Water Crisis in Best Islands of the World

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Sabtu, 20 Oktober 2018

Water Crisis in Best Islands of the World

Publikasi terkemuka industri wisata dunia Travel+Leisure bulan lalu menyajikan pilihan para pembacanya untuk pulau-pulau terbaik di dunia. Top three dari 15 pulau terbaik dunia, ketiganya adalah pulau-pulau di Indonesia yang berdampingan satu sama lain yaitu no 1 Jawa, no 2 Bali dan no 3 Lombok. Ini kesempatan Indonesia untuk mempromosikan industri  pariwisatanya secara massif, namun lebih dari itu - ini juga kesempatan bagi kita semua untuk menyadarkan dunia akan isu lingkungan wa bil khusus - masalah ketersediaan air bersih untuk kelangsungan kehidupan kita di bumi ini.

 

Selama setengah abat terakhir, sumber daya air - renewable internal freshwater resources - di Indonesia menurut data Bank Dunia turun dari angka 21 ribuan meter kubik per kapita, angka itu kini tinggal di kisaran 7,000-an.

 

Angka tersebut sebenarnya masih cukup tinggi. namun masalahnya sekitar 60% penduduk Indonesia justru tinggal di tiga pulau terbaik tersebut di atas yaitu Jawa, Bali dan Lombok - dimana sumber daya air yang tersedia hanya sekitar 4% dari seluruh sumber daya air tawar yang ada di Indonesia.

 

 

Bayangkan sekarang, 60 % penduduk Indonesia atau sekitar 160 juta penduduk yang masing-masing hanya ada cadangan air tawar di kisaran 500-an meter kubik per kepala - dan angka ini terus menurun - di tengah jumlah penduduk di tiga pulau tersebut justru mengalami peningkatan yang paling tinggi oleh sebab kelahiran plus arus urbanisasi.

 

Penurunan cadangan air tawar terus menerus terjadi karena kerusakan daerah aliran sungai, degradasi lingkungan, berkurangnya daerah resapan air hujan, tingginya tingkat pencemaran dan yang tidak kalah menyedihkannya adalah rendahnya budaya sadar lingkungan - khususnya kesadaran untuk menghemat dan menjaga kelangsungan ketersediaan air untuk kita semua.

 

Rendahnya budaya sadar lingkungan khususnya air ini tidak hanya melanda individu, tetapi juga korporasi. Di bukit tempat kami ber-exercise secara kecil-kecilan dalam beberapa hektar saja - cikal bakal dari Biosphore Project, menanam berbagai jenis pepohonan jangka panjang untuk menyelamatkan air dan udara - di bawah bukitnya secara sangat massif dalam skala ribuan hektar seluruh pohon diratakan dengan tanah - untuk alasan pembangunan perumahan. Inilah miniatur dari kita, amat kecil kekuatan untuk menanam itu dibangdingkan dengan kekuatan besar yang menebangnya !

 

Dampak dari ini semua, kini sekitar 77 % kabupaten atau kota di tiga pulau tersebut telah mengalami defisit air antara 1 bulan sampai 8 bulan setiap tahunnya. Lima tahun menjelang target SDG no 6 yaitu semua penduduk di dunia harus punya akses terhadap air bersih dan sanitasi (2030),  tepatnya pada tahun 2025 diperkirakan penduduk di 78.4 % kabupaten dan kota di pulau-pulau terbaik tersebut justru mengalami defisit air dari satu bulan sampai 12 bulan. Daerah yang mengalami defisit air 12 bulan setiap tahunnya berarti telah mengalami defisit air secara permanen !

 

 Lantas apa yang dapat kita lakukan di tengah crisis air yang sangat imminent tersebut ?, pertama yang jelas semua penyebab penurunan sumber daya air tawar tesebut harus dihentikan, harus ada kebijakan pemerintah yang tegas untuk ini.

 

Kedua harus ada upaya me-recover sumber daya air tersebut semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Project 'O' atau Offset dari Biosphere dengan gerakan menanam bambu secara massif adalah salah satu upaya minimal yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan air untuk kehidupan ini.

 

Sebagaimana pusat krisis air utamanya di Jawa, Bali dan Lombok atau Nusa Tenggara secara keseluruhan - maka Biosphere Project juga akan menyasar pulau-pulau terbaik ini sebagai target area yang akan di-recover sumber daya airnya lebih dahulu.

 

Gerakan ini nantinya bisa diikuti oleh sponsor/investor pribadi setelah semuanya siap, untuk saat ini yang kami buka dahulu adalah kesempatan korporasi atau institusi yang concern terhadap lingkungan - Anda sudah dapat berkomunikasi dengan kami lebih dahulu bila berminat.

 

Di dunia startup, problem besar identik dengan peluang besar - maka bagi para startupers bila startup Anda melirik environment impact sebagai targetnya - Anda juga sudah dapat berkomunikasi dengan kami untuk kemungkinan kolaborasinya. InsyaAllah.