Jin-pun Tahu Solusi Kekeringan

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 12 Desember 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,113,158 Beli Rp. 2,028,632

  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,109,843 Beli Rp. 2,025,449

  • Harga Dinar Emas per Tue, 12 Dec 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,113,232 Beli Rp. 2,028,703

  • Harga Dinar Emas per Mon, 11 Dec 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,122,236 Beli Rp. 2,037,347

  • Harga Dinar Emas per Mon, 11 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,118,449 Beli Rp. 2,033,711

Jin-pun Tahu Solusi Kekeringan

Sampai agustus tahun 2017 kemarin, lebih dari 56,000 ha lahan di Indonesia mengalami kekeringan. Berbagai pihak tentu dari waktu ke waktu telah berusaha untuk meminimize kekeringan ini beserta dampaknya – yang hampir selalu berulang ini dengan caranya masing-masing. Maka apabila ada satu cara yang paling efektif dan terjamin kebenarannya untuk mengatasi kekeringan tersebut, mestinya ini layak untuk diaplikasikan di seluruh wilayah negeri ini. Cara apa itu ? itulah cara yang bahkan jin-pun tahu.

 

Sebagaimana janjiNya di dalam Al-Qur’an bahwa “…Kami turunkan kitab ini kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira…”(QS 16:89) , maka sudah seharusnya kita bisa merujuk pada Al-Qur’an ini untuk menyelesaikan masalah-masalah yang besar maupun yang kecil yang kita hadapi dalam kehidupan kita.

 

Dalam masalah pertanian khususnya dan ekonomi umumnya, kekeringan adalah masalah besar negeri ini – dampaknya langsung pada ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi seluruh rakyat. Karenanya sudah selayaknya kita mulai menggunakan petunjukNya yang baku dan terjamin kebenarannya sepanjang jaman untuk mengatasi persoalan yang besar ini.

 

Berikut saya intisarikan ke dalam 9 poin untuk pengelolaan air mengikuti petunjukNya, agar kita bisa terhindar dan bisa mengatasi problem seperti kekeringan tersebut di atas.

 

 

Pertama, air merupakan komponen utama untuk membedakan bumi yang mati dengan bumi yang hidup. Bumi dan seisinya ini dihidupkan oleh Allah dengan air yang turun dari langit – air hujan. Ada lebih dari 20 ayat di Al-Qur’an yang menjelaskan ini, seperti di QS 2:22, 6 :99 dan seterusnya.

 

Adanya pengulangan penjelasan yang begitu banyak juga mengisyaratkan bahwa kita harus betul-betul memperhatikan apa-apa yang diulang-ulang tersebut. Kita harus bener-bener bisa mengambil pelajaran dan petunjuk yang terkait dengan air yang turun dari langit atau air hujan ini. Kita harus sangat paham tentang waktunya, kwantitasnya, daerah turunnya dlsb, agar kita bisa bener-bener mengelolanya.

 

Kedua, secara specific Allah menyebutkan bahwa segala yang hidup dari air (QS 21:30), semua jenis hewan dari air (QS 24:45) dan manusia-pun dari air (QS 25:54). Ini sekaligus juga mengingatkan dan menekankan – tidak ada yang bisa hidup tanpa air, maka kepatuhan kita mengelola air mengikuti petunjukNya merupakan keharussan yang teramat penting.

 

Ketiga, Dia menjamin bahwa air tersebut turun sesuai ukuran, tidak kurang tiga ayat yang menegaskan ini (QS 13:17; 23:18 dan 43:11). Artinya apa ini ? Air sebenarnya disediakan cukup olehNya, hanya manusia diuji – agar dia beramal yang paling baik, antara lain untuk bisa mengelola air yang menjadi sumber kehidupan tersebut.

 

Keempat, diantara sekian banyak jenis air yang tersedia – Dia memilihkan kita air yang sangat bersih – yaitu air yang diturunkan dari langit atau air hujan (QS 25:48). Jadi air hujan ini adalah berkah bagi penduduk bumi, air yang sangat bersih sebagai sumber khidupan – maka kita harus berjibaku untuk menyelamatkannya tetes demi tetesnya, agar dia tidak sampai lari ke laut begitu saja. Apalagi kalau sampai sengaja dipercepat dan dibuang ke laut sebelum turunnya – yang menunjukkan kegagalan kita dalam pengelolaannya.

 

Kelima, Air hujan yang tersimpan di bumi dan kemudian menimbulkan mata air – harus dikelola dengan keadilan. Bahkan keadilan dalam pengelolaan air ini merupakan indicator bagi keadilan secara keseluruhan. Kaumnya Nabi Saleh Alaihi Salam, dihancurkan oleh Allah karena oligopoly 9 orang yang berbuat kerusakan di bumi – indicatornya adalah penguasaan sumur air  oleh segelintir orang tersebut (QS 26:155 ; QS 54:28).

 

Keenam, sepandai-pandainya kita, setinggi-tingginya teknologi kita – kita diingatkan oleh Allah – hanya Dia yang bisa ‘menyimpan air’ ( QS 15:22). Selain Dia tidak ada yang mampu menghadirkan air ini bila sumber air kita itu mengering : “…Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir ?” (Qs 67:30).

 

Ketujuh, Allah memberi isyarat kita dimana Dia menyimpan air – yaitu pada system perakaran tanaman-tanaman tertentu. Yang secara specific disebut adalah kurma (QS 36:34), tetapi bisa juga tanaman-tanaman yang lain berfungsi yang sama – meskipun bisa jadi tidak seefektif kurma. Ini juga sejalan dengan mengapa kita diperintahkan menanam bibit kurma, meskipun rangkaian peristiwa kiamat telah mulai.

 

Selain di perakaran tanaman, ada petunjuk lain yang sangat penting – karena sampai diulang tiga kali – yaitu air yang ‘tersimpan di batu’, karena batu-pun bisa memancarkan mata air ! Petunjuk ini dua kali dinisbatkan kepada mukjizat Nabi Musa ( QS 2:60 dan QS 7:160), tetapi juga berlaku untuk kita ! Bagaimana bisa ?

 

Selain mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yaitu Al-Qur’an meliputi mukjizat seluruh nabi-nabi, juga ada satu ayat lain yang tidak terkait dengan Musa yang  menguatkan bahwa dari batu itu bisa memancar mata air dan bahkan juga sungai.

 

“…Padahal  dari batu-batu itu pasti ada sungai-sungai yang memancar daripadanya. Adapula yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya…” (QS 2:74). Bagaimana aplikasinya di lapangan ? inilah bagian dari tantangan ilmu dan teknologi manusia modern untuk membuktikannya.

 

Kalau sekarang belum ada teknologi yang bisa membuktikannya, bisa jadi memang belum waktunya – karena “Untuk setiap berita ada waktu terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS 6:67)

 

Kedelapan, ada dua indicator tanah yang subur ketika dia mendapatkan air yang cukup – yaitu ihtazzat dan warabat, tanah yang bergetar dan mengembang . Dua indicator ini disebut juga di dua ayat yang senada yaitu di akhir QS 22 : 5 dan di QS 41:39.

 

Kesembilan, setelah kita diberi tahu seluk-beluk air untuk kehidupan seluruh ciptaanNya dari tanaman, binatang dan manusia – dan metode pengelolaannya di bumi ini, masih sangat mungkin kita mengalami kekurangan air atau kekeringan. Tetapi untuk ini-pun kita diberi solusi pamungkasnya, yaitu dengan beristigfar (QS 71:10-11) dan bahkan solusi satu lagi jin-pun tahu yaitu senantiasa tetap berada di jalanNya (QS 72:16). InsyaAllah !