Oleh-Oleh Dari Geneva : Patterns !

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Rabu, 18 Oktober 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Thu, 19 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,167,272 Beli Rp. 2,080,581

  • Harga Dinar Emas per Thu, 19 Oct 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,165,195 Beli Rp. 2,078,587

  • Harga Dinar Emas per Wed, 18 Oct 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,166,305 Beli Rp. 2,079,653

  • Harga Dinar Emas per Wed, 18 Oct 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,174,031 Beli Rp. 2,087,070

  • Harga Dinar Emas per Wed, 18 Oct 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,173,914 Beli Rp. 2,086,957

Oleh-Oleh Dari Geneva : Patterns !

Bayangankan kalau dua lusin badan-badan di bawah PBB mengadakan serangkaian seminar dan workshop bareng, bagaimana peserta bisa menyimpulkan hasilnya ? Terlalu banyak untuk bisa dicerna bareng. Saya sendiri hanya bisa focus di dua subject – yaitu subjectnya FAO (Food and Agricultural Organization) dan subjectnya ITU (International Telecommunication Union) yang kali ini menjadi koordinator pelaksana gawe. Di dua subject ini saya menjadi pembicara, di 22 yang lain hanya ngantuk-ngantuk mendengarkannya sambil tetap berusaha berpuasa 18 jam. Apa kesimpulan hasilnya ?

 

Apa yang saya lihat dan berusaha cerna ini adalah miniature dari apa yang sedang terjadi di dunia secara keseluruhan. Ada masalah perang, pengungsi, pangan, kemiskinan, ketidak adilan dan lain sebagainya yang berusaha untuk diatasi bareng-bareng oleh negara-negara anggota PBB.

 

Mereka lantas membuat target yang kemudian disebut Sustainable Development Goals (SDGs), yang terdiri dari 17 target untuk dicapai bareng-bareng pada tahun 2030. Diantaranya adalah no poverty (1), zero hunger (2), clean energy (7), climate action (13) dst.

 

Karena luasannya cakupan pekerjaan untuk mencapai target tersebut, maka saya hanya menangkap sebuah pola besar (patterns) pengatasan masalahnya di jaman ini. Dan ternyata patterns inilah yang menjadi solusi dalam banyak hal urusan kehidupan manusia sejak dahulu.

 

Petterns dari solusi di jaman ini itu bernama ICT (Information and Communication Technology) yang terdiri dari elemen-elemen software, hardware, transactions, communications technology, data, internet access, dan  cloud computing. Kita bisa menggunakan patterns dari aplikasi IT yang tepat untuk alat dalam penyelesaian masalah –masalah besar seperti kemiskinan dan kelaparan tersebut di atas.

 

Bagaimana caranya ?, Ambil contoh ilustrasi di bawah ini. Ini adalah penampilan big data yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan di masa kini. Dahulu ketika belajar programming computer tahun 1980-an, output dari program kita itu angka-angka. Lantas pada tahun 90-an, outputnya mulai berupa grafik-grafik beraturan yang menarik.

 

 

Ketika data yang diolah sudah menjadi terlalu besar dan parameternya sangat banyak, maka tidak lagi cukup grafik-grafik konventional seperti pie chart, bar chart, line chart dan sejenisnya untuk menampilkan hasilnya, hasilnya akan berupa pola yang tidak beraturan seperti pada ilustrasi tersebut di atas.

 

Lantas siapa yang bisa memahami pola yang tidak beraturan tersebut di atas ? ahlinya akan paham. Pola yang tidak beraturan bagi orang awam tersebut bisa berarti penyebaran aktivitas komunikasi telepon di suatu kota, bisa berupa penyebaran kebutuhan pokok, bisa mewakili bertebarannya asal dan tujuan pengungsi dlsb. Intinya ahlinya akan tahu !

 

Untuk aplikasi pertanian dan produksi pangan yang cukup juga bisa demikian, dengan big data kita bisa menemukan pola daerah produksi, daerah konsumsi dan kemudian mendekatkan jaraknya dengan solusi ICT. Dunia butuh tambahan produksi bahan pangan hingga 70 % sampai tahun 2050, sedangkan lahan yang available terus berkurang, demikian pula kwalitas air dan udaranya. Maka kita butuh solusi yang akurat dan inilah peran ICT.

 

Ambil contoh ilustrasi dibawah, gambar ini adalah tentang lapisan-lapisan tanah yang subur dan yang tidak. Ahli pertanian umumnya sudah tahu masalah ini, tetapi tanpa penggunakan ICT – tanah-tanah selalu kita asumsikan cenderung sama di seluruh wilayah. Maka semua dihantam dengan NPK dan tanah-tanah kita justru menjadi tercemar karenanya.

 

 

Dengan ICT, tanah yang sama bisa dideteksi secara akurat – apa yang sudah ada secara cukup dan apa yang masih kurang. Yang kurang ditambah dan yang cukup tidak perlu ditambah. Dan karena ICT bersifat responsive dan real time, demikian pula penambahan zat-zat yang kurang tersebut bisa real time. Dan yang ditambahkanpun tidak perlu harus chemical, dengan ICT pula kita bisa mendeteksi bahan-bahan natural yang dibutuhkan oleh tanah kita.

 

Karena pentingnya ICT di pertanian ini, tidak heran inilah yang saya saksikan terjadinya perlombaan pengembangan ICT di  AgriTech Summit di Tokyo bulan lalu, dan hal yang sama saya saksikan di Geneva kali ini. Di Indonesia sendiri, saya juga mulai melihat trend yang sama bahwa selain IPB, ITB dan ITS-pun mulai melirik menggarap AgriTech khususnya dari sisi ICT-nya ini.

 

Tetapi yang perlu diingat adalah ICT sebagaimana teknologi lainnya – dia hanyalah alat. Manusia yang ada di belakangnyalah yang akan mengarahkan apakah alat tersebut berguna untuk melakukan perbaikan atau sebaliknya - malah menjadi alat untuk terkonsentrasinya resources pada satu pihak, dan yang terakhir inilah yang selama ini terjadi di era ICT ini.

 

Untuk buku misalnya, dimana manusia dunia membeli buku sekarang – Amazon . Dimana orang mencari sesuatu ? di Google, dst. ICT yang dikembangkan secara capitalism akan menjadi alat kaum kapitalis untuk menguasai modal dan pasar yang amat sangat besar, the winner take it all – tidak menyediakan tempat bagi para runner up-nya.

 

Maka inilah dorongan bagi umat ini untuk juga sangat menguasai ICT – karena ICT ini adalah ‘bahasa kaum’nya untuk berdakwah dengan nyata di jaman ini. Untuk bisa berdakwah terhadap ‘wong telu’ dan memperjuangkan kepentingan mereka, kita butuh ICT sebagai alat untuk meng-create value, sedangkan ‘values’nya tetap dari sumber dari segala sumber ilmu kita yaitu Al-Qur’an.

 

Ketika Allah memberi tahu kita bahwa bumi yang subur yang bisa menghidupkan tanaman-tanaman (tanpa dipupuk sekalipun) dengan istilah ihtazzat warabbat – bumi yang hidup/bergetar dan mengembang (QS 22:5), maka di jaman ini dengan ICT seharusnya kita bisa membedakan mana-mana bumi yang ihtazzat warabbat dan mana-mana yang bukan. Kita bisa menggunakan sensor warna, getaran mikro, porositas dlsb. untuk kemudan diolah dengan pengolahan data yang akurat.

 

Bahwa suatu saat – dan ‘saat itu’ bisa saja ‘saat ini’ !  kita akan bisa mengetahui bumi yang ihtazzat warabbat yang waanbatat (menumbuhkan), kita juga sudah diberitahu oleh Allah. Ini termasuk kabar yang belum diketahui sebelumnya, tetapi akan diketahui pada jamannya. Ada dua ayat yang mengisyaratkan ini dan salah satunya adalah ayat berikut :

 

Untuk setiap berita ada waktu terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui” (QS 6:67). Dahulu orang tidak tahu apa itu bumi yang ihtazzat warabbat, tetapi saat ini seharusnya kita sudah bisa tahu. Ayat inilah yang mendorong saya untuk mengundang para ahli ICT di Indonesia untuk bisa membuktikan bumiNya yang berpola (patterns) ihtazzat warabbat-lah yang waanbatat – yang akan memakmurkan negeri kita. Bukan bumiNya yang dirusak oleh segala bentuk chemical.

 

Bila Anda memiliki keahlian di bidang ini, inilah kesempatan mengamalkan satu ayat yang insyaAllah menghadirkan kemakmuran itu. InsyaAllah.