Ibrahim Call

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 18 Juni 2018

Ibrahim Call

Ketika sekitar 4,000 tahun lalu Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam diperintahkan untuk memanggil manusia untuk melaksanakan haji, dia bertanya kepada Allah “Ya Tuhanku, bagaimana saya bisa menyampaikan pesan ini kepada manusia, sedang suaraku tidak akan sampai kepada mereka ?”, dijawab oleh Allah “Panggillah mereka, Kami yang akan menyampaikannya !”. Maka Ibrahim-pun memanggil “Wahai manusia, Tuhanmu telah membangun rumah maka datanglah untuk beribadah kepadaNya”. Di jaman ini, dialog yang diceritakan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir tersebut seharusnya dapat menginspirasi berbagai inovasi dan solusi.

 

Diceritakan pula dalam kitab tafsir tersebut bahwa Allah menurunkan tinggi gunung-gunung agar seruan tersebut sampai, bukan hanya sampai kepada manusia yang hidup saat panggilan tersebut dikumandangkan tetapi juga pada seluruh manusia yang hidup hingga kini dan hingga akhir jaman nanti. Seruan tersebut telah sampai ke kita bahkan ketika ayah ibu kita belum bertemu satu sama lain, ketika kakek-nenek kitapun belum menikah – ketika kita masih berupa sesuatu yang belum bisa disebut !

 

Point-nya adalah panggilan tersebut telah sampai ke kita, tinggal apakah kita mampu meresponse-nya secara comprehensive atau tidak. Comprehensive responses ini penting sekali sepanjang jaman, karena sepanjang jaman ada permasalahannya tersendiri untuk memenuhi panggilan tersebut.

 

Hingga 2,500 tahun setelah seruan tersebut disampaikan – yaitu jaman Rasulullah SAW hidup bersama para sahabatnya, challenge untuk comprehensive responses itu antara lain berupa beratnya perjalanan menuju dan pulang balik dari Mekkah. Hingga lebih dari 1,000 tahun sesudah itu-pun perjalanan haji masih sungguh tidak mudah, bahkan hingga awal abad 20-pun perjalanan untuk pergi haji itu tetap tidak mudah.

 

Anda yang sudah beruntung mengunjungi tanah suci, pasti bisa membayangkan betapa beratnya perjalanan ke sana, seandainya Anda harus menempuhnya dengan berjalan kaki atau naik unta yang kurus. Dan ini yang antara lain  disampaikan Allah dalam dua rangkaian ayat berikut :

 

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS 22:27).

 

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan…” (QS 22:28).

 

Perhatikan kata ‘mereka’ yang saya tebalkan, siapa yang dimaksud Allah dengan ‘mereka’ ini ? Mereka yang disebut di ayat pertama adalah orang-orang yang mau bersusah payah menempuh perjalanan memenuhi panggilan nabi Ibrahim tersebut – untuk menempuh perjalanan haji. Mereka di ayat kedua – yaitu yang menyaksikan maupun yang menerima berbagai manfaat juga adalah orang-orang yang sama, yaitu orang-orang yang bersusah payah pergi berhaji di ayat yang pertama tersebut.

 

Kini setelah hampir 4,000 tahun panggilan dikumandangkan, atau hampir 1,500 tahun setelah ditetapkannya syariat tata cara yang baku untuk pergi berhaji, kita justru tidak mampu untuk secara comprehensive menjadi ‘mereka’ yang disebut khususnya di ayat kedua, yaitu ‘mereka’ yang menerima atau menikmati perbagai manfaat dari syariat berhaji ini.

 

Abul Ala Maududi menjelaskan tafsir ayat ini sebagai berbagai manfaat yang sifatnya duniawi maupun manfaat untuk agama ini. Karena kita ‘lupa’ adanya  manfaat duniawi yang terkait berhaji ini, maka manfaat terbesar justru dinikmati oleh orang lain diluar Islam yang cara hidupnya bertentangan dengan syariat Islam.

 

 

 

Dalam dunia property dan hospitalities misalnya, siapa yang mengelola hotel-hotel besar yang mengelilingi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ? Nama-nama besar jaringan perhotelan dunia yang datang dari negeri-negeri kapitalis ribawi. Sebut saja satu nama jaringan hotel besar dunia ? Anda cari hotelnya di Makkah atau Madinah insyaallah akan ketemu tidak jauh – jauh dari sekeliling Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi.

 

Di dunia perhotelan global, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuka jaringannya di dua kota yang tidak pernah mengenal musim sepi ini. Bila di perhotelan di belahan dunia lain ada dikenal dua musim yaitu High Season (HS) and Low Season (LS), di kota Mekkah dan Madinah juga mengenal dua musim – tetapi dua musim ini adalah Very High Season (VHS) and Very Very High Season (VVHS) – yaitu musim di luar Haji dan Ramadhan dan musim Haji dan Ramadhan..

 

Lantas siapa yang mengisi barang-barang yang diperdagangkan di Mekkah dan Madinah ? Mulai dari kain ihram, sajadah, sandal jepit sampai oleh-oleh yang diborong oleh para Jama’ah Haji Indonesia ke kampungnya masing-masing ? Mayoritas barang dagangan ini datang dari negeri kapitalis komunis yaitu China. Bagaimana dengan bahan makanan yang ada di sana, berbagai mesin dan teknologi yang ada ? lagi-lagi mayoritasnya bukan dari negeri-negeri yang penduduknya berduyun-duyun ke dua kota suci ini.

 

Bukan salah mereka dari negeri kapitalis ribawi maupun kapitalis komunis yang mengambil manfaat dari pasar yang tumbuh begitu besar dan sangat terkonsentrasi ini, tetapi salah kita sendiri – yang gagal untuk secara comprehensive menjadi ‘mereka’ yang memperoleh berbagai manfaat yang disebut di ayat ke dua (QS 22:28).

 

Kita hanya mau berdagang secara pasif, yaitu sebagai pembeli dari barang dan jasa yang mereka sediakan – tetapi kita tidak berdagang secara aktif yang justru menyediakan produk barang dan jasa yang diperlukan oleh para jema’ah haji itu sendiri. Kita menjadi pasar, dan belum menjadi pemasar – kita yang ‘dinikmati’ dan belum menjadi ‘yang menikmati berbagai manfaat’ yang diijinkan oleh Allah tersebut.

 

Padahal mengambil manfaat  terkait dengan duniawi bukan hanya diperbolehkan di ayat tersebut, hal yang senada juga ada di ayat lainnya yaitu Surat Al-Baqarah 198 : “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam…

 

Diijinkannya kita mengambil manfaat yang sifatnya duniawi ini selain agar kebutuhan umat sedapat mungkin diurus oleh umat ini sendiri, juga menjadi hikmah tersendiri. Yaitu agar menjadi insentif bagi kita untuk mau menyelesaikan tantangan-tantangan besar yang selalu muncul dalam kaitan dengan urusan berhaji ini di setiap jamannya masing-masing.

 

Kini hampir 1,500 tahun sesudah disyariatkannya berhaji dalam Islam, challenge-nya bukan lagi masalah perjalanan – karena kita bisa naik apa saja yang membuat manusia dari segala penjuru bisa sampai ke tempat ini dengan nyaman dan cepat. Tetapi challenge baru muncul sesuai dengan jamannya, kini saudara-saudara kita di kabupaten yang kaya di Sulawesi Tengah misalnya – perlu antri hingga 35 tahun untuk bisa memenuhi seruan tersebut.

 

Allah Yang Maha Tahu dan Maha Teliti tentu sudah mengetahui jauh sebelumnya dan telah memperhitungkannya, bahwa berbagai challenge ini akan bermunculan sesuai dengan jamannya masing-masing. Kita yang hidup di jaman ini tidak ada lagi masalah transportasi, juga biaya terjangkau oleh begitu banyak manusia di seluruh penjuru dunia untuk sampai ke tempat ini – tetapi challenge capacity-lah yang kini sangat perlu inovasi tersendiri.

 

Di era innovative disruption ini, peluang untuk melakukan terobosan dalam segala bidang memang terbuka untuk menyelesaikan masalah-masalah besar kehidupan – tidak terkecuali untuk masalah haji ini. Umat Islam Indonesia yang telah berhasil melakukan innovative disruption sekaliber Go-Jek dan Buka Lapak, mengapa tidak melahirkan innovative disruption – yang memungkinkan kita semua bisa pergi berhaji tanpa harus menunggu berpuluh tahun seperti saudara kita di Sulawesi Tengah ?

 

Dan innovative disruption dalam hal pengelolaan capacity berhaji ini boleh diambil keuntungan atau manfaatnya yang bersifat duniawi juga selain manfaat untuk agama dan akhirat kita. Selain do’a yang sangat mashur – do’a sapu jagad untuk meminta kebaikan di dunia dan di akhirat sekaligus yang kita semua hafal, do’a ini ada contohnya yang lebih detil – untuk menjaga keseimbangan antara agama, dunia dan akhirat kita.

 

 Allaahumma ashlih lii diiniyalladzii huwa 'ishmatu amrii, wa ashlih lii dunyaayallatii fiihaa ma'aasyii, wa ashlih lii aakhirotillatii fiihaa ma'aadii, waj'alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj'alil mauta roohatan lii min kulli syarrin. Ya Allah, perbaikilah agamaku sebagai benteng urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupan ini memberi nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan, dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. (HR. Muslim no. 2720.)

 

Lantas apa hubungannya antara ayat-ayat dan do’a yang dicontohkan dalam hadits tersebut dengan problem kapasitas peribadatan jema’ah haji saat ini ? Umat inilah yang tahu problem ini, betapa penantian 35 tahun untuk bisa pergi berhaji sungguh tidak mudah untuk bisa diterima yang justru terjadi di jaman modern ini. Di sisi lain masalah kapasitas untuk pengadaan akomodasi, tranportasi dlsb. tentu juga tidak mudah untuk bisa diatasi.

 

Problem besar juga berarti peluang besar bagi yang bisa mengatasinya, hanya saja peluang ini juga harus dilihat dari tiga sisi yang dicontohkan dalam do’a yang sahih tersebut. Dan inilah peluang kita untuk bisa mengatasi masalah besar jaman kita yang terkait dengan panggilan haji yang sudah dikumandangkan hampir 4,000 tahun lalu itu.

 

Peluang kita untuk ber-inovasi menyelesaikan urusan besar umat ini untuk merespon panggilan Ibrahim yang telah diteruskanNya hingga sampai ke anak cucu kita di jaman ini hingga akhir jaman nanti. Andakah yang akan bisa memberikan innovative solution agar orang-orang bisa berbondong-bondong dari seluruh penjuru dunia untuk bisa merespon Seruan Ibrahim ‘Alaihi Salam, agar semua kita bisa ‘berjalan kaki’ atau ‘ naik unta yang kurus’ sampai rumah Allah, dan agar kita bisa menyaksikan berbagai manfaat yang banyak bagi ‘mereka’ yang berarti juga kita sendiri ?