Green Gold for 9 out of 17 Goals

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 19 November 2018

Green Gold for 9 out of 17 Goals

Seluruh negara-negara di dunia yang bernaung dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sepakat untuk mencapai target bersama pada tahun 2030, yaitu apa yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Dari 17 pencapaian yang menjadi target tersebut , saya melihat setidaknya ada 9 target diantaranya bisa dicapai melalui perantaraan satu tanaman saja. Satu tanaman yang saya sebut emas hijau atau green gold ini adalah kekayaan negeri ini yang terabaikan selama ini, dialah bambu ! Bagaimana bisa ?

 

Dari ratusan jenis bambu yang kita miliki, sebagian besar bisa hidup di seluruh wilayah negeri ini – baik di wilayah yang paling basah seperti Bogor maupun wilayah-wilayah yang paling kering seperti NTT.

 

Bambu memiliki kegunaan yang sangat beragam, dia bisa menjadi food – makanan yang lezat dan bernutrisi ketika dia masih muda yang disebut rebung. Menjadi fiber – bahan kertas ramah lingkungan dan bahan serat tekstil berkwalitas tinggi.

 

Dia menjadi biofuel yang sangat fleksibel, dibakar langsung bisa, dijadikan arang bisa, dan bahkan ada dua bahan bakar masa depan yang bahan terbaiknya antara lain adalah bambu. Bahan bakar masa depan ini adalah BioCoal dan BioDME.

 

BioCoal merupakan bahan bakar carbon netral, bisa digunakan langsung menggantikan coal atau co-firing dengan coal tanpa perubahan peralatan dan mesin sama sekali. Bedanya dengan coal, BioCoal adalah carbon netral karena dihasilkan dari tanaman yang tumbuh saat ini, dia juga jauh lebih bersih dari coal (batu bara) karena tidak mengandung sulfur, nitrogen oxides ataupun mercury, limbah ash-nya juga jauh lebih sedikit.

 

BioCoal bisa dibuat dari biomassa secara umum, namun bambu merupakan salah satu bahan terbaiknya karena dia tanaman evergreen – sekali tanam dia akan mulai panen di usia lima tahun dan terus menerus dipanen sampai usia 60 tahun. Ketika dipanen dia menyisakan 2/3 rumpun yang tidak dipanen, sehingga tidak mengganggu kehijauan wilayah yang ada penanaman bambu ini.

 

Proses paling mudah dengan kwalitas tinggi untuk menghasilkan BioCoal adalah dengan apa yang disebut Torrefaction. Seperti membuat arang biasa tetapi dikendalikan supply oxigen-nya pada tingkat minimum dan pengendalian suhu yang akurat. Pengalaman kami hasil terbaiknya di rentang suhu 260 – 320 derajat Celsius.

 

Mesin dan prosesnya relative sederhana, di lab Startup Center BioCoal merupakan produk ¼ jadi dari target produk utama yang ingin kami hasilkan yaitu BioDME, sedangkan produk ½ jadinya adalah yang disebut Syngas. Meskipun di dunia ada yang sudah mengembangkan BioCoal ini secara besar - seperti Belanda, dengan pabriknya yang sangat modern di Steenwijk - namun saya yakin pendekatan kita yang ter-distributed akan lebih unggul karena sifat bahan biomassa-nya sendiri yang selalu menyebar.

 

Bila BioCoal merupakan bahan bakar masa depan –yang sudah available saat ini - yang langsung bisa menggantikan atau digunakan bersama coal untuk menekan pencemaran udara, maka BioDME adalah bahan bakar masa depan yang insyaAllah bisa segera hadir – saat ini masih dalam R & D Startup Center.

 

Lagi-lagi BioDME juga bisa menggunakan biomassa pada umumnya, namun bambu adalah salah satu kandidat terbaiknya. BioDME dapat mengerem laju emisi pencemaran udara hingga 95% bahkan lebih, dibandingkan bahan bakar diesel.

 

Selain sebagai food, fiber, fuel, bamboo juga menjadi feedstock atau bahan baku berbagai produk berkwalitas tinggi. Dia bisa menjadi bahan active carbon untuk penjernihan air, untuk bahan obat, dan juga salah satu bahan terbaik untuk material masa depan yaitu nano carbon.

 

Lantas apa hubungannya bambu ini dengan target pencapian negara-negara di dunia dengan apa yang disebut SDGs tersebut di atas ?, saya melihat setidaknya ada 9 dari 17 target SDGs yang bisa difasilitasi oleh tanaman bambu ini. Berikut Penjelasannya.

 

SDG no 1 – No Poverty, daerah-daerah miskin di pedesaan umumnya disebabkan tanahnya yang kurang fit untuk tanaman pangan. Padahal tanaman tidak harus untuk pangan, tanaman seperti bambu bisa memberikan hasil netto yang bahkan lebih tinggi dari tanaman padi yang hanya bisa ditanam di tanah terbaik.

 

Bila desa-desa gersang dan tertinggal ditanami bambu secara massif dengan pasar yang sangat luas tersebut di atas, maka desa miskin-pun bisa menjadi makmur oleh bambu. Ketika desa-desa menjadi makmur, kemiskinan kota juga akan menghilang dengan sendirinya – karena orang miskin kota akan deurbanisasi ke desa-desa yang telah menjadi makmur lebih dahulu.

 

SDG no 6 – Clean Water and Sanitation, bambu memfasilitasi akses masyarakat terhadap air bersih melalui dua cara. Pertama keberadaan tanaman bambu akan memaksimalkan tanah untuk menahan airnya, bahkan akan memancarkan mata air-mata air setelah rumpun bambu subur pada usia tertentu.

 

Daerah yang tadinya minim mata air akan berubah menjadi daerah dengan jumlah mata air yang melimpah. Air tidak lagi menjadi problem bahkan untuk daerah yang semula gersang sebelum hadirnya tanaman bambu.

 

Kedua, untuk daerah yang belum juga mendapatkan air dari mata airnya setelah beberapa tahun menanam bambu, masyarakat bisa menjernihkan air yang ditampungnya dari hujan, sungai dan lain sebagainya menggunakan arang aktif yang dibuat dari bambu. Air bersih tetap menjadi murah dan bisa disaring sendiri dengan material yang diproduksi dari tanaman mereka sendiri - yaitu bambu.

 

SDG no 7 - Affordable and Clean Energy, selama ini supply energy di seluruh dunia umumnya menggunakan pendekatan sentralisasi. Di Indonesia supply energy mayoritasnya hanya dari tiga BUMN saja yaitu PLN, Pertamina dan PN Gas. Akan baik untuk seluruh stakeholder negeri ini, ketika rakyat punya pilihan energi-nya sendiri.

 

Ketika rakyat yang ada di kepulauan dan daerah terpencil bisa memproduksi listriknya sendiri dengan bahan bakar BioCoal, menjelankan power generator, traktor-traktor pertanian dan kendaraan niaganya dengan BioDME - maka pemerintah dapat menghemat  subsidi energinya untuk kemudian digunakan untuk keperluan pembangunan lainnya. Bagi para BUMN yang selama ini mengemban tugas sosial, juga bisa fokus untuk kegiatan komersial-nya sehingga bisa bersaing dengan para pemain global di bidangnya.

 

Seandainya saja dari kebutuhan domestik batu bara Indonesia yang sekitar 100 juta ton per tahun, 10 %nya saja digantikan oleh BioCoal ini, maka diperlukan sekitar 357,000 hektar bambu. Sekali merangkuh dayung, pekerjaan yang massive akan tumbuh di desa-desa yang menanamnya dan di pulau-pulau  akan menjadi produktif. pencemaran udara juga dapat ditekan.

 

Bila entah kapan, kita ingin mengganti semua pembangkit dan industri yang menggunakan batu baru berganti dengan energi bersih - seperti target PBB untuk tahun 2030 tersebut - maka kita butuh sekitar 3,570,000 hektar tanaman bambu. Ini kurang lebih setara dengan 1/3 luas tanaman sawit di Indonesia saat ini. Artinya apa ? it is doable, meskipun tidak akan ada yang mudah.

 

Seandainya saja kita mau menggantikan kebutuhan bahan bakar diesel kita yang saat ini diimpor dengan tingkat kebutuhan 16.2 juta kilo liter (2018) - dengan BioDME, maka kita akan buth tanaman bambu sekitar 1.2 juta hektar. Apabila ini digabung dengan kebutuhan batu bara, maka kita butuh 4.7 juta hektar tanaman bambu.

 

Tentu saja berat dan tidak mudah, but still doable - mengingat kita tentu juga ingin semua menggunakan energi bersih tahun 2030 - selain minyak kita memang akan habis beberapa tahun sebelum 2030. Cukup waktu untuk memperjuangkan SDG no 7 ini - masih sekitar 12 tahun lagi - demi ketersediaan dan keterjangkauan energi bersih bagi anak cucu kita. 

 

SDG no 10 - Reduced Inequality, selama ini setelah 73 tahun merdeka 60% desa kita tertinggal dan sangat tertinggal. Penyebabnya adalah antara lain ekonomi yang terpusat, semua yang digunakan oleh penduduk desa datangnya dari pusat, desa - terutama yang tertinggal karena tanahnya kurang produktif - nyaris tidak ada produksi yang berarti.

 

Bayangkan sekarang bila desa-desa menjadi produsen bahan bakarnya sendiri atau bahkan untuk orang kota, desa menjadi 'pengekspor' produk makanan kwalitas tinggi dari rebung, desa bahkan bisa memproduksi material masa depan nano-carbon, Maka kemakmuran-pun akan merambah ke desa-desa yang semula tertinggal.

 

Orang kota yang ahli energi, ahli makanan, ahli nano material, ahli serat dlsb, tiba-tiba bisa melihat masa depan mereka ada di desa. Akan terjadi deurbanisasi kalangan terdidik ke desa sampai terjadi keseimbangan kemakmuran antara desa dan kota. Yang hijrah ke kota tidak lagi lebih besar dari yang hijrah ke desa.

 

SDG no 11 - Sustainable Cities and Communities, masalah perkotaan terbesar untuk negara-negara berkembang umumnya adalah masalah urbanisasi. Sumber daya kehidupan seperti udara bersih dan sumber air yang terbatas dan bahkan berkurang karena bertambahnya bangunan - harus dikonsumsi oleh jumlah penduduk yang bertambah pesat karena urbanisasi.

 

Deurbanisasi menjadi cara paling efektif untuk menyebarkan konsentrasi penduduk, dan ini akan terjadi dengan senidirinya manakala ada 'gula' di desa. Karena dimana ada gula ada semut, maka industri per-bambuan-an mulai dari proses menanam sampai produk-produk turunannya bisa menjadi 'gula' yang sangat manis untuk memicu arus deurbanisasi tersebut.

 

SDG no 12 - Responsible Consumption and Production, saat ini kita hidup sebagai generasi yang konsumtif terhadap sumber daya alam kita. Batu bara kita keruk dari bumi dan tidak akan pernah bisa mengembalikannya, minyak yang kita sedot dari sumber-sumbernya di darat maupun laut - kita tidak akan pernah bisa mengembalikannya, demikian pula hutan-hutan yang menjadi gundul dengan alasan untuk membiayai pembangunan.

 

Lantas apa yang kita berikan ke bumi ini untuk generasi yang akan datang ? Setidaknya kita harus mulai menanam sekarang, dan bambu menjadi pilihan terbaiknya. Bila saat ini kita tanam, bambu-bambu itu akan mulai produktif sebelum masa pemerintahan berikutnya 2024 berganti.

 

Selanjutnya bambu akan terus produktif sampai sekitar 12 masa pemerintahan berikutnya atau sekitar 60 tahun. Mayoritas kita tentu tidak akan mengalami hidup selama itu, tetapi inilah yang bisa kita wariskan ke generasi mendatang. Kita masih bisa mewariskan bumi yang subur, hijau royo-royo dengan mata air yang menyebar di seluruh pelosok negeri.

 

SDG no 13 - Climate Action, ini adalah target yang sulit dipahami oleh kebanyakan masyarakat kita. Bila suhu permukaan bumi konon tambah panas, kutub utara dan selatan bumi bergesar karena mencairnya gunung-gunung es - apa hubungannya dengan kita ? memangnya ada yang bisa kita lakukan ?

 

Tidak menjadi penting apakah yang kita lakukan bener-bener bisa menghentikan mencairnya gunung es di dua kutub, tidak menjadi penting apakah ini akan mengerem pergeseran letak kutub utara bumi, tetapi setidaknya kita berbuat yang kita bisa. Menanam bambu adalah menanam tanaman yang tergolong paling mudah, dan dia akan berusia 60 tahun untuk mengerem laju pemanasan global, mengerem emisi carbon, meningkatkan produksi oksigen untuk kita bisa terus bernafas dengan gratis.

 

SDG no 15 - Life On Land, ketika kita menanam satu species tanaman - sejatinya kita bukan hanya turut menghidup-hidupkan bumi dengan satu tanaman tersebut. Dari satu tanaman inilah terbangun satu ecosystem kehidupan baru, baik di dalam tanah, di permukaan bumi maupun yang ada di antara bumi dan langit.

 

Ketika kita sadar bahwa satu batang bambu yang kita hadirkan ini ikut hadir bersamanya ecosystem kehidupan - maka inilah  setidaknya bakti nyata kita di bumi pertiwi ini. Ketika satu daun jatuh-pun tidak luput dari pandanganNya, maka dari ecosystem kehidupan yang kita terlibat di dalamnya ini - kita berharap semoga menjadi wasilah atau jalan - agar kita selangkah lagi lebih dekat kepadaNya,  yang mengasihi kehidupan di bumi insyaAllah akan dikasihi oleh yang di langit.

 

SDG no 17 - Partnership to Achieve The Goal, seberapa keras-pun kita bekerja, kita tidak mungkin bisa melakukannya sendiri. Demikian pula gerakan menghijaukan bumi dengan menanam bambu ini. Kami hanya bisa meng-inspirasi, memotivasi, men-challenge, mengawali dlsb. tetapi gerakan besarnya sendiri tentu membutuhkan seluruh pihak yang terkait.

 

Bibit bambu insyaAllah sudah tersedia, teknologi pengolahan sampai BioCoal, BioDME, Nano Carbon, Fiber dlsb. semua adalah ilmu yang kelihatan yang bisa dipelajari, akan menjadi lebih cepat learning process-nya bila resources terbaik negeri ini mau bergabung.

 

Maka inilah saatnya untuk berbuat something big, something green , something yang begitu berharga sehingga saya menyebutnya green gold ! Bila tertarik, silahkan kirim email ke : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. atau This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. dan sampaikan minat Anda.