Ketika Santri Tidur Klisikan

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 22 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,182,054 Beli Rp. 2,094,772

  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,172 Beli Rp. 2,089,125

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,180,610 Beli Rp. 2,093,386

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,188,594 Beli Rp. 2,101,050

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,011 Beli Rp. 2,082,251

Ketika Santri Tidur Klisikan

Para penggembala selalu tahu mana diantara hewan-hewan gembalaannya yang menjadi alfa atau pemimpin bagi yang lain. Salah satu caranya adalah dengan melihat ketika pada umumnya hewan gembalaannya makan dengan lahap, si alfa sebentar-sebentar mendongakkan kepala. Di pesantren kuno, Pak Kyai menggunakan teknik yang kurang lebih sama untuk mendeteksi calon-calon penggantinya. Di jaman modern ini, di era big data – kita dapat menggunakannya juga untuk memilih para pemimpin di bidangnya. Apa hubungannya ?

 

Pak Kyai mendeteksi calon ulama yang kelak menggantikannya antara lain dari santri-santrinya yang klisikan di waktu tidur malam hari. Lantas apa hubungannya antara tidur klisikan dengan calon ulama, calon pemimpin dan tokoh-tokoh ke depan ? Ketika ada yang bertanya seperti ini kepada Pak Kyai, beliau menjelaskan sebagai berikut :

 

Itu sesungguhnya bukan teknik saya, saya hanya menjalankan petunjukNya tentang Ulil- Albab yaitu orang-orang yang berakal”. Kemudian beliau membacakan dua ayat yang terjemahannya sbb :

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulil albab). Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi – (kemudian berkata) ‘Ya Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS 3:190-191)

 

Pak Kyai juga bercerita lebih lanjut bahwa dahulu Imam Bukhari dalam satu malam bisa terbangun 20 kali, artinya sebentar tidur – langsung bangun lagi, sebentar tidur – langsung terbangun lagi – inilah makna tidur klisikan dalam bahasa jawa – ya tidur model Imam Bukhari tadi.

 

Apa yang dilakukan Imam Bukhari ketika tidur klisikan ? Dia tidak benar-benar bisa tidur karena terus berusaha mengingat hadits-hadits yang belum ditulisnya. Begitu ingat satu, dia langsung bangun dan menuliskannya – begitu seterusnya. Hasilnya kita melihat kini, kitab hadits yang menjadi rujukan nomor dua setelah Al-Qur’an.

 

Namun di pesantren tidak semua santri yang tidur klisikan adalah calon ulama, banyak juga yang tidur klisikan karena urusan yang sepele – seperti rindu kampung halamannya dlsb. yang seperti ini tentu tidak masuk hitungan.

 

Maka yang dilakukan Pak Kyai selain memperhatikan tidurnya, juga memperhatikan kematangan ilmunya dan dialog dengan para kandidat ini. Dari dialog-dialog inilah Pak Kyai bisa memancing – apa yang sesungguhnya dipikirkan si santri ketika lagi tidur klisikan. Bila dia memikirkan ilmunya, masyarakatnya dan hal-hal lain yang berarti – maka itulah calon-calon ulama dan pemimpin umat masa depan.

 

Di era modern ini, di era teknologi informasi dan big bata – sesungguhnya kita juga bisa mendeteksi orang-orang yang ‘tidur klisikan’ ini – yaitu melalui pemikiran dan karya-karyanya di berbagai bidang kehidupan.

 

Belum lama ini misalnya World Summit on Information Society – International Telecommunication Union – badan di bawah PBB, memilih orang atau institusi di seluruh dunia dalam 18 kategori bidang – yang ‘klisikan’ memikirkan dan berkarya untuk membuat dunia lebih sustainable.

 

Bagaimana mereka melakukannya ? dengan mengerahkan sekitar 1.1 juta stakeholders di seluruh dunia untuk memantau siapa-siapa yang ‘klisikan’ di bidangnya masing-masing. Hasilnya untuk tahun 2017 mereka menemukan 72 alfa atau yang disebut para champions di bidangnya. Saah satunya adalah iGrow.Asia untuk bidang e-agriculture yang dianggap berkontribusi dalam upaya menggapai target dunia Zero Hunger 2030.

 

Seleksi para pemimpin di bidangnya melalui proses seperti yang dilakukan oleh para penggembala, atau oleh para kyai dengan mendeteksi santrinya yang ‘klisikan’ tersebut bisa menjadi cara baru bagi kita ketika dua tahun lagi negeri ini akan disibukkan dengan pemilu legislatif dan eksekutif.

 

Ingat bahwa kita mendeteksi yang ‘klisikan’ adalah mereka yang memikirkan rakyat dan telah berkarya untuk itu, bukan hanya sekedar make noise pencitraan supaya terkenal saja –atau hanya memikitkan golongannya saja.

 

Data tentang pemikiran dan karya seseorang sudah sangat mudah dideteksi di jaman ini, para data scientist di korporasi-korporasi besar sudah sangat familiar dengan pengolahan big data untuk proses pengambilan keputusan. Di antara para data scientist tersebut pasti banyak yang mau sukarela membantu rakyat menentukan pilihannya bila diperlukan.

 

Bukan hanya untuk memilih para pemimpin politik saja, cara yang sama juga bisa digunakan oleh perusahaan dalam memilih calon-calon CEO dan pimpinan masa depan yang tidak biasa.

 

Bila perusahaan Anda memilih pimpinan dari calon-calon internal – di satu sisi tentu baik karena dia sudah tahu seluk beluk usaha dan industri Anda, tetapi lompatan out of the box mungkin tidak mudah dicapai. Memilih dari industri yang sama, juga kurang lebih hasilnya akan sama.

 

Untuk mencapai lompatan yang tidak biasa, maka perusahaan juga perlu dipimpin oleh orang yang tidak biasa. Itulah mengapa Travis Kalanick dan Garret Camp bisa mendisrupt industri transportasi – karena dia ‘orang luar’ yang masuk industri transportasi dengan cara yang tidak biasa. Hal serupa dilakukan  Brian Chesky, Nathan Blecharczyk,dan Joe Gebbia – dari Airbnb, mereka mendisrupt industri perhotelan – justru karena mereka bukan orang perhotelan.

 

Maka inilah challenge para head hunter masa depan, bagaimana mereka bisa mendeteksi dan mengidentifikasi sedini mungkin para calon pemimpin, para calon disruptive innovator yang akan me-reshape industri masa depan. Mereka perlu belajar dari para penggembala dan perlu ngaji sama Pak Kyai.