Santri Di Silicon Valley (3)

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 26 Mei 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 27 May 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,193,836 Beli Rp. 2,106,083

  • Harga Dinar Emas per Sat, 27 May 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,196,761 Beli Rp. 2,108,891

  • Harga Dinar Emas per Fri, 26 May 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,196,384 Beli Rp. 2,108,529

  • Harga Dinar Emas per Fri, 26 May 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,179,043 Beli Rp. 2,091,881

  • Harga Dinar Emas per Fri, 26 May 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,154 Beli Rp. 2,089,108

Santri Di Silicon Valley (3)

Pak Kyai rupanya masih ingin terus memberi pelajaran dengan menguji kemampuan santrinya untuk menangkap  ilmu dan hikmah yang tersurat maupun yang tersirat. Setelah selesai sholat isya’ Pak Kyai bertanya lagi kepada santrinya yang melapor dari Silicon Valley, “Kalau ada satu pelajaran saja yang kamu bisa ambil dari seluruh pelajaran selama kamu belajar ke mBah Google, pelajaran apa yang kamu pilih ?”. Si santri menjawab : “Waduh Kyai, kemarin saya di suruh meringkas menjadi tiga sudah saya lakukan dengan susah payah. Sekarang disuruh meringkas lagi menjadi satu ! Saya mohon untuk berpikir Kyai!”.

 

Pak Kyai setuju dengan memberi waktu sampai subuh keesokan harinya. Semalaman si santri klisikan – tidak bisa tidur nyenyak untuk memikirkan satu pelajaran apa yang dia bisa ambil dari kunjungannya ke mBah Google ini. Satu pelajaran yang bisa dipetik dari perusahaan yang begitu mendominasi peradaban dunia saat ini.

 

Si santri kemudian mengingat pelajaran sebelumnya dari Pak Kyai, yaitu untuk menguasai inti persoalan – seperti ilmunya para Ulul Albab, Al-Qur’an memberi petunjuknya untuk terus memikirkan persoalan tersebut – sambil terus mengingat Allah – sambil berdiri, duduk maupun berbaring – maka inilah dia klisikan tidak bisa tidur – mencari jawaban.

 

Dia mengingat kembali satu per satu  para jawara Google yang dia temui, apa yang dia sampaikan, dari orang-orang yang me-riset teknologi mutakhir di moonshots projects – project masa depannya Google untuk memimpin peradaban berikutnya, sampai orang-orang pemasaran, komunikasi dan bahkan juga orang-orang yang mengembangkan komunitas.

 

Yang menarik justru bukan project-project canggih seperti Drone Delivery, Project Loon – balon internet untuk menjangkau daerah-daerah yang selama ini belum terjangkau internet, self-driving car dan lain sebagainya – yang menarik adalah apa yang ada di belakang project-project tersebut – yaitu yang menggerakkannya.

 

Lalu si santri ingat diskusinya dengan nenek-nenek tua di lingkungan Google yang tidak menyebutkan apa perannya di Google, tetapi si nenek bisa menyimpulkan dengan kalimat pendek yang sangat baik – untuk menjelaskan keberhasilan Google. Dia menjelaskan bahwa keberhasilan Google karena dia berbuat baik – dalam istilah dia ‘do well by doing good’.

 

Bermilyar orang di dunia menggunakan search engine-nya, storage email-nya dan bahkan juga aplikasi-aplikasinya tanpa membayar satu sen-pun ke Google. Yang perlu membayar hanya perusahaan-perusahaan yang memang mengambil keuntungan maksimal dari keberadaan Google.

 

Maka keesokan harinya selesai sholat subuh si santri dengan sumringah menghubungi Pak Kyai untuk menyampiakan temuannya.

 

Dia memulai dengan menyampaikan : “ Alhamdulillah Pak Kyai, setelah semalaman saya pikirkan, saya ketemu jawabannya – mengapa Google bisa sebesar sekarang, lagi-lagi jawaban ini bisa saja lain bila ditanyakan ke orang lain”. Pak Kyai tidak sabar : “ Apa itu le , jawabannya ?”.

 

Si santri menjelaskan : “Google berhasil karena dia berbuat baik, berapa milyar orang di dunia, dari anak SD sampai para PhD, dari santri sampai menteri, dari petani sampai pelaku industry, dari balita sampai orang-orang lanjut usia – semuanya menggunakan search engine Google tanpa secara langsung membayar satu sen-pun ke Google”.

 

Si santri tahu bahwa pak Kyai pasti akan men-challenge-nya dengan jawaban yang ada di Al-Qur’an, pasti ada ayat yang bisa menjelaskan hal ini. Tetapi dia masih ragu, ayat yang mana yang menjelaskan fenomena ini – bagaimana orang-orang yang tidak beriman kepada Allah Yang Esa tetapi berbuat baik ke bermilyar orang ,  mereka bisa berhasil di dunia.

 

Sebelum si santri bertanya, Pak Kyai bisa menangkap keraguannya ini. Kemudian dia menjelaskan, “Begitulah anakku, karena sifat Rahman-nya Allah meliputi seluruh makhluknya – yang berbuat baik, pasti dibalas dengan kebaikan pula !”.

 

Lalu Pak Kyai menjelaskan kisah dua raja, yang satu Raja yang sangat dhalim  menjelang ajalnya ingin makan ikan – maka Allah menggerakkan malaikat untuk mengumpulkan ikan tersebut agar mudah ditangkap oleh orang-orang suruhan  raja, agar si raja bisa dipenuhi keinginannya selagi dia di dunia. Karena bagaimanapun dholimnya si raja, pasti pernah berbuat baik selama dia di dunia, Allah ingin menghabiskan balasan atas kebaikannya selagi dia di dunia – di akhirat tinggal menyiksanya penuh tanpa sedikit kebaikan-pun yang tersisa.

 

Dan sebaliknya, ada raja yang sangat adil, menjelang ajalnya ingin makan ikan – Allah perintahkan malaikat untuk menjauhkan ikan-ikan tersebut agar tidak dapat ditangkap oleh orang-orang suruhan raja. Karena se-adil-adilnya sang raja, pasti ada kesalahannya selama dia di dunia – Allah ingin menghabiskan hukumannya selama dia di dunia, dengan tidak bisa makan ikan – tetapi di akhirat Allah tinggal memberikan semua balasan atas kebaikannya, tanpa menyisakan sedikit-pun kesalahannya di dunia.

 

Pak Kyai kemudian melanjutkan : “Kita yang hidup di dunia saat ini, seperti bagian dari dua raja tersebut. Ada yang beriman tetapi sedikit berbuat baik untuk kehidupan manusia saat ini. Ada yang tidak beriman kepada Allah Yang Esa tetapi banyak berbuat baik kepada manusia di dunia”.

 

Si santri tambah mumet dengan penjelasan pak Kyai, dia ingin penjelasan yang konklusif – apa yang seharusnya dia lakukan – tetap seperti santri sekarang, atau berbuat maksimal untuk dunia seperti orang-orang Google, si santri bertanya : “Lantas apa pak Kyai yang harus saya lakukan ? meniru seperti yang dilakukan Google ? atau meneruskan gaya hidup kita selama ini ?”.

 

Pak Kyai menjawab dengan tenang : “ Tidak keduanya, pertanyaanmu yang salah !, kita tidak harus memilih ini atau itu. Kita harus menggunakan kata sambung ‘dan’, kita harus melakukan ini dan itu. Kita harus beriman kepada Allah Yang Esa, dan pada saat yang bersamaan kita juga harus beramal saleh  untuk kebaikan seluruh manusia di dunia secara maksimal”.

 

Kemudian  Pak Kyai mengutip dua surat untuk menguatkan penjelasannya. Yang pertama adalah penggalan surat An –Nur ayat 55 yang terjemahannya adalah : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi ....”.

 

Dan yang kedua adalah rangkaian ayat-ayat di surat yang paling pendek di Al-Qur’an yaitu surat Al-Ashr : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

 

Setelah membahas ayat-ayat tersebut pak Kyai menyimpulkan, : “ Nah sekarang kamu lihat nak, mengapa di jaman ini orang-orang yang beriman kepada Allah Yang Esa belum menjadi penguasa di bumi ? Karena belum memenuhi pra-syarat yang dijanjikan oleh Allah dalam ayat-ayat tadi !”.

 

Pak Kyai melanjutkan “ Yang menanam makanan yang kita makan mayoritasnya bukan kita, yang menghasilkan teknologi yang sehari-hari kita gunakan bukan kita, mobil dan pesawat terbang yang kita pakai berhaji bukan kita yang membuatnya,  bahkan hal sepele seperti sabun untuk mencuci pakaian dan badan kita pun-bukan kita yang memproduksinya – lantas dimana amal shaleh kita dalam mengatasi dan memenuhi kebutuhan umat di jaman modern ini ?

 

Si santri manggut-manggut meng-iyakan. Lalu Pak Kyai ingin menguatkan lebih lanjut : “Itulah sebabnya saya kirim kamu ke negeri yang sangat jauh, negeri di balik bumi ini, bukan untuk terkagum-kagum dengan pencapian mereka – tetapi untuk bisa mawas diri, bahwa umat ini butuh karya yang maksimal, amal shaleh yang nyata untuk mengatasi perbagai persoalan dan kebutuhan umat yang sangat banyak ini – dan kamu belum melaksanakannya.”

 

Orang lain perlu bersusah payah menghasilkan konsep ‘do well by doing good’, sedangkan kita yang sudah diberi petunjuk – bahwa dengan iman dan amal saleh kita akan sungguh-sungguh berkuasa di bumi (QS 24:55) – tetapi justru di dua hal inilah kita lemah. Di tataran iman kita belum sampai meyakini bahwa huda dan mauidah itu – Al-Qur’an – bisa menjawab seluruh persoalan kehidupan kita, dan di tataran amal saleh kita yang hidup di jaman modern ini sangat lemah dalam memenuhi kebutuhan umat ini sendiri sekalipun.”

 

Si santri terus manggut-manggut, dia baru paham sekarang maksud Pak Kyai mengirimnya ke mBah Google – agar dia bisa bekerja maksimal mengamalkan ilmunya untuk menjawab persoalan dan memenuhi kebutuhan umat akhir jaman ini. InsyaAllah.