After Oil

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 12 Desember 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,113,158 Beli Rp. 2,028,632

  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,109,843 Beli Rp. 2,025,449

  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,113,232 Beli Rp. 2,028,703

  • Harga Dinar Emas per Mon, 11 Dec 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,122,236 Beli Rp. 2,037,347

  • Harga Dinar Emas per Mon, 11 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,118,449 Beli Rp. 2,033,711

After Oil

Kalau ada krisis yang begitu imminent – dekat kedatangannya karena bisa dihitung dengan mudah, itulah krisis bahan bakar minyak. Kita hanya punya cadangan 3.23 milyar barrel per tahun 2016, kita ambil 831,100 setiap hari – maka kapan cadangan tersebut akan habis ? sekitar tahun 2027 ! Jadi pasca tahun 2027 amat besar peluangnya kita tidak lagi punya sumber bahan bakar minyak, so what ?

 

Impor saja seperti yang selama ini toh bisa kita lakukan ? belum tentu bisa semudah itu. Karena bersamaan dengan kita kehabisan cadangan minyak – negeri-negeri maju juga kehabisan cadangan mereka. Inggris dan Jerman akan lebih dahulu habis dari kita, Amerika habis bersamaan dengan kita, dan Perancis menyusul setahun kemudian.

 

Jadi pada saat minyak kita habis, pasar minyak di dunia yang masih diproduksi oleh Saudi Arabia, Canada, Russia, Iraq, Iran dlsb akan diperebutkan habis-habisa oleh negeri-negeri maju yang sudah kehabisan minyaknya tersebut. Krisis akan memuncak 6-7 tahun kemudian ketika India dan China juga akan kehabisan minyaknya secara hampir bersamaan.

 

Saya banyak sekali menulis tentang hidup setelah minyak habis atau after oil ini, bukan untuk menakut-nakuti – tetapi mumpung masih ada waktu, ayo kita buat persiapannya secara maksimal. Agar kita dan utamanya anak cucu kita, bisa survive di era after oil tersebut.

 

Menguraikan masalah adalah satu hal, tetapi memberikan solusi itu yang lebih utama. Lantas apa solusi yang saya tawarkan ? Saya tidak memberi solusi berbasis nuklir, solar energy, laut, angin dlsb. biarlah yang ini diberikan oleh para ahlinya masing-masing. Saya menawarkan solusi yang saya tahu detilnya, yaitu melalui dunia pertanian.

 

Dari sudut pandang ini, ada tiga langkah yang bisa kita lakukan untuk bisa survive di era after oil. Tiga langkah ini saya singkat ASA (Aware, Save and Adopt), dan ASA dalam bahasa kita juga berarti keinginan yang sangat kuat disertai kemauan untuk bekerja keras mewujudkannya.

 

Pertama adalah menyadarkan masyarakat secara keseluruhan, baik sebagai penduduk biasa maupun sebagai pimpinan negara – bahwa masalah ini ada dan begitu dekat, jadi harus ada sense of crisis. Kalau kita tidak sadar akan adanya masalah ini, atau kita tahu tetapi cuek – maka kasihan sama anak-anak dan cucu kita yang akan menghadapi era itu tanpa persiapan.

 

Dalam dunia perencanaan keuangan ada istilah fail to plan is plan to fail, gagal membuat perencanaan adalah sama dengan merencanakan untuk gagal. Maka waktunya sekarang untuk membuat perencanaan dan berbuat yang kita bisa.

 

Kedua adalah menghemat yang masih tersisa, bagaimana caranya ? sudah saya jelaskan melalui tulisan sebelumnya Save Fuel – Safe Earth. Selain mengurangi konsumsi, kita bisa meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar yang ada dengan bioadditive – additive bahan bakar yang berasal dari tanaman.

 

Kita hanya perlu menanam sekitar 160,000 ha tanaman essential oil tertentu seperti Citronella (Sereh Wangi) yang dapat digunakan untuk efisiensi bahan bakar antara 20%-40% tergantung jenis mesin, kondisi mesin  dan komposisi bahan bakar yang digunakan. Luasan ini seolah besar, tetapi hanya sekitar 0.45% dari lahan komersial yang kita miliki. Maka kalau ini dilakukan, cadangan minyak yang ada akan dapat diperpanjang umurnya menjadi total 12 sampai 14 tahun lagi.

 

Artinya cadangan minyak kita tidak jadi habis tahun 2027, tetapi mundur menjadi 2029 atau bahkan 2031. Pengunduran era after oil ini akan menambah waktu kita untuk melakukan persiapan energi alternatif lainnya – sehingga lebih memungkinkan kita untuk siap pada waktunya.

 

Ketiga adalah memanfaatkan waktu yang masih ada antara 10 tahun (kalau kita tidak mengadopsi strategi ke dua) sampai 14 tahun ( kalau kita adopsi), untuk bener-bener menggali sumber energi alternatif pengganti bahan bakar ini.

 

Dari sisi sumber energi biomassa yang terkait dengan pertanian dalam arti luas, saya melihat peluangnya itu sangat besar. Dari luasan lahan sawah, perkebunan dan hutan komersial saja, kita punya sekitar 36 juta hektar yang menghasilkan limbah biomassa – di luar hasil utamanya sendiri –sebesar 660 juta ton biomassa per tahun.

 

Bila 10 %-nya saja bisa kita konversi menjadi liquid fuel – bahan bakar cair dengan teknologi yang ada saat ini, yang kemungkinan akan berkembang pesat dalam satu dasawarsa ke depan – ini insyaAllah cukup untuk menggantikan setara 200 hari  produksi minyak bumi kita sekarang. Karena setahun ada 365 hari, setelah yang 200 hari diisi dari renewable energi dari biomassa - maka tinggal mencari renewal energi untuk 165 hari per tahunnya,

 

Masih akan kurang memang, tetapi sumber-sumber yang lain kan masih banyak seperti sinar matahari, laut, panas bumi dlsb. Bila semuanya digarap dengan penuh ASA oleh para ahlinya,  insyaallah secara keseluruhan akan mencukupi untuk menyediakan energi yang kita butuhkan di era after oil tersebut di atas.

 

Tentu tidak akan ada yang mudah prosesnya, perlu tetesan-tetesan sweat, tear and blood kita sebelum itu semua bisa dicapai. Perlu tetesan-tetesan keringat, air mata dan bahkan darah kita untuk menyiapkan generasi ke depan yang harus hidup di jaman ketika minyak tidak lagi menetes. Will we do it ? InsyaAllah !