|
Pisang : Tanaman Surga Untuk Memakmurkan Negeri... |
|
|
|
|
Oleh Muhaimin Iqbal
|
|
Rabu, 25 August 2010 17:22 |
|
Pasti bukan suatu kebetulan kalau Allah mengabarkan ke kita bahwa para penghuni surga dari golongan kanan – yaitu golongan yang dimuliakan oleh Allah, kelak akan menikmati pahalanya “...berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas...”(QS Al-Waqi’ah : 28-30). Allah rupanya menginginkan kita menikmati sebagian kecil dari kenikmatan surgawi tersebut selagi kita masih di dunia – dengan mudahnya tanaman pisang ini tumbuh di bumi pertiwi. |
|
Di-update pada Rabu, 25 August 2010 17:51 |
|
Lanjutnya...
|
|
|
Ketika Allah Mengirimkan Malaikatnya Untuk Menyelesaikan Urusan Kita.. |
|
|
|
|
Oleh Muhaimin Iqbal
|
|
Kamis, 24 September 2009 15:27 |
|
 (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS 8:9) Sebagai orang beriman kita semua yakin bahwa hidup mati kita, rizki kita, jodoh kita dan segala sesuatu yang terjadi ataupun yang tidak terjadi terhadap kita semua sudah tercatat disisinya sebelum Allah menciptakannya (QS 57:72); namun jarang kita merasakan kehadiranNya atau para malaikatNya ketika hal ini (suatu peristiwa) terjadi. Dalam sejarah peperangan kaum muslimin dari sejak zaman nabi sampai yang terakhir terjadi di Gaza beberapa bulan lalu; banyak kita baca bahwa para mujahidin tersebut begitu nyatanya merasakan kehadiran Allah dan para malaikatNya membantu mereka memenangkan peperangan. Hal ini pun sebagian diceritakan langsung d Al-Qur'an seperti dalam surat Al Anfal : 9 tersebut diatas. Selama krisis Gaza banyak pula diceritakan betapa para mujahidin Palestina merasakan langsung kehadiran Allah dan para malaikatNya membantu mereka memenangkan peperangan; diantaranya adalah cerita berlariannya tentara Yahudi karena mendengar gemuruh pasukan berkuda (padahal zaman sekarang tidak ada pasukan berkuda); ditundukkannya anjing-anjing pelacak Yahudi hanya dengan 'diajak omong' oleh pasukan Islam yang lagi menjulurkan kepalanya di permukaan tanah (badannya bersembunyi dalam tanah); lolosnya pengiriman senjata ke garis depan peperangan karena penjaga perbatasan diajak ngomong oleh seorang 'nenek' dlsb-dlsb. |
|
Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 06:59 |
|
Lanjutnya...
|
|
Gerai Dinar Hadir Di Jepang : Kemudahan Bagi Para Mahasiswa, Trainee dan Researcher |
|
|
|
|
Oleh Muhaimin Iqbal
|
|
Selasa, 17 November 2009 07:47 |
 Alhamdulillah tepat satu bulan setelah kami perkenalkan Gerai Dinar Taiwan, hari ini kami perkenalkan perwakilan kami di Jepang – tepatnya di Tsukuba City, sekitar 50 km timur laut Tokyo atau sekitar 40 km barat laut Narita Airport – lapangan terbang internasional utama negeri matahari terbit itu. Berbeda dengan pasar kami di Taiwan yang mayoritasnya adalah kaum pekerja; di Jepang pasar utama Gerai Dinar adalah para mahasiswa, peneliti dan trainee di perusahaan-perusahaan Jepang. Mahasiswa-pun sangat mampu menabung dalam Dinar di Jepang karena beasiswa yang rata-rata diatas 7 Dinar/bulan lebih dari cukup untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari. Yang bekerja sebagai trainee maupun bekerja penuh tentu lebih mampu lagi karena pendapatan mereka bisa dua sampai tiga kali beasiswa para mahasiswa. Kehadiran Gerai Dinar dengan fasilitas M-Dinar-nya di Jepang menurut wakil kami di sana Bpk Sidiq Hidayat, sungguh banyak sekali manfaatnya. Pengiriman uang dari dan ke tanah air tidak lagi memerlukan biaya dan berlangsung sangat cepat, karena hanya berupa pemindahan account secara elektronis melalui fasilitas M-Dinar – kemudian dari sini Dinar dapat ditransfer ke rekening bank dalam Rupiah (bila di Indonesia) atau Yen (bila di Jepang). Dinar juga memberi solusi yang unggul bagi saudara-saudara kita yang lagi di negeri orang ini dalam kaitan untuk mengamankan hasil jerih payahnya. Siapapun yang lagi tinggal di negeri orang, tentu selalu merindukan untuk suatu saat pulang. Pada saat pulang mereka ingin memiliki tabungan yang cukup untuk memulai hidup baru di tanah air. Suasana psikologis hidup di negeri orang ini mendorong mereka untuk memperbesar porsi tabungannya – berbeda dengan kita-kita yang berada di comfort zone – hidup di negeri sendiri, umumnya menyisakan sedikit saja dari penghasilan kita untuk ditabung. |
|
Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 06:48 |
|
Lanjutnya...
|
|
|
Uang Kertas Dan Tukang Cukur… |
|
|
|
|
Oleh Muhaimin Iqbal
|
|
Kamis, 15 October 2009 07:31 |
 Dahulu di masa saya kuliah awal tahun 80-an, hanya ada satu televisi di negeri ini yaitu TVRI. Karena waktu itu TVRI dilarang beriklan, acaranya lumayan bermutu – banyak drama-drama bagus yang nampaknya di seleksi dengan baik oleh TVRI. Sekarang stasiun TV sangat banyak, tetapi saya kesulitan untuk mencari acara yang bagus – jadi saya sangat jarang nonton televisi. Diantara acara TV tahun 80-an yang menampilkan acara dagelan malah membekas di kepala saya, karena acara tersebut memberi saya pelajaran tentang persaingan pasar yang tidak sehat – yang kita hadapi sehari-hari sampai kini. Di acara tersebut ditampilkan dua orang tukang cukur yang berdampingan operasinya satu sama lain – katakanlah tukang cukur A dan B. Awalnya untuk menggaet pelanggannya, tukang cukur A menawarkan tarif yang lebih murah dibandingkan B. Kemudian B tidak terima perlakuan ini, ikut-ikutan menurunkan tarif sehingga lebih murah dari tarif A. Begitu seterusnya sampai keduanya menerapkan tarif Nol untuk pelanggannya. Persaingan tidak berhenti disini, karena tukang cukur A bukan hanya menawarkan tarif Nol – dia menawarkan service tambahan ke kliennya berupa dipijit gratis. B-pun tidak mau ketinggalan, dia memberikan cukuran dengan tarif Nol, ditambah pijit gratis dan diantar pulang juga gratis. Buntutnya apa ?, dua tukag cukur ini pasti bangkrutnya gara-gara persaingan yang tidak sehat. |
|
Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 06:55 |
|
Lanjutnya...
|
|
Solusi Pembiayaan Yang Indah : Al-Ijarah Al-Muntahiyah Bi Al-Tamlik (IMBT) Berbasis Dinar |
|
|
|
|
Oleh Muhaimin Iqbal
|
|
Kamis, 11 February 2010 08:35 |
 Dalam kapasitas sebagai anggota Dewan Syariah Nasional (DSN), saya sering ikut me-review fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut - baik ketika sebuah fatwa dipersiapkan maupun penerapan di lapangan dari fatwa-fatwa yang sudah ada sebelumnya. Ada salah satu fatwa yang dikeluarkan oleh DSN tahun 2002 lalu yang sesungguhnya sangat menarik dan indah bila diterapkan di dunia pembiayaan. Fatwa ini adalah tentang Al-Ijarah Al-Muntahiyah Bi Al-Tamlik (IMBT) yang terjemahan bebas-nya kurang lebih Sewa Untuk Memiliki (SUM) atau dalam bahasa Inggrisnya Rent To Own (RTO). Bayangkan bila untuk keperluan kerja produktif Anda membutuhkan sekali mobil misalnya; untuk membeli tunai Anda belum memiliki dana yang cukup. Bahkan untuk membeli secara angsuran-pun tabungan Anda belum mencukupi untuk membayar uang muka. Tetapi Anda juga tidak mau untuk menyewa ; karena menyewa ini seperti uang hilang bagi Anda – berapa lama-pun Anda menyewa – Anda tidak bisa memiliki kendaraan yang Anda sewa tersebut. Lantas apa solusinya ?, IMBT-lah salah satu jawabannya untuk ini. Anda menyewa secara bulanan seperti menyewa kendaraan pada umumnya, tetapi pada akhir periode sewa yang disepakati – pihak yang menyewakan (Misalnya Koperasi BMT Daarul Muttaqiin) memindahkan kepemilikan kendaraan tersebut kepada Anda. |
|
Di-update pada Kamis, 27 May 2010 23:38 |
|
Lanjutnya...
|
|
|
Tulisan-tulisan sebelumnya...
|
|
|
Page 9 of 75 |