Bahan Baku Tiga Revolusi

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 22 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,182,054 Beli Rp. 2,094,772

  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,172 Beli Rp. 2,089,125

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,180,610 Beli Rp. 2,093,386

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,188,594 Beli Rp. 2,101,050

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,011 Beli Rp. 2,082,251

Bahan Baku Tiga Revolusi

Peradaban pertama manusia adalah ketika manusia berhenti berburu binatang, dan mulai mengolah tanah untuk menanam makanannya. Tetapi revolusi pertanian baru terjadi ribuan tahun kemudian, ketika Andalusia mulai mampu mengolah tanah-tanah kering menjadi lahan yang subur. Demikian juga dengan metal, ribuan tahun manusia sudah menggunakan besi dan metal lainnya untuk berbagai peralatan – tetapi revolusi industri baru terjadi di abad 19. Materi yang menjadi bahan baku revolusi berikutnya adalah data – yaitu bahan baku untuk revolusi industri informasi. Dimana peluang kita ?

 

Penguasa tanah-tanah yang subur, tidak ada jaminan dia menjadi pemimpin peradaban pertama – yang memimpinnya adalah yang bisa mengolah tanah-tanah yang subur maupun yang tidak – menjadi sumber daya utama dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sejarah mencatatnya inilah yang terjadi di Andalusia, ketika muslim memasuki negeri itu dan mengubah tata kelola tanah.

 

Pemilik tanah yang semula memilih hidup nomaden karena ter-discouraged untuk memakmurkan lahannya karena beban pajak tanah yang begitu tinggi, menjadi sangat eager untuk memakmurkan lahannya ketika pajak tanah dihapuskan dan diganti dengan zakat hasil pertanian – saat itulah terjadi revolusi pertanian.

 

Revolusi industri juga  demikian, terjadi setelah ribuan tahun manusia menggunakan besi, tembaga dan perbagai metal lainnya untuk peralatan rumah tangga, baju besi, pedang dan lain sebagainya. Terjadinya di antara abad 18-19 ketika manusia mulai menciptakan mesin-mesin besar yang merubah cara orang dalam memproduksi sesuatu.

 

Sangat bisa jadi dunia sekarang sedang mengalami revolsi berikutnya, yaitu revolusi industri informasi. Bila tanah dan logam menjadi bahan baku revolusi pertanian dan revolusi industri, data adalah bahan baku untuk revolusi industri informasi.

 

Sekedar mengolah tanah sudah cukup untuk merubah peradaban, tetapi tidak sampai menimbulkan revolusi. Menggunakan logam untuk alat-alat rumah tangga juga demikian, ribuan tahun orang sudah menggunakannya – tetapi perlu lahirnya mesin-mesin yang canggih yang notabene dari logam yang sama yang dipakai ribuan tahun – untuk menghadirkan revolusi indsutri.

 

Kurang lebih ini pula yang sedang terjadi dengan bahan baku jaman ini – yaitu data. Ada yang berpendapat bahwa revolusi industri informasi telah terjadi karena dengan internet manusia telah melakukan perubahan besar dalam hidupnya – yang ditrigger oleh kemampuannya mengelola data.

 

Penguasa ekonomi dunia – dua dari tiga orang terkaya di dunia yaitu Bill Gates (Microsoft) dan Jeff Bezos (Amazon) menjadi penguasa peradaban di millennium ini karena kepiawaiannya dalam mengolah dan mengelola data. Amazon bahkan menjadi model cerita sukses penambangan data untuk membangun kerajaan bisnisnya.

 

Bagi Anda yang biasa belanja buku di Amazon, akan sering dikejutkan oleh engine mereka yang seolah tahu apa yang kita sedang cari. Ketika saya mencari buku tentang Microgreen misalnya, begitu dapat satu buku yang baik – yang sesuai dengan yang saya cari – engine mereka akan segera memberi rekomendasi, yang kurang lebih berbunyi begini : “ yang membeli buku ini, biasanya juga membeli buku-buku berikut ini….”.

 

Dan benar saja, hampir selalu kita akan ‘terbujuk’ untuk juga membeli buku-buku berikutnya yang direkomendasikan oleh engine mereka ini.

 

Tetapi Jeff Bezos tidak hanya cukup puas menjadi orang terkaya nomor 3 yang bermula dari jualan buku ini, kerajaan bisnisnya merambah kemana-mana termasuk yang menghebohkan akhir-akhir ini dengan membeli retailer makanan sehat terbesar di negeri itu yaitu Whole Foods.

 

Apa yang kira-kira akan terjadi setelah ‘Whole Foods’ di-‘Amazon’-kan ? Setiap kali Anda membeli makanan sehat tertentu melalui system mereka ini, aka nada rekomendasi yang kurang lebih sama : ‘…yang membeli makanan ini, biasanya juga membeli makanan-makanan berikut ini…

 

Dan benar juga, kemungkinan Anda akan ‘terbujuk’ untuk membeli makanan-makana yang semula tidak Anda butuhkan, tetapi karena disodorkan secara menarik kehadapan Anda – akhirnya Anda membeli juga.

 

Walhasil revolusi industri informasi telah membuat orang-orang seperti Bill Gates dan Jeff Bezos menguras kantong konsumen seluruh dunia dengan kepandaian mereka mengolah data.

 

Tetapi alhamdulillah para peneliti, para penemu dan para startupers di seluruh dunia belum akan menganggap revolusi industri informasi usai di tangan mereka-mereka ini. Dunia internet yang memungkinan manusia di seluruh dunia saling berinteraksi dan berjual beli, barulah awal dari proses revolusi industri informasi itu sendiri.

 

Pengguna internet yang diperkirakan akan berkisar 4 sampai 5 Milyar orang di dunia hingga tahun 2020, akan jauh terlampaui oleh benda-benda yang bisa saling berhubungan satu sama lain saat itu – yang diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 milyar devices dan selanjutnya tumbuh eksponential mencapai 75 milyar lima tahun kemudian (2025).

 

Tersambungnya sejumlah besar devices inilah yang disebut Internet of Things (IoT) yang menjadi babak baru dari revolusi industri informasi. Siapa yang akan berperan di era seperti ini ? bisa jadi orang-orang seperti Bill Gates dan Jeff Bezos lagi, karena mereka punya modal raksasa sekarang untuk pengembangan usahanya.

 

Tetapi peluang bagi orang-orang kebanyakan seperti kita juga bukannya tidak ada. Kita punya seluruh materi yang menjadi bahan baku untuk tiga revolusi tersebut di atas. Kita punya tanah-tanah paling subur di dunia yang dibutuhkan di revolusi pertanian, kita punya beraneka macam tambang untuk logam-logam yang dibutuhkan untuk revolusi industri – dan tentu kita juga punya bahan baku untuk revolusi industri informasi.

 

Tetapi sekedar memiliki ternyata tidak menjadikan kita unggul di rangkian revolusi tersebut di atas. Tanah subur kita malah mengundang penjajah selama ratusan tahun untuk mengurasnya dari negeri kita. Kekayaan tambang-tambang kita juga menjadi sumber kekayaan perusahaan-perusahaan dunia.

 

Besarnya pengguna internet kita bahkan menjadi pasar yang empuk di era teknologi informasi, produk apapun baik fisik maupun services dengan leluasanya menyerbu rumah-rumah kita tanpa perlu ijin dan tanpa kena pajak. Ini semua adalah dampak  dari ketika kita memiliki tetapi tidak (mampu) mengolahnya sendiri.

 

Maka di puncak revolusi teknologi informasi – antara lain dengan hadirnya Internet of Things (IoT) – kita harus bisa menjadi para pemain dan bahkan pejuang revolusi yang sedang merubah peradaban ini. Kita tidak cukup lagi hanya sebagai penonton, pengguna apalagi hanya sebagai target pasar.

 

Kita berpeluang untuk mengitegrasikan ketiganya, tanah, logam dan data untuk memakmurkan bumi ini – sebagai mana amanat UUD 45 pasal 33 ayat 3 – untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat negeri ini. Tetapi kalau saya ngomong seperti ini dan berhenti di tataran teori, kita juga tidak akan merubah apa-apa.

 

Maka agar tidak sekedar menjadi teori dan wacana, Startup Center yang di Depok siap untuk kick off project IoT kita yang pertama Syawal ini. Aplikasi yang pertama adalah untuk pertanian, karena di sektor inilah seharusnya kita berjaya – dan Alhamdulillah kita telah memiliki track record yang cukup panjang di bidang ini. Bagi Anda yang tertarik, mmiliki passion dan juga kompetensi di bidang ini – silahkan bergabung. Kami tunggu.