Food Security Ala Nabi Yusuf

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 16 September 2019

Food Security Ala Nabi Yusuf

Masih dibulan syawal, waktu yang tepat bagi kita untuk menindaklanjuti hasil puasa kita berlapar-lapar selama 1 bulan penuh di bulan Ramadhan kemarin. Apa pelajaran yang tersisa dari ibadah rutin kita sebulan penuh setiap tahun itu? Apa cukup dengan berlapar-lapar sebulan tetapi setelah itu tidak ada tindak lanjutnya?

 

Puasa merupakan syariat yang begitu penting dalam agama ini, tentu membawa pesan yang juga teramat sangat penting. Salah satunya yang saya tangkap adalah terkait langsung dengan rasa lapar ketika kita berpuasa. Kita diajarkan untuk merasakan lapar sebulan penuh antara lain agar tumbuh empati kita terhadap orang lain yang merasakan lapar, sebagian mereka lapar setiap hari atau sehari makan sehari lapar dan di zaman modern ini masih ada sekitar 800 juta orang di dunia yang masih harus merasa lapar dengan terpaksan.

 

Jadi puasa kita harus menjadi pemicu bagi kita untuk bisa mengentaskan kelaparan yang dirasakan oleh orang lain. Itulah mengapa ada pesan lain bagi orang yang tidak peduli terhadap laparnya orang lain atau tidak menganjurkan memberi makan, sudah cukup baginya untuk di cap sebagai pendusta agama (QS 107: 1-3).

 

Ancaman yang sangat serius terhadap orang yang tidak menganjurkan untuk memberi makan juga ditegaskan di Al Qur'an dan disamakan dengan orang yang tidak beriman (QS 69: 30-34), disamakan pula dengan orang yang tidak melakukan shalat (QS 74: 39-44), dan bahkan ketika kita tidak memperhatikan makanan kita saja sudah di cap sebagai tidak menjalankan perintah-Nya (QS 80: 23).

 

Melihat begitu seriusnya urusan memberi makan dan menghilangkan rasa lapar oranglain ini, pastinya Allah juga memberi jalan yang amat sangat detail bagaimana melakukannya. Kita diajarkan untuk menghidupkan bumi yang mati (QS 36: 33), diajarkan menyuburkan tanah yang gersang (QS 22: 5), diajarkan untuk memilih tempat menanam terbaik (QS 2: 265), diajarkan untuk mendesain tata letak kebun terbaik (QS 18: 32), dan bahkan kita juga diajarkan mengantisipasi potensi krisis pangan jauh kedepan (QS 12: 45-49).

 

Khusus pada tulisan ini saya hanya akan bahas langkah-langkah prediktif untuk mengantisipasi potensi kelaparan dimasa mendatang tersebut diatas, karena ayat-ayat lainnya sudah pernah saya tulis dalam berbagai tulisan dalam 5 tahun terakhir dan sudah dibukukan dalam setidaknya 4 buku.

 

Khusus tentang prediksi kedepan ini saya tulis khusus karena sangat relevan dengan topik yang menjadi bahasan sangat serius ditingkat dunia yaitu dengan apa yang disebut Food Security. Indonesia yang hidup di negeri hijau royo-royo gemah ripah loh jinawi tetapi masih memiliki ketahanan pangan atau Food Security di rangking 65 dunia, padahal negeri Jiran kita ada yang berada di rangking 1 dunia. Bukankah seharusnya kita yang berada di rangking 1 dunia karena selain kita hidup di tanah yang sangat subur kita juga disyariatkan untuk sangat mementingkan kegiatan memberi makan bagi manusia ini.

 

Melalui rangkaian ayat-ayat di Surat Yusuf diatas kita mestinya bisa dengan sangat cepat menjadi pusat solusi pangan bagi negara lain persis seperti yang dilakukan Mesir di Zaman Nabi Yusuf AS. Cerita Nabi Yusuf ini disampaikan oleh Allah sebagai cerita yang paling indah (QS 12: 3) tetapi juga ditutup sebagai pembelajaran bagi orang-orang yang berakal/Ulil Albab (QS 12: 111).

 

Jadi kalau kita mau berusaha keras menggunakan akal kita untuk memahami petunjuk-Nya tersebut diatas, InsyaAllah kita juga akan bisa memberi makanan yang cukup terjangkau dan sehat bukan hanya untuk penduduk negeri ini tetapi juga untuk penduduk-penduduk negeri lainnya. Lantas apa pelajaran dari kisah Nabi Yusuf tersebut yang terkait dengan Food Security?

 

Pertama, kita diajarkan untuk berfikir jauh kedepan, mengantisipasi masalah yang akan terjadi kedepan dan mencari solusinya saat ini sebelum masalah tersebut benar-benar muncul (QS 12: 45). Di zaman Nabi Yusuf, pemikiran prediktif itu dilakukan melalui tafsir mimpi, di zaman sekarang tentu sangat banyak data-data yang bisa kita olah untuk memprediksi masalah yang belum timbul.

 

Kedua, kita bijak bertindak saat ini bukan saja hanya mengatasi masalah yang terjadi saat ini tetapi juga menyiapkan solusi yang kongkrit untuk masalah yang belum muncul. Dalam kisah Nabi Yusuf tersebut ini diwujudkan dalam bentuk kegiatan menanam tujuh tahun dan sedikit mengkonsumsinya (QS 12: 46).

 

Ketiga, harus ada kepemimpinan untuk pengelolaan hasil pertanian secara bersama, termasuk diantaranya penyimpanan untuk cadangan makanan dan cadangan bibit (QS 12: 47). Keempat, cadangan yang dikelola negara tersebutlah yang nantinya menjadi solusi ketika terjadi paceklik panjang dan masyarakat bukan hanya penduduk negeri yang bisa menikmatinya juga penduduk negeri lain yang membutuhkannya.

 

Hal ini penting ditekankan karena perintah memberi makan tersebut tidak berbatas negara dan bahkan tidak berbatas agama, dimana masih ada orang lapar masih pula berlaku fardhu kifayah untuk mengatasinya.

 

kelima, disamping harus bisa melampui masa-masa paceklik perencanaan jangka panjang juga termasuk mempersiapkan kebangkitan kembali dengan modal, bibit yang cukup untuk ditanam kembali ketika hujan mulai turun.

 

Solusi lima langkah tersebut sesungguhnya juga sangat relevan untuk kita yang hidup di Indonesia saat ini bukan hanya karena rangking Food Security kita yang masih rendah saat ini, tetapi juga kita ada kemungkinan krisis air serius di sentral produksi pangan kita (padi) di Jawa, Bali dan Lombok hingga tujuh tahun kedepan. Lantas kongkritnya apa yang bisa kita lakukan?

 

Kita bisa mulai dari langkah pertama dan kedua tersebut diatas, prediksinya sudah kita lakukan, maka waktunya kita semua mulai menanam. Lantas apa yang kita tanam? Untuk saat ini saya memilih Jagung, bukan jagung pada umumnya yang untuk pakan ternak (feed grade) tetapi jagung yang lezat yang memang kita persiapkan untuk makanan manusia (food grade).

 

 

Jagung saya pilih karena jagung bisa tumbuh dimanapun dibelahan dunia dan hanya membutuhkan sedikit sekali air dibandingkan dengan air yang dibutuhkan untuk menanam padi. Jagung juga bisa langsung dikonsumsi dengan proses yang sangat cepat dan mudah tidak seperti beras dan gandung yang perlu proses penggilingan yang njelimet. Jagung bisa diambil langsung dari pohon, direbus atau dibakar dia sudah bisa langsung enak di konsumsi, jadi dia menjadikan kandidat ideal untuk masa-masa kritis.

 

Lantas apa benar kita bisa mengatasi masalah pangan dunia ini hanya dengan jagung? InsyaAllah bisa. Matematika tanaman yang sungguh membuatnya memungkinkan untuk melakukan ini bila bibit-bibit tanaman bisa kita hasilkan sendiri dari tanaman kita dan tidak harus membeli bibit dari perusahaan-perusahaan pembibitan.

 

Sunnatullah nya setiap tanaman yang kita tanam, hasilnya selalu bisa ditanam kembali. Jadi sebagian kita makan, sebagian kita sedekahkan dan sebagian ditanam kembali. Maka dengan konsep ini dunia akan bisa mengatasi kelaparannya.

 

Saya beri contoh hitungan sebagai berikut, jagung varietas khusus yang saya sebut food grade yang lezat tersebut karena belum mengalami rekayasa macam-macam hasilnya hanya sekitar separuh dari jagung-jagung hibrida. Kalau jagung hibrida menghasilkan 7 ton perhektar rata-rata, Jagung khusus ini hanya menghasilkan sekitar separuhnya atau 3,5 ton perhektar.

 

Tetapi yang dari 3,5 ton ini pun kita bisa sisihkan 1/3 nya atau kurang lebih 1000 kg untuk bibit, maka 1000 kg bibit ini sudah cukup untuk menanam 50 ha lahan berikutnya. Jadi untuk tahap penanaman pertama kita hanya butuh 20 kg per ha, periode penanaman berikutnya InsyaAllah kita sudah bisa menanam 50 ha. Dengan pendekatan yang sama penanaman periode ketiga kita akan bisa menanam 1.750 ha dan periode keempat 50.000 hektar. Pada periode kelima kita bisa menanam 1.750.000 ha.

 

Proses penanaman dari tahap pertama sampai kelima ini hanya berlangsung dalam 2 tahun, jadi sangat cukup waktu untuk mengantisipasi krisi 7 tahun kedepan. Teorikah ini? InsyaAllah bukan hanya teori, kami bahkan sudah mulai menanamnya dihalaman kantor kami untuk memperoleh 20 kg bibit pertama. InsyaAllah dalam sebulan dua bulan kita akan siap untuk menanam 1 ha perdana.

 

Dan ini saya tawarkan ke anda yang memiliki lahan atau akses lahan yang baik ditempat yang tidak terlalu jauh dari Jabodetabek untuk  bisa menjadi percontohan food security ala Nabi Yusuf ini. Setelah 1 ha pertama tertanam, kita akan punya waktu 4 bulan kurang lebih untuk memikirkan next 50 ha nya. Begitu seterusnya. Jadi perintah untuk memberi makan ini InsyaAllah benar-benar dueable untuk kita lakukan sungguh-sungguh dengan keterlibatan kita semua.

 

Tentu masih ada resiko gagal panen atau sebagainya, tetapi setidaknya kita akan punya argumen kepada-Nya bahwa kami sudah melakukannya Ya Allah jangan kau masukkan kami kedalam kelompok orang-orang yang mendustakan agama ini dan jangan kau masukkan kami sebagai orang yang melalaikan perintahmu.