Man and Tree

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 14 Agustus 2018

Man and Tree

Manusia dan pohon itu seperti cermin satu sama lain, apa yang nampak kanan di cermin itulah kiri kita dan nampak kiri itulah kanan kita. Manusia menghirup oksigen untuk pernafasannya, pohon mengeluarkan oksigen dari fotosintesa-nya. Manusia mengeluarkan CO2 ketika bernafas dan beraktifitas, pohon menyerap CO2 untuk fotosintesa-nya. Meskipun yang kanan ada di kiri dan kiri ada di kanan, cermin adalah wajah kita yang sesungguhnya. Bila yang nampak di cermin itu baik - maka baiklah kita, tetapi bila yang di cermin itu buruk - juga buruklah kita.

 

 

 

Itulah setidaknya yang saya tangkap dari laporan event yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia yang diadakan di Oslo-Norwegia akhir bulan lalu. Event yang bertajuk Oslo Tropical Forest Forum itu sebenarnya untuk memperingati 10 tahun disepakatinya skema pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan (REDD+) dalam  Kerangka Kerja PBB pada Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC).

 

Namun perayaan yang seharusnya mengungkap keberhasilan, malah yang terjadi sebaliknya. Dari tahun 2011 ke 2017 saja - data terbaru yang ada, pengurangan tutupan hutan tropis meningkat hingga 50%. Para ahli nampak tidak lagi berdaya untuk mempertahankan hutan tropis.

 

Brasil yang semula menunjukkan akan berhasil mengurangi deforestasinya, belakangan diketahui mereka juga tidak bisa mengendalikannya. Walhasil dua negara yang menjadi kambing hitam juara deforestasi dunia itu jatuh ke dua negara besar yaitu Brasil dan Indonesia. Menurut data mereka dua negara ini menyumbang 44 % dari deforestasi dunia - hilangnya hutan-hutan tropis dunia.

 

Bukan salah Brasil atau Indonesia sepenuhnya, karena 'tanpa sengaja' kita merusak hutan-hutan kita juga dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dunia. Hutan-hutan Brasil nyaris habis karena dunia butuh kedelai, maka  yang semula hutan-tropis mereka tersebut kini menjadi lahan-lahan kedelai yang kolosal.

 

Dari kedelai Brasil inilah China (39%), Uni Eropa (11%) dan sejumlah negara lainnya termasuk Indonesia (15%) mendapatkan sumber protein nabatinya yang murah. Jadi yang salah siapa ? yang mengorbankan lahannya atau yang membeli produknya ? ya keduanya mestinya.

 

Demikian pula ketika Indonesia perlahan tetapi pasti juga kehilangan hutan tropis-nya, siapa yang salah ? Kita semua baik yang di negara berkembang mapun negara maju masih butuh kertas, maka kita babat hutan kita untuk memproduksi kertas. Hanya 37% kertas tersebut yang kita gunakan sendiri, selebihnya untuk mensuplay kebutuhan negeri lain seperti China (22%), India (4%), Uni Eropa (2%) dan sejumlah negara lainnya (35%).

 

Dunia juga butuh minyak nabati untuk berbagai produknya, baik makanan, toiletries sampai bahan bakar biodiesel. Siapa yang disuruh produksi ? Indonesia yang dengan 'sukarela' mengorbankan hutan tropisnya untuk memproduksi minyak sawit. Padahal hanya sekitar 40% saja yang kita gunakan di dalam negeri, selebihnya untuk ekspor ke India (15%), Uni Eropa (12%), China 9% dan negara-negara lainnya.

 

Dari kisah kedelai, kertas dan minyak sawit tersebut seharusnya dunia belajar - bahwa hilangnya hutan-hutan tropis bukan semata kesalahan negeri-negeri yang (semula) menjadi pusat dari hutan tropis ini. Tetapi kesalahan warga dunia atas ignorance-nya dalam konsumsi, plus para pelaku industri atas ignorance-nya dalam produksi - sehingga bersama-sama kita merusak pohon-pohon di bumi kita, padahal pohon-pohon itu adalah cermin dari diri kita sendiri.

 

Padahal pohon tersebut adalah seperti jantung pada tubuh kita, bila jantung kita memproses darah kotor menjadi darah bersih, pohon juga memproses udara kotor (CO2) menjadi udara bersih (O2) - yang dari sini manusia mendapatkan pasokan oksigennya. Pada saat yang bersamaan, manusia ketika bernafas juga mengeluarkan karbon-dioksida - yang kemudian ditangkap oleh pohon pada saat aktifitas fotosyntesa-nya.

 

Tetapi bukan hanya dari pernafasan kita saja CO2 kita produksi, hampir segala aktivitas sehari-hari kita mengeluarkan emisi CO2 ini. Ketika kita naik mobil yang bahan bakarnya bensin, setiap liter bensin yang kita bakar - kita mencemari udara dengan CO2 sekitar 2.35 kg. Kalau mobil kita berbahan bakar diesel, pencemarannya lebih tinggi lagi - yaitu sekitar 2.66 kg CO2 untuk setiap liter solar yang kita bakar.

 

Ketika istri kita masak di rumah dengan LPG, setiap kg LPG yang dibakar mencemari lingkungan dengan sekitar 3.67 kg CO2. Listrik yang kita pakai mencemari lingkungan sebanyak 0.55 kg CO2 setiap penggunaan listrik 1 kWh. Bahkan untuk makanan kita, mencemari lingkungan dengan 2.5 ton CO2 per tahun untuk rata-rata penduduk bumi.

 

Walhasil rata-rata penduduk bumi dari kegiatan nafasnya, aktifitasnya sampai dengan makanannya - mencemari udara dengan sekitar 5 ton CO2 per kapita per tahun. Siapa atau apa yang akan menyerap CO2 yang massif ini ? Itulah yang seharusnya diperankan oleh pohon-pohon tersebut di atas.

 

Lantas apa yang akan terjadi bila CO2 yang terus bertambah di alam tidak ada pohon yang cukup untuk menyerapnya ? Bisa dibayangkan ketika Anda bercermin pagi hari dan menemuui wajah Anda yang menua, keriput , tidak lagi muda, wajah pucat yang menandakan tidak sehat - seperti itulah kehidupan manusia di bumi ketika kita melihat hutan-hutan yang semakin langka.

 

Bila satu hektar pohon mampu menyerap CO2 sebanyak 50 ton per tahun, dibutuhkan tanaman pohon yang menaungi sekitar 1,000 m2 lahan untuk bisa meng-offset emisi CO2 Anda. Semakin Anda kaya, banyak mobil ber-CC besar, sering bepergian naik pesawat, menggunakan listrik yang berlebih untuk perbagai kebutuhan rumah tangga Anda - maka semakin besar emisi CO2 yang Anda keluarkan.

 

Bagaimana kalau kita menanam kurang dari yang dibutuhkan ? sederhana - kita berhutang kepada penghuni bumi lainnya, yang bisa jadi mereka ini adalah anak-anak cucu kita nanti. Bagaimana kalau berlebih ?, inilah sedekah terbaik kita untuk kemakmuran bumi. Untuk inilah memang manuia diciptakan dari tanah (bumi) untuk menjadi pemakmurnya - bukan untuk merusaknya.

 

Bahkan ada perintah specific - untuk terus dilaksanakan oleh manusia - sampai-sampai ketika rentetan peristiwa kiamat telah mulai - kita tetap diperintahkan untuk melaksanakan perintah yang satu ini, yaitu perintah untuk menanam bibit pohon yang masih ada di genggaman kita.

 

Lantas pohon apa yang sebaiknya kita tanam ? bisa apa saja. Bisa kurma karena ada petunjuk specific-nya untuk ini, juga bisa pohon lainnya - karena nama pohon secara umum juga disebut di sejumlah ayat di Al-Qur'an.

 

Bahkan saya menemukan ada pohon yang asli negeri ini dan juga benua Asia secara umum yaitu bambu, yang dia amat efektif untuk meng-offset emisi carbon yang kita keluarkan. Bambu adalah tanaman evergreen, sekali tanam tetap hijau selama 60 tahun atau lebih.

 

Meskipun terus dipanen setiap tahun setelah usia 5 tahun, dia tidak kehilangan naungannya - karena umumnya bambu hanya dipanen 1/4 sampai 1/3  dari rumpunnya, selebihnya dipanen pada tahun berikutnya. Pada saat dipanen lagi tahun berikutnya, rebung yang muncul tahun ini - asal tidak semua dijadikan lumpia - dia sudah setinggi induknya tahun depan - begitu seterusnya.

 

Bambu bisa dijadikan bubur kertas untuk menggantikan kertas dari kayu menjadi kertas dari bambu yang lebih ramah lingkungan, bisa jadi serat tekstil, bisa menjadi bahan bangunan yang sangat kuat menggantikan baja, bisa jadi perbagai bentuk sumber energi terbarukan mulai dari BioCoal, BioDME maupun kayu bakar langsung. Ada 9 target SDGs PBB yang bisa diperankan oleh bambu.

 

Meskipun dengan berbagai keunggulan tersebut, saya hanya merekomendasikan bambu ditanam di tanah-tanah gersang yang selama ini bukan lahan pangan. Bambu untuk mengatasi lahan-lahan gundul dari deforestasi, bekas tambang ataupun yang memang sedari awalnya gersang tidak terolah untuk tanaman pangan.

 

Di Indonesia ada 60% desa tertinggal dan sangat tertinggal - yang karakter lahannya sulit ditanami tanaman pangan secara efektif. Ini berarti sekitar 48,000 desa kira-kira jumlahnya, bila diambil rata-rata 400 ha ( range desa antara 200 ha s/d 800 ha) - maka ada tanah desa tertinggal atau sangat tertinggal seluas 19.2 juta hektar.

 

Bila 10%-nya saja bisa ditanami bambu - maka akan ada 1.92 juta hektar tanaman bambu yang bisa menghidupi sekitar 2 juta penduduk desa tertinggal dan sangat tertinggal. Untuk apa bambu-bambu ini ?, kalau industri penunjang seperti kertas, tekstil dan bahan bangunan-nya belum siap - dijadikan BioCoal saja - untuk memback-up power plant-power plant kita yang menggunakan coal - agar lebih bersih dan memberdayakan masyarakat.

 

Atau bisa juga dari BioCoal ini diproses lebih lanjut melalui mini plant BioDME kita yang bisa ditaruh menyebar satu desa satu unit, maka BioDME ini bisa menjadi local fuel bagi desa yang bersangkutan. BioDME bisa menggantikan solar yang digunakan untuk menjalankan mesin-mesin pertanian, menggantikan solar untuk genset, maupun menggantikan gas tabung melon yang sering menghilang dan akan terus bertambah mahal.

 

Maka meskipun dunia pesimistis akan bisa terselamatkannya hutan tropis, saya masih bisa melihat peluang penggantinya bila kita berbuat yang tepat dan cepat. Rame-rame kita tanam bambu hingga jutaan hektar, maka insyaAllah pencemaran bumi akan dapat kita taklukkan.

 

Well menanam jutaan hektar tentu tidak mudah, bagaimana kalau kita mulai dari 1,000 hektar saja dahulu ? InsyaAllah bibit telah siap untuk sekitar 1,000 hektar pertama. Desa siapa yang siap menjadi contoh ? - kami sedang mencari mitra yang ingin berbuat baik bersama - partners in doing good. Silahkan menghubungi kami.