After Oil : To Save Or To Replace ?

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 12 Desember 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,113,158 Beli Rp. 2,028,632

  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,109,843 Beli Rp. 2,025,449

  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,113,232 Beli Rp. 2,028,703

  • Harga Dinar Emas per Mon, 11 Dec 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,122,236 Beli Rp. 2,037,347

  • Harga Dinar Emas per Mon, 11 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,118,449 Beli Rp. 2,033,711

After Oil : To Save Or To Replace ?

Dalam menyikapi cadangan minyak kita yang akan habis sekitar tahun 2027 atau zaman yang saya sebut After Oil, pemerintah sebenarnya sudah punya rencana. Bahwa secara bertahap sebagian kebutuan bensin akan diganti dengan bioethanol sampai mencapai 20% tahun 2025, dan biodiesel akan menggantikan sebagian diesel sampai 30% tahun 2020 dst. Namun rencana ini amat sangat kecil peluangnya untuk dapat direalisir karena banyak hal, diantaranya ketiadaan anggaran untuk implementasinya. Ketika Plan A unlikely bisa jalan, bukankah kita butuh Plan B ?

 

Plan A atau mengganti sebagian bensin dengan bioethanol dan sebagian diesel dengan biodiesel ini sebenarnya sudah disusun amat sangat rapi dalam peraturan menteri ESDM no 12 tahun 2015. Bahkan sudah disadari juga bahwa produksi bioethanol dan biodiesel ini akan lebih mahal dibandingkan bahan bakar fossil dalam bentuk bensin dan diesel konvensional.

 

Oleh karenanya sudah pula disiapkan rencana pembiayaannya. Selisih harga biodiesel dan konvensional diesel akan dibiayai dari pungutan ekspor sawit, sedangkan untuk selisih bioethanol dan bensin akan dibiayai dari APBN. Namun realisasinya memang masih jauh panggang dari api.

 

Harga minyak sawit yang digunakan sebagai bahan biodiesel bergejolak di pasar sehingga nilai subsidi ini-pun sangat fluktuatif. Bila January 2016 nilai subsidy biodiesel hanya berkisar Rp 550/liter, bulan yang sama tahun 2017 melonjak hampir 8 kalinya menjadi berkisar Rp 4,200/liter – maka kemudian muncul ide untuk membatasi subsidy biodiesel ini pada angka Rp 4,000/liter. Angka terakhir ini yang saya pakai untuk menyusun grafik di bawah.

 

 

Subsidy bioethanol lebih mahal lagi, setahun terakhir kisarannya antara Rp 4,200/liter sampai Rp 4,500/liter. Dan beda dengan bioediesel yang ada sumber pendanaannya tersendiri dari pungutan ekspor minyak sawit, bioethanol harus dibiayai dari APBN. Ketika tahun 2016 lalu pemerintah memasukkan angka subsidy bioethanol ini di RAPBN dan ditolak oleh DPR, maka praktis program bioethanol tersebut sementara mati suri sampai entah kapan.

 

Dari 14-an pabrik bioethanol yang ada di Indonesia, ada setidaknya tiga pabrik sebenarnya yang mampu memproduksi Fuel Grade Ethanol (FGE) dengan total kapasitas produksi sekitar 100 juta liter per tahun. Namun kemampuan dan kapasitas ini menjadi tidak berfungsi karena bahkan sejak 2010 Indonesia praktis tidak lagi memproduksi FGE. Produksi ethanol tetap ada tetapi digunakan untuk keperluan lain seperti industry kesehatan, perfumery, toiletries dlsb.

 

Dari angka-angka dan fakta-fakta tersebut di atas, maka boleh disimpulkan bahwa Plan A yaitu mengganti sebagian bahan bakar fossil berupa diesel dan bensin konvensional dengan biodiesel dan bioethanol, praktis gagal – meskipun tidak bisa disebut gagal total karena sebagian rencana biodiesel masih bisa dijalankan.

 

Kalau toh Plan A ini akan dipaksakan jalan mulai tahun depan misalnya, sumber pendanaannya yang nyaris tidak terbayang dari mana. Karena bila rencana yang sudah keluar rel tersebut akan dikembalikan ke rel yang semestinya, dibutuhkan subsidy biodiesel dan bioethanol sekitar Rp 40 trilyun untuk tahun 2018 dan melonjak menjadi 3 kalinya Rp 120 trilyun tahun 2027. Kumulative subsidy akan mencapai 827 trilyun selama 10 tahun dari 2018 sampai 2027.

 

Nah sekarang karena Plan A tidak bisa berjalan sepenuhnya, bagaimana kalau saya tawarkan Plan B ?, mungkinkah seorang petani seperti saya bisa memberi alternative yang masuk akal dari masalah besar di bidang bahan bakar nasional yang belum ketemu solusinya tersebut ? Asal dicerna dengan kecerdasan, insyaAllah solusi ini sangat masuk akal.

 

Saya tidak berusaha mengganti 20% bensin dengan bioethanol ataupun 30% diesel dengan biodiesel, yang saya tawarkan adalah kita akan menghemat 20% bensin dan 30 % diesel. Instead of replacing it, we are saving it – bukan mengganti tetapi menghemat, ini kuncinya !

 

Dengan apa kita akan menghemat ? dengan fuel bioadditive yang salah satunya saja adalah minyak dari tanaman Java Citronella. Apakah benar minyak dari tanaman ini bisa menghemat bahan bakar bensin sampai 20% dan diesel 30% ? Kalau pemerintah ragu, pergilah ke Bogor yang tidak jauh dari istana !

 

Tanyakan hal ini kepada para peneliti di Balitro (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat) atau tanyakan kepada sejumlah guru besar yang membimbing mahasiswa-mahasiwa IPB yang mendalami masalah ini, mereka akan menjawab serentak bisa ! Karena sejumlah penelitian telah dilakukan oleh mereka-mereka ini dan temuan mereka juga sudah tidak jauh dari angka-angka tersebut di atas.

 

Setelah secara ilmiah mereka jawab bisa – mungkin perlu di-blending dengan sejumlah essential oil lainnya yang juga melimpah di Indonesia, pertanyaan selanjutnya adalah mungkinkah kita menanam tanaman-tanaman ini secara massive sampai ratusan ribu hektar untuk memenuhi kebutuhan nasional ? Jawabannya juga sangat bisa, untuk urusan menanam secara massive ini – tanyakan kepada kepada teman-teman iGrow.Asia yang familiar dengan cocok tanam secara korporasi  !

 

Karena persentase kebutuhan bioadditive ini sangat kecil hanya di kisaran 0.5% dari bahan bakar yang digunakan, kita hanya butuh 347,000 ton s/d 503,000 ton bioadditive per tahun dari tahun 2018 s/d 2027.

 

Untuk ini dibutuhkan lahan sekitar 579,000 ha tahun 2018 sampai 838,000 ha tahun 2027. Tanahe sopo seluas ini untuk mengisi kebutuhan tersebut ? Tanyakan kepada satu atau dua konglomerat yang ada di negeri ini, mereka akan menyanggupi lahannya. Salah satu kelompok usaha yang saya kenal saja , punya lahan ngganggur yang cukup untuk mengisi separuh kebutuhan tersebut !

 

Tinggal dananya sekarang, berapa dibuthkan dan dari mana ? Tanaman ini sifatnya terus berulang, sekali ditanam dipanen terus sampai tiga tahun. Hasil yang dijual lebih dari cukup untuk menanam kembali, maka hanya dibutuhkan modal untuk menanam dan membebaskan lahan sekitar Rp 14 trilyun di tahun 2018 dan akan bertambah sedikit demi sekiki sampai total kumulatifnya mencapai Rp 21 trilyun di tahun 2027. Bandingkan ini dengan subsididy bioethanol dan biodiesel – kalau mau dijalankan – yang akan mencapai kumulatif Rp 827 trilyun tersebut di atas.

 

Artinya solusi yang saya tawarkan ini biayanya hanya 1.7 % saja dari subsidy biodiesel dan bioethanol dalam 10 tahun mendatang, dan semakin panjang biaya ini akan semakin murah karena sifat tanaman yang terus renewable tadi.

 

Dan untuk dana yang hanya 1.7% inipun kami yang serius menawarkan project ini – tidak akan minta pemerintah untuk memikirkannya, insyaAllah para petani ini bisa mencari dananya sendiri yang viable secara komersial – kalau toh perlu pinjam, insyaAllah bisa mengembalikannya – tidak perlu disubsidy !

 

Lantas apa yang dibutuhkan untuk jalannya Plan B tersebut ? yang dibutuhkan hanyalah penerimaan dengan pikiran terbuka ! baik dari kalangan otoritas yang terkait sehingga mereka memudahkan jalan ini, dan bukan malah mempersulitnya. Dari kalangan praktisi dan peneliti - ayo disempurnakan bareng-bareng, jangan justru diserang rame-rame.

 

Dan tentu juga dari kalangan masyarakat luas pengguna, bisa saja solusi Plan B ini belum sempurna betul, tetapi insyaAllah ini bisa menjadi salah satu jalan – agar kita survive di era after oil nanti.  Menghemat pasti lebih murah dari menggantinya  dengan yang baru  ! InsyaAllah.