Halal Tourism Industry

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 26 Mei 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 27 May 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,193,836 Beli Rp. 2,106,083

  • Harga Dinar Emas per Sat, 27 May 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,196,761 Beli Rp. 2,108,891

  • Harga Dinar Emas per Fri, 26 May 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,196,384 Beli Rp. 2,108,529

  • Harga Dinar Emas per Fri, 26 May 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,179,043 Beli Rp. 2,091,881

  • Harga Dinar Emas per Fri, 26 May 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,154 Beli Rp. 2,089,108

Halal Tourism Industry

Ada yang aneh di lapangan terbang Bangkok ketika saya baru-baru ini diundang untuk menjadi pembicara di conference mereka. Diantara yang menyambut saya dari Tourism Information mereka adalah wanita berjilbab, dan dari lapangan terbang sampai ke tempat conference – di kiri jalan tol setidaknya saya melihat dua masjid yang menonjol ! Ada apa di Thailand ? Tidak ada apa-apa, mereka hanya melihat pasar yang tumbuh pesat – yaitu pasar yang disebut Halal Tourism Industry. Thailand yang rajanya industri pariwisata di region ini, tidak mau ketinggalan dari negeri jirannya yang mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia dan Brunei !

 

Bukan hanya Thailand sebenarnya yang mengincar penduduk muslim dunia yang mulai meramaikan pasar pariwisata ini. Di Inggris tempat-tempat penting seperti Heathrow Airport, Manchester Airport, Trafford Center dlsb, semuanya  secara jelas memberikan fasilitas sholat bagi Muslim yang mengunjungi negeri itu. Bukan hanya lapangan terbangnya, jaringan makanan cepat saji mereka seperti Subway, KFC dan Nando mulai menampilkan pilihan makanan halal di daftar menu mereka.

 

Di Jepang hal yang sama sedang terjadi, selain lapangan-lapangan terbang mereka mulai menyediakan tempat sholat – juga jaringan restaurant mulai menyediakan menu makanan halal. Adapun Thailand yang saya sebut pertama di tulisan ini, bahkan Thailand Tourism Authority-nya sampai membuat aplikasi halal agar Thailand lebih Muslim Friendly – kata mereka.

 

Tidak hanya pada tataran terapan di lapangan, wacana dan pemikiran-pun mulai ramai diperbincangkan di event-event global seperti Halal Tourism Conference (Spanyol, 2014), World Halal Summit (Kuala Lumpur 2015), World Halal and Tourism Summit (Abu Dhabi, 2015), Halal Tourism Congress (Eindhoven, 2016) dan masih banyak lagi event sejenis tingkat global maupun regional.

 

Di Indonesia sendiri, selain Kementrian Pariwisata yang telah menetapkan destinasi wisata halal untuk tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Barat dan Nusa Tenggara Barat – juga berbagai ajang penghargaan mulai digagas. Di antaranya adalah destinasi wisata halal terbaik, hotel keluarga ramah wisatawan keluarga muslim, destinasi budaya ramah keluarga muslim, resort pantai ramah wisatawan muslim, sampai operator haji dan umroh terbaik.

 

Mengapa Halal Tourism ini menjadi dagangan baru yang bahkan juga diburu oleh negeri-negeri yang penduduknya mayoritas bukan muslim ? Ya karena pasarnya yang memang sangat menggiurkan. Dia adalah bagian dari pasar yang saling kait mengait antara keuangan, makanan dan gaya hidup atau Finance, Food and Lifestyle (FFL) bagi muslim, yang diperkirakan akan mencapai lebih dari US$ 4.4 trilyun tahun depan yang terdiri dari keuangan, makanan, pakaian, wisata, cosmetic dan obat.

 

Terlepas dari maraknya dunia menggarap pasar wisata muslim ini untuk tujuan komersial semata, saya melihat paling tidak ada sisi positif atas recognition dunia  – bahwa ada kebutuhan yang specific bagi masyarakat muslim ini – yaitu apa yang disebut halal !

 

Lantas siapa yang seharusnya lebih tahu konsep halal ini  dan lebih memperhatikannya ? ya kitalah masyarakat muslim sendiri yang seharusnya lebih tahu konsep halal ini dari pada umat yang lain. Berbeda dengan umat lain yang menggarap ‘halal’ sebagai pasar semata, kita mestinya lebih serius menggarap yang halal ini karena ini adalah kebutuhan.

 

Kita memang berbeda dalam banyak hal. Makanan kita harus halal, transaksi keuangan kita harus halal – bebas riba, pakaian kita harus halal – menutup aurat, pasar kita harus halal – bebas dari monopoli dan kartel,  aktivitas kita harus halal -  terbebas dari aktivitas yang sia-sia atau laghwi, dan akan sangat panjang lagi daftar yang perlu di-halal-kan atau dibuat standar halalnya ini.

 

Dari mana kita belajar tentang halal ini ? tentu bukan dari konferensi-konferensi Halal Tourism di tingkat dunia sekalipun, kita harus belajar kembali ke yang halal berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Apakah dengan berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits kita akan bisa memenangkan pasar halal dunia ? InsyaAllah bisa, karena di dalam Al-Qur’an banyak sekali keindahan yang bisa dijadikan objek wisata tersendiri.

 

Bahkan wedus gembel atau domba pun bisa menjadi objek wisata, karena keindahannya ketika pulang kembali ke kandang dan ketika pagi dilepas untuk merumput (QS 16:6), bumi yang gersang bisa tiba-tiba menjadi objek wisata yang menarik setelah bumi itu dibuat hidup dan menumbuhkan berbagai macam tanaman yang indah (QS 22:5).

 

Ada pula hadits yang bisa menjadi rujukan wisata menarik, yaitu ‘objek wisata’ apa yang kiranya paling layak untuk mendapatkan label halal ! perhatikan hadits berikut contohnya :

 

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang. (HR. An-Nasa’i). 

 

Maka kalau umat ini ingin menggarap sendiri objek wisatanya – bukan digarap oleh orang lain yang menjadikan kita hanya pasarnya semata – mestinya mulai dari Al-Qur’an dan hadits seperti pada contoh-contoh di atas. Tentu harus dibumikan sedemikian rupa professional, menarik, dan modern tanpa harus ada yang keluar dari rambu-rambu dari syariat kita.

 

Ketika istilah Halal Tourism ini digarap orang lain, dampaknya sungguh tidak terbayangkan oleh kita. Pada sebuah konferensi tingkat dunia yang saya diundang hadir tahun lalu, bahkan saya mendapatkan award di event tersebut – Global Islamic Economic Summit, salah satu event Halal Tourism di negeri teluk ini nampak sekali dia karya umat lain – bukan karya umat ini.

 

Kok saya berkesimpulan demikian ? Saya menemukan sejumlah ironi. Mulai panitia pendaftarannya yang tidak ada yang memakai jilbab – jadi bisa tebak siapa mereka yang tidak berjilbab di negeri teluk ini ? kemudian musholla di convention centernya amat sangat terlalu kecil dibandingkan pengunjungnya – dan anehnya ini cukup – lha wong tidak banyak peserta yang sholat ! dan lebih mengerikan lagi adalah apa yang mereka sajikan di acara hiburan malamnya.

 

Tidak seburuk ini memang lokasi-lokasi tujuan wisata halal kita di tanah air, yang jelas makanan halal sudah menjadi standard, pramuwisata yang berpakain muslimah juga mulai banyak – ini yang coba ditiru dengan susah payah oleh Thailand Tourism Authority di awal tulisan tersebut di atas. Tetapi peluang menyempurnakannya di kita juga tidak kalah banyaknya.

 

Ambil contoh saja misalnya dalam hal kolam renang – yang rata-rata menjadi standard fasilitas di hotel-hotel tujuan wisata. Hampir keseluruhannya masih merupakan kolam renang umum yang dipakai rame-rame laki-laki dan perempuan. Maka memperbaiki pengelolaan kolam renang agar sesuai tuntunan tentang aurat di surat 24 :31  saja sudah akan mendekatkan satu langkah lagi ke Halal Tourism yang lebih pantas menyandang namanya.

 

Ibarat Industri Wisata Halal itu masih seperti hutan belantara, kita harus bisa mulai mengesksplorasi dan melihat satu persatu tanaman dan binatang yang mestinya ada di sana dan yang mestinya tidak ada di sana. Dan yang bisa melihat ini mestinya muslim, bukan yang lain – karena hanya kita yang tahu halal dan haram itu.

 

Salah satu ‘pohon di hutan belantara’ Halal Tourism tersebut di atas yang sedang kami lihat, teliti, dalami dan mulai exercise di startup center adalah kebutuhan akan adanya kolam renang yang halal atau bahasa anak gaulnya startup adalah HalalPool.Com ! Yang akan langsung menimbulkan pertanyaan - memangnya kolam renang perlu yang halal ? apa yang lain haram ? Kita akan tahu jawabannya kalau sudah ngaji di surat An-Nur : 31 tersebut di atas.

 

Kalau kita ubek-ubek di satu ayat ini saja, kemudian kita hadir memberi solusi bagi industri wisata halal – bisa dibayangkan peluangnya ! Tiba-tiba ada satu segmen di Halal Tourism yang perlu standard baru dan kitalah yang harusnya setting the standard itu – yaitu standard fisik bangunan maupun SOP dari kolam renang yang kita sebut Halal Pool tersebut.

 

Bayangkan peluang berikutnya, ketika negeri-negeri yang saya sebut di atas seperti Thailand, Jepang, Inggris dlsb. nantinya perlu belajar tentang design dan SOP kolam renang yang memenuhi standard halal dari kita ketika mereka menggarap Halal Tourism-nya lebih jauh – bukankan ini peluang export besar di bidang services bagi kita ? Tidak perlu membabat hutan dan menggali tambang untuk memperoleh devisa ber-milyar dollar, cukup mendalami dan mengimplementasikan satu ayat !

 

Betul ini peluang besar di dunia bisnis, karakter startup adalah mencari peluang-peluang besar seperti ini – dan HalalPool.Com insyaAllah bisa saja menjadi startup hebat nantinya. Tetapi halal bagi kita bukan hanya peluang pasar yang harus digarap, bukan hanya lifestyle yang perlu dipopulerkan, lebih dari itu halal adalah kebutuhan hakiki kita. Siapa lagi yang pantas menjawab dan memenuhi kebutuhan kita ini selain kita sendiri ?

 

Bila kita garap rame-rame ini akan bener-bener menjadi peluang kita lebih dari yang lain, dan kita mestinya sangat mampu untuk menggarap segmen kebutuhan yang belum banyak dilirik orang lain tersebut. Bila Anda dapat melihat peluang yang sama, punya lokasi yang menarik di berbagai kota di Indonesia dan tertarik untuk menjadikannya Halal Pool, Anda dapat menghubungi kami untuk melihat contoh fisik, SOP sampai financial business model-nya yang juga sudah mulai kami kembangkan.