Uang Yang Mengusir Pemiliknya

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 22 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,182,054 Beli Rp. 2,094,772

  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,172 Beli Rp. 2,089,125

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,180,610 Beli Rp. 2,093,386

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,188,594 Beli Rp. 2,101,050

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,011 Beli Rp. 2,082,251

Uang Yang Mengusir Pemiliknya

Di kota-kota penyangga Jakarta seperti Bekasi, Bogor, Depok, Tangerang dlsb., mudah kita jumpai keluarga tua yang senang berkisah nostalgia tentang rumahnya yang dahulu. Mereka suka bercerita : “…dahulu kami tinggal di…”, tempat yang dimaksud rata-rata kini telah menjadi pusat perkantoran atau perdagangan bergengsi di Jakarta. Apa yang ‘mengusir’ mereka dari tempat tinggal aslinya tersebut ke tempat tinggalnya sekarang ? Tanpa mereka sadari, sebenarnya uang mereka sendirilah yang ikut menjadi penyebabnya. Kok bisa ?

 

Saksi hidup dari kejadian seperti ini masih bisa kita saksikan antara lain di sebuah masjid tua yang masih eksis diantara belantara gedung perkantoran pencakar langit di Mega Kuningan. Di hari Jum’at ketika masjid tersebut dipadati oleh orang-orang kantoran, ada segelintir jama’ah yang tidak nampak seperti orang kantoran.

 

Rata-rata mereka usianya sudah tua, pakai sarung atau gamis dan datang dari tempat yang jauh. Selesai sholat Jum’at mereka tidak langsung pulang, mereka duduk-duduk di emperan masjid sambil memandangi gedung-gedung bertingkat di hadapannya. Dengan mata berkaca-kaca, mereka mengenang masa lalu.

 

Sambil memandang teman duduknya, mereka mulai mengingat satu demi satu  “…dulu rumahmu di sana, rumahku di sebelahnya, si fulan di belakangnya …dst”. Mereka juga mulai saling bertanya, “si ‘Abdullah’ yang dahulu paling rajin ke Masjid sekarang dimana ya ? tidak ada yang bisa menjawab karena tidak ada yang tahu kemana perginya pak ‘Abdullah’ yang dimaksud.

 

Bahkan ketika ada yang bertanya : ‘…dimana ya Imam kita yang dulu…?’, yang ditanya menjawab : “Itulah…, waktu khutbah tadi ketika Khottib mulai angkat telunjuk dan berseru ‘…Yaa Ayyuhal ladzi na Amanu..’…saya kok jadi ingat Imam kita yang dahulu, dengan suaranya yang khas menyeru dari mimbar  ‘…Yaa Ayyuhal ladzi na Amanu…

 

Kemudian dengan meneteskan air mata  dia melanjutkan  : “…kita ndak nyangka, orang-orang yang dahulu diseru dengan panggilan “Yaa ayyuhal ladzi na Amanu” – yaitu kita-kita ini , bisa terusir dari tempat ini – entah oleh siapa, yang jelas para pemilik gedung-gedung penckar langit itu tidak datang ke Masjid ini untuk sholat jum’at…”.

 

Di tengah diskusi penuh kerinduan masa lalu ini saya nimbrung dalam pembicaraan mereka. Lalu saya bertanya, bagaimana prosesnya dahulu mereka kehilangan rumah mereka. Salah seorang diantaranya – sebut saja Pak Haji – menjelaskan dengan rinci dengan ingatannya yang masih tajam.

 

Setelah negosiasi yang panjang, akhirnya Pak Haji sepakat untuk melepas tanahnya untuk dibuat gedung perkantoran. Sehari menjelang pembayaran, utusan sang pengusaha yang membeli tanah Pak Haji mendatangi rumah Pak Haji dan memberikan petunjuk. Bahwa agar mudahnya transaksi pembayaran, Pak Haji dibukakan buku tabangan di bank x – dan Pak Haji nurut saja.

 

Setelah hari H – hari  transaksi pembayaran, pak haji menerima buku tabungan, dengan saldo angka seperti yang disepakati. Beberapa hari setelah menerima buku tabungan tersebut, pak haji didatangi lagi oleh utusan sang pengusaha – intinya menanyakan kapan pak haji akan pindah dari rumahnya.

 

Setelah itu si utusan terus sering mendatangi Pak Haji, sampai Pak Haji risih dan segera pergi meskipun belum mendapatkan rumah pengganti yang disukainya. Tidak sampai 10% dari saldo tabungannya yang dia gunakan untuk membeli rumah ‘sementara’ dan sisanya 90 % tetap berada di bank yang sama.

 

Belakangan pak haji baru tahu bahwa pengusaha yang membeli rumahnya, juga pengusaha yang sama yang memiliki bank – dimana Pak Haji menyimpan uangnya sampai bertahun-tahun kemudian. Dengan bahasanya sendiri yang sederhana pak Haji-pun akhirnya paham : “ …jadi saya diusir dari rumah saya oleh uang saya sendiri, rumah saya diganti dengan buku tabungan, lha yang beli ndak keluar apa-apa, wong uang saya tetap berada di banknya sampai berpuluh tahun !saya hanya ambil bunganya untuk hidup sehari hari”.

 

Kisah semacam ini umum sekali terjadi di jaman ketika terjadi asymmetric capital access – akses capital yang tidak simetris antara Pak Haji dengan pengusaha pemilik bank , dan juga pengusaha lain yang memiliki akses kredit perbankan.

 

Pemilik asset riil – seperti rumah, kebun , sawah dlsb – bisa dengan mudah kehilangan assetnya oleh pemilik akses modal.  Pengusaha-pengusaha yang memiliki akses kredit perbankan, bisa dengan mudah menguasai mayoritas asset lahan di Jakarta dan sekitarnya, juga di kota-kota besar lainnya. Sementara pemilik asset riil berupa tanah, terusir ke pinggir dan terus ke pinggir yang semakin jauh.

 

Siapa yang memberi mereka modal untuk membeli lahan-lahan tersebut ? ya kita semua yang menaruh uang kita di bank – sama dengan uang Pak Haji tersebut di atas. Tanpa kita sadari ketika kita menaruh uang di bank – kita tidak tahu untuk apa uang kita digunakan dan siapa yang menggunakannya, bisa jadi uang tersebutlah yang mengusir kita dari rumah kita seperti nasib Pak Haji.

 

Dan bukan hanya uang di bank, hal yang sama yang terjadi dengan uang kita yang tersimpan di dana pensiun, asuransi dlsb. ujung dari untuk apa dan oleh siapa penggunaan uang kita tersebut – kita tidak pernah tahu. Padahal kelak kita pasti ditanya untuk apa saja uang atau harta yang kita kumpulkan selama kita hidup di dunia, bagaimana kalau jawabannya adalah kita tidak tahu ?

 

Maka secara umum saya buatkan diagram sederhana di samping agar kita memahami penggunaan dan manfaat dari uang atau harta kita secara keseluruhan. Di jaman ini semakin banyak harta, semakin besar kemungkinan harta kita tersebut digunakan untuk hal yang sia-sia atau bahkan maksiat tanpa kita sadari. Lho kok bisa ?

 

Lihat kasus Pak Haji tersebut di atas, dimana uang yang 90%-nya tersimpan  ? di bank- kan ? perhatikan fatwa DSN MUI no 1 tahun 2004 tentang bunga simpanan di bank, koperasi, asuransi, dlsb yang konvensional – jatuhnya adalah riba. Dan sekitar 95% dana masayrakat yang tersimpan di institusi-institusi tersebut adanya di institusi keuangan konvensional – yang masuk kategori riba – di fatwa DSN-MUI tersebut.

 

Pak Haji tidak menyadari bukan kalau uangnya bermaksiat ‘riba’ ? dan bahkan perlu waktu berpuluh tahun untuk Pak Haji menyadari uang juga menjadi musuh yang mengusirnya dari rumahnya.

 

Semakin banyak uang, juga meningkatkan kemungkinan kita menggunakannya untuk hal yang sia-sia atau Laghwi. Membeli hal-hal yang tidak berguna, bepergian ketempat-tempat yang tidak dianjurkan dlsb.

 

Lantas apakah kita tidak boleh memiliki harta yang banyak ? tentu boleh, tetapi digeser ke atas dari dua segitiga dalam ilustrasi tersebut. Agar uang atau harta kita tidak menjadi maksiat yang kita tidak sadari, atau bahkan menjadi musuh yang mengusir kita dari rumah kita – harta kita hendaknya menjadi asset riil yang produktif melayani kebutuhan kita.

 

Lebih besar kemungkinannya bagi kita untuk bisa mengendalikan asset riil ketimbang asset financial seperti uang di bank, dana pensiun, asuransi dlsb. Kalau toh asset riil diserahkan ke orang lain, rata-rata kita tahu siapa yang menggunakan dan untuk apa. Akses modal terhadap asset riil juga relatif lebih setara – ketimbang asset financial, jadi tidak terjadi asymmetric capital access – pada asset-asset riil.

 

Daftar asset riil yang abadi ini juga disebutkan di Al-Qur’an dalam ayat berikut : “ Dijadikan terasa indah  dalam pandangan manusia cinta terhadap apa-apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang”. (QS 3: 14)

 

Emas dan perak memwakili uang yang adil, yang tidak bisa diturunkan nilai daya belinya oleh inflasi dan sejenisnya. Kuda pilihan merepresentasikan transportasi dan harta secara umum – yang dalam hadis sahih bukhari panjang dijelaskan kategorinya menjadi tiga jenis kuda yaitu kuda Allah, kuda setan dan kuda manusia. Ilustrasi grafis di atas diambil dari penjelasan hadis ini.

 

Kuda Allah adalah kuda atau harta yang digunakan di jalan Allah, manfaatnya tidak terhingga untuk menjaga keimanan, kehormatan manusia selagi di dunia, dan menjadikan balasan terbaik di akhirat nanti.

 

Kuda setan adalah kuda yang dipakai berbangga-bangga di dunia, berjudi dan bermaksiat lainnya. Sedangkan kuda manusia adalah kuda-kuda yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari, untuk transportasi, mengangkut barang dan kebutuhan lainnya.

 

Hewan ternak dan sawah ladang mewakili asset vital yang kita perlu kuasai untuk memenuhi kebutuhan utama kita, yaitu terjaminnya kebutuhan dasar akan kebutuhan makanan yang sehat dan cukup bagi kita dan anak cucu kita kelak. Bahasa sekarangnya adalah untuk menjamin food security.

 

Karena masyarakat modern saat ini amat sangat lemah dalam kepemilikan kategori riil asset berupa ternak dan sawah ladang ini pulalah yang menyebabkan kita lemah dalam hal food security. Lahan-lahan kita dikuasai para pemilik modal yang tidak mengolahnya menjadi tanah pertanian dan peternakan, dan mereka menguasainya dengan uang kita !

 

Karena pentingnya penguasaan ternak dan lahan ini untuk long term sustainability masyarakat, untuk food security bukan hanya kita yang hidup di jaman ini tetapi juga yang akan hidup di jaman anak cucu kita mendatang – maka situs ini banyak sekali mempromosikan skills sekaligus action plan di bidang peternakan dan pertanian.

 

Di bidang peternakan, kemampuan kami untuk menyediakan kandang domba – lambbank memang masih terbatas karena berbagai kendala. Sebagai gantinya, kita ajak masyarakat untuk belajar beternak secara praktis dan murah – insyaAllah petunjuk teknisnya akan dipublikasikan setelah tulisan ini.

 

Untuk pertanian kita memiliki sejumlah option. Selain melalui iGrow masyarakat bisa terlibat langsung dalam menanam tanaman- tanaman yang akan kita butuhkan, insyaAllah dalam waktu dekat akan ada iGrow untuk biji-bijian, jagung , sorghum dlsb. dalam skala luas, juga  tersedia bagi masyarakat yang ingin membeli lahannya sendiri dalam program KKP – Kepemilikan Kebun Produktif, saat ini ready stock kavling 0.5 – 1.5 ha di Banten – siap jadi kebun produktif begitu Anda beli !

 

Namun asset riil juga seperti karakter kuda tersebut di atas, kepemilikannya sedapat mungkin menjadi jalan untuk beramal fisabilillah – agar manfaatnya maksimal. Atau setidaknya menjadi ‘kuda manusia’ yang dikelola produktif sehingga bisa memenuhi kebutuhan pemiliknya – untuk ‘food security’ dan sejenisnya. Jangan menjadi ‘kuda setan’ , dibeli kemudian dianggurkan – hanya untuk sekedar memiliki atau menguasai.

 

Kalau saja pembelanjaan kita tidak seperti dua segitiga di atas, tetapi terbalik – kalau kita banyak harta , porsi terbesarnya untuk fisabilillah, terus untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga dan sesedikit mungkin – kalau bisa tidak ada – yang untuk laghwi atau maksiat, maka akan betapa indahnya dunia ini.

 

Tidak ada kaum yang tertindas karena akan selalu ada yang memerdekakannya dengan dana fisabilillah, tidak ada yang sakit kecuali ada yang mengobati, tidak ada pengungsi korban perang kecuali ada yang memberinya tempat tinggal, tidak ada yang lapar kecuali ada yang memberinya makan, tidak ada yang bodoh kecuali ada yang mendidiknya hingga pintar.

 

Yang perlu kita lakukan untuk ini hanya melangkah – mengangkat kaki yang satu ke depan kaki lainya – setiap saat. Bila harta kita saat ini lebih ke bottom of pyramid tersebut di atas, selangkah demi selangkah kita dorong ke atas, sampai suatu saat menjadi pyramid terbalik. InsyaAllah.