I’tikaf Ramadhan 1439 H : Energi Al-Qur’an

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 14 Desember 2018

I’tikaf Ramadhan 1439 H : Energi Al-Qur’an

“Sekiranya kami turunkan Al-Qur’an itu kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah…” (QS 59:22), perumpamaan ini Allah buat untuk membuat kita berfikir. Lantas apa yang kita pikirkan ? saya berpikir bahwa hanya energi yang amat dasyat yang bisa meluluh lantakkan sebuah gunung. Energi yang amat sangat dasyat ini bisa menjadi sumber energi yang sangat luas dalam arti kiasan maupun harfiah, tangible maupun intangible  dan  ruhiyah maupun jasadiyah.

 

Saya akan fokuskan pada energi dalam arti harfiah atau arti riil saja, yaitu energi yang nyata yang kita butuhkan sehari-hari. Bahwasanya Al-Qur’an pasti menjawab persoalan besar umat jaman ini termasuk di bidang energi ini, karena sudah dijanjikan Allah bahwa Al-Qur’an ini adalah jawaban untuk seluruh persoalan (QS 16:89).

 

Surat Yaasiin ayat 80 misalnya, jelas-jelas menyebutkan bahwa api atau energi itu dari pohon yang hijau. Allah pilihkan kata yang sangat indah dan self – explanatory , kata itu sendiri bisa menjelaskan sangat banyak hal, yaitu syajar al akhdhar – pohon yang hijau.

 

Mengapa secara specific sekali Allah menyebut api atau energi  dari pohon yang hijau ? padahal kita umumnya kalau menggunakan kayu bakar menunggu kayu itu kering dan tidak lagi hijau. Bahkan manusia modern justru paling paradox, menggunakan kayu bakar dan biomassa lainnya yang telah berumur ratusan juta tahun – setelah menjadi fosil – baru digunakan.

 

Kemudian ketika energi dari fosil itu kini menjelang habis, banyak negara kebingungan karena sumber ekonominya terganggu. Bahkan negara-negara rela berperang untuk memperebutkan akses terhadap sumber-sumber energi dari ratusan juta tahun lalu itu.

 

Maka mentadaburi satu ayat di surat Yaasiin 80 tersebut saja sudah seperti angin segar yang sangat menginspirasi dan menyejukkan, sepertinya Allah bicara langsung ke kita yang hidup di jaman ini – di era ketika minyak kita akan habis sekitar 10 tahun lagi, era yang saya sebut era afteroil.

 

Allah bicara langsung kepada kita  bahwa kita tidak usah terlalu merisaukan minyak kita yang akan habis, minyak kita yang dikooptasi oleh oleh segelintir pihak saja di seluruh dunia ini …karena kita diberi energi yang melimpah ruah, berupa pohon-pohon dan aneka tanaman yang tumbuh menghijau di seluruh bumi pertiwi ini.

 

Mungkin timbul pikiran bahwa karena minyak adalah energi yang mudah dan murah sehingga kita cenderung tergantung kepadanya. Ini hanya masalah pembiasaan dan persepsi, minyak tidaklah mudah dan tentu tidak akan semakin murah. Mengambil minyak di perut bumi perlu effort yang luar biasa, demikian pula mengolahnya sampai menjadi bahan bakar yang kita gunakan.

 

Sebaliknya mengkonversi kayu yang hijau menjadi bahan bakar kita sehari-hari, juga tidak lebih sulit dan tidak harus lebih mahal dari proses menghadirkan bahan bakar minyak. Dengan reactor gasifikasi yang Alhamdulillah sudah berhasil kami buat misalnya, hampir seluruh jenis biomassa sudah bisa diproses menjadi arang, bio-oil dan synthetic gas atau syngas – ketiganya adalah sumber energi dasar yang bisa digunakan apa saja atau diproses lebih lanjut..

 

Namun team  R&D kami belum akan berhenti, insyaAllah dengan satu reactor lagi – kami akan bisa melakukan sintesa langsung (direct synthesis) dari syngas menjadi Dimethyl Ether (DME), secara khusus saya sebut BioDME untuk membedakan dengan DME lain yang dikembangkan dari sumber energy fosil oleh berbagai pihak di luar sana.

 

DME ini bukan lagi barang baru sesungguhnya, para pemain besar dunia seperti Volvo, Mitsubishi, Korea Gas, China Gas dlsb sudah pula mengembangkannya selama dasawarsa terakhir, namun kita tetap memiliki peluang kita secara tersendiri.

 

BioDME yang sumber bahan bakunya dari biomassa memiliki karakter menyebar luas dan murah bila tidak harus ditransportasikan ke tempat yang jauh. Maka ini menjadi peluang untuk lahirnya apa yang disebut Distributed Energy, para penghasil energi yang terdistribusi. Maka saya berani membayangkan bahwa jauh sebelum niyak kita habis sekitar tahun 2027, umat dan rakyat negeri ini sudah bisa memproduksi energinya sendiri – karena seluruh bahan bakunya ada di sekitar kita semua.

 

Mumpung ini bulan Ramadhan, bulan Al-Qur’an – kami akan memanfaatkan bulan ini untuk menuntaskan kajian kami mulai dari ayat-ayat yang menjadi petunjuknya, sampai ke operasionalisasi amal – apa yang benar-benar bisa kita wujudkan dari petunjuk dari Yang Maha Tahu tersebut.

 

Sebagaimana kajian-kajian Ramadhan sebelumnya, kajian intensif ini insyaAllah akan kami bahas dalam 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini dalam acara I’tikaf Ramadhan 1439 yang temanya kami ambilkan dari judul tulisan ini yaitu Energi Al-Qur’an.

 

Tempat I’tikaf belum kami putuskan tetapi tentative di Masjid Darussalam – Griya Tugu Asri – Depok. Namun karena masjid ini sedang kami bangun, ada kemungkinan masjid tidak siap untuk I’tikaf pada waktunya, maka kami terbuka bila ada masjid lain yang ingin memfasilitasi kajian tematik Energi Al-Qur;an ini – minimal dengan slot waktu 9 x 3 jam (27 jam efektif) – agar pembahasan dasar ayat dan teori ilmiah tuntas di Ramadhan ini, tinggal pengamalannya di bulan Syawal dan seterusnya.

 

I'tikaf ini GARTIS , namun dianjurkan para peserta siap dengan segala kebutuhan berbuka dan sahurnya sendiri, ini I'tikaf jaman Now - yang makanan berbuka dan sahur dengan mudah dapat dipesan melalui apps, jadi tidak usah terlalu repot dengan seksi konsumsi  dlsb. biar semuanya sempat fokus pada i'tikafnya bukan pada makanannya.

 

Meskipun masjid belum dipastikan, bagi yang ingin ikut I’tikaf khusus ini sudah bisa mendaftar di : bit.ly/Quran_Energy