Finance, Food and Lifestyle

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Kamis, 14 Desember 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Fri, 15 Dec 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,130,020 Beli Rp. 2,044,819

  • Harga Dinar Emas per Fri, 15 Dec 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,130,923 Beli Rp. 2,045,686

  • Harga Dinar Emas per Thu, 14 Dec 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,135,415 Beli Rp. 2,049,998

  • Harga Dinar Emas per Thu, 14 Dec 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,137,192 Beli Rp. 2,051,704

  • Harga Dinar Emas per Thu, 14 Dec 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,126,985 Beli Rp. 2,041,906

Finance, Food and Lifestyle

Dari sekitar US$ 4.4 trilyun Global Islamic Economy sekitar 80 %-nya berada di dua sektor yaitu Finance dan Food. Selebihnya sekitar 20 % adalah segala bidang lainnya yang dikelompokkan ke dalam apa yang disebut Lifestyle. Yang termasuk di dalamnya adalah busana, media, tourism, pharmaceutical, cosmetics dll. Maka kalau kita mau merebut urusan ekonomi ini dari tangan umat lain, mulainya bisa dari yang ada di depan mata kita ini – yang saya sebut FFL atau singakatan dari Finance, Food and Lifestyle. Kajian detil masalah ini insyaAllah dapat diikuti langsung di acara Itikaf Camp Ramadhan di Masjid Daarul Muttaqiin – Jonggol Farm Rabu-Kamis 21-22 Juni 2017

 

Acara ini akan dibagi menjadi tiga bagian, bagian pertama hari rabu 21 Juni 2017 mulai jam 09.00 sampai dhuhur adalah kajian yang kita beri judul ‘Al-Qur’an Untuk Memperbaiki Kehidupan’.

 

Al-Qur’an adalah petunjuk dan jawaban untuk seluruh persoalan. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan Al-Qur’an, Orang yang berpegang kepadanya tidak akan tersesat dan tidak akan bersedih. Orang yang menggunakannya sebagai huda (petunjuk) dan nasihat akan menjadi orang yang tertinggi (QS 3:138-139).

 

Yang tertindas dimerdekakan, yang miskin dicukupkan, bumi yang mati dihidupkan, yang sakit disembuhkan, yang tersesat dikembalikan ke jalan yang benar, yang galau dicerahkan, yang suntuk dan mentog dalam urusannya diberi jalan keluar.

 

Inilah sebagian saja dari masalah-masalah yang diselesaikan dengan Al-Qur’an tibyaanal likulli syai’ – jawaban untuk seluruh masalah itu. Enam tahun lalu di Ramadhan 1433 di masjid yang sama kita mulai mentadaburi ayat-ayat untuk menjawab persoalan dan memperbaiki kehidupan tersebut, kini sudah overdue waktunya untuk review dan perbaikan-perbaikan ke depan.

 

Bagian yang kedua, insyaAllah dibahas pada hari Kamis 22 Juni 2017 mulai jam yang sama yaitu jam 09.00 sampai dhuhur. Kajiannya adalah tentang studi kasus tantangan-tantangan  kontemporer dan peluangnya di Islamic Economy yang terdiri dari Finance, Food and Lifestyle tersebut di atas.

 

Anda yang tertarik untuk mengambil porsi dari ekonomi senilai US$ 4.4 trilyun secara global tersebut dapat memulainya di sini. Dari sisi finance mengapa begitu besar perannya sampai 44% dari kue ekonomi Islam itu sendiri ? ya karena seluruh aktifitas ekonomi butuh akses modal.

 

Sayangnya akses modal inilah yang hingga kini mayoritasnya masih dipegang oleh umat lain. Banyak teman-teman yang sudah berhasil mengembangkan dan menguasai produk dan pasar tertentu, namun karena modal masih dipegang oleh orang lain – maka dengan berat hati akhirnya harus menyerahkan porsi terbesar usahanya kepada umat yang lain.

 

Bahkan bank-bank, asuransi dan industri keuangan yang diberi label syariah sekalipun – mayoritas kendali modalnya masih berada di tangan pihak lain penguasa ekonomi ribawi. Walhasil industri keuangan Islam baru menjadi segment pasar yang menggiurkan bagi orang lain, belum dalam genggaman umat ini sendiri.

 

Demikian pula dengan makanan, pasar yang terbesar nomor empat di dunia ini tentu bahan pangan dan makanan jadi yang beredar harus halal. Masalahnya adalah lagi-lagi kita baru menjadi pasar, belum menjadi penguasa di pasar kita sendiri.

 

Dalam bidang lifestyle, terbesarnya adalah di busana muslimah – pemain di hilirnya Alhamdulillah sudah banyak saudara-saudara kita yang sudah berhasil menguasai pasar. Tetapi lagi-lagi di sisi hulunya – mulai dari industri serat sampai tekstil dan tentu juga aspek permodalan – masih dipegang orang lain.

 

Kurang lebih nasibnya sama di industry lifestyle yang lain seperti pharmacy, cosmetic, tourism dll. Umat yang mayoritas ini baru sebagai pasar dan sedikit demi sedikit mulai merasuk ke hilir, masih sangat banyak porsi Islamic Economy ini yang harus dengan susah payah diraih oleh umat ini sendiri.

 

Padahal Islamic Economy – atau kalau saya berikan definisi sederhananya adalah seluruh kegiatan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan mengikuti syariatNya – ini semua dasar-dasarnya ada di Al-Qur’an. Mengapa penguasaannya masih di tangan umat lain ? ya karena umat ini belum menjadikan Al-Qur’an sebagi huda wa mauidhah – petunjuk dan nasihat, belum menjadi rujukan untuk menjawab persoalan-persoalan nyata di lapangan.

 

Di bidang Finance – kita tahu riba sangat dilarang, kita tahu solusinya adalah jual beli dan sedekah (QS 2:275-279) tetapi mengapa pasar keuangan Islam baru berada di kisaran 5 % saja di negeri yang mayoritasnya muslim ini ? ya kembali karena kita belum menjadikan Al-Qur’an sebagi huda wa mauidhah tadi.

 

Di bidang Food ada begitu banyak perintah untuk memakmurkan bumi, memperhatikan makanan kita, memberi makan – dan bukan sembarang makanan, harus yang halal, harus yang thoyib dan lebih dari itu di jaman penuh fitnah ini makanan kita juga harus azkaa tha’aam (QS 18:19) – bagaimana ini bisa dijamin kalau yang mengurusi makanan kita dari hulu hingga hilir adalah umat yang lain ?

 

Di bidang Lifestyle kita baru mengubek-ubek hilir dari industri busana, hulunya belum tersentuh. Di bidang Lifestyle yang lain juga baru mulai, masih mencari bentuk – maka di sektor ini mestinya juga terbuka peluang yang sangat besar bagi umat ini bila mau menggarapnya sendiri dan tidak menyerahkan ke orang lain.

 

Sebagai contoh sederhana yang merupakan bagian dari industri Lifestyle ini adalah lebaran yang sedang dalam proses kita rayakan sepekan sampaui dua pekan ke depan. Siapa yang paling banyak menikmati ‘hari kemenangan’ ini sesungguhnya ?

 

Para penjaja pakaian, makanan, objek wisata dlsb – yang notabene mayoritasnya masih dikuasai oleh umat yang lain. Di objek wisata yang sangat ramai dikunjungi oleh umat yang sedang merayakan hari kemenangan ini antara lain adalah pantai-pantai dan tempat-tempat pemandian umum.Padahal sesungguhnya ada larangan bagi laki-laki muslim untuk mengajak istri dan anak perempuan yang suda baligh ke tempat pemandian umum.

 

Dasarnya adalah hadits : Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia masuk ke tempat pemandian umum tanpa mengenakan sarung (yang menutupi auratnya), dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia memasukkan istrinya ke tempat pemandian umum, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia duduk di depan meja makan yang terdapat padanya khamar.” [HR. At-Tirmidzi dari Jabir radhiyallahu’anhu, Shahihul Jaami’: 6506]

 

Bahkan ada fatwa yang secara specific melarang wanita dewasa memasuki pemandian-pemandian umum : “Adapun wanita, maka mereka terlarang (sama sekali) untuk memasuki tempat-tempat permandian umum (kolam renang, pantai , air terjun, dll. pen).” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah, 17/50, no. 19397]

 

Di satu sisi ini masalah besar karena pendapatan terbesar bagi para pelaku industri wisata adalah justru di hari raya – yang nota bene hari rayanya kaum muslimin seperti Iedul Fitri ini. Bayangkan kalau kaum muslimin tiba-tiba serentak mengamalkan hadits dan fatwa tersebut di atas – maka objek-objek wisata yang terkait akan langsung sepi !

 

Tetapi justru disinilah peluangnya bagi yang mau memberikan solusi, dan inilah kesempatan bagi sebagian dari umat ini yang mau dan mampu memberi solusi dari masalah-masalah besar tersebut. Dalam dunia startup masalah besar juga indentik dengan peluang besar, maka industri wisata halal saja ini bisa menjadi startup yang sangat besar bagi yang mau menggarap peluangnya.

 

Yang ketiga agar hasil I’tikaf ini tidak berhenti menjadi sebatas kajian ilmu dan wacana, tetapi menjadi dasar untuk amal nyata – maka kami juga akan menyediakan waktu sampai malam Iedul Fitri bagi yang mau diskusi untuk action plan dari amal-amal yang dilandasi oleh petunjukNya di Al-Qur’an tersebut di atas.

 

Beberapa hari terakhir dari I’tikaf kali ini insyaAllah akan menjadi semacam open house bagi Startup Center kami untuk share segala macam keberhasilan dan juga kegagalan dari startup-startup yang kami kembangkan sejak I’tikaf pertama di Daarul Muttaqiin 1433 tersebut di atas.

 

Semua kajian ini bisa diikuti oleh umum dan tidak dibatasi jumlahnya – semuat masjid kami saja. Silahkan bergabung. Namun karena untuk konsumsi buka dan sahur, kami hanya sediakan untuk yang terdaftar sebagai peserta i’tikaf resmi – bagi Anda yang tidak terdaftar sebagai peserta i’tikaf resmi silahkan untuk mempersiapkan konsumsi untuk buka dan sahur Anda sendiri.