Three Steps To Heal The Nature

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 14 Desember 2018

Three Steps To Heal The Nature

Katika 1400 tahun lalu turun kabar bahwa "...telah nampak kerusakan di darat dan di laut..." (QS 30:41), tidak berarti kerusakan alam saat itu sudah terjadi seperti yang kita hadapi saat ini. Kerusakan alam yang sangat parah baru terjadi belum se-abad terakhir ketika manusia secara massive mengeruk fossil untuk energi dan produk-produk turunannya seperti pupuk kimia, pestisida dlsb.

 

Tetapi Dia - Sang Maha Pencipta - pengetahuanNya tidak berdimensi waktu, Dia tahu yang sudah maupun yang belum terjadi. Bila dikabarkan bahwa "...telah nampak kerusakan..." maka hal itu pasti terjadi meskipun saat itu belum terjadi.

 

Penyebab kerusakannya-pun dikabarkan sekaligus, yaitu "...disebabkan karena perbuatan tangan manusia...", dan inipun pasti terjadi. Maka kalau tingkat kerusakan alam itu menjadi-jadi di abad terakhir,  penyebabnya pasti karena perbuatan tangan-tangan manusia yang hidup pada jaman kerusakan ini terjadi.

 

Kita yang hidup di jaman ini, dimana kerusakan itu terjadi - kita sadari maupun tidak, sungguh kita telah ikut berbuat kerusakan tersebut - meskipun magnitude-nya berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya.

 

Bila ikan di laut berkurang drastis, 2/3 penduduk bumi akan kesulitan air pada tahun 2025, populasi lebah terancam punah di bumi padahal lebih dari 70% makanan kita memerlukan lebah untuk penyerbukannya - sekedar menyebut beberapa indikator dari kerusakan di darat, air dan udara, lantas apa penyebab ini semua ?

 

Penyebabnya adalah karena kita tidak peduli bila yang kita makan ditanam dengan menggunakan aneka pupuk kimia dan berbagai pestisida yang mencemari air, tanah hingga udara. Kita juga tidak peduli bila makanan kita harus dikirim menempuh perjalanan separuh bumi dalam kapal yang mengarungi samudra  lebih dari satu bulan sebelum sampai pabrik pengolahannya.

 

Walhasil rata-rata penduduk bumi mencemari atmosfir dengan 2,500 kg CO2 setiap tahunnya hanya untuk makanan yang dimakannya. Bila dia memiliki kendaraan berbahan bakar bensin, dia mencemari lingkungan deangan 2.35 kg CO2 dari setiap liter bensin yang dibakarnya,  bila mobilnya diesel lebih banyak lagi yang dikeluarkan - yaitu 2.66 kg CO2 setiap mobilnya mengkonsumsi solar 1 liter.

 

Pencemaran ini terus berlanjut, setiap kali istrinya di rumah menghabiskan LPG 12 kg, dia sudah mencemari lingkungan dengan 36.5 kg CO2. Setiap kali dia menghabisakan pulsa listrik Rp 500,000 dengan tingkat harga sekarang, dia mencemari lingkungan sebesar 187 kg CO2. Dalam perjalanan pesawat pulang pergi Jakarta Surabaya saja, dia sendiri telah mencemari lingkungan dengan 178 kg CO2.

 

Begitu seterusnya daftar ini akan sangat panjang seiring banyaknya aktivitas kita, dengan mudah tanpa kita sadari - rata-rata eksekutif yang banyak melakukan perjalanan, dia mencemari lingkungan lebih dari 3 kali dari rata-rata penduduk dunia. Tidak kurang dari 15 ton CO2 diproduksinya setiap tahun dari aktivitas sang eksekutif aktif.

 

Lantas apakah terus kita tidak perlu beraktivitas agar tidak mencemari lingkungan dan merusak alam ? tidak juga demikian, kita hanya butuh keseimbangan antara aktivitas kita dalam memakmurkan bumiNya ini - dengan  tanggung jawab dalam memelihara keseimbangan alamnya.

 

Itulah sebabnya meskipun Yang Maha Tahu sudah mengabarkan bahwa tangan-tangan manusia ini yang dapat berbuat kerusakan, kepada manusia ini pula upaya untuk menegakkan keseimbangan alam ini diamanatkan ( QS 55 :7-9).

 

Maka proyek untuk menyembuhkan alam yang rusak atau sedang sakit ini - yang saya sebut Biosphere Project - dapat disederhanakan menjadi tiga langkah di bawah, dan karena hanya tiga langkah 1, 2 dan 3 - diharapkan sebanyak mungkin masyarakat bisa berperan untuk  melakukan perbaikan di muka bumi, menegakkan keseimbangan dengan keadilan semaksimal yang kita bisa.

 

 

Langkah pertama adalah "Reduce" atau mengurangi berbagai aktivitas yang mencemari lingkungan atau berdampak pada kerusakan alam. Setiap liter bensin yang kita hemat - karena kita pilih naik kereta atau naik sepeda misalnya - kita sudah mengurangi emisi CO2 sebesar 2.35 kg CO 2. Bila 10 % saja makanan kita organic, kita sudah menurunkan pencemaran lingkungan sampai 250 kg setahun.

 

Namun  seberapa besar-pun upaya kita untuk menurunkan emisi ini, kita yang hidup di jaman ini tetap tidak akan bisa sepenuhnya menghilangkan aktivitas kita yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan dalam bentuk emisi CO2. Mengapa demikian ?

 

Mayoritas bahan bakar yang kita pakai untuk transportasi masih menggunakan fossil, demikian pula pembangkit listrik. Bahan pangan yang diolah menjadi makanan kita masih ditanam dengan guyuran berbagai pupuk kimia dan semprotan pestisida, yang semuanya berdampak pada kerusakan tanah, air dan udara. Walhasil ketika kita tetap harus aktif bepergian, naik pesawat, naik kereta, makan berbagai makanan yang ada  dlsb. buntutnya tetap mengeluarkan emisi - jadi emisi ini hanya bisa diturunkan atau dikurangi tetapi tidak bisa dihilangkan.

 

Maka langkah keduanya adalah melakukan 'Offset' atau mengganti emisi yang kita keluarkan dengan menanam tanaman yang setara dan cukup untuk menyerap CO2 yang kita keluarkan tersebut.

 

Sebagai contoh kalau saya ambilkan tanaman bambu yang kita gunakan untuk meng-offset emisi tersebut,  setiap hektar tanaman bambu yang sudah tumbuh dewasa, dia dapat menyerap 1 ton CO2 setiap hari atau 365 ton setahun. Ini cukup untuk meng-offset emisi dari 76 orang rata-rata di dunia dalam setahun.

 

Mengapa bukan tanaman kayu ? tanaman kayu harus ditanam dari awal lagi setelah dia dipanen, sedangkan rumpun bambu tetap eksis meskipun dia selalu dpanen setiap tahun. Tanaman bambu mudah yang menggantikan batang yang dipanen tahun itu - tumbuh dengan sangat cepat yang berarti juga sangat cepat menyerap CO2 untuk pembentukan biomassa-nya.

 

Rata-rata orang hanya perlu menanam 3 rumpun bambu yang dibiarkan tumbuh hingga dewasa dan dibiarkan terus hidup setelah itu, agar emisi CO2 yang dikeluarkannya habis terserap aau tergantikan oleh CO2 yang diserap oleh tiga rumpun bambu ini. Well kalau Anda eksekutif yang sibuk, tanamlah minimal 3 kalinya atau 9-10 rumpun agar cukup untuk meng-offset CO2 yang tanpa sadar timbul dari perbagai kesibukan Anda.

 

Apa jadinya kalau banyak-banyak orang ikut menanam bambu ini rame-rame ? lahan kita akan dipenuhi bambu. Agar populasi bambunya juga terkontrol dengan baik sehingga dia menjadi tanaman evergreen yang selalu menghijaukan bumi namun tidak sampai  menelan lahan disekitarnya yang dibutuhkan juga untuk berbagai keperluan lainnya, bambu harus rutin dipanen 1/4 sampa 1/3 dari jumlah batang di setiap rumpunnya setiap tahun.

 

Maka langkah ke 3 adalah 'Support' atau dukungan kita agar industri berbasis bambu juga bisa berjalan. Bambu tidak hanya bermanfaat ketika dia hidup dan tumbuh, ketika mati-pun penggunaan bambu memberi manfaat lebih dari material lainnya.

 

Ketika bambu digunakan sebagai sumber energi biomassa, dia bersifat carbon neutral - emisi yang dikeluarkannya ketika dibakar ter-offset dengan CO2 yang diserap semasa hidupnya.

 

Ketika bambu digunakan sebagai the future timber - kayu masa depan, dia menggantikan kayu yang tidak sustainable - karena setiap kayu dipanen, dia harus mulai ditumbuhkan lagi dari awal , sedangkan bambu bisa dipanen terus tanpa harus menumbuhkan lagi dari awal - menjadi 'kayu' masa depan yang sustainable.

 

Ketika bambu diambil seratnya, dia dapat menggantikan dengan yang lebih baik dari serat kapas apalagi serat sintetis. Setiap hektar tanaman bambu, mampu menghasilkan 10 kali lebih banyak serat ketimbang kapas. Setiap hektarnya hanya membutuhkan 1/10 air dari yang dibutuhka kapas, dan bambu bisa tumbuh baik tanpa menggunakan pupuk kimia sekalipun.

 

Namun segala perbaikan alam ini tidak akan terjadi tanpa support atau dukungan masyarakat luas - masyarakat yang sadar untuk melakukan perbaikan di muka bumi semaksimal yang dia mampu, agar dia tidak menjadi orang-orang yang disebutkan di surat 30:41 tersebut di atas , yaitu yang disebut berbuat kerusakan dengan tangannya.

 

Dengan tiga langkah ini, Reduce, Offset and Support (ROS), pasti sudah ada yang bisa segera kita lakukan. Reduce bisa kita mulai kapan saja dan dimana saja, Offset bisa Anda mulai menanam bambu sendiri bila mau - bila tidak insyaAllah tidak lama lagi kita akan membuat gerakan nanam bambu untuk 'Offset' pencemaran yang kita terpaksa lakukan.

 

Sedangkan 'Support' adalah dampak dari langkah kedua yaitu 'Offset', bersamaan dengan kita menanam bambu rame-rame dalam skala luas - kita kudu pikirkan dan dukung bareng-bareng industri pengolahannya. Industri yang akan menghasilkan sustainable renewable energy, yang akan menghasilkan the future timber, dan yang akan membawa kita swasembada tekstil dari serat yang tumbuh secara sangat baik di negeri ini - yaitu serat bambu.

 

Untuk meyakinkan kita semua bahwa sampai langkah ke 3 ini-pun sudah sangat doable sekarang - teknologinya sudah ada, kaos yang dipakai team kami ini sudah terbuat dari serat bambu.

 

Bila Anda scientist atau activist lingkungan yang mau berbagi menyempurnakan ide kami tentang Biosphere Project ini - kaos dari serat bambu tersebut akan kami kirimkan ke Anda yang idenya dapat memperkaya konsep ini. Keputusan kami untuk siapa yang diberi dan siapa yang tidak diberi kaos ini - tidak bisa diganggu gugat dan selama stok masih tersedia.

 

Silahkan berkontribusi.