1 Dinar Untuk 1 Ayunan Kapak

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 25 Juli 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 25 Jul 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,157,481 Beli Rp. 2,071,182

  • Harga Dinar Emas per Tue, 25 Jul 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,153,420 Beli Rp. 2,067,283

  • Harga Dinar Emas per Tue, 25 Jul 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,154,708 Beli Rp. 2,068,520

  • Harga Dinar Emas per Mon, 24 Jul 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,155,691 Beli Rp. 2,069,463

  • Harga Dinar Emas per Mon, 24 Jul 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,152,734 Beli Rp. 2,066,625

1 Dinar Untuk 1 Ayunan Kapak

Bayi-bayi yang terlahir di Indonesia beruntung, ketika terlahir cenger ‘hanya’ menanggung hutang sekitar Rp 15.6 juta (US$ 1,200) per kepala. Bila dia terlahir di negeri kaya dan sedikit penduduk seperti Luxemburg hutangnya langsung RP 87.5 milyar (US$ 6,733,000) sejak lahir cenger. Itulah ironi dunia saat ini, negeri kaya juga negeri pengutang paling banyak – dan tidak ada plan untuk membayarinya. Mungkinkah kita bisa membangun negeri tanpa berhutang ? Saya melihat ada kemungkinannya, salah satunya melalui social startup.

 

Hutang Indonesia saat ini sekitar US$ 328 milyar atau Rp 4,265 trilyun. Kalau kita bisa melahirkan startup sekelas Facebook dan kekayaannya diwakafkan untuk membayar hutang negara, maka dia nyaris cukup karena perusahaan yang baru seusia remaja 13 tahun itu nilai pasarnya mencapai US$ 321 milyar. Kalau kita berhasil membangun usaha segede Apple, maka dia lebih dari cukup karena nilai pasarnya sekitar US$  534 milyar.

 

Mumpung hutang kita belum segede hutang negeri-negeri yang lebih maju dari kita, sangat mungkin bagi kita untuk memulai bagaimana negeri ini bisa terus membangun tanpa melipat gandakan hutangnya. Salah satu caranya ya dengan membangun perusahaan yang tumbuh cepat, kemudian hasilnya diwakafkan untuk membayari hutang negara.

 

Mungkinkah ini dilakukan ? sangat mungkin – perusahaan raksasa seperti Microsoft yang kini nilai pasarnya sekitar US$ 400 milyar, pemilik perusahaan tersebut Bill & Melinda Gates juga telah mendonasikan sekitar US$ 44.3 milyar sejak tiga tahun lalu melalui foundation mereka.

 

Lebih-lebih di negeri yang penduduknya mayoritas muslim seperti Indonesia ini. Umat Islam sangat mengetahui konsep wakaf, tinggal dibangkitkan saja gaya hidup berwakaf ini – agar negeri ini bisa membayar hutang atau setidaknya tidak menambah hutang.

 

Selain dari kehidupan Uswatun Hasanah kita dengan para sahabatnya seperti Ustman bin Affan dengan wakafnya yang legendaris – hingga kini bisa disaksikan, wakaf-wakaf kolosal juga dilakukan oleh generasi-generasi sesudahnya.

 

Salah satunya kita bisa belajar dari Zubaidah istri Khalifah Harun Al-Rasyid. Wanita darah biru keturunan khalifah yang kemudian juga menjadi istri khalifah ini terkenal sekali dengan wakafnya – yang hingga kini masih bisa disaksikan bekas-bekasnya.

 

Diantaranya adalah jalan sepanjang 1,900 km dari Bagdad ke Mekkah yang dilengkapi dengan rumah-rumah singgahnya – semacam rest area kalau di jaman ini. Juga bekas-bekas saluran air yang dibangun dia di Mekkah dan sekelilingnya yang saat itu menghabiskan dana sekitar 2 juta Dinar atau sekarang sekitar Rp 4.3 trilyun.

 

Begitu besarnya dana yang dia keluarkan untuk mengatasi kekeringan di Mekkah ini – sampai para insinyurnya sempat ragu dan menasihati beliau – bahwa biaya untuk membangun saluran tersebut akan sangat mahal disamping juga sangat sulit. Apa kata beliau ? “…saya akan tetap membangunnya meskipun dibutuhkan 1 Dinar untuk setiap ayunan kapak…!

 

Begitulah ketika niat untuk berwakaf sudah mendarah daging, orang akan rela mengerahkan seluruh kemampuannya – dan harta yang dimilikinya untuk berwakaf.

 

Pertanyaannya adalah bagaimana kita membangkitkan semangat untuk berwakaf di jaman yang penuh fitnah ini ? Seperti angin topan, dia hanya perlu dilahirkan matanya – kemudian dia akan terus membesar dan menggulung apa saja. Seperti juga bola salju, dia hanya perlu dimulai dari segenggaman tangan yang kemudian terus membesar.

 

Mata angin topan atau segenggam bola salju tersebutlah yang kita mulai perlu lemparkan rame-rame sekarang – entah angin topan atau bola salju siapa yang nantinya membesar – itu tidak penting, yang penting negeri ini bisa membayar hutang atau setidaknya tidak menambah hutang.

 

Anda yang tinggal di Jabodetabek, tentu Anda bisa bergembira karena melihat pembangunan infrastruktur yang massif. Dari rumah saya di Cibubur akan segera bisa naik LRT tanpa macet ke Jakarta – kemacetan kolosal yang selalu terjadi di jalur ini ada harapan untuk segera teratasi.

 

Begitu pula yang dari arah Bekasi, Ciputat dan lain sebagainya – bahkan juga tidak lama lagi jalur dari Bandung ke Jakarta dengan jalur kereta cepat. Yang mungkin tidak kita bayangkan adalah dari mana uang untuk membangun infrastruktur yang kita butuhkan tersebut ? Selain dari pajak yang kita bayar, sebagiannya juga tentu dari berhutang – nambah lagi hutang kita !

 

Bayangkan sekarang kalau pembangunan-pembangunan sarana umum seperti infrastruktur ini dibangun dari wakaf. Kita akan bisa terus membangun tanpa harus berhutang, dan yang membayarinya-pun akan seperti Zubaidah tersebut di atas – dengan senang hati terus membayarinya meskipun 1 ayunan kapak bernilai 1 Dinar !

 

Orang akan rela melakukan ini manakala dia sadar bahwa setiap Dinar yang kita keluarkan untuk wakaf, itulah sejatinya harta terbaik yang dibawanya hingga kita mati. Hanya akan ada tiga hal yang kita bawa mati. Yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendo’akan orang tuanya.

 

Dengan ini pula umat bisa dibangkitkan semangatnya untuk bekerja keras dan berkarya maksimal – karena kita tahu bahwa harta kita itu bisa kita bawa mati, yaitu harta yang kita wakafkan.

 

Konsep wakaf juga mendorong orang untuk berbuat tanpa harus membayangkan untuk ikut menikmatinya, siapapun yang menikmatinya tidak masalah baginya. Zubaidah hanya 5 kali pergi ke Mekkah, tetapi dia merasa perlu membangun jalan 1,900 km dan infrastruktur air di seputar Mekkah. Kalau dia berfikir dia yang akan menikmatinya, dia tidak perlu melakukan ini.

 

Maka konsep wakaf juga yang akan bisa membangun negeri ini secara merata ke seluruh penjurunya. Kita bisa membangun jalan ke pucuk gunung yang tidak akan pernah kita lalui, membangun  madrasah di pelosok tanah air yang tidak akan sempat kita kunjungi, membangun rumah sakit-rumah sakit yang kita tidak pernah ingin menikmatinya dlsb.

 

Lantas apa konkritnya mata angin topan dan bola salju yang akan kita lempar ? satu yang akan saya lempar adalah perubahan paradigm ‘harta tidak dibawa mati’ yang melemahkan umat dari upaya berkarya maksimal, menjadi ‘harta yang dibawa mati’ untuk mendorong orang berwakaf di bidang apa saja – karena wakaf itulah harta yang dibawa mati.

 

Yang kedua adalah memulai social startup  yang khusus ngubeg-ngubeg potensi wakaf untuk membagun negeri – syukur-syukur bisa membayari hutangnya nanti. Untuk yang kedua ini saya ingin mengundang dan mengajak siapa saja yang tertarik untuk bekerja keras – mencari harta terbaik yang demikian baiknya sehingga kita ingin membawanya mati, yaitu dengan  mewakafkannya.

 

Melalui wakaf inilah insyaAllah tidak akan ada jalan yang terlalu jauh untuk kita tempuh, tidak akan ada pekerjaan yang terlalu sulit untuk dilaksanakan, tidak ada biaya yang terlalu mahal untuk dibayar – meskipun dibutuhkan 1 Dinar untuk setiap ayunan kapak, insyaAllah tetap kita laksanakan.