Huru Hara Tortilla…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 21 November 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Tue, 21 Nov 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,593 Beli Rp. 2,082,809

  • Harga Dinar Emas per Tue, 21 Nov 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,165,760 Beli Rp. 2,079,130

  • Harga Dinar Emas per Tue, 21 Nov 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,166,426 Beli Rp. 2,079,769

  • Harga Dinar Emas per Mon, 20 Nov 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,187,012 Beli Rp. 2,099,532

  • Harga Dinar Emas per Mon, 20 Nov 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,189,006 Beli Rp. 2,101,446

Huru Hara Tortilla…

Tanggal 31 Januari 2007, jalan-jalan di Mexico City dipenuhi oleh pengunjuk rasa yang memprotes kenaikan harga tortilla – makanan sumber kalori utama negeri itu yang terbuat dari jagung – yang melonjak hingga lebih dari 400%.  Kok bisa harga pangan melonjak sampai lebih dari 4 kalinya dalam beberapa bulan saja ? kejadian inilah yang kemudian (seharusnya) menjadi pelajaran bagi seluruh dunia untuk mengantisipasi krisis pangan.

 

Kejadian yang dikenal dengan sebutan Tortilla Riots (huru-hara tortilla) itu kemudian banyak dikaji dan menjadi studi kasus dalam berbagai bidang ilmu. Harga pangan yang melonjak ratusan persen ini tentu bukan disebabkan oleh satu atau dua proximate causes (penyebab utama yang dominan), tetapi oleh suatu rangkaian komplek sejumlah penyebab yang terkait satu sama lain.

 

Untuk ringkasnya ilustrasi berikut menggambarkan bagaimana harga bahan pangan pokok jagung bisa melonjak ratusan persen di Mexiko akhir 2006 dan awal 2007 tersebut.

 

Awalnya petani Mexico memproduksi jagungnya sendiri untuk makanan pokok mereka tortilla selama berabad-abad. Namun sejak diberlakukannya NAFTA (North American Free Trade Agreement) yang melibatkan Amerika, Canada dan Mexico 1 Januari 1994 – Mexico menjadi kalah bersaing dengan dua tetangganya yang perkasa yaitu Amerika dan Canada.

 

Kekalahan ini dalam bentuk dibanjirinya pasar Mexico dengan produk-produk asal negeri jirannya yaitu Amerika dan Canada. Tidak terkecuali untuk bahan pangan utama negeri itu yaitu jagung yang menjadi bahan untuk tortilla.

 

Ketika kalah bersaing, petani-petani jagung Mexico menjadi malas untuk memproduksi jagungnya sendiri – sehingga dari waktu ke waktu produksi jagung Mexico menurun dan digantikan oleh produk jagung dari negeri jirannya yaitu utamanya Amerika.

 

Cilakanya tahun 2005 terjadi Hurricane besar yang disebut Hurricane Katrina yang menghancurkan sejumlah pengeboran minyak lepas pantai di Amerika. Tidak kurang dari 2,900-an oil rigs di lepas pantai dari Texas sampai Lousiana yang hancur. Hurricane ini men-trigger lonjakan harga minyak karena berkurangnya supply secara drastis.

 

Dari sinilah kemudian muncul ide yang awalnya nampak cemerlang yaitu menghasilkan sebagian bahan bakar dari jagung berupa bio-ethanol. Karena jagung kini tidak hanya dikonsumsi manusia tetapi juga digunakan sebagai bahan bakar, kebutuhan pasar meningkat sedangkan supply tidak banyak berubah - harga jagung-pun terus melonjak.

 

Ketika terjadi paceklik produksi jagung di tahun 2006, kebutuhan jagung yang sudah terlanjur besar tersebut sangat tidak bisa dipenuhi oleh produksi yang lagi jatuh. Sedangkan orang Mexico berabad-abad sudah terbiasa makan tortilla dari jagung dan tidak siap untuk makanan lainnya.

 

Harga jagung dan otomatis tortilla menjadi sangat mahal bagi yang masih bisa menjangkaunya, dan yang tidak bisa menjangkaunya tentu menimbulkan rasa lapar dimana-mana. Orang yang lapar karena terpaksa ini – bukan karena puasa tentu saja ! – menjadi mudah marah dan mudah digerakkan sehingga menimbulkan huru-hara tortilla yang terkenal itu.

 

Meskipun kejadian ini di Mexico, perhatikan urut-urutan kejadiannya. Sebagian mirip dengan yang kita (sedang) alami di negeri ini !

 

Dengan alasan karena tidak terkendalinya harga barang-barang kebutuhan pokok, berbagai media pagi ini memberitakan keputusan pemerintah untuk  menurunkan harga dengan cara menambah supply. Tetapi karena supply dalam negeri dipandang tidak memadai, supply yang digenjot adalah impor.

 

Maka dibukalah impor untuk barang-barang kebutuhan pokok seperti bawang merah, cabai dan daging sapi. Kalau ini hanya dilakukan kali ini, mudah dimengerti karena bisa jadi inilah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh saat ini untuk meredam gejolak harga di pasar.

 

Tetapi kita tentu berharap pemerintah punya strategy jangka panjangnya – agar tidak lagi kita mendengar petani dan peternak kita terpojokkan dan kalah bersaing dengan produk-produk impor yang kerannya sengaja dibuka dengan berbagai alasan seperti kepepet kali ini.

 

Lebih jauh lagi, dalam dua tahun mendatang pintu AEC (ASEAN Economic Community) akan terbuka. Petani dan peternak kita akan head to head dengan para petani dan peternak dari Thailand, Vietnam dlsb. yang sangat eager memperluas pasarnya.

 

Jangan sampai AEC nanti justru menjadi salah satu proximate causes – penyebab utama yang dominan – bagi inflasi kebutuhan pokok kita yang tidak terkendali, sebagaimana NAFTA menjadi salah satu proximate causes inflasi tortilla yang tidak terkendali yang sampai menimbulkan Tortilla Riots di Mexico tersebut di atas.

 

Tidak hanya menjadi tugas pemerintah untuk mencegah hal tersebut terjadi, rakyat seperti kita juga harus bisa ikut berbuat. Bisa dengan meningkatkan produksi atas bahan-bahan kebutuhan pokok kita sendiri, ataupun mulai men-diversifikasi bahan pangan utama kita dlsb.

 

Kita harus bisa berfikir out of the box, misalnya mumpung ini di bulan puasa – mengapa tidak kita mulai membiasakan makan kurma sehingga tidak lagi tergantung pada bawang dan cabe ?. Bukan berarti kita harus meninggalkan makanan pokok lainnya, tetapi dengan mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berbuka dengan kurma saja akan menurunkan demand terhadap makanan tradisional kita. Ketika demand turun, harga akan otomatis turun – dan ini kebaikan untuk semuanya.

 

Tentu saja belajar makan kurma ini harus juga dibarengi dengan belajar menanamnya, agar kelak ketika demand sudah tinggi kita juga sudah harus bisa memproduksinya sendiri.

 

Demikian pula untuk daging, mengapa tidak kita mulai makan daging dari gembalaan  para nabi yaitu kambing ?, mengapa harus daging sapi ?. Lagi-lagi bukan berarti daging sapi harus ditinggalkan sama-sekali, tetapi ketika sebagian demand itu pindah sebagian ke daging kambing – harga daging sapi akan turun – lagi-lagi kebaikan untuk semuanya. InsyaAllah !.