Pasien yang Menghafal Resep

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 11 Desember 2018

Pasien yang Menghafal Resep

 

              Seorang pasien datang ke dokter dan diberi resep untuk menyembuhkan penyakitnya, sepekan kemudian dia datang lagi ke dokter tersebut dan mengeluhkan penyakitnya tidak kunjung sembuh. Ketika dokter bertanya “Bukankan sudah aku berikan resep untuk menyembuhkan penyakitmu? Apa yang sudah kamu lakukan dengan resep itu?” Sang pasien menjawab “Saya sudah pahami resep dari Pak Dokter dan bahkan saya sudah menghafalkannya”.            

          Sang Dokter agak bingung kemudian dia bertanya lagi “Jadi resep itu cuma kamu pahami dan kamu hafalkan?” Sang Pasien menjawab “Betul Pak Dokter. Kan Pak Dokter hanya memberi resep. Tidak menyuruh apa-apa dengan resep ini”. Sang Dokter menepuk jidatnya, “Memang saya hanya memberi resep itu. Tetapi bukankah kamu tahu apa yang harus kamu lakukan dengan resep itu? Kamu seharusnya menebus obat dengan resep itu kemudian mengikuti petunjuknya untuk meminum obatnya sampai kamu sembuh. Penyakitmu belum sembuh karena upayamu untuk memahami dan menghafal resep sangat tidak memadai sebagai ikhtiar untuk penyembuhanmu”.

            Cerita diatas tentu hanya fiksi saya untuk menggambarkan itulah situasi yang kita hadapi. Berbagai persoalan besar dibidang ekonomi, pangan, politik, bencana alam, dan lain sebagainya yang kita hadapi di negeri yang sudah tujuh puluh tiga tahun merdeka dan tujuh presiden silih berganti ini bukan masalah pengetahuan/teori semata.

            Pada tingkat ilmu pengetahuan kita telah memiliki hampir segala jenis perguruan tinggi terbaik di bidang apapun. Namun ilmu pengetahuan saja ternyata sangat-sangat tidak memadai bila tidak diterapkan secara nyata untuk mengatasi berbagai persoalan di masyarakat. Kita memiliki perguruan tinggi dan fakultas-fakultas pertanian terbaik di negeri ini tetapi baru bicara data produksi beras dan jagung masih simpang siur. Harga menjadi bergejolak karena ketidak akuratan data suply dan demand.

            Kita memiliki fakultas-fakultas ekonomi terbaik tetapi untuk 260 juta penduduk negeri ini masih menjadi bulan-bulanan target pasar bagi para pemasar global untuk produk-produk yang seharusnya bisa secara melimpah di produksi di dalam negeri.

kita memiliki perguruan tinggi-perguruan tinggi teknik terbaik, bahkan untuk memproduksi pesawat pun kita mampu tetapi yang ada di jalan raya dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan impor dan belum nampak yang nyata-nyata hasil karya para insinyur kita.

            Ini menunjukkan bahwa pada tataran ilmu yang sangat tinggi sekalipun bila tidak ditunjang dengan implementasi lapangan yang persisten, ilmu itu berhenti pada tataran ilmu tidak menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

            Bahkan yang berusaha mengamalkan ilmu pun tidak dijamin dia langsung berhasil, tanpa melalui serangkaian challenge, ujian dan bahkan juga bisa dirundung musibah demi musibah. Persisntensi atau keistiqomahan atau mengamalkan ilmu ini bisa dipelajari dari episode perjalanan uswatun hasanah kita di rangkaian surat Ali Imran mulai dari ayat 31-81. Dirangkaian ayat-ayat tersebut misalnya kepada kita dijanjikan bahwa umat ini adalah umat yang tertinggi derajatnya bila kita benar-benar beriman (Q.S 3: 139).

            Tetapi tidak serta merta bahwa kita menjadi umat yang tertinggi, dan ini diindikasikan antara lain melalui peletakan ayat 139 tersebut. Ayat ini diapit oleh ayat 138 yang mensyaratkan penggunaan Al Qur’an sebagai petunjuk dan mauidhoh atau pelajaran yang kuat. Sedangkan rangkaian ayat sesudahnya bercerita tentang serangkaian cobaan demi cobaan, ujian demi ujian sebelum akhirnya membuktikan umat ini adalah umat yang unggul. Bahkan ketika generasi terbaik berperang didampingi langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam perang Uhud, umat ini bisa kalah. Bisa dibanyangkan di generasi kita betapa beratnya untuk kembali mengunggulkan umat ini tanpa adanya keistiqomahan dalam mengamalkan petunjuk-petunjukNya. Dalam perang Uhud umat Islam kalah karena Allah SWT hendak membuktikkan siapa yang benar-benar beriman dan memberi kesempatan sebagian orang yang beriman tersebut untuk mati syahid (Q.S 3: 140). Kekalahan itu juga untuk mensucikan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang tidak beriman (Q.S 3: 141). Kekalahan tersebut juga untuk memberi pelajaran kepada orang-orang yang beriman agar mereka tidak sekedar berandai-andai akan masuk surga sebelum benar-benar diuji siapa yang sungguh-sungguh berjuang di jalanNya dan sungguh-sungguh bersabar Q.S 3: 141-142).

            Jadi dari rangkaian ayat tersebut kita bisa belajar bahwa ilmu apapun termasuk ilmu Al Qur’an, pertama yang jelas tidak cukup hanya di pahami dan dihafalkan. Ilmu-ilmu tersebut menuntut pengamalan agar dia benar-benar bisa menjadi solusi. Yang kedua, bahkan ketika ilmu-ilmu tersebut diamalkan tidak serta merta akan berjalan mulus. Sehingga bagi para pengamal ilmu ini juga harus sangat siap menghadapi segala macam tantangan, cobaan dan bahkan juga kegagalan dalam sudut pandang manusia.

            Allah SWT bahkan sudah mensinyalir akan adanya orang-orang yang frustrasi dalam pengamalan ilmunya sampai-sampai mereka berucap “…Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) disini…” (Q.S 3: 154).

            Dan bagi para penonton bola yaitu orang-orang yang tidak berusaha mengamalkan ilmunya, mereka hanya bisa berkomentar dan berandai-andai dengan berkata “…Sekiranya mereka tetap bersama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh…” (Q.S 3: 156).

            Jadi “obat” jelas tidak cukup hanya dihafalkan dan dipahami, bahkan ketika di amalkan juga bukan obat itu yang menentukan kesembuhan. Tetapi hanya Dia yang bisa menyembuhkan. Demikian pula dengan segala penyakit dan persoalan kehidupan dibutuhkan ikhtiar yang istiqomah secara maksimal untuk mengamalkan petunjuk-petunjukNya. Bagi para pengamal tidak boleh berputus asa dan bagi para penonton tidak bisa men-judge apakah suatu amal itu berhasil atau gagal karena hanya Dialah yang menentukan dan mengetahui hakekat keberhasilan atau kegagalan itu, pengetahuan manusia hanyalah Djon semata yang dikiranya benar bisa saja itu keliru dan sebalikanya. Semoga Allah SWT senantiasa memberi petunjuk kita dan menjaga ke istiqomahan kita dalam mengamalkan petunjuk-petunjukNya.