Believing Is Seeing

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Sabtu, 20 Oktober 2018

Believing Is Seeing

Hari ini kaum muslimin di seluruh dunia memasuki akhir bulan Ramadhan, bulan yang merupakan kawah candra dimuka untuk mengangkat orang-orang beriman menuju tingkatan berikutnya yaitu menjadi orang-orang bertakwa (QS 2:183). Salah satu tanda bila puasa itu berhasil mengangkat kita menjadi orang bertakwa adalah adanya perubahan paradigma dalam keyakinan (believe) - bila kebanyakan orang harus melihat dahulu baru percaya (seeing is believing) – orang yang bertakwa sebaliknya, believing is seeing – karena dia beriman maka dia bisa melihat yang tidak terlihat oleh orang lain yang tidak beriman. Lantas apa yang dia lihat ?

 

Ketika  Allah memperkenalkan Al-Qur’an, Allah berfirman : “Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib…”(Qs 2:1-3). Jadi sejak awal Al-Qur’an ini orang-orang bertakwa sudah disifati dengan beriman (percaya) kepada yang gaib…!

 

Bila terhadap yang gaib saja dia percaya, apalagi untuk yang sifatnya bisa dilihat dengan mata, bisa dibuktikan secara ilmiah, bisa dilihat dari bukti-bukti sejarah dlsb. semua yang ditaburkan oleh Allah di Al-Qur’an hanya menambah keimanan orang-orang yang bertakwa. Jadi apa yang sesungguhnya bisa dilihat oleh oranng-orang bertakwa yang merupakan produk dari ‘akademi’ Ramadhan ini ?

 

Dia bisa ‘melihat’ keberadaan Allah melalui tanda-tanda atau ayat-ayatNya dari setiap benda dan setiap peristiwa, karena ini juga dijanjikanNya : “ Kami akan perlihakan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendri…” (QS 41:53)

 

Dia bisa melihat rezeki – dalam berbagai bentuknya yang tangible maupun yang intangible – dari Allah, dia bisa melihat solusi dari segala permasalahan – meskipun segala sebab yang nampak didepan matanya seperti jalan buntu, dia tetap yakin karena rezeki atau solusi dari Allah bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka (QS 65:3), dia yakin semuanya mudah bagi Allah yang bila menghendaki sesuati cukup dengan berkata “…jadilah, maka jadilah sesuatu itu” (QS 36:82).

 

Dia melihat apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, ketika Allah mengancam akan memusnahkan riba (QS 2:276) dan mengumumkan perang terhadapnya ( QS 2 : 279), dia melihat apa yang akan terjadi terhadap system ribawi itu, dia melihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam peperangan yang dideklarasikan oleh Allah tersebut.

 

Dia juga melihat ada dua jalan yang diijinkan dan bahkan diberkahi untuk menggantikan satu jalan yang Dia larang dan musuhi. Dua jalan yang diijinkan dan diberkahi itu adalah jual beli atau perdagangan (QS 2:275) dan sedekah ( QS 2:276), dan satu jalan yang dilarang itu adalah riba.

 

Dia melihat pada dirinya sendiri yang amat kecil dengan usia yang amat sangat pendek - ada tugas berat yang diembankan ke pundaknya, menjaga keseimbangan alam yang sangat besar dan usianya yang sudah sangat tua(QS 55 : 7- 9). Dia melihat tugas untuk memakmurkan bumi (QS 11:61), ketika sejumlah kekuatan besar yang ada di muka bumi justru merusaknya.

 

Ketika masalah demi masalah yang dihadapinya menggunung, dia melihat jawaban atas setiap persoala yang ada – karena kitabNya memang diturunkan untuk menjawab semua persoalan itu (QS 16:89). Tetapi dia juga melihat segala sesuatunya tidak akan selalu mudah.

 

Dia melihat pelajaran berat yang harus dilalui oleh para nabi dan para wali. Ada keluarga Nabi, suaminya adalah Bapak para nabi (Ibrahim ‘Alaihi Salam) – dan si bayi yang dalam buaiannya kelak juga akan menjadi nabi (Ismail ‘Alahi Salam) – tetapi ketika si ibu (Hajar) membutuhkan air, dia harus berlarian kesana kemari di bawah sinar matahari yang amat terik untuk berikhtiar mencarinya. Dan ketika akhirnya dia diberi air, memancarnya juga bukan di jalur tempat dia berlarian mencari air.

 

Hajar adalah istri nabi yang agung dan ibu calon nabi, tetap harus berlarian berikhtiar sekuat tenaga untuk mencari air. Lantas siapakah kita ?, maka wajar bahwa ikhtiar kita dalam segala sesuatu harus lebih keras dan tidak mengenal lelah. Sambil kita melihat bahwa janjiNya pasti benar, tinggal kita pastikan saja agar kita memang berhak atas janjiNya tersebut.

 

Maka inilah hasil puasa kita, believing is seeing …, karena kita beriman kita bisa melihat segala sesuatu yang Dia tunjukkan kepada kita. Ada huda wa mauidhah  bagi orang yang bertakwa – petunjuk dan pelajaran yang tegas, hanya dan hanya jika kita ikuti huda wa mauidhah inilah berlaku bagi kita janjinya yang akan menjadikan umat ini sebagai umat unggulan, umat yang paling tinggi derajatnya (QS 3:138-139).

 

Taqaballahu minna wa minkum, Selamat merayakan Iedul Fitri, selamat merayakan hari kemenangan untuk kita semua.