In Search of New Food

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 25 Juli 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 25 Jul 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,157,481 Beli Rp. 2,071,182

  • Harga Dinar Emas per Tue, 25 Jul 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,153,420 Beli Rp. 2,067,283

  • Harga Dinar Emas per Tue, 25 Jul 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,154,708 Beli Rp. 2,068,520

  • Harga Dinar Emas per Mon, 24 Jul 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,155,691 Beli Rp. 2,069,463

  • Harga Dinar Emas per Mon, 24 Jul 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,152,734 Beli Rp. 2,066,625

In Search of New Food

Bulan April lalu ketika Duta Besar AS mengunjungi Rumah Tempe Indonesia di Bogor, dia mengungkap dengan enteng fakta yang sesungguhnya luar biasa. Dia mengaku : “90 % kacang kedelai yang digunakan bahan baku tempe dan tahu Indonesia berasal dari Amerika, Indonesia adalah pangsa pasar kedelai terbesar , tahun 2013 nilai ekspor agrikultur Amerika ke Indonesia mencapai US$ 4.8 Milyar…” (tempo.co). Dari sumber lain (GMO-Compass) kita tahu bahwa lebih dari 90% (tepatnya 93%) produksi kedelai di Amerika adalah GMO, apa artinya ini ? 

 

Artinya adalah di makanan yang sekilas terkesan ndeso – tempe dan tahu, terbawa teknologi yang sangat canggih dalam memproduksi bahan bakunya yaitu kedelai. Teknologi yang menghasilkan apa yang disebut Genetically Modified Organism (GMO) – yang terjemahan bebasnya adalah organisme yang dimodifikasi secara genetis, itu kini mendominasi produksi pertanian negeri maju khususnya jagung, kedelai dan sejenisnya.

 

Teknologi GMO hingga kini adalah teknologi yang kontroversial, meskipun banyak yang membelanya dengan alasan untuk mengejar kecukupan pangan bagi dunia – tetapi juga tidak kurang banyaknya pula penentang-penentang GMO ini. Yang jelas efek samping dari teknologi yang hingga kini baru berusia sekitar tiga dasawarsa ini, masih perlu terus diwaspadai.

 

Bila di Al-Qur’an kita diingatkan bahwa akan ada manusia yang merusak tanaman dan keturunan, maka barangkali GMO ini salah satunya. “Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan keturunan, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.” (QS 2:205).

 

Ironinya adalah bukti  ‘kerusakan’ yang diingatkan oleh Al-Qur’an tersebut diungkapkan oleh peneliti-peneliti barat sendiri. Salah satunya adalah F. William Engdahl yang dari hasil penelitiannya kemudian menulis buku yang  berjudul Seed of Destruction – The Hidden Agenda of Genetic Manipulation (Global Research, Canada 2007). Buku ini seperti ingin menelanjangi agenda besar di belakang pangan yang berbasis GMO.

 

Menurut si penulis tersebut misalnya, bahwa GMO ini bukan sekedar upaya produksi makanan – tetapi merupakan project mereka segelintir orang untuk menguasai dunia ( global domination), dalam bahasa Pentagon mereka menyebutnya “Full Spectrum Dominance” – penguasaan penuh di segala bidang.

 

Masih menurut si penulis buku tersebut pula deklarasi untuk menguasai dunia melalui minyak dan pangan tersebut diungkap secara gamblang oleh Henry Kissinger tahun 1970-an dengan pernyataannya : “Control the oil and you control nations. Control the food, and you control the people”. Strategi ini sepertinya kemudian diimplementasikan mulai di dasa warsa 1980-an ketika Amerika dipimpin oleh presiden yang mantan kepala CIA yaitu George Herbert Walker Bush - yang mulai saat itu produk bahan pangan berbasis GMO dilegalkan dan diberlakukan seolah bahan makanan lainnya.

 

Maka dengan agenda besar yang tanpa kita sadari  menyusup di belakang makanan tradisional kita yang terkesan ndeso tersebut, apakah kita tidak punya pilihan lain selain terus makan makanan  asli kita tetapi berbahan baku 90 % impor  yang notabene lebih dari 90 %-nya GMO ? Mestinya kita punya banyak pilihan untuk ini.

 

Pilihan pertama adalah bagaimana petani kita di-encourage dan diberi insentif untuk kembali menanam kedelai yang benih aslinya sedari dulu ada di negeri ini. Saya pikir kita pasti masih bisa mencari benih-benih kedelai yang bebas GMO di negeri ini.

 

Kemudian kepada para perajin tahu dan tempe, dikampanyekan kembali penggunaan kedelai lokal – yang pastinya lebih enak bagi lidah kita ketimbang kedelai ‘bule’. Contohnya tempe Malang khususnya dan Jawa-Timur-an pada umumnya yang terkenal akan kelezatannya, konon katanya hingga kini masih banyak yang  dibuat penuh  dari kedelai lokal.

 

Kemudian seiring dengan laju pertambahan penduduk negeri ini, keterbatasan lahan kita untuk produksi kedelai pasti akan  menjadi masalah besar. Kinipun sudah menjadi masalah apalagi nanti, maka inilah waktunya negeri ini untuk mencari sumber-sumber bahan makanan berprotein tinggi yang baru – yang bisa diproduksi secara maksimal di lahan yang semakin terbatas.

 

Produksi kedelai saat ini rata-rata hanya berkisar di angka 2 ton per ha, juga tidak ada nampak upaya peningkatannya yang significant karena kita terbuai oleh (masih) gampangnya memperoleh kedelai impor. Maka tentu tidak menarik bagi petani sendiri apalagi bagi pemilik modal untuk menanam kedelai ini secara massif.

 

Akibatnya adalah kedelai yang sebenarnya menjadi bahan protein nabati andalan – dengan kandungan protein sekitar 36 % ini – terkendala tingkat produksinya oleh ketersediaan lahannya di lapangan, juga oleh kendala modal yang sulit di justifikasi return-nya.

 

Lantas apa solusi sumber bahan pangan berprotein tinggi kita berikutnya bila kedelai produksinya tidak memadai ?

 

Salah satu yang pernah saya tulis di sini (Pohon Yang Berbuah Roti) adalah bread fruit atau sukun (Artocarpus altilis) yang bisa diproduksi sangat besar per hektarnya. Dengan tingkat produksi yang bisa mencapai hampir 125 ton /ha, menyediakan bahan makanan basah 97 ton basah /ha atau sekitar 24 ton tepung /ha – maka sukun cukup menjanjikan dari sisi kwantitas produksinya.

 

Hanya saja kandungan protein sukun ini tidak terlalu tinggi, tepung sukun hanya mengandung protein sekitar 4 % atau masih di bawah kandungan protein yang ada di makanan pokok kita lainnya seperti beras – meskipun sudah lebih tinggi dari kandungan protein yang ada di tepung ubi kayu maupun ubi jalar. Masih diperlukan bahan makanan pendamping lainnya yang berprotein tinggi dan yang bisa diproduksi secara massif.

 

Salah satunya yang sudah saya ungkap dalam berbagai tulisan sebelumnya adalah tepung dari daun kelor (Moringa oleifera). Bila tanaman ini ditanam dengan inspirasi surat ‘Abasa ayat 28-30 – tanaman bergizi tinggi yang ditanam dengan sangat padat – maka hasilnya insyaAllah akan sangat menarik.

 


Daun kelor kering yang berprotein 27 % - dalam hal protein masih beberapa poin dibawah kedelai yang kandungan proteinnya 36%. Tetapi karena potensi tingkat produksinya yang jauh lebih besar – berpuluh kali lebih besar  - maka tepung kelor kering ini insyaAllah bisa menjadi salah satu makanan baru kita yang menjanjikan dari sisi kwalitas maupun dari sisi kwantitasnya.

 

Dua contoh bahan pangan tersebut di atas, yaitu tepung buah sukun yang kaya energi dan tepung daun kelor yang kaya akan protein adalah bahan-bahan makanan berkwalitas yang relatif mudah diproduksi, mudah ditanam di tanah tegalan atau bahkan tanah yang relatif kering sekalipun.  Pengolahan hasil panennya juga relatif mudah,  tepung buah sukun dan tepung daun kelor seperti pada foto-foto di halaman ini tidak harus diproduksi di pabrik besar, unit-unit usaha sekelas KUD dan Koperasi Usaha Pesantren –pun inysaAllah akan mampu mengelolanya.

 

Setelah dua jenis makanan yang saling melengkapi tersebut masing-masing dibuat tepung, selebihnya tinggal kreatifitas para ahli makanan untuk memasaknya menjadi roti, bubur, aneka kue dari yang tradisional sampai yang modern dan berbagai makanan lezat lainnya.

 

Foto disamping adalah sekedar contoh, chocolate cookies yang dibuat tanpa melibatkan bahan impor sama sekali. Pengganti tepung terigu 100 % digunakan kombinasi tepung buah sukun yang diperkaya nutrisinya dengan tepung daun kelor.

 

Mengapa kita perlu sekali mengurusi makanan kita sendiri ini secara serius ? Selain kita meragukan isi bahan makanan yang diproduksi orang lain karena kita tidak tahu niat  mereka, kita memang diingatkan oleh Allah – bahwa dijaman penuh fitnah ini, kita butuh makanan yang lebih murni – Azkaa Tho’aam (QS 18 :19).

 

Bahkan urusan memberi makanan ini di beberapa surat dan banyak ayat juga disebutkan akan menentukan kedudukan atau tempat kita di akhirat nanti - di antaranya di surat Al-Insaan ayat 5-9, Al-Muddatstsir ayat 44, Al-Balad ayat 11-16 dlsb.

 

Bila dengan dua tanaman saja yaitu bread fruit (sukun) dan miracle trees (kelor) kita bisa mengeksplorasi bahan makanan baru bagi kita - yang bebas dari GMO dan bebas dari agenda besar tersembunyi bangsa lain – maka insyaAllah ada jalan bagi kita untuk keluar  dari potensi fitnah pangan ini. InsyaAllah.