The Future We Want

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Senin, 23 Januari 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Jan 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,034 Beli Rp. 2,083,233

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Jan 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,600 Beli Rp. 2,089,536

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Jan 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,178,192 Beli Rp. 2,091,064

  • Harga Dinar Emas per Mon, 23 Jan 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,843 Beli Rp. 2,084,009

  • Harga Dinar Emas per Sun, 22 Jan 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,170,843 Beli Rp. 2,084,009

The Future We Want

Tahun lalu PBB dengan melibatkan 193 anggotanya sepakat untuk mengeluarkan resolusi yang secara populer disebut resolusi The Future We Want – Masa Depan Yang Kita Inginkan (A/RES/66/288). Resolusi ini kemudian dijabarkan dalam bentuk 17 sasaran yang harus dicapai oleh negara-negara sampai 15 tahun mendatang (2030) – yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Namun sayangnya resolusi yang seharusnya mulia ini, nampaknya justru kebalikannya yang terjadi di lapangan. Mengapa demikian ? Mari kita lihat satu per satu.

 

Resolusi pertama adalah hilangnya kemiskinan pada tahun 2030 – No Poverty. Kemiskinan hanya bisa dihilangkan bila pasar terbuka untuk kaum miskin untuk meng-aksesnya, kenyataannya pasar semakin dikuasai oleh konglomerasi. Demikian pula modal, dengan sistem ribawi yang semakin dominan – modal akan mengalir menuju ke sejumlah kecil yang besar-besar bukan menyebar ke sejumlah besar yang kecil-kecil.

 

Resolusi ke dua adalah hilangnya kelaparan – Zero Hunger. Kelaparan hanya bisa dihilangkan bila setiap benih yang tumbuh menghasilkan biji dan bijinya dapat ditanam kembali, dengan demikian produksi pangan akan bisa eskponential bila sarana lain menunjang. Yang terjadi di lapangan negara-negara besar membiarkan benih-benih dimandulkan, menjadi benih GMO atau minimal Hybrida yang keturunannya tidak lagi bisa ditanam kembali.

 

Akibatnya penyediaan bahan pangan secara langsung maupun tidak langsung justru terkonsentrasi pada beberapa pihak yang menggenggam erat pasar benih. Hal ini diperparah dengan diijinkannya merger pemain-pemain raksasa di bidang pembenihan dan agrochemical.

 

Produksi pangan yang cukup untuk sekarang dan nanti, juga membutuhkan lahan pertanian yang tidak dirusak oleh pupuk-pupuk dan obat-obatan kimia. Kenyataan di lapangan justru pertanian dengan pupuk dan obat kimia inilah yang semakin dominan.

 

Resolusi ke tiga tentang Good Health and Well-Being, pendekatan kapitalisme dalam pengadaan obat dan pelayanan kesehatan membuat layanan kesehatan semakin mahal dan rakyat tidak semakin sehat. Ini terbukti di negeri yang biaya kesehatannya termahal di dunia, ternyata mereka hanya berada di urutan no 30 dari daftar negeri yang sehat di dunia.

 

Resolusi ke empat tentang Quality Education, tidak nampak adanya perbaikan sistem pendidikan di seluruh dunia. Yang ada malah sebaliknya, pendidikan tinggi mudah diakses tetapi kwalitasnya justru menurun. Pendidikan tinggi meluluskan orang-orang yang sedikit berilmu, dan lebih sedikit lagi yang siap untuk menggunakan ilmunya dalam mengatasi problem-problem kehidupan.

 

Resolusi ke lima tentang Gender Equality, negara-negara yang memperjuangkan gender equality ini justru negera-negara yang kurang menghargai wanita. Wanita-wanita diijinkan untuk perform melebihi fitrahnya, dan bukannya dihormati sebagai pasangan-pasangan yang saling melengkapi dengan kaum pria.

 

Resolusi ke enam tentang Clean Water and Sanitation, air bersih mestinya menjadi akses semua orang. Kenyataannya sumber-sumber mata air dunia kini dikuasai segelintir perusahaan saja, bahkan pengelolaan air yang seharusnya menjadi tugas pemerintah – banyak yang diserahkan ke pihak swasta dengan orientasi keuntungan. Air yang masih tersedia-pun menjadi komoditi yang semakin mahal bagi simiskin.

 

Resolusi ke tujuh tentang Affordable and Clean Energy, yang terjadi di lapangan adalah sumber-sumber bahan bakar fosil dikeruk sampai tetes atau butir terakhirnya dan baru dengan terpaksa mencari bahan bakar yang lainnya. Belum nampak adanya efforts yang fokus, apa yang disepakati sebagai Affordable and Clean Energy 15 tahun mendatang tersebut.

 

Resolusi ke delapan adalah Decent Work and Economic Growth, Pekerjaan –pekerjaan yang baik seharusnya tumbuh beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Yang terjadi adalah demi mengejar pertumbuhan ekonomi, penguasa dan pengusaha sering mengorbankan kepentingan kaum pekerjanya.

 

Resolusi yang ke sembilan tentang Industry, Innovation and Infrastructure – pembangunan industri dan infrastruktur seharusnya ditopang dengan innovasi-innovasi cerdas yang melestarikan alam. Kenyataannya hingga kini pembangunan industri dan infrastruktur masih lebih banyak yang merusak alam ketimbang menjaga kelestariannya.

 

Resolusi yang ke sepuluh adalah Reduced Inequalities, kesenjangan seharusnya menurun. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, jurang antara si miskin dan si kaya menjadi semakin menganga. Belum nampak adanya perubahan sistem ekonomi sedikitpun untuk mempersempit kesenjangan tersebut.

 

Resolusi yang ke sebelas adalah Sustainable Cities and Communities, kota-kota seharusnya memiliki daya dukung kehidupannya sendiri karena penduduk negeri yang akan semakin terkonsentrasi di kota. Yang terjadi jangankan sustainable dalam menyediakan kebutuhan utama seperti pangan , air, udara bersih dan area terbuka hijau – untuk urusan membuang sampah-pun tidak banyak kota yang bisa mengatasinya dengan proper.

 

Resolusi ke dua belas adalah Responsible Consumption and Production, seharusnya manusia makan secukupnya dari yang bisa diproduksi di alam sekitarnya. Yang terjadi adalah globalisasi bahan pangan, negeri-negeri penghasil komoditi pangan besar ‘mendikte’ negeri lain agar mengkonsumsi produk-produk mereka. Bahan pangan dipaksa menempuh perjalanan mengelilingi bumi demi menjaga pasar bagi negeri kaya.

 

Resolusi ke tiga belas adalah Climate Action, negeri-negeri maju yang ‘nampak’ bersih-pun sebenarnya mereka bukan bersih tetapi mereka ‘membuang’ industri dan produk pencemar lingkungan mereka ke negeri lain. Siapa yang memproduksi mesin-mesin pencemar lingkungan , boros energi dan merusak iklim tersebut ? bukan negeri seperti kita, lha wong kita tidak banyak bisa memproduksi mesin-mesin kok – hampir semua yang ada di sekitar kita adalah produksi mereka juga.

 

Resolusi ke empat belas Life Below Water, kehidupan bawah air seharusnya terjaga kelestariannya. Kenyataannya kehidupan bawah air-pun telah dirusak oleh pencemaran produk-produk industri. Sampah plastik saja sudah menjadi pencemar laut yang terbesar – wewakili 86 % dari pencemaran laut , dan belum nampak adanya upaya untuk kita menggantikan produk-produk  plastik tersebut.

 

Resolusi ke lima belas Life On Land, tanah yang subur dan hijau seharusnya terjaga ketersediaannya untuk bisa menopang kehidupan jangka panjang. Yang terjadi justru sebaliknya, kota-kota tumbuh menjadi megapolitan menghabisnya apa saja yang ada di sekitarnya. Lahan-lahan hijau habis tergerus oleh pembangunan rumah, pabrik dan infrastruktur. Bersamaan habisnya lahan hijau ini, habis pula ekosistem kehidupan di darat.

 

Resolusi ke enam belas Peace, Justice, and Strong Institutions. Negara-negara adikuasa bukannya menghadirkan kedamaian di dunia. Merekalah yang memproduksi senjata-senjata dari yang sederhana sampai yang sangat canggih dengan hulu ledak nuklir. Kebijakan untuk kepentingan merekalah yang mendorong negeri-negeri untuk berperang satu sama lain. Jadi siapa yang menghadirkan perang dan menghilangkan kedamaian dan keadilan di muka bumi ?

 

Resolusi ke tujuh belas Partnership For Goals, seharusnya negeri- negeri bersatu dalam berupaya mencapai tujuan bersama, hilangnya kemiskinan, kelaparan dan seterusnya. Yang terjadi negeri-negeri justru berjuang untuk pertumbuhan ekonominya sendiri-sendiri. Dunia sedang menuju G-Zero dimana setiap negeri hanya berjuang untuk negerinya sendiri.

 

Walhasil bukannya 17 SDGs tersebut tidak baik, di atas kertas sungguh sangat baik. Tetapi implementasinya di lapangan jauh panggang dari api, saya tidak heran bila resolusi PBB tersebut akan berakhir sama dengan resolusi-resolusi lainnya – tidak ada yang secara serius menggubris dan menjalankannya di negeri masing-masing.

 

Ada ataupun tidak ada resolusi tersebut, ummat ini mempunyai kewajiban untuk menolong yang miskin karena orang miskin bisa jadi tetap akan ada sebagai bagian untuk menguji si kaya. Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk memberi makan bagi si miskin karena kalau kita tidak berusaha menganjurkan saja sudah cukup bagi kita untuk dicap sebagi pendusta Agama.

 

Kita justru bisa berbuat lebih dari sekedar memenuhi 17 SDGs tersebut bila kita melaksanakan fitrah kita sebagai khalifah di muka bumi, apa tugas kita ? Tugas kita adalah menjaga kelestarian dan keseimbangan di bumi serta memakmurkannya (QS 55 :8-9 dan 11:61). Inilah The Future We Want versi kita !