24 hours international gold price to understand gold Dinar price trend
Current Gold & Silver Price to Calculate Dinar and Dirham Price
Harga Dinar emas Sekarang - Current Gold Dinar Price ENGLISH VERSION

Dinar Islam adalah Emas 22 Karat seberat 4.25 gram.

Dirham Islam adalah Perak Murni seberat 2.975 gram.
Harga Dinar Sebulan Terakhir - Gold Dinar Price in the Last 30 days Trend harga Dinar 1 bulan terakhir.

Mengenal Dinar dan Dirham Islam

Peluang Investasi Dengan Dinar Anda
Harga Dinar Islam 2 Bulan Terakhir - The Last 60 days gold Dinar Price Qirad/Mudharabah Untuk Dinar Anda

Trend harga Dinar 2 bulan terakhir.

Dinar di Kota-Kota Besar Indonesia

Wednesday, January 23, 2008

Langkah Darurat Itu Terpaksa Diambil : Federal Reserve Amerika Serikat Memotong Suku Bunga Terbesar Sepanjang 24 Tahun Terakhir...

Diluar jadwal yang resmi yang mestinya baru seminggu lagi mereka mengadakan pertemuan rutin dua harinya, kemarin pagi waktu setempat atau tadi malam waktu Jakarta Federal Reserve Amerika Serikat memotong suku bunga kreditnya sebesar ¾ point yaitu turun dari 4.25% ke 3.5%. Penurunan ini merupakan yang terbesar sejak October 1984.

Penurunan yang sangat siginificant diluar jadwal ini tentu saja sempat membuat kepanikan yang luar biasa di bursa saham seluruh dunia yang sedang beroperasi, dampaknya terhadap Bursa Efek Indonesia kemungkinan besar baru akan terjadi pagi ini ketika pasar mulai beroperasi.

Langkah darurat ini nampaknya didorong oleh kekawatiran menyeluruh di pasar, bahwa resesi sedang di ambang pintu. Hal ini ditandai dengan bergugurannya bursa-bursa saham di seluruh dunia selama hari-hari sebelumnya.

Apakah terapi darurat ini efektif ? reaksi pasar nanti yang akan menjawabnya.

Untuk sementara terapi yang dilakukan oleh The Fed untuk melawan gejala resesi tersebut ternyata malah menimbulkan kesan yang sebaliknya di pasar. Pasar melihatnya justru situasi sudah begitu buruknya sehingga pemotongan suku bunga yang sangat besar tersebut tidak sabar lagi menunggu satu minggu lagi, yaitu waktu yang sudah dijadwalkan untuk pertemuan rutin mereka.

Dampaknya sampai penutupan tadi malam, pasar masih melemah bukan menguat seperti yang diharapkan. Di Amerika sendiri The Dow Jones Industrial Average (INDU) turun 1 % dan Nasdaq Composite (COMP) malah turun 2 %.

Terapi yang sesungguhnya dan dijamin keampuhannya tentu ada , yaitu menggunakan Dinar dan Dirham sebagai uang yang adil. Riba sudah barang tentu harus dihilangkan sama sekali, bukan hanya diturunkan.

Karena solusi ke Dinar/Emas dan Dirham/Perak ini adalah solusi yang fitrah, maka kebenarannya tidak hanya di claim oleh orang Islam saja. Di Amerika sendiri sudah ada sekelompok orang yang sadar akan hal ini. Bahkan GATA sudah secara berkelakar menyiapkan draft Pidato Presiden Amerika Serikat untuk Pembubaran Dollar dalam revolusi semalam, kemudian menggantikannya dengan Emas dan Perak.

Lantas apa pengaruhnya ini semua dengan harga emas hari ini ?. tentu saja setiap saat terjadi kekacauan ekonomi orang akan kembali ke emas dan perak – inilah fitrahnya. Orang akan mencari keadilan setiap saat merasa di dholimi. Sedangkan mata uang yang adil ya hanya Emas dan Perak itu tadi. Harga emas internasional tadi malam meningkat sangat tajam. Setelah pagi hari sempat menyentuh angka terendah US$ 855 / troy oz harga emas di New York ditutup pada angka US$ 889.80 troy oz.

Karena melonjaknya harga emas ini, harga Dinar di Gerai Dinar pagi ini melonjak Rp 37,000/ Dinar dari angka kemarin sore yang Rp 1,135,400 ke angka Rp 1,172,400. Insyaallah harga ini akan kita lihat kembali waktu Dhuhur nanti setelah pasar Sydney dan Hongkong menyelesaikan sessi perdagangan paginya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi, tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 57 :23)

Labels: , , , , , ,

Wednesday, January 16, 2008

....Agar Harta Itu Jangan Hanya Berputar Diantara Orang-orang Kaya...

Kali ini saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan mudah-mudahan juga berguna untuk para pembaca blog ini. Dengan gigihnya kita memperjuangkan mata uang yang Adil dari Emas dan Perak, kita juga jangan sampai terjebak dalam perilaku menimbun emas. Di tulisan saya sebelumnya, saya juga mengingatkan jangan sampai harta kita justru menjadi liability di akhirat....

Dalam Islam harta kita harus bergerak sehingga memberi manfaat bagi kita sendiri maupun orang lain yang juga mempunyai hak atas harta kita. Manfaat berputarnya harta ini saya coba jelaskan dengan persamaan pertukaran atau equation of exchange yang juga sudah saya singgung sebelumnya. Persamaan tersebut adalah M x V = P x Q dimana M = jumlah uang, V= Perputaran uang ; P = Tingkat Harga dan Q = jumlah barang dan jasa. Saya ingin menggunakan persamaan ini untuk menjelaskan sistem ekonomi yang berbasis Dinar dan Dirham dan dimana bunga bank dianggap haram (dan memang haram !).

Dalam ekonomi yang berbasis Dinar, M akan cenderung tetap karena tidak seperti uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dan berapa saja. Untuk mencetak Dinar diperlukan emas asli yang tentu jumlahnya tidak banyak. Diperkirakan hanya ada sekitar 150 ribu ton emas diseluruh dunia saat ini dan setiap tahunnya diperkirakan hanya bertambah sekitar 1.5% dari penambangan emas di seluruh dunia. Perak memang jumlahnya tentu lebih besar dari emas, namun juga terbatas.

Dengan scenario Allah yang telah membuat emas dan perak yang jumlahnya terbatas dan tersebar relatif merata di seluruh dunia – bahkan Amerika Serikat pun yang menganggap dirinya negara adikuasa hanya menguasai sekitar 8,000 ton emas saja atau 5.3 % dari emas dunia – maka seharusnya kemakmuran-pun merata.

Dengan tidak naiknya M, sementara Q atau output harus naik secara gradual sejalan dengan pertumbuhan penduduk dunia dan P relatif tetap (harga barang-banrang apabila dibeli dengan emas akan cenderung tetap dalam jangka panjang), maka harus ada yang bergerak mengimbangi gerakan Q atau output tersebut. Tinggal satu faktor yang belum bergerak yaitu V, disinilah rahasianya ekonomi Islam, mengapa Islam sangat mendorong perputaran uang yang cepat dari satu tangan ke tangan lainnya. Lebih jauh lagi perputaran ini harus luas tidak hanya berputar di golongan tertentu saja sesuai Ayat Al-Quran 59:7 “….agar harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya diantara kamu…”.

Segala kebutuhan manusia, termasuk jumlah emas di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan mata uang penduduknya, ternyata juga sudah diatur sedemikian rupa sesuai scenario Allah SWT sehingga akan selalu mencukupi. Diungkapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an QS 54: 49 “ Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Hal ini juga bisa dibuktikan dari satitistik jumlah penduduk dunia dibandingkan dengan jumlah emas yang tersedia sebagaimana ditunjukkan di grafik berikut :

Emas di permukaan bumi Sumber : Gold Sheet Mining Directory .Trend Jumlah Penduduk Dunia dan Kumulatif Jumlah Emas Yang Ada Di Permukaan Bumi.

Dari grafik tersebut kita bisa lihat bahwa ternyata emas memang tersedia cukup bagi umat manusia sepanjang zaman; hanya keserakahanlah yang membuatnya bisa tidak mencukupi.

Cepatnya perputaran uang dalam ekonomi Islam ini juga digambarkan dalam suatu Hadits dimana Rasulullah SAW suatu pagi selesai sholat subuh buru-buru pulang kemudian balik lagi ke Masjid untuk melanjutkan dzikir dan doa’nya. Ketika sahabat ada yang bertanya, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ia tadi buru-buru karena ingat ada uang tiga Dirham yang belum disedekahkan.

Pada hadits lain dari Abu Huraira : Rasulullah SAW bersabda , “ Jika saya memiliki emas sebesar gunung Uhud, saya tidak akan suka kecuali setelah tiga hari tidak tersisa satu Dinar pun yang ada pada ku apabila ada orang lain yang berhak menerimanya dariku, kecuali sejumlah yang akan aku pakai untuk membayar utangku”. (HR. Bukhari)

Dua contoh diatas menggambarkan seberapa cepat uang seyogyanya berputar diantara kaum muslimin. Apabila uang tersebut uang kecil putaran ini ukurannya satu hari, apabila uang besar atau kekayaan yang banyak maka putarannya tiga hari. Artinya uang bagi kaum muslimin hendaklah terus bergerak, baik itu untuk konsumsi, di sedekahkan/diinfakkan ataupun diinvestasikan untuk kegiatan produktif.

Jadi menggunakan Dinar sebagai alat investasi dan alat mempertahankan nilai, tidak boleh berarti menimbunnya. Batasan yang boleh dan yang tidak sudah saya jelaskan pada tulisan sebelumnya .

Dari sini kita tahu bahwa tugas berikutnya setelah Dinar dan Dirham ini berada ditangan masyarakat secara luas, kita harus mulai benar-benar menggunakannya dalam bermuamalah sehari-hari....kita pikirkan caranya...yang penting kita mulai saja yang kita tahu, nanti biarlah Allah akan memberi tahu apa yang kita belum tahu.
Wallahu A’lam bis Showab.

Labels: , , ,

Tuesday, January 15, 2008

Perdagangan Dibuka Kembali Pagi Ini...

Kemarin sore sempat kita himbau para agen dan member DinarClub untuk tidak mengadakan transaksi Dinar karena peningkatan harga emas Dunia yang sangat tajam.

Pagi ini ketika tulisan ini saya buat, pasar New York baru ditutup beberapa jam lalu dan alhamdullah tidak setinggi harga emas kemarin sore di Hongkong – meskipun menurut saya sendiri tetap sangat tinggi, tetapi menunjukkan trend menurun.

Jadi, tugas kita membantu masyarakat yang ingin peroleh Dinar-nya bisa jalan kembali dengan harga yang lebih wajar. Insyaallah nanti siang sebelum jam 13.00 kita tinjau kembali harga ini setelah memperhatikan dengan seksama apa yang akan terjadi di pasar Hongkong sampai tengah hari nanti.

Fluktuasi harga emas yang significant sepanjang hari kemarin antara lain dipicu oleh melemahnya Dollar dan antisipasi pasar akan kemungkinan penurunan suku bunga The Fed.

Karena FOMC (Federal Open Market Committee) yaitu komponen penting dalam system Federal Reserve Amerika Serikat yang menentukan kebijakan moneter baru akan melaksanakan rapat dua hari-nya akhir bulan ini, maka sentimen negatif terhadap Dollar mi kemungkinan akan berlangsung panjang setidaknya sampai dua pekan kedepan.

Analisa saya bisa saja keliru, oleh karenanya saya juga menganjurkan kepada pembaca blog ini untuk membaca tulisan saya tentang Kehancuran Mata Uang Kertas.... Mengapa ini penting ? Karena meskipun dalam jangka panjang kita sangat yakin bahwa harga Dinar insyaallah akan terus naik, dalam jangka pendek mungkin-mungkin saja untuk turun dahulu beberapa lama sebelum balik lagi ke deret Fibonacci berikutnya.

Jadi janganlah naiknya harga Dinar ini terlalu menggembirakan kita atau sebaliknya terlalu kita pikirin ketika turun untuk beberapa lama. Setelah kita hijrah ke timbangan yang adil Dinar-Dirham...,kinerja timbangan yang tidak adil (uang kertas) tidak lagi menjadi ukuran keberhasilan atau kegagalan investasi kita.

Labels: , , , , ,

Saturday, January 12, 2008

Bukti Stabilitas Daya Beli Dinar (Emas) dan Dirham (Perak) dari Al-Qur'an dan Al- Hadits

Mungkin Anda bertanya apakah ada uang atau unit of account di zaman ini yang tidak terpengaruh oleh inflasi ?, jawabnya ada yaitu mata uang yang memiliki nilai intrinsik yang sama dengan nilai nominalnya yaitu mata uang yang berupa emas dan perak atau dalam khasanah Islam disebut sebagai Dinar dan Dirham.

Mungkin pertanyaan Anda selanjutnya adalah apa benar emas dan perak atau Dinar dan Dirham tidak terpengaruh oleh inflasi atau daya belinya memang tetap sepanjang zaman ?, untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan uraian yang agak panjang sebagi berikut :

Beberapa bukti sejarah yang sangat bisa diandalkan karena diungkapkan dalam al-Qur’an dan Hadits dapat kita pakai untuk menguatkan teori bahwa harga emas (Dinar) dan perak (Dirham) yang tetap, sedangkan mata uang lain yang tidak memiliki nilai intrinsik terus mengalami penurunan daya beli (terjadi inflasi).

Dalam Al-Qur'an yang agung, Allah berfirman :"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: ”Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu tinggal (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun". (Al-Kahf 019)

Di ayat tersebut diatas diungkapkan bahwa mereka meminta salah satu rekannya untuk membeli makanan di kota dengan uang peraknya. Tidak dijelaskan jumlahnya, tetapi yang jelas uang perak. Kalau kita asumsikan para pemuda tersebut membawa 2-3 keping uang perak saja, maka ini konversinya ke nilai Rupiah sekarang akan berkisar Rp 100,000. Dengan uang perak yang sama sekarang (1 Dirham sekarang sekitar Rp 33,900) kita dapat membeli makanan untuk beberapa orang. Jadi setelah lebih kurang 18 abad, daya beli uang perak relatif sama. Coba bandingkan dengan Rupiah, tahun 70-an akhir sebagai anak SMA yang kos saya bisa makan satu bulan dengan uang Rp 10,000,-. Apakah sekarang ada anak kos yang bisa makan satu bulan dengan uang hanya Rp 10,000 ? jawabannya tentu tidak. Jadi hanya dalam tempo kurang dari 30 tahun saja uang kertas kita sudah amat sangat jauh perbedaan nilai atau kemampuan daya belinya.

Mengenai daya beli uang emas Dinar dapat kita lihat dari Hadits berikut :

”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)

Dari hadits tersebut kita bisa tahu bahwa harga pasaran kambing yang wajar di zaman Rasulullah, SAW adalah satu Dinar. Kesimpulan ini diambil dari fakta bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang sangat adil, tentu beliau tidak akan menyuruh ‘Urwah membeli kambing dengan uang yang kurang atau berlebihan. Fakta kedua adalah ketika ‘Urwah menjual salah satu kambing yang dibelinya, ia pun menjual dengan harga satu Dinar. Memang sebelumnya ‘Urwah berhasil membeli dua kambing dengan harga satu Dinar, ini karena kepandaian beliau berdagang sehingga ia dalam hadits tersebut didoakan secara khusus oleh Rasulullah, SAW. Diriwayat lain ada yang mengungkapkan harga kambing sampai 2 Dinar, hal ini mungkin-mungkin saja karena di pasar kambing manapun selalu ada kambing yang kecil, sedang dan besar. Nah kalau kita anggap harga kambing yang sedang adalah satu Dinar, yang kecil setengah Dinar dan yang besar dua Dinar pada zaman Rasulullah SAW maka sekarangpun dengan ½ sampai 2 Dinar (1 Dinar pada saat saya menulis artikel ini = Rp 1,171,725) kita bisa membeli kambing dimanapun di seluruh dunia – artinya setelah lebih dari 14 abad daya beli Dinar tetap. Coba bandingkan dengan Rupiah kita. Pada waktu saya SD (awal 70-an) bapak saya membelikan saya kambing untuk digembala sepulang sekolah, harga kambing saat itu berkisar Rp 8,000. Nah sekarang setelah 35 tahun apakah kita bisa membeli kambing yang terkecil sekalipunpun dengan Rp 8,000 ? tentu tidak. Bahkan ayam-pun tidak bisa dibeli dengan harga Rp 8,000 !. Wallahu A'lam bi showab.

Labels: , , , ,

Tuesday, January 8, 2008

Prinsip 1/3 Dalam Pengelolaan Harta

Ada sebuah nasihat yang sangat Indah kepada diri saya sendiri yang juga insyaallah bermanfaat bagi pembaca. Nasihat ini saya ambilkan dari kitab Riyadus –Shalihin yang ditulis oleh orang sholeh zaman dahulu yang terkenal keikhlasannya. Saking ikhlasnya Imam Nawawi, konon kitab asli dari Riyadus Shalihin tersebut tidak bisa dibakar oleh api.

Nasihat ini sendiri berasal dari hadits Rasulullah SAW yang panjang sebagai berikut : Dari Abu Hurairah RA, dari nabi SAW, beliau bersabda, “ Pada suatu hari seorang laki-laki berjalan-jalan di tanah lapang, lantas mendengar suara dari awan :” Hujanilah kebun Fulan.” (suara tersebut bukan dari suara jin atau manusia, tapi dari sebagian malaikat). Lantas awan itu berjalan di ufuk langit, lantas menuangkan airnya di tanah yang berbatu hitam. Tiba-tiba parit itu penuh dengan air. Laki-laki itu meneliti air (dia ikuti ke mana air itu berjalan). Lantas dia melihat laki-laki yang sedang berdiri di kebunnya. Dia memindahkan air dengan sekopnya. Laki-laki (yang berjalan tadi) bertanya kepada pemilik kebun : “wahai Abdullah (hamba Allah), siapakah namamu ?”, pemilik kebun menjawab: “Fulan- yaitu nama yang dia dengar di awan tadi”. Pemilik kebun bertanya: “Wahai hambah Allah, mengapa engkau bertanya tentang namaku ?”. Dia menjawab, “ Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang inilah airnya. Suara itu menyatakan : Siramlah kebun Fulan – namamu-. Apa yang engkau lakukan terhadap kebun ini ?”. Pemilik kebun menjawab :”Bila kemu berkata demikian, sesungguhnya aku menggunakan hasilnya untuk bersedekah sepertiganya. Aku dan keluargaku memakan daripadanya sepertiganya, dan yang sepertiganya kukembalikan ke sini (sebagai modal penanamannya)”. (HR. Muslim).

Bayangkan, bila Allah mengirimkan awan khusus untuk menyirami kebun kita. Di kala orang lain kekeringan, lahan kita tetap subur. Di kala usaha lain pada bangkrut usaha kita tetap maju, dikala krisis moneter menghantam negeri ini – kita tetap survive. Dan ketika usaha kita berjalan baik sementara saudara-sauadara kita kesulitan. sepertiga hasil usaha kita untuk mereka – alangkah indahnya sedeqah ini.

Bagaimana kita bisa memperoleh pertolongan Allah dengan awan khusus tersebut ?, kuncinya ya yang di hadits itu : kita bersama keluarga kita hanya mengkonsumsi sepertiga dari hasil kerja kita. Sepertiganya lagi kita investasikan kembali, dan yang sepertiga kita sedeqahkan ke sekeliling kita yang membutuhkannya.

Karena janji Allah dan rasulNya pasti benar, maka kalau tiga hal tersebut kita lakukan – Insyaallah pastilah awan khusus tersebut mendatangi kita. Namun jangan dibayangkan bahwa awan khusus tersebut harus benar-benar berupa awan yang mendatangi kita. Bisa saja awan khusus tersebut berupa teman –teman kita yang jujur yang memudahkan kita dalam berusaha, atasan kita yang adil yang memperjuangkan hak-hak kita, atau karyawan kita yang hati-hati yang menjaga asset usaha kita, dan berbagai bentuk ‘awan khusus’ lainnya. Wallahu A’lam bis showab.

Labels: , , ,

Monday, January 7, 2008

Metode Islami Dalam Perencanaan Keuangan

Untuk mengawali serangkaian tulisan saya yang akan menjadi tema sentral di Blog ini, pagi ini saya ingin memperkenalkan Metode atau cara Islami yang diajarkan Allah dan RasulNya tentang harta dan konsep membangun ketahanan ekonomi umat.

Dalam sebuah hadits, Sa’ad bin Abi Waqqash menyampaikan, “ Pada saat Haji Wada’, Rasulullah SAW mengunjungiku yang lagi sakit keras. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang memiliki harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisi hartaku, kecuali anak perempuanku satu-satunya. Jika demikian, bolehkah aku menyedekahkan dua per tiga (2/3) dari hartaku ?” Nabi SAW menjawab, “Tidak Boleh”. Aku bertanya lagi, “bagaimana kalau aku sedekahkan separuh (1/2) dari hartaku, ya Rasululah ?”, Nabi SAW, menjawab, “Juga tidak boleh”. Aku kembali bertanya, “Kalau sepertiga (1/3) ?” , Mendengar itu Nabi SAW bersabda, “kalau sepertiga (1/3) boleh, dan itupun sudah banyak. Sebab, seandainya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan papa, meminta-minta kepada manusia…”(HR.Bukhari).

Pelajaran yang sangat berharga dari hadits tersebut diatas adalah, seorang muslim haruslah menjadikan akhirat sebagai orientasi hidupnya sehingga amalan-amalan yang bisa membawanya kepada kehidupan yang baik di akhirat menjadi prioritas yang diusahakan secara maksimal. Sa’ad bin Abi Waqash awalnya ingin menyedekahkan dua pertiga (2/3) dari hartanya yang banyak tentu karena ia berharap kebaikan akhirat ini.

Namun demikian, Rasulullah SAW yang setiap kata dan perbuatannya mendapatkan bimbingan langsung dari Allah SWT (“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”, Al-Qur’an 53:4) , tentu dapat melihat aspek yang lebih luas bagi kehidupan umatnya. Dalam upaya mengejar kebaikan kehidupan akhirat, kita juga tidak harus meninggalkan kebaikan kehidupan di dunia bagi diri kita sendiri maupun anak-anak keturunan kita.

Dalam konteks mencari kebaikan kehidupan di dunia dan kebaikan di akhirat yang seimbang inilah seorang muslim harus memiliki rencana yang baik dalam hal apapun, termasuk dalam hal pengelolaan finansial bagi pribadi pribadi maupun keluarganya.

Bagi umat Islam, perencanaan finansial ini juga bagian dari ajaran agama ini yang antara lain langsung diberi contoh yang Indah langsung dari Al-Qur’an dalam surat Yusuf 43-48 berikut :


Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu, jika kamu dapat menakwilkan mimpi.”

Mereka menjawab, “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menakwilkan mimpi itu.”

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya, “Aku akan memberitakan kepadamu tentang orang yang pandai mentakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”

(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru), “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami(takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”

Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. (Yusuf 12:43-48).


Implementasinya dalam bentuk konsep ekonomi di Zaman modern ini ada di tulisan saya yang lain seperti yang sudah saya mulai di tulisan tentang Bangun Ketahanan Ekonomi... dan insyaallah kalau diberi usia panjang akan ada tulisan berikutnya....

Labels: , , , , ,