AfterOil Distributed Economy

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 18 Juli 2018

AfterOil Distributed Economy

Kalau ada satu film yang menurut saya seharusnya ditonton oleh para pemimpin dan pengambil keputusan – baik yang di pemerintah maupun swasta – maka pilihan saya jatuh pada film documenter berjudul The World Without Oil dari National Geographic Channel (bit.ly/afteroil_video). Apa yang diprediksi dalam film berdurasi hampir satu jam tersebut, makin hari –makin mendekati kenyataan. Era yang saya sebut AfterOil, sangat bisa jadi kita akan alami di usia kita atau kalau tidak di usia anak kita.

 

Tetapi era itu juga tidak perlu se-menyeram-kan apa yang digambarkan dalam film documenter tersebut, bila kita yang di Indonesia yang kini kira-kira punya waktu 10 tahun  untuk bersiap-siap ini – bener-bener melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi era AfterOil ini ?

 

Saya mengutip teori ekonominya Allan Johansson et al (2005) tentang Distributed Economy (DE). Ketika teori DE ini diungkapkan Allan dan teman-temannya tiga belas tahun lalu, dunia tidak terlalu memperhatikannya karena ‘Belanda masih jauh…’. Dan Allan-pun saat itu tidak mengaitkan seara langsung DE ini dengan krisis minyak atau energy.

 

Kini ada setidaknya tiga driver yang akan mendorong kita ‘kepepet’ dan mau tidak mau harus menggeser dari centralized economy bukan hanya kearah decentralized economy tetapi kearah Distributed Economy.

 

Dorongan pertama tentu karena ideology, bahwa agama kita melarang kekayaan itu hanya berputar pada segolongan yang kaya diantara kita (QS Al-Hasyr ayat 7). Tidak boleh ekonomi hanya berpusat di kota-kota besar sedangkan 60% desa kita dibiarkan tertinggal dan sangat tertinggal setelah 73 tahun merdeka dan 7 presiden berganti !

 

Dorongan kedua adalah yang terkait film dokumenter tersebut di atas, ekonomi terpusat yang didorong oleh sumber-sumber energy terpusat – mau tidak mau akan berakhir. Sumber energy terpusat seperti minyak yang akan habis paling dahulu disusul gas dan batu bara.

 

Dorongan ketiga adalah karena teknologi informasi, khususnya yang terkait blockchain. Teknologi yang pada prinsipnya adalah distributed ledgers yang menghilangkan apa yang disebut Single Point of Failure (SPoF), akan memungkinkan penyebaran nilai secara global dapat dilakukan semudah kita menyebarkan informasi via internet sekarang ini.

 

Konkritnya sepeti apa konsep kita untuk menghadapi era dimana tidak lagi ada minyak tersebut ? Tidak usah menunggu era itu tiba, saat inipun kita perlu memberdayakan desa-desa tertinggal kita yang masih mewakili 60% dari seluruh desa di Indonesia dan ini berarti jumlahmnya mendekati 50,000 desa !

 

Ilustrasi grafis di bawah ini merupakan ‘mimpi ilmiah’ saya tentang bagaimana suatu desa yang semula tertinggal, tiba-tiba bisa disulap menjadi desa industri berteknologi tinggi dengan sumber daya yang ada di desa itu sendiri. Tidak membutuhkan input energy apapun dari luar, inputnya hanya dana desa yang sekitar Rp 1 Milyar sampai Rp 2 Milyar sudah bisa menghidupkan desa yang semula tetinggal dan sangat tertinggal. Atau kalau dana ini tidak ada, bisa dari Anda-Anda yang ingin menghidupkan desa Anda sendiri !

 

Saya sebut berteknologi tinggi karena dari rangkian mesin yang akan kirim ke desa tersebut setidaknya ada dua mesin – yang kinipun para peneliti masih berlomba untuk menghasilkan yang paling efisien.

 

Mesin pertama adalah yang saya sebut WTE Machine, yaitu yang bisa mengubah sampah apapun – lebih-lebih hasil pertanian – menjadi tiga bentuk sumber energy. Yaitu yang pertama gas yang bisa langsung dihasilkan untuk menghasilkan api/panas dan bahan bakar genset untuk menghasilkan listrik.

 

Yang kedua adalah arang, dari setiap biomassa kering bila diproses dalam pyrolysis akan menghasilkan arang sekitar 20% dari berat keringnya, atau kalau dari biomassa basah sekitar 5 % dai berat basahnya. Arang ini bisa disimpan dan dapat dijual ke luar desa sebagai ‘ekspor’ energy dari desa yang bersangkutan.

 

Yang ketiga adalah Bio Oil, mirip dengan arang – Bio Oil ini seperti minyak mentah di era industri minyak. Bia bisa diproses lebih lanjut melalui Bio Refinery, menjadi bahan bakar cair untuk berbagai kebutuhan sebagaimana kita membutukan bahan bakar cair sekarang. Bio Oil ini hasilnya juga kurang lebih 20% dari berat kering biomassa yang diproses atau 5 % dari berat basahnya.

 

Bio Oil juga dikumpulkan di desa-desa yang memproduksinya, kemudia di’ekspor’ keluar desa untuk diproses dalam industri-industri Bio Refinery – kalau yang ini boleh terpusat karena perlu skala ekonomis yang memadai.

 

Nah sekarang untuk gas dan listrik yang dihasilkan oleh desa itu sendiri untuk apa ? Bila desa yang bersangkutan belum ada listrik, maka tentu dapat dibagikan ke masyarakat desa agar mereka bisa ikut menikmati kemajuan teknologi modern ini.

 

Bila masyarakat desa sudah memiliki listrik, maka energy yang dihasilkan ini dapat untuk membangun industri skala desa – yang paling sesuai untuk desa yang bersangkutan. Industri apa contohnya ?

 

Di desa-desa tertinggal dan sangat tertinggal rata-rata tanahnya gersang – karena kalau subur pasti desa yang bersangkutan sudah makmur. Ada dua tanaman yang fit-in untuk tanah-tanah gersang yaitu tanaman Calliandra merah dan tanaman Citronella, saya pilihkan yang kedua karena bisa dipanen cepat ( 6 bulan) dan hasil olahannya bernilai tinggi – berupa minyak citronella.

 

Desa yang tertinggal itu luasannya berada di antara 200 ha sampai 800 ha, saya ambil yang terkecil 200 hektar. Saya asumsikan dari 200 hektar ini 25 %-nya bisa digerakkan untuk menanam citronella, maka di desa itu akan ada minimal 40 ha tanaman citronella. Nah bagaimana mengolah citronella ini agar rendemen minyaknya banyak dan kebutuhan energinya sediit ?

 

Disinilah dibutuhkan teknologi kedua yang dapat meningkatkan rendemen penyulingan minyak atsiri – termasuk citrolella, dan pada saat yang bersamaan menghemat bahan bakar. Teknologi itu ditemukan di Perancis sekitar 30 tahun lalu dan hingga kini dunia berlomba menyempurnakannya.

 

Teknologi yang dalam bahasa aslinya disebut Detente Instantanee Controlee (DIC) ini intinya adalah menggunakan teknik Controlled Instant Pressure Drop – untuk mengeluarkan minyak dari sel-sel tanaman yang paling dalam sekalipun. Dari mesin ini minyak keluar dalam bentuk emulsi dalam air, yang kemudian dapat disuling dengan mudah. Hasilnya adalah rendemen minyak yang  lebih tinggi dan kwalitas yang lebih baik.

 

Sekarang kita bisa lihat rangkaian industri tingkat desa secara keseluruhannya, kuncinya adalah mesin Independent Energy – yang membuat desa itu mampu memprodksi energy-nya sendiri. Kemudian ada efisiensi penggunaan energy sehingga sedikit energy yang dihasilkan, outputnya bisa lebih banyak.

 

Sebagai bonus desa juga dapat meng’ekspor’ energy berupa arang dan Bio Oil yang masing-masing sesungguhnya adalah energy dengan konsentrasi tinggi, yang bisa digunakan lebih lanjut untuk power plant yang lebih besar, Bio Refinery skala besar dlsb.

 

Lantas apa hubungannya ini dengan teknologi tinggi satu lagi yaitu Blockchain ?, dengan Blockchain besa-desa yang bisa membutktikan bahwa mereka benar-benar berbuat sesuatu yang berharga, bukan hanya untuk desa itu sendiri tetapi juga berdampak pada penghematan energy fossil secara global, desa yang bisa menunda berlakunya zaman AfterOil – maka dia bisa didanai rame-rame melalui tokenisasi dari project-project desa yang dapat dibuktikan keberadaannya (real) dan kebenaran nilai yang dihasilkannya (true).

 

Maka inilah yang dibutuhkan untuk memutar kemakmuran sampai ke seluruh pelosok negeri, yaitu ketika kita bisa menghadirkan project-project yang real and true ke seluruh pelosok negeri. Sebagai bonusnya dengan project-project semacam ini, insyaAllah negeri ini tidak perlu kawatir menghadapi era buruk –  The World Without Oil - yang diprediksi  dalam film documenter tersebut di atas. InsyaAllah.