Grainomy

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 22 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,182,054 Beli Rp. 2,094,772

  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,172 Beli Rp. 2,089,125

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,180,610 Beli Rp. 2,093,386

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,188,594 Beli Rp. 2,101,050

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,011 Beli Rp. 2,082,251

Grainomy

Definisi Economy menurut Oxford Learners Dictionary adalah hubungan antara produksi , perdagangan dan supply uang di suatu wilayah. Sedangkan uang yang kita pakai sekarang adalah uang yang bisa mengusir pemiliknya ! Maka untuk mencapai keadilan ekonomi dibutuhkan uang yang adil – bukan hanya nilainya yang tidak bisa digerus melalui inflasi dan devaluasi – juga akses modal terhadap uang tersebut harus sama bagi semua orang. Selain Dinar dan  Dirham yang sudah diperkenalkan situs ini dalam satu dasawarsa terakhir, dalam Islam alat tukar itu juga bisa berupa biji-bijian – oleh karenanya ekonomi yang digerakkannya saya sebut Grainomy – ekonomi berbasis biji-bijian !

 

Dasar hadits-nya sama dengan uang yang berbasis emas, diriwayatkan oleh hampir seluruh perawi – tetapi saya ambil yang dari Muslim sebagai berikut : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma dan garam dengan garam tidak mengapa bila dengan takaran yang sama, dan sama berat serta tunai. Jika jenisnya berbeda, maka juallah sesuka hatimu asalkan secara tunai dari tangan ke tangan” (HR Muslim 2970)

 

Di dunia dimana akses capital menjadi semakin timpang antara yang miskin dengan yang kaya, 1% penduduk dunia menguasai 50% dari kekayaan dunia – maka re-design alat tukar untuk keadilan ekonomi barangkali memang sudah waktunya.

 

Di jaman modern ini apa saja bisa menjadi alat tukar, poin menjadi alat tukar, pulsa menjadi alat tukar dan yang paling mutakhir tentu apa yang disebut cryptocurrency. Cryptocurrency – uang virtual - yang paling luas dikenal saat ini adalah Bitcoin – yang oleh penemunya Satoshi Nakamoto dikenalkan tahun 2008 sebagai peer-to-peer electronic cash system, decentralized payment system yang tidak ada pusatnya !

 

Semua mata uang modern usianya tidak panjang, Rupiah yang kita kenal sekarang sangat berbeda dalam daya belinya terhadap Rupiah di era kemerdekaan. Bahkan uang negeri maju sepertu Euro yang baru dikenalkan belum tiga dasawarsa, sekarang sudah sempoyongan – entah sampai kapan akan bertahan. Apalagi uang virtual seperti Bitcoin, berjibun inventor maupun hacker yang ingin mengalahkannya – entah bisa bertahan sampai kapan.

 

Walhasil apa uang atau alat tukar yang abadi ? Saya sangat yakin bahwa alat tukar yang abadi hingga akhir jaman itu adalah apa yang disebut dalam hadits tersebut di atas. Bisa berupa emas dan perak, bisa berupa biji-bijian atau bahan pangan lainnya – intinya benda riil yang memiliki manfaat riil – ada maupun tidak ada teknologi yang mengelolanya.

 

Ketika teknologi itu masih ada, dia bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin agar pertukaran jual beli bisa dilakukan secara efektif dari manapun di seluruh dunia. Namun ketika teknologi ini tidak lagi berfungsi – era EMP misalnya –maka orang tetap harus bisa makan dengan menggenggam ‘uang’ yang riil berupa biji-bijian, kurma dlsb.

 

Secara khusus biji-bijian banyak disebutkan di Al-Qur’an maupun hadits dalam berbagai sisinya, sehingga kita memiliki rujukan yang sangat komplit bila kita mau membangun kekuatan ekonomi berbasis biji-bijian atau yang saya sebut Grainomy ini.

 

Ketika negeri terancam krisis atau paceklik – petunjukNya adalah untuk menanam dengan sungguh-sungguh biji-bijian selama tujuh tahun, sedikit dimakan – selebihnya untuk disimpan. Bahkan menyimpan hasil panenan untuk ketahanan ekonomi ini (Yukhsinun) tidak diketogorikan menimbun (Yaknizun), petunjuknya ada di kisah Nabi Yusuf (QS 12 :47-48).

 

Ketika bumi kita mati atau gersang, kita diberi petunjuk untuk menanam biji-bijian (QS 36:33) untuk menghidupkannya. Ketika ternak kita kekurangan pakan karena habisnya lahan-lahan gembalaan, petunjuknya juga terkait dengan tanaman penghasil biji-bijian – zar’a (QS 32:27).

 

Ketika kita diingatkan olehNya untuk memperhatikan makanan kita, yang disebut pertama juga biji-bijian (QS 80:27). Ketika kita ingin memiliki kebun-kebun yang indah, kebun tersebut tidak akan lengkap tanpa adanya sawah ladang ditengahnya untuk memproduksi biji-bijian (QS 18:32).

 

Sama dengan kebun yang tidak lengkap tanpa adanya ladang untuk biji-bijian ini, juga cerminan secara umum untuk harta kita. Sebanyak apapun harta kita miliki, itu tidak lengkap bila tidak ada biji-bijian yang diproduksi dari sawah ladang, maka dia merupakan salah satu keindahan dunia yang dicintai oleh manusia (QS 3:14).

 

Bahkan keindahan biji-bijian juga digunakan oleh Allah untuk menggambarkan balasan bagi orang-orang yang berinfaq di jalan Allah. Seperti sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai, dan pada masing-masingnya terdapat seratus biji (QS 2:261).

 

Maka seperti yang terungkap dalam hadits tersebut di atas – salah satu uang atau alat tukar kita mestinya juga harus bisa berupa biji-bijian. Lantas bagaimana parktisnya di jaman teknologi ini ? itulah tantangan yang harus dijawab oleh para innovators dan startupers yang tertarik untuk mengembangkan payment system berbasis biji-bijian ini.

 

Tetapi ada ataupun tidak adanya apps yang canggih untuk me-liquid-kan biji-bijian tersebut, dia tetap benda riil yang kita butuhkan sehari-hari untuk makanan kita – tetap memiliki nilai tinggi untuk kehidupan manusia. Kalau Bitcoin adalah uang peer to peer tanpa Bank Central perlu mengeluarkannya, maka biji-bjian adalah uang nyata yang nilai tukarnya tetap ada – bahkan ketika system ataupun teknologi itu tidak ada !

 

Ironinya adalah, bila manusia modern ini rela kerja banting tulang – berangkat masih gelap pulang kembali gelap untuk mengejar uang fiat yang tidak ada nilai intrinsiknya, sangat sedikit dari kita yang mau terjun langsung memproduksi uang hakiki yang berupa biji-bijian ini.

 

Karena ignorance kita terhadap produksi biji-bijian inilah negara katulistiwa nan subur ini tidak unggul dalam food security dan tidak unggul dalam perdagangan komoditi pangan dunia. Padahal kebutuhannya ada di depan mata  260 juta orang Indonesia perlu makan biji-bijian dalam dietnya setiap hari !

 

Maka untuk mengambil peluang di Grainomy ini, saya ingin mengadakan Forum Group Discussion kecil bagi yang bener-bener ingin terlibat. Baik dari sisi produksi, perdagangan, supply maupun teknologinya. Meskipun namanya diskusi, tentu kita tidak ingin berhenti disini – Alhamdulillah saat ini ada hampir 5,000 hektar lahan lahan di gerbang ibukota yang sudah di MOU-kan dengan kami, butuh pemikiran cerdas untuk bener-bener bisa mengolahnya secara optimal.

 

Bila Anda memiliki passion di bidang ini dan berminat bergabung dalam Grainomy FGD ini, silahkan mengisi formulir di link berikut :bit.ly/Grainomy_FGD .