Before Day Zero

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 18 Juni 2018

Before Day Zero

Kota Cape Town di Afrika Selatan mungkin akan menjadi kota pertama di dunia yang akan mengalami Day Zero – hari dimana kehidupan seolah berakhir. Dalam 10 pekan dari sekarang otoritas kota itu akan mematikan aliran air ke rumah-rumah, bila sampai saat itu tidak juga turun hujan setelah mengalami kekeringan paling dasyat selama 384 tahun terakhir. Meskipun nun jauh di sana, sesungguhnya Afrika Selatan dengan kita hanya dibatasi Lautan Hindia – mestinya kita harus bisa secepatnya menangkap pelajaran ini.

 

Apa pelajarannya ? Bahwa hanya Dia-lah yang bisa menurunkan air  (QS 56 : 68-69) – teknologi manusia yang sangat maju sekalipun tidak bisa menurunkan air hujan dari langit – kecuali awannya sudah disiapkan olehNya. Demikian juga ketika sumber-sumber air tanah mengering, hanya Dia yang bisa memberi kita air (QS 67:30).

 

Lantas dengan ini semua – apakh kita pasrah saja ketika yang demikian itu terjadi pada kita ? Tidak juga demikian. Di kitab yang sama kita diinspirasi olehNya untuk berbuat mencegah yang demikian ini terjadi, lebih-lebih di negeri yang masih dikarunia begitu banyak hujan ini.

 

Pertama harus kita sadari bahwa hujan ini berkah (QS 50:9) – bayangkan kalau yang kita hadapi seperti yang dihadapi oleh saudara kita di Cape Town tersebut – pasti kita bisa memahami betapa berharganya berkah berupa air hujan ini.

 

Karena dia berkah, maka jangan disia-siakannya, jangan buru-buru dibuang ke laut menjadi air asin, jangan ditolak kedatangannya baik dengan teknologi penghalau awan modifikasi cuaca ataupun dangan kesyrikian berupa aktivitas pawang hujan.

 

Ada inspirasi untuk kita bagaimana mengelola air hujan agar dia bisa menjadi mata air yang memancar, yaitu menangkap hujan dengan biji-bijian yang kita tanam di tanah yang ‘mati’ kemudian diikuti dengan penanaman pohon kurma dan anggur (QS 36:33-34). Selain ikhtiar ini, Allah juga memberi resep menghadapi kekeringan hingga hujan turun yaitu dengan ber-istigfar banyak-banyak (QS 71: 10-11).

 

Kekeringan yang amat sangat di negeri sebarang lautan ini juga mengisyaratkan kebenaran kabar nubuwah lainnya, yaitu petunjuk kepastian mendekatnya akhir jaman – karena akhir zaman tidak mungkin menjauh bukan ? jadi dia pasti datang dan pasti semakin dekat, agar manusia ingat akan sesuatu yang pasti ini – maka ditunjukanNya-lah peristiwa-persitiwa seperti kekeringan ini.

 

Bayangkan kalau Anda tinggal di Cape Town sekarang dan ada kabar bahwa seseorang bisa mendatangkan air untuk Anda, apa yang Anda lakukan ? Apapun akan Anda lakukan untuk bisa memperoleh air tersebut.

 

Menjelang akhir zaman ketika Dajjal turun, tiga tahun sebelumnya supply air dikurangi 1/3 oleh Allah, dua tahun sebelumnya dikurangi 2/3 dan tahun terakhir dihentikan sama sekali. Artinya ketika Dajjal turun – tidak ada hujan yang turun sama sekali. Effek tidak adanya hujan, juga tidak ada produksi makanan.

 

Ketika Dajjal turun, dia yang menguasai sungai yang masih ada dan bukit roti (cadangan makanan) satu-satunya. Bisa dibayangkan saat itu ? Mayoritas orang akan ikut Dajjal karena hanya dia yang bisa memberi air dan makanan – karena tidak ada pilihan lain saat itu. Hanya orang-orang yang karena keimanannya memilih mati ketimbang ikut Dajjal saja yang akan bisa selamat dari fitnah Dajjal yang antara lain terkait dengan air dan makanan ini.

 

Jangankan saat itu ketika pilihan itu tidak ada lagi – kecuali rela tidak makan dan tidak minum demi mempertahankan keimanan semata, atau ikut makan dan minum dari makanan dan minuman yang disediakan oleh Dajjal – saat ini ketika pilihan itu masih banyak, manusia sudah seolah tidak melihat adanya pilihan-pilihan itu.

 

Kita dilarang makan riba, mayoritas sampai 95% sendi- sendi pengelolaan keuangan masih menggunakan system ribawi. Kita seolah sudah tidak melihat adanya jalan lain, kecuali jalan riba itu.

 

Tanyakan ini pada teman-teman yang berusaha memperkenalkan konsep keuangan yang bebas riba, dari mulai pembiayaan sampai penjaminan asuransi. Berapa persen yang berhasil mereka ‘syariahkan’ selama dua dasawarsa ini ? tidak jauh bergerak dari angka 5 %, artinya yang mereka lakukan mungkin belum sempurna, tetapi yang 95 %-nya adalah Riba !

 

Berapa banyak umat berhasil menempatkan tokoh-tokoh pilihannya untuk menduduki posisi penting di pemerintahan, legislative maupun eksekutif. Dua dasarwarsa sudah kita mereformasi diri untuk bisa lebih aspiratif dalam mengelola negeri ini – sesuai kepentingan rakyat katanya – tetapi dalam hal keinginan untuk ekonomi yang bebas riba, seolah tidak ada yang peduli.

 

Berdasarkan pantauan kami, belum ada satu daerahpun yang bebas riba saat ini meskipun amat sangat banyak umat telah mengantarkan para anggota legislative mencapai kedudukannya sekarang maupun para eksekutif yang memimpin daerahnya masing-masing. Bank-bank daerahnya masih riba, asuransinya masih riba, dan gaji beserta anggaran pemerintah lainnya mayoritasnya dikelola melalui pintu-pintu riba ini.

 

Bagaimana kita bisa bebas dari fitnah Dajjal yang menguasai satu-satunya sungai dan bukit roti ketika tidak ada lagi hujan turun, tidak ada lagi produksi makanan dan tidak ada sumber air ? Lha wong ketika masih ada pilihan lain selain riba saja seolah kita sudah tidak berdaya meng-elaborasi pilihan-pilihan tersebut.

 

Maha Benar Allah, ketika Dia menyuruh kita untuk beristigfar – agar hujan (tetap) turun. InsyaaAllah.