Dari Mainframe Ke Mobile

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 18 Juni 2018

Dari Mainframe Ke Mobile

Ketika setengah abad lalu Apollo 11 diluncurkan ke bulan (1969), peluncurannya memerlukan 5 buah mainframe – computer tercanggih saat itu IBM System/360 - dan melibatkan program computer sebesar 6 MB. Program sebesar ini sekarang bisa dijalankan dengan ringan oleh Mobile Phone yang kita pakai sehari-hari. Bila di dunia computing  processor bisa diperkecil sedemikian rupa dengan kapasitas yang beribu kali lipat, bisakah hal yang sama dilakukan untuk process industri yang lain ?

 

Yang saya maksud misalnya adalah proses industri untuk menghasilkan bahan bakar, bahan baku dasar atau basic industries dan berbagai proses industri lainnya. Well, tentu tidak perlu sekecil mobile phone – tetapi juga tidak segede industri-industri besar yang sekarang mengolah bahan baku yang sama.

 

Mengapa pengecilan ini penting ? karena menyangkut bahan untuk membuat pabrik itu sendiri, ongkos transportasi, tenaga kerja, kebutuhan space , distribusi lokasi dan berbagai hal lain yang terkait dengan size. IBM perlu melibatkan 3,500 teknisinya untuk mendukung peluncuran Apollo 11, program yang sama bila dilakukan saat ini hanya melibatkan  beberapa orang programmer saja.

 

Pengecilan size ini penting misalnya untuk mengolah sampah baik sampah rumah tangga, perkotaan, komersial, industri dan yang sangat banyak adalah limbah pertanian. Bila unit prosesnya harus besar, dia tidak dapat dibangun di sejumlah lokasi secara massal mendekati sumber-sumber bahan bakunya.

 

Padahal untuk bahan baku kategori sampah atau limbah, dia harus diproses in situ – di tempat dia dihasilkan dan secepat dia dihasilkan agar tidak menimbulkan berbagai dampak lingkungan dan social – seperti bau, penyakit dlsb.

 

Dengan pengecilan ini juga berarti efisiensi ruang, waktu dan tentu berdampak biaya. Kota-kota di Indonesia menghabiskan begitu banyak resources baik berupa tenaga kerja maupun modal (duit rakyat) hanya untuk mengangkut sampah dari satu lokasi ke lokasi penampungan berikutnya.

 

Bayangkan kalau yang perlu diangkut tersebut hanyalah arang, bio-oil ataupun syngas – yaitu tiga jenis hasil utama dari pengolahan sampah tingkat awal – pasti biaya transportasi, tenaga kerja dlsb juga akan mengecil, kira-kira tinggal seperlimanya.

 

Dan ‘pengecilan’ proses industri tersebut juga bukan hanya wacana, perhatikan ilustrasi Biomass Basic Industries di bawah. Hampir keseluruhan industri dasar yang kini mengandalkan bahan berbasis fossil, dapat digantikan oleh bahan yang berasal dari biomassa.

 

Industri petrochemical yang biasanya sangat besar, dapat digantikan oleh industri biochemical yang skalanya sangat kecil – yang dapat dijalan kan oleh satu atau dua tenaga kerja di tingkat komplek perumahan atau perkampungan. Lagi-lagi harus kecil dan terdesentralisasi atau bahkan terdistribusi – agar tidak perlu mengangkut bahan bakunya berupa sampah atau limbah ke tempat yang jauh.

 

Dari rangkaian proses tersebut di atas, proses untuk menghasilkan syngas misalnya – yaitu salah satu proses sentral dalam biomass-based biochemical industries – kini sudah dapat dilakukan dengan efektif menggunakan mesin-mesin yang tidak lebih besar dari meja kerja kita di kantor, dan sepenuhnya sudah bisa diproduksi oleh anak negeri dengan bahan baku yang juga 100% dalam negeri. Proses lanjutannya mestinya juga bisa diperkecil, asal ada yang mau memikirkannya beyond the customary.

 

Bila Anda scientist ataupun engineer yang memiliki passion di bidang ini, dan ingin ikut berperan dalam perubahan peradaban – Anda dapat menuliskan visi Anda dalam  sekitar 500 kata (kurang leih sepanjang tulisan ini)  dan dikirimkan ke kami : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. , siapa tahu kita bisa bekerjasma dalam mewujudkannya.