Food Triangle: Ketahanan Pangan Yang Hakiki

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Sabtu, 20 Juli 2019

Food Triangle: Ketahanan Pangan Yang Hakiki

Ketahanan pangan atau food security Indonesia yang berada di rangking 65 dunia berpotensi untuk memburuk bila tidak ada solusi yang efektif untuk dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat secepatnya. Hal ini setidaknya terungkap dari data Badan Pusat Statistik yang dirilis baru-baru ini khususnya untuk tanaman beras.

 

Bila pada tahun 2015 pertumbuhan produksi tanaman pangan untuk beras masih mendekati tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu berada pada angka 4,32% ditahun 2015 menjadi 1,48% di tahun 2018. Ini pula yang membuat terjadinya lonjakan impor beras yang ditahun 2015 hanya 0,86 juta ton menjadi 2,25 juta ton di tahu n 2018.

 

Namun sesungguhnya negeri ini mempunyai potensi untuk memiliki food security atau tingkat ketahanan pangan terbaik di dunia bila kita mau berfikir out of the box bebas dari kungkungan kebiasaan dan persepsi kita tentang pangan selama ini. Kalau bahan pangan pokok kita, kita persepsikan itu hanya beras maka disitulah kerawanan kita terhadap supply pangan itu bisa muncul. Untuk produksi beras diperlukan lahan-lahan terbaik dengan air yang melimpah dan ini semakin terbatas ketersediaannya di negeri ini. Disinilah letaknya mengapa kita harus berfikir luas untuk urusan pangan ini.

 

Ketahanan pangan adalah urusan kita semua tidak terbatas pada tugas pemerintah. Pemerintah memang mempunyai tugasnya sendiri untuk memfasilitasi tercapainya ketahanan pangan yang terbaik dengan berbagai kebijakan yang menunjang untuk itu, tetapi selebihnya rakyat seperti kitalah yang juga harus berperan maksimal dalam membangun ketahanan pangan ini.

 

Ketika kita abai saja dari memperhatikan pangan ini, kita sudah dianggap tidak menjalankan perintah-Nya (QS 80: 23), bahkan tidak menganjurkan memberi makan saja sudah cukup untuk melabeli diri kita sebagai pendusta agama (QS 107: 3). Disisi lain Dia juga memberikan kepada kita juklaknya yang sangat detail untuk urusan pangan ini, bahkan apa yang disebut oleh masyarakat modern sebagai food security yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan keamanan pangan pun semua ada pada petunjuk-Nya.

 

Ilustrasi dibawah adalah food security atau ketahanan pangan yang hakiki yang petunjuk-Nya ditebarkan oleh Allah dalam sejumlah surat di Al Qur'an. Yang paling bawah adalah pangan untuk mengatasi kelaparan, yang ini jumlahnya sangat banyak dan berulang-ulang disebutkan oleh Allah dalam sejumlah surat.

 

Di surat Yasiin misalnya, tanah yang mati dihidupkan dengan  biji-bijian (QS 36: 33), artinya biji-bijian inilah top priority untuk ditananam agar manusia di muka bumi terhindar dari kelaparan. Hal senada juga ketika Allah merenceng sejumlah tanaman untuk makanan kita, biji-bijian juga diletakkan pada yang pertama.

 

Biji-bijian ini umumnya tumbuh disegala jenis tanah dan disegala jenis musim ada jenis tanaman biji-bijian yang sesuai. Biji-bijian juga jenis tanaman yang sangat mudah digandakan. Satu butir biji bisa menghasilkan 700 butir biji setelah ditanam. Jadi biji-bijian inilah kunci untuk mengatasi kelaparan atau saya sebut Zero Hunger Food yaitu kelompok bahan makanan yang fokusnya untuk menghindarkan kelaparan atau untuk memberi makan pada hari kelaparan (QS 90: 11-15).

 

Tingkatan makanan berikutnya adalah ketika kita bisa memilih makanan-makanan yang ada. Maka yang harus kita pilih adalah makanan yang paling murni (QS 18: 19), ini menjadi semakin penting di zaman penuh fitnah ini karena mencari makanan yang benar-benar murni tidak tercampur zat-zat lain yang tidak seharusnya ada di makanan menjadi semakin sulit.

 

Tingkat tertinggi dari makanan kita adalah apa yang saya sebut makanan surgawi atau heavenly food. Ini bukan sembarangan sebutan karena memang dijelaskan oleh-Nya ada sejumlah makanan yang ada di surga yaitu antara lain: susu, buah dan madu (QS 47: 15).

 

Tetapi makanan yang serupa juga tersedia untuk kita nikmati di dunia ini dan ini diperinci oleh-Nya pula di surat An Nahl ayat 65 sampai 69. Yang menariknya makanan-makanan surgawi ini umumnya diproduksi di daerah dataran tinggi (QS 35: 27) dan daerah yang banyak menerima hujan (QS 16: 10-11).

 

Nah sekarang kita coba pikirkan tingkat makanan tertingginya, yaitu makanan yang serupa dengan makanan yang ada di surga. Dia di produksi di daerah dataran tinggi atau pegunungan dan daerah yang banyak menerima hujan. Sekarang dimanakah daerah yang sesuai dengan kriteria-kriteria ini didunia? salah satunya tentu di Indonesia.

 

Indonesia memenuhi seluruh kriteria terbaik untuk memproduksi makanan karena Indonesia memiliki sinar matahari yang sangat kuat sepanjang tahun, hujan yang sangat lebat kurang lebih separuh waktu dari setahun (QS 78: 13-15) dan Indonesia memiliki berbagai daerah yang bergunung-gunung  terbanyak didunia (QS 35: 27).

 

Kombinasi dari ini semua seharusnya tidak ada halangan bagi kita untuk memproduksi pangan dalam skala besar untuk mengatasi kelaparan, bahkan juga tidak ada masalah bagi kita untuk memproduksi makanan terbaik yang murni benar-benar hanya berisi makanan dan juga makanan surgawi seperti susu, buah dan madu.

 

Yang menjadi ironi sekarang adalah di negeri yang seperti ini kita masih impor biji-bijian dalam skala besar seperti yang ditunjukkan oleh data BPS diatas, kita juga mengimpor susu, buah-buahan danbahkan juga madu. Alhasil seluruh potensi yang ada di ngeri ini nampaknya belum berhasil kita manfaatkan.

 

Sekali lagi kita tidak bisa menyalahkan siapa pun untuk hal ini kecuali pada diri-diri kita sendiri. Mengapa demikian? ketika Allah mengungkap "Dijakdikan kamu dari tanah dan dijadikan kamu pemakmurnya" (QS 11: 61) bukankah Allah sedang berbicara dengan kita. Demikian pula ketika Allah mengingatkan sungguh manusia belum menjalankan apa yang diperintahkan-Nya (QS 80: 23). Bukankah ayat-ayat ini untuk kita semua?

 

Jadi food security atau ketahanan pangan yang hakiki itu adalah tugas kita semua dan kepada kita diberikan segala sarana dan ilmu-Nya untuk ini. Tinggal masalahnya apakah kita mengambil peran ini atau kita memandang ini hanya tugas orang lain.