menyisakan beberapa persen saja bagi para pendiri dan pemikir - pemikir yang sangat kreatif dan cerdas diawal pendirian usahanya.

                  Pertanyaannya adalah, setalah 2 masalah tersebut terpetakan, apa solusinya ? jawaban untuk seluruh persoalan dan penjelasan atas segala sesuatu itu dijanjikannya melalui kitab-NYA Al-Qur'an. Jadi, pasti ada jawaban untuk setiap persoalan dan pasti ada penjelasan yang memadai untuk setiap persoalan.

 

" .... Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu .... " (QS An-Nahl : 89)

 

" .... dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan Rahmat bagi kaum yang beriman " (QS Yusuf : 111)

 

                       Karena janjinya pasti benar, dan Dia sudah berjanji pasti memberi penjelasan atau jawaban atas segala persoalan yang kita hadapi, maka persoalan productivity gap dan capital trap tersebut juga pasti ada jawaban atau solusinya. Pertanyaannya adalah tinggal dicari dibagian mananya dari Al-Qur'an yang bisa kita gunakan untuk menjelaskan dan memberi solusi untuk masalah kontemporer tersebut diatas?

                  Tergantung seberapa banyak kita mau mentadaburi ayat - ayat-NYA dan jawaban serta solusi masalah ini pasti kita temukan dan tidak hanya pada satu atau dua ayat, tetapi insyaAllah akan kita temukan di tebaran ayat - ayat-NYa yang bahkan bisa kita hafalkan dan kita tadaburi terus menerus sampai masalah - masalah tersebut terselesaikan.

                Bahkan salah satunya saya menemukan ada satu ayat yang sekaligus menjelaskan dan memebri solusi untuk dua persoalan tersebut diatas. Ayat ini ditempatkan olehNYa dalam suatu cerita khusus yang sangat menarik yaitu ketika nabi Musa alaihi salam disuruh belajar kepada Khidir. Terjemahan ayatnya adalah sebagai berikut,

 

" Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera " (QS Al-Kahfi : 79)

 

             Secara ringkas, solusi untuk mengatasi productivity gap adalah dengan bersirkahnya orang - orang miskin dan untuk mengatasi capital trap adalah dengan membuat 'lubang di kapal'. Penjelasannya akan sangat panjang bila saya tulis semuanya ditulisan ini, sedangkan saya masih berketerbatasan untuk menulisnya sendiri.

                  Namun, bagi Anda yang tertarik untuk mendalami masalah ini, selalu bisa mampir ke Indonesia Startup Center untuk diskusi lebih lanjut dalam masalah ini. InsyaAllah.