24 hours international gold price to understand gold Dinar price trend
Current Gold & Silver Price to Calculate Dinar and Dirham Price
Harga Dinar emas Sekarang - Current Gold Dinar Price ENGLISH VERSION

Dinar Islam adalah Emas 22 Karat seberat 4.25 gram.

Dirham Islam adalah Perak Murni seberat 2.975 gram.
Harga Dinar Sebulan Terakhir - Gold Dinar Price in the Last 30 days Trend harga Dinar 1 bulan terakhir.

Mengenal Dinar dan Dirham Islam

Peluang Investasi Dengan Dinar Anda
Harga Dinar Islam 2 Bulan Terakhir - The Last 60 days gold Dinar Price Qirad/Mudharabah Untuk Dinar Anda

Trend harga Dinar 2 bulan terakhir.

Dinar di Kota-Kota Besar Indonesia

Tuesday, February 12, 2008

Mata Uang dan Kedaulatan Negara...

Meskipun dari survey yang saya adakan lewat poll di sidebar blog ini subjek ekonomi dan politik dunia tidak terlalu menjadi perhatian pengunjung, sekali-sekali pingin juga saya menulis yang agak terkait dengan ekonomi dan politik ini. Terutama terkait dengan tulisan saya kemarin tentang IMF yang akan menjual(sebagian) emasnya.

Kehilangan KedaulatanKita sebagai bangsa yang merdeka telah memiliki pengalaman yang begitu pahit, bahwa karena kita tidak menggunakan mata uang yang benar-benar memiliki nilai intrinsik seperti Dinar dan Dirham, mata uang kita begitu mudah hancur atau dihancurkan.

Dampak kehancuran mata uang ini tidak berhenti disini, yang paling menyedihkan adalah kita benar-benar bisa kehilangan kedaulatan atas negeri ini – minimal kedaulatan ekonomi.

Sebagian besar kita masih ingat, bagaimana pada tanggal 15 Januari 1998, Presiden Republik ini waktu itu harus mengikuti kemauan IMF dengan menanda tangani 50 butir kesepakatan. Di butir-butir tersebut-lah Indonesia semakin kehilangan kedaulatan ekonominya. Berikut adalah sebagian kecil dari butir-butir kesepakatan dengan IMF (International Monetary Fund) yang menunjukkan bahwa kedaulatan ekonomi dan moneter itu lepas dari tangan kita :

1. Pemerintah diharuskan membuat Undang-Undang Bank Indonesia yang otonom, dan akhirnya pemerintah memang membuat undang-undang yang dimaksud, maka lahirlah Undang-undang no 23 tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Pertanyaannya adalah, seandainya Indonesia masih berdaulat mengapa untuk membuat Undang-Undang yang begitu penting harus dipaksakan oleh pihak asing ?. Kalau Undang-Undangnya dipaksakan oleh pihak asing – yang diwakili oleh IMF waktu itu, terus untuk kepentingan siapa Undang-Undang ini dibuat ?. Dalam salah satu pasal Articles of Agreement of the IMF (Arcticle V section 1) memang diatur bahwa IMF hanya mau berhubungan dengan bank sentral dari negara anggota, lahirnya Undang-Undang no 23 tersebut tentu sejalan dengan kemauan IMF. Lantas hal ini menyisakan pertanyaan besar – siapa yang mengendalikan uang di negeri ini ?. Dengan Undang-undang ini Bank Indonesia memang akhirnya mendapatkan otonominya yang penuh, tidak ada siapapun yang bisa mempengaruhinya (Pasal 4 ayat 2) termasuk Pemerintah Indonesia. Tetapi ironisnya justru Bank Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh IMF karena harus tunduk pada Articles of Agreement of the IMF seperti yang diatur antara lain dalam beberapa contoh pasal-pasal berikut :

a. Article V Section 1, menyatakan bahwa IMF hanya berhubungan dengan bank sentral (atau institusi sejenis, tetapi bukan pemerintah) dari negara anggota.
b. Article IV Section 2, menyatakan bahwa sebagai anggota IMF harus mengikuti aturan IMF dalam hal nilai tukar uangnya, termasuk didalamnya larangan menggunakan emas sebagai patokan nilai tukar.
c. Article IV Section 3.a., menyatakan bahwa IMF memiliki hak untuk mengawasi kebijakan moneter yang ditempuh oleh anggota, termasuk mengawasi kepatuhan negara anggota terhadap aturan IMF.
d. Article VIII Section 5, menyatakan bahwa sebagai anggota harus selalu melaporkan ke IMF untuk hal-hal yang menyangkut cadangan emas, produksi emas, export import emas, neraca perdagangan internasional dan hal-hal detil lainnya.

Pengaruh IMF terhadap kebijakan-kebijakan Bank Indonesia tersebut tentu memiliki dampak yang sangat luas terhadap Perbankan Indonesia karena seluruh perbankan di Indonesia dikendalikan oleh Bank Indonesia. Dampak lebih jauh lagi karena perbankan juga menjadi tulang punggung perekonomian, maka perekonomian Indonesiapun tidak bisa lepas dari pengaruh kendali IMF. Butir-butir sesudah ini hanya mendambah panjang daftar bukti yang menunjukkan lepasnya kedaulatan ekononomi itu dari pemimpin negeri ini.

2. Pemerintah harus membuat perubahan Undang-Undang yang mencabut batasan kepemilikan asing pada bank-bank yang sudah go public. Inipun sudah dilaksanakan, maka ramai-ramailah pihak asing menguasai perbankan di Indonesia satu demi satu sampai sekarang.
3. IMF pula yang mendorong merger empat bank pemerintah menjadi satu dan mendorong satu lagi bank pemerintah untuk go publik. Apa manfaatnya bagi IMF langkah ini, tentu kawan-kawan yang bergerak di dunia perbankan lebih tahu.
4. Pemerintah Indonesia harus secara bertahap menurunkan tariff pajak untuk produk pertanian non-pangan dari luar sampai akhirnya tercapai maksimum pajak 10 %. Ini tentu akan membuat produk pertanian non-pangan asing menjadi sangat kompetitif di pasar ini dan dapat menyingkirkan produk local sejenis.
5. Pemerintah harus menurunkan tariff bahan kimia, baja, metal dan alat-alat perikanan sampai dikisaran 5%-10%. Mirip dengan no 4, produsen lokal pelan-pelan bisa tersingkir oleh pemain asing.
6. Pemerintah harus menurunkan pajak export untuk kayu gelondongan, kayu gergajian, rotan dan mineral maximum pada angka 30%. Dampak dari hal ini adalah berpindahnya proses yang memberi nilai tambah dari dalam negeri ke luar negeri. Indonesia dikeruk hasil hutan dan mineralnya dengan nilai tambah yang minimal, nilai tambah yang lebih besar dinikmati oleh para pemain asing.
7. Pemerintah harus mencabut larangan export minyak sawit dan boleh menggantinya dengan pajak export maximum 40 %. Minyak goreng yang sangat dibutuhkan oleh penduduk negeri ini, yang waktu itu sempat langka – justru harus di export lagi-lagi untuk kepentingan pihak asing – dimana lagi mereka bisa memperoleh minyak sawit yang masih murah ?.
8. Pemerintah harus menambah saham yang dilepas ke publik dari Badan Usaha Milik Negara, minimal hal ini harus dilakukan untuk perusahaan yang bergerak di telekomunikasi domestik maupun internasional. Diawali kesepakatan dengan IMF inilah dalam waktu yang kurang dari lima tahun akhirnya kita benar-benar kehilangan perusahaan telekomunikasi kita yang sangat vital yaitu Indosat.

Hal-hal tersebut diatas, baru 8 dari 50 butir kesepakatan pemerintah Indonesia dengan IMF. Namun dari contoh-contoh ini, dengan gamblang kita bisa membaca begitu kentalnya kepentingan korporasi asing besar, pemerintah asing dan institusi asing (yang oleh John Perkins disebut sebgai korporatokrasi ) yang mendiktekan kepentingan mereka ketika kita dalam posisi yang sangat lemah, yang diawali oleh kehancuran atau penghancuran nilai mata uang Rupiah kita.

Penjajahan ekonomi ala IMF ini mirip dengan catatan sejarah kita 400 tahun lalu, berikut petikannya :

Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.
Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.
VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa itu, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.


Jadi kehilangan kedaulatan dibidang ekonomi yang kita alami sekarang sebenarnya hanya pengulangan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia empat abad silam, secara visual kehilangan kedaulatan ini seolah tercermin dari foto yang menghiasi halaman media masa setelah kesepakatan tersebut ditanda tangani oleh Presiden Republik Indonesia didepan petinggi IMF saat itu - Michel Camdessus.

Labels: , , ,

Wednesday, January 23, 2008

Langkah Darurat Itu Terpaksa Diambil : Federal Reserve Amerika Serikat Memotong Suku Bunga Terbesar Sepanjang 24 Tahun Terakhir...

Diluar jadwal yang resmi yang mestinya baru seminggu lagi mereka mengadakan pertemuan rutin dua harinya, kemarin pagi waktu setempat atau tadi malam waktu Jakarta Federal Reserve Amerika Serikat memotong suku bunga kreditnya sebesar ¾ point yaitu turun dari 4.25% ke 3.5%. Penurunan ini merupakan yang terbesar sejak October 1984.

Penurunan yang sangat siginificant diluar jadwal ini tentu saja sempat membuat kepanikan yang luar biasa di bursa saham seluruh dunia yang sedang beroperasi, dampaknya terhadap Bursa Efek Indonesia kemungkinan besar baru akan terjadi pagi ini ketika pasar mulai beroperasi.

Langkah darurat ini nampaknya didorong oleh kekawatiran menyeluruh di pasar, bahwa resesi sedang di ambang pintu. Hal ini ditandai dengan bergugurannya bursa-bursa saham di seluruh dunia selama hari-hari sebelumnya.

Apakah terapi darurat ini efektif ? reaksi pasar nanti yang akan menjawabnya.

Untuk sementara terapi yang dilakukan oleh The Fed untuk melawan gejala resesi tersebut ternyata malah menimbulkan kesan yang sebaliknya di pasar. Pasar melihatnya justru situasi sudah begitu buruknya sehingga pemotongan suku bunga yang sangat besar tersebut tidak sabar lagi menunggu satu minggu lagi, yaitu waktu yang sudah dijadwalkan untuk pertemuan rutin mereka.

Dampaknya sampai penutupan tadi malam, pasar masih melemah bukan menguat seperti yang diharapkan. Di Amerika sendiri The Dow Jones Industrial Average (INDU) turun 1 % dan Nasdaq Composite (COMP) malah turun 2 %.

Terapi yang sesungguhnya dan dijamin keampuhannya tentu ada , yaitu menggunakan Dinar dan Dirham sebagai uang yang adil. Riba sudah barang tentu harus dihilangkan sama sekali, bukan hanya diturunkan.

Karena solusi ke Dinar/Emas dan Dirham/Perak ini adalah solusi yang fitrah, maka kebenarannya tidak hanya di claim oleh orang Islam saja. Di Amerika sendiri sudah ada sekelompok orang yang sadar akan hal ini. Bahkan GATA sudah secara berkelakar menyiapkan draft Pidato Presiden Amerika Serikat untuk Pembubaran Dollar dalam revolusi semalam, kemudian menggantikannya dengan Emas dan Perak.

Lantas apa pengaruhnya ini semua dengan harga emas hari ini ?. tentu saja setiap saat terjadi kekacauan ekonomi orang akan kembali ke emas dan perak – inilah fitrahnya. Orang akan mencari keadilan setiap saat merasa di dholimi. Sedangkan mata uang yang adil ya hanya Emas dan Perak itu tadi. Harga emas internasional tadi malam meningkat sangat tajam. Setelah pagi hari sempat menyentuh angka terendah US$ 855 / troy oz harga emas di New York ditutup pada angka US$ 889.80 troy oz.

Karena melonjaknya harga emas ini, harga Dinar di Gerai Dinar pagi ini melonjak Rp 37,000/ Dinar dari angka kemarin sore yang Rp 1,135,400 ke angka Rp 1,172,400. Insyaallah harga ini akan kita lihat kembali waktu Dhuhur nanti setelah pasar Sydney dan Hongkong menyelesaikan sessi perdagangan paginya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi, tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 57 :23)

Labels: , , , , , ,

Thursday, January 17, 2008

Harga Dinar Turun Lebih Dari Rp 20,000 Hari Ini....

Seperti yang saya sampaikan kemarin sore bahwa apabila trend penurunan harga emas dunia berlanjut hingga penutupan pasar New York, maka harga Dinar pagi ini akan turun secara significant.

Ternyata betul, pasar New York yang ditutup beberapa jam lalu menunjukkan trend menurun. Ini hari kedua harga emas mengalami penurunan setelah hampir sebulan penuh naik.

Penyebab penurunan ini tidak lain karena US$ Index yang merefleksikan nilai US$ terhadap sekumpulan mata uang besar dunia mengalamai kenaikan 1% menjadi 76.3. US$ Index naik karena data perekonomian terakhir yang dikeluarkan pemerintah Amerika menunjukkan hasil yang lebih baik dari yang diduga pasar.

Informasi-informasi mengenai naik turunnya harga Emas/Dinar yang saya sajikan, tidak bermaksud mengukur kinerja Dinar dengan US$ atau bahkan menspekulasikannya. Ini hanya informasi pasar yang kita ada di dalamnya, lebih baik kita tahu medannya - agar kita tahu bagaimana mensikapinya. Seluruh grafik-grafik yang saya sajikan disamping mulai dari satistik 1 bulan, 2 bulan, sampau 40 tahun adalah agar kita tahu medan tersebut - sehingga ketika kita masuk di dalamnya, kita menyadari betul apa yang sedang kita hadapi.

Lebih banyak umat ini memegang asset riil berupa emas, perak, hasil tambang, hasil bumi dan sumber daya alam lainnya akan lebih baik dibandingkan memegang 'janji' berupa uang kertas, surat utang dan sejenisnya. Kesempatan baik untuk menukar 'janji' tersebut ke asset riil adalah ketika 'janji' tersebut masih bernilai baik seperti sekarang.....cepat atau lambat nilai 'janji' tersebut akan terus berkurang atau bahkan hancur , lihat uraian saya tentang Deret Fibonacci.... Saat itu tentu 'janji-janji' tersebut tidak lagi bernilai untuk ditukar dengan asset riil. Wallahu A'lam bis showab.

Labels: , , , ,

Tuesday, January 15, 2008

Perdagangan Dibuka Kembali Pagi Ini...

Kemarin sore sempat kita himbau para agen dan member DinarClub untuk tidak mengadakan transaksi Dinar karena peningkatan harga emas Dunia yang sangat tajam.

Pagi ini ketika tulisan ini saya buat, pasar New York baru ditutup beberapa jam lalu dan alhamdullah tidak setinggi harga emas kemarin sore di Hongkong – meskipun menurut saya sendiri tetap sangat tinggi, tetapi menunjukkan trend menurun.

Jadi, tugas kita membantu masyarakat yang ingin peroleh Dinar-nya bisa jalan kembali dengan harga yang lebih wajar. Insyaallah nanti siang sebelum jam 13.00 kita tinjau kembali harga ini setelah memperhatikan dengan seksama apa yang akan terjadi di pasar Hongkong sampai tengah hari nanti.

Fluktuasi harga emas yang significant sepanjang hari kemarin antara lain dipicu oleh melemahnya Dollar dan antisipasi pasar akan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed.

Karena FOMC (Federal Open Market Committee) yaitu komponen penting dalam system Federal Reserve Amerika Serikat yang menentukan kebijakan moneter baru akan melaksanakan rapat dua hari-nya akhir bulan ini, maka sentimen negatif terhadap Dollar mi kemungkinan akan berlangsung panjang setidaknya sampai dua pekan kedepan.

Analisa saya bisa saja keliru, oleh karenanya saya juga menganjurkan kepada pembaca blog ini untuk membaca tulisan saya tentang Kehancuran Mata Uang Kertas.... Mengapa ini penting ? Karena meskipun dalam jangka panjang kita sangat yakin bahwa harga Dinar insyaallah akan terus naik, dalam jangka pendek mungkin-mungkin saja untuk turun dahulu beberapa lama sebelum balik lagi ke deret Fibonacci berikutnya.

Jadi janganlah naiknya harga Dinar ini terlalu menggembirakan kita atau sebaliknya terlalu kita pikirin ketika turun untuk beberapa lama. Setelah kita hijrah ke timbangan yang adil Dinar-Dirham...,kinerja timbangan yang tidak adil (uang kertas) tidak lagi menjadi ukuran keberhasilan atau kegagalan investasi kita.

Labels: , , , , ,

Saturday, January 12, 2008

Bukti Stabilitas Daya Beli Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) dari Al-Qur'an dan Al- Hadits

Mungkin Anda bertanya apakah ada uang atau unit of account di zaman ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi ?, jawabnya ada yaitu mata uang yang memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominalnya yaitu mata uang yang berupa emas dan perak atau dalam khasanah Islam disebut sebagai Dinar dan Dirham.

Mungkin pertanyaan Anda selanjutnya adalah apa benar emas dan perak atau Dinar dan Dirham tidak terpengaruh oleh inflasi atau daya belinya memang tetap sepanjang zaman ?, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan uraian yang agak panjang sebagi berikut :

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang tetap, sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan daya beli (terjadi inflasi).

Dalam Al-Qur'an yang agung, Allah berfirman :"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ”Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun". (Al-Kahf 019)

Di ayat tersebut diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka ini konversinya ke nilai Rupiah sekarang akan berkisar Rp 100,000. Dengan uang perak yang sama sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 33,900) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. Coba bandingkan dengan Rupiah, tahun 70-an akhir sebagai anak SMA yang kos saya bisa makan satu bulan dengan uang Rp 10,000,-. Apakah sekarang ada anak kos yang bisa makan satu bulan dengan uang hanya Rp 10,000 ? jawabannya tentu tidak. Jadi hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun saja uang kertas kita sudah amat sangat jauh perbedaan nilai atau kemampuan daya belinya.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, SAW. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat saya menulis artikel ini = Rp 1,171,725) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu saya SD (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 35 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !. Wallahu A'lam bi showab.

Labels: , , , ,