Biosphere Project - Where Life Lives

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 19 November 2018

Biosphere Project - Where Life Lives

Alam yang semestinya menjadi tempat tinggal bersama yang berkelanjutan bagi seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya, ternyata justru dirusak oleh makhluk yang konon paling cerdas diantara penghuninya. World Wildlife Fund (WWF) mengungkap fakta bahwa air hujan yang mestinya tinggal di bumi, di buang langsung ke laut menjadi air asin. Siapa yang bisa melakukan ini ? Hanya makhluk cerdas - manusia yang bisa melakukannya - 54% run-off adalah akibat ulah manusia.

 

Akibatnya tentu manusia sendiri yang pertama akan menderita, masih menurut sumber yang sama 2/3 umat manusia akan kesulitan akses air dalam waktu hanya tujuh tahun mendatang (2025). Selain manusia, tentu makhluk lain juga menjadi korbannya. Menurut UNDP 8 % jenis kehidupan telah musnah dari muka bumi dan 22% lainnya sedang menuju kepunahan.

 

Menurut UNDP pula, dalam setengah abad terakhir (sejak 1970) natural disasters naik 4 kalinya. Bila tahun 1970 rata-rata hanya ada 100 bencana alam di dunia per tahunnya, kini rata-rata ada 400 bencana alam setiap tahunnya. Antara lain adalah akibat efek perubahan musim dan rumah kaca yang meningkat 50% dalam sekitar seperempat abad terakhir.

 

Apa yang sudah terjadi kita tidak bisa mengubahnya, tetapi untuk yang akan datang - makhluk cerdas - ini diberi kemampuan untuk mampu melakukan perbaikan. Hanya manusialah yang oleh Sang Maha Pencipta dititipi pesan untuk tidak merusak alam semesta dan mengganggu keseimbangannya, bahkan untuk yang terlanjur dirusaknya - kepada manusia pula diberi pesan untuk membangun kembali keseimbangan itu dengan berbuat adil dan tidak melampaui batas.

 

Perbaikan inipun tidak perlu muluk-muluk, karena kita hanya diberi tugas untuk melakukan perbaikan yang kita mampu. Namun pengertian semampu kita ini, bukan seperti kita berjalan santai  ala kadarnya - tetapi berlari kencang sampai kita pingsan - ketika kita pingsan itulah batas kemampuan kita !

 

Maka perbaikan atas kerusakan-kerusakan kehidupan di alam yang sudah terjadi seperti yang terungkap dalam beberapa fakta tersebut, kita hanya akan bisa melakukannya bila kita bersungguh-sungguh - seperti kita berlari sampai pingsan tersebut di atas.

 

Atas dasar niat untuk melakukan perbaikan secara bersungguh-sungguh inilah, maka kami di Indonesia Startup Center beserta sejumlah startup yang ada di dalamnya seperti iGrow, Etherische, AfterOil, Verde Impact dlsb. menginisiasi kerja barengan dengan apa yang kami sebut sebagai Biosphere Project. Setelah ini tentu pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian yang sama juga diundang untuk bergabung.

 

Biosphere adalah istilah untuk a place where life lives - tempat dimana kehidupan itu tinggal. Biosphere memiliki setidaknya tiga unsur penunjang kehidupan yaitu tanah (lithosphere), air (hydrosphere) dan udara (atmosphere). Tiga penunjang kehidupan yang kini rusak parah tersepbutlah yang ingin mulai diperbaiki oleh Biosphere Project ini.

 

Apakah proyek 'ngecat langit' ini tidak terlalu muluk untuk dapat ditangani perusahaan-perusahaan rintisan atau yang secara ngepop disebut startup tersebut ? Tidak, justru di sinilah peluang terbaik para startup.

 

Bila ada masalah yang terlalu besar untuk diatasi oleh para korporasi-korporasi raksasa, atau bahkan oleh  institusi pemerintah sekalipun - maka coba serahkan masalah tersebut kepada para startup karena sangat bisa jadi mereka akan bisa mengatasinya, bagi mereka ini di mana ada masalah besar - maka disitulah ada dua potensi besar.

 

Siapa yang bisa 'mengakali' kemacetan kota-kota besar dunia ? awalnya bukan well established corporation dan bukan institusi pemerintah, mereka awalnya adalah startup-startup yang bahkan para pendirinya juga tidak harus orang transpotasi dan sejenisnya. Hal yang sama juga terjadi untuk pasar para UKM, akses modal untuk para petani dan pelaku ekonomi kecil dlsb.

 

Maka demikian pulalah masalah besar yang terkait dengan kerusakan lingkungan  kehidupan dimana seluruh makhluk hidup di alam semesta ini tinggal. Masalah yag bersifat multi dimensi, tidak bisa diatasi oleh korporasi dan institusi yang bekerja secara sektoral. Lantas  mengapa startup bisa diharapkan untuk melakukannya ? Karena startup ini rata-rata belum mempunyai 'sector', dia tidak memiliki pembatas-pembatas imaginer yang disebut pakem.

 

Dalam biografinya, Muhammad Yunus - mengungkapkan '...saya tidak akan pernah bisa membuat Grameen Bank kalau saya orang bank...' . Mengapa demikian ? kalau dia orang bank, maka pikirannya akan berada di pakem orang bank, sedangkan Grameen Bank adalah bank yang sangat berbeda dengan konsep bank pada umumnya. Dan Grameen Bank inilah yang mengantarkan Muhammad Yunus sampai memperoleh penghargaan Nobel untuk perdamaian.

 

Maka demikan pulalah isu yang terkait dengan penunjang kehidupan di darat, air dan udara yang kita sebut biosphere tersebut di atas. Dibutuhkan pola pikir dan pola tindak yang berbeda, agar bumi dan lingkungannya ini kembali menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya.

 

Well, tentu ibarat berjalan untuk seribu langkah - tetap harus dimulai dari satu dua langkah pertama. Demikian pula dengan Biosphere Project ini, kita harus mulai somewhere - yaitu satu - dua langkah awalnya.

 

Langkah-langkah awal ini kami memulainya dengan tanaman bambu, lho kok ? Bagaimana bambu bisa menjadi sarana untuk menyelamatkan kehidupan di dunia ? Kembali ke konsep Biosphere yang terdiri dari lithosphere, hydrosphere dan atmosphere tersebut di atas.

 

 

Di lithosphere atau darat, bambu dapat mengerem laju erosi tanah sampai 80 %, unsur-unsur mikro yang ada di tanah dipertahankannya, soil organic matter terus tumbuh di daerah yang ditanami bambu, kesuburan nya meningkat - buminya menjadi ihtazzat wa rabbat - stir and swell, kehidupan di tanah terus meningkat.

 

Di hydrosphere tanaman bambu mengerem laju runoff air hujan hingga 25 %, air ini diresapkan melalui system perakaran bambu - dan makin lama makin banyak - menjadi semacam simpanan air di dalam tanah. Akibatnya permukaan air tanah naik sedikit demi sedikit dan tanpa terasa - setelah 20 tahun berlalu - permukaan air tanah itu naik hingga 10 meter.

 

Tanah-tanah yang semula gersang, akan memiliki sumber mata airnya. Bila suatu bukit ditanami bambu, masyarakat di kaki bukit akan dapat memanen airnya scara berkelanjutan setelah tanaman-tanaman bambu itu dewasa dan rumpunnya dijaga. Rebung meskipun enak dan menjadi sumber pendapatan masyarakat, tidak boleh semuanya dipanen - harus menyisakan minimal sebanyak jumlah batang bambu yang dipanen setiap tahunnya.

 

Hutan bambu yang terjaga akan menghidupkan kembali sungai-sungai yang mati, rawa dan danau yang kering. Kehidupan air tawar akan kembali marak. Dan bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan atau kebun bambu, kebutuhan airnya dalam jangka panjang  akan dapat terjaga.

 

Di atmosphere-pun demikian, bambu menjadi tanaman yang sangat efektif untuk menyerap CO2, sekaligus juga produsen Oxygen (O2) yang handal. Satu hektar bambu yang sudah tumbuh sempurna  dapat menyerap sekitar 147 ton CO2 per tahun, ini kurang lebih cukup untuk meng-offset emisi CO2 30-orang per tahun karena saat ini rata-rata emisi penduduk dunia di kisaran 4.8 ton CO2 per tahun.

 

Anda yang tinggal di perkotaan - apalagi Jakarta - tentu lebih, karena Anda suka ber-macet-macet ria dengan mobil ber-cc besar lebih dari yang Anda butuhkan. Hitungan saya untuk orang Jakarta yang memiliki mobil, emisi carbonnya rata-rata bisa mendekati 15 ton CO2 per tahun. Anda yang di kategori ini perlu menanam sekitar 1000 m2 tanaman bambu, atau sekitar 20 rumpun - hanya sekedar untuk bisa meng-offset keluaran CO2 Anda pribadi.

 

Sebagai produsen Oxygen, bambu mampu memproduksi O2 sekitar 107 ton per tahun per hektar. Ini kurang lebih cukup untk memenuhi kebutuhan 481 orang per tahun. Jadi sejauh di sekitar Anda ada kebun bambu atau hutan bambu, insyaallah kebutuhan oxygen Anda akan terjaga.

 

Peran bambu tidak berhenti ketika dia hidup, ketika sudah ditebang-pun dia masih aktif menjadi instrumen untuk memperbaik alam. Ketika dia dijadikan tekstil menggantikan kapas ataupun tekstil synthetic , setiap hektar bambu menghindarkan emisi CO2 dari kebun kapas yang intensif pupuk setara 10 hektar tanaman kapas.

 

Ketika bambu dijadikan bahan untuk energi baru terbarukan (EBT), berupa arang, syngas atau BioDME, maka setiap kg energi berbasis bambu digunakan, dia menghentikan emisi setara 0.9 kg CO2 yang dikeluarkan oleh mesin diesel, dan setara 1 kg CO2 yang dikeluarkan oleh penggunaan bahan bakar LPG di rumah tangga.

 

Hitungan-hitungan ini masih harus terus disempurnakan dan disosialisasikan sebagai bagian dari Biosphere Project , agar makhluk tercerdas di alam semesta yang bernama manusia ini mau berpikir dampak dari setiap aktifitas dan  tindakanannya kedepan. Bila kita belum mampu memperbaiki alam semesta ini, setidaknya jangan ikut merusaknya secara sadar maupun tidak sadar.

 

Sebagaimana alam yang ingin kita jaga sustainability-nya, maka Biosphere Project ini juga harus sustainable - mampu membiayai dirinya sendiri. Oleh karenanya Biosphere Project akan dipecah kecil-kecil dan masing-masing menjadi self-sustainable operation/entity.

 

Yang menanam misalnya, dia harus mampu menghidupi dirinya sendiri sehingga orang akan berbondong-bondong ikut menanamnya. Selain didanai dengan akad komersial, bisa pula didanai dengan akad sosial seperti wakaf musytarak, yang sebagian hasilnya nanti bisa diserahkan ke keluarga dari wakif.

 

Demikian pula produk-produk turunannya, selain industrinya yang terbangun harus  yang ramah lingkungan, menggunakan energi bersih dari biomassa bambu itu sendiri, memproduksi green yarn, green paper dlsb. dia juga harus sustainable secara financial.

 

Walhasil untuk berhasilnya Biosphere Project ini, kami tidak mencari dana social - kalau toh ada yang memberikannya dalam bentu dana CSR dlsb, kami akan menjadikannya dana bergulir untuk nantinya diteruskan kepada yang  membutuhkan berikutnya. Kalau toh diberikan dana wakaf, kami akan arahkan ke wakaf musytarak - agar keluarga yang berwakaf (wakif) dapat ikut serta menerima manfaatnya.

 

Satu dua langkah pertama dari 1000 lebih langkah ini telah kami mulai, bibit untuk lebih dari 1,200 hektar lahan telah tersedia dari belasan jenis bambu sesuai dengan kebutuhan. Ketersediaan bibit ini adalah jasa baik perusahaan PMA dari Belgia yang secara khusus mengembangkan bibit bambu dengan teknologi Tissue Culture sehingga bisa sangat efektif untuk tanah yang luas.

 

Untuk kebutuhan lahannya sendiri dua kepala daerah yang paling cemerlang dan  bervisi jauh ke depan telah kami temui dan keduanya dengan penuh semangat berkomitmen untuk memfasilitasi project ini di daerahnya masing-masing. Daerah lain yang berpotensi juga bisa menyusul.

 

Anda yang berminat bergabung di Biosphere Project ini, sementara dapat menghubungi kami via email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. , sambil menunggu persiapan web atau app kami pada waktunya. InsyaAllah.