Gerai Dinar


 
Dinar & Dirham
09 - Sep - 2010 Jam 12 : 30  
Item Jual (Rp) Beli (Rp)
Dinar 1,569,570 1,506,787
Dirham 37,000 35,520
 
Emas
Rp/Gr 373,004 358,084
US$/Oz 1,256.80
 
Valuta
USDX 82.63
IDRX 64.09
Rp/US$ 9,000

Selamat Iedul Fitri 1431 H, mohon maaf lahir dan batin.

Taqabballahu Minna wa Minkum, Taqbbal ya Kariim...

 

MOHON MAAF KAMI LIBUR SAMPAI 15 SEPTEMBER 2010, 

Layanan delivery fisik baru mulai tanggal 20 September 2010. 

Informasi harga Dinar insyaAllah akan terus ter-up-date secara otomatis. 

 

 


               

Teras
Gerai Dinar
Extinction Level Event : Teori Kepunahan Bank-Bank Besar Amerika… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Minggu, 10 May 2009 08:56

Extinction Level Event

Extinction Level Event (ELE) adalah istilah untuk kejadian atau musibah yang sangat besar yang memusnahkan mayoritas penduduk bumi. Contoh fiksinya ada di cuplikan film Deep Impact yang Anda dapat saksikan dengan klik gambar disamping.

 

Yang menarik adalah istilah Extinction ini mulai digunakan untuk menggambarkan kondisi bank-bank raksasa Amerika saat ini. Yang menggunakan istilah ini pun tidak tanggung-tanggung, televisi bisnis paling kesohor di dunia yaitu CNBC dalam head line berita dengan judul “Big US Banks May Be Headed For Extinction—And Soon” Sabtu kemarin.

 

Banyak teori tentang kepunahan bank-bank besar Amerika ini; diantaranya adalah mereka menjadi terlalu besar sehingga pihak otoritas-pun tidak bisa mengaturnya. Karena sangat besar tetapi tidak bisa diatur, maka ketika terjadi malpraktek dampaknya akan menyeret kehancuran bank-bank maupun berbagai institusi keuangan  lainnya. Keterpaksaan pemerintah untuk mem-bailout beberapa institusi keuangan raksasa Amerika baru-baru ini adalah bentuk nyata dari situasi ketidak berdayaan pemerintah menghadapi institusi-institusi raksasa tersebut.

Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 07:30
Lanjutnya...
 
Memahami Hasil Investasi Dengan Dinar Benchmarking Radar … PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Minggu, 09 August 2009 10:39
Dinar Benchmarking Radar

Dalam tulisan  tanggal 28 Juni 2009 saya mengutip salah satu hasil konferensi pers PBB tiga tahun lalu yang mengungkapkan bahwa 50 % asset kemakmuran dunia dikuasai oleh 2% penduduk dunia, dan sebaliknya 50% penduduk dunia hanya menguasai 1 % asset kemakmuran dunia.

 

Proses pemiskinan global bagi sebagian besar penduduk bumi ini tentu saja tidak terjadi secara ujug-ujug (tiba-tiba), tetapi sebuah proses panjang yang antara lain adalah melalui penurunan nilai uang kertas (inflasi) yang berdampak langsung pada penurunan daya beli masyarakat secara umum.

 

Ambil contoh kita yang hidup di Indonesia, dalam sembilan tahun terakhir sejak 2001 – data yang saya kumpulkan dari Biro Pusat Statistik menujukkan rata-rata inflasi kita mencapai angka 8.45%. Tertinggi tahun 2005 (17.11%), terendah insyaallah tahun ini karena sampai Juli inflasi kita baru mencapai 0.66%.

 

Dengan angka inflasi rata-rata 8.45%, bila penghasilan kita sembilan tahun terakhir tumbuh lebih rendah dari angka tersebut berarti daya beli kita menurun atau dalam bahasa lain kita tambah miskin. Demikian pula bila tabungan atau deposito kita memberikan hasil rata-rata kurang dari angka 8.45%, berarti sesungguhnya daya beli riil dari dana yang kita investasikan menyusut.

 

Penyusutan asset atau penurunan daya beli ini tidak hanya dialami oleh masyarakat perorangan, tetapi juga dialami oleh perusahaan-perusahaan atau investor-investor yang berkinerja biasa-biasa saja. Misalkan Anda menjalankan perusahan  publik dengan rata-rata return 15% per tahun dalam 9 tahun terakhir, Anda mungkin sudah bangga dengan kinerja ini karena berhasil melawan inflasi. Tetapi apakah demikian menurut pemegang saham Anda ?, dengan asumsi  Dividend Ratio  50% saja pemegang saham hanya memperoleh rata-rata 7.5% hasil – atau masih lebih rendah dari inflasi rata-rata.

 

Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 07:05
Lanjutnya...
 
Dagang Sapi : Yang Berkah & Yang Menjadi Musibah… PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Kamis, 26 March 2009 14:43
Sapi 1

Bahan tulisan kali ini diilhami perjalanan ke pasar sapi di Jonggol yang buka setiap hari Kamis.  Sapi adalah salah satu ‘barang dagangan’ yang kami lihat bisa menjadi potensi untuk memakmurkan masyarakat tidak mampu di pingggiran kota dimana lahan dan bahan makanannya masih relatif tersedia.

 

Sapi juga kami pilih karena hitungannya sederhana dan mudah kontrolnya. Sebagai contoh sapi di gambar samping pada pagi ini di pasar Jonggol dihargai antara Rp 6 juta – Rp 7 juta ; Delapan bulan lagi ketika sapi tersebut dijual di pasar hewan qurban Jabodetabek harganya akan berada di kisaran Rp 12 juta – Rp 15 juta; Ongkos pemeliharaan, pengangkutan sampai biaya penjualan diperkirakan Rp 3 juta – Rp 4 juta; masih menyisakan hasil Rp 3 juta – Rp 4 juta atau hasil investasi bersih 50% - 57  % dalam 8 bulan.  Masih jauh lebih baik dari deposito bukan ?.

 

Contoh lain adalah sapi yang ada di foto dibawah. Sapi tersebut dibeli di pasar Jonggol pula tiga bulan lalu oleh Pak Haji kenalan saya seharga Rp 14 juta.  Delapan bulan lagi ketika sapi tersebut dijual untuk Qurban – Pak Haji yang sudah puluhan tahun menangani sapi ini - mentargetkan laku Rp 36 juta ,  karena saat itu diperkirakan bobotnya akan mencapai lebih dari 1 ton. Keuntungan kotor 157 % setelah dikurangi biaya pakan dlsb 57% - masih menyisakan keuntungan bersih 100%. Tidak heran pak haji ini memiliki kemakmuran diatas rata-rata, karena dikandangnya di bilangan Jakarta Selatan ada 40 ekor sapi !.

 

Namun keuntungan yang menggiurkan dan insyaallah berkah ini, tidak serta merta menarik minat masyarakat untuk mengikutinya. Mungkin karena bisnis sapi ini dipandang sebagai bisnis yang kotor dalam arti harfiah – ya pasti kotor lha wong melibatkan kotoran sapi setiap hari! . Meskipun kotor secara fisik, tetapi rezeki yang dihasilkan dari dagang sapi sungguhan yang seperti ini yang sesungguhnya pantas dicari.

 

Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 07:38
Lanjutnya...
 
Revolusi Produktifitas : Crowd Sourcing, Mass Collaboration…dan Pemasaran Jama'i ! PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Minggu, 25 October 2009 08:54
Sop Buntut

Dalam sejarah peradaban manusia, konsep pemenuhan kebutuhan hidup selain mengalami perubahan yang bertahap atau evolusi – perubahan juga bisa terjadi secara singkat atau revolusi.

 

Contoh perubahan secara evolusi terjadi di masyarakat manusia primitif yang hidup secara nomaden dengan berburu dan mengambil makanan dari pohon-pohon liar yang ada di hutan. Awalnya mereka berburu untuk sekedar memperoleh makanan untuk mereka hari itu, setelah makanan habis – mereka berburu kembali keesokan harinya, begitu seterusnya – sehingga waktu masyarakat primitif habis hanya untuk mencari makan, menikmatinya, kemudian tidur, esuknya mencari makan dengan berburu kembali dst.

 

Dalam perjalanan ribuan tahun, perlahan-lahan diantara mereka mulai ada ide untuk bercocok tanam; kemudian ide untuk membuat roti, kemudian ide brilian berikutnya adalah menukar sebagian roti yang diproduksi oleh sekelompok manusia yang bercocok tanam dengan daging buruan yang diperoleh oleh kelompok lain yang berburu – inilah yang kemudian diikuti oleh manusia-manusia di jaman berikutnya – sampai jaman modern ini  yang kemudian kita kenal dengan perdagangan.

 

Dengan perdagangan, hidup kita bisa lebih efisien dan produktif karena tidak semua yang kita butuhkan harus kita buat atau cari sendiri. Kita bisa fokus pada satu keahlian yang sangat kita kuasai, berbuat maksimal dengan keahlian tersebut – dan menukar produk barang atau jasa yang kita hasilkan tersebut dengan barang atau jasa lain yang kita butuhkan tetapi tidak kita hasilkan sendiri.

 

Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 06:53
Lanjutnya...
 
Flu Babi dan Mata Uang…. PDF Print E-mail
Oleh Muhaimin Iqbal   
Selasa, 28 April 2009 11:23

Flu BabiBelum juga krisis finansial berakhir, dunia sudah dikejutkan dengan potensi krisis berikutnya yaitu krisis Flu Babi. Menurut estimasi Bank Dunia yang disiarkan CNBC kemarin malam, bila krisis ini menjadi pandemic global – maka dampak kerugian ekonomis yang ditimbulkannya bisa mencapai US$ 3 trilyun atau dapat memotong GDP negara-negara di dunia sampai 5 %. 

Pada saat Flu Burung yang hanya merebak di Asia Tenggara saja pada tahun 2003, negara-negara di kawasan ini mengalami penurunan GDP rata-rata 0.6 %.

Pada awal krisis Flu Babi ini yang sudah terkena dampaknya antara lain adalah :

 

 ·          Enam negara sudah melarang impor daging apa saja dari sebagian negara bagian Amerika Serikat.

·          Hotel dan Airlines tiba-tiba mengalami penurunan penjualan yang sangat tajam karena orang menjadi takut bepergian. Penurunan penjualan ini langsung di response juga dengan penurunan saham-saham mereka di bursa saham.

·          Di Mexico City pemerintah setempat  sudah menutup seluruh sekolah sampai tanggal 6 Mei Mendatang; sebagian aktifitas bisnis juga sudah mulai ditutup

·         Sejauh ini hanya perusahaan obat seperti Roche dan GlaxoSmithKline yang masing-masing memproduksi Tamiflu dan Relenza – dua obat yang dipercayai masih efektif melawan Flu Babi – yang melonjak penjualannya dan otomatis harga  sahamnya. 

Bila krisis berlanjut maka akan lebih luas lagi aktifitas ekonomi dan sosial yang terganggu, dan bila ekonomi terganggu maka mata uang juga akan terganggu. Negara-negara yang dianggap aman dari Flu Babi ini akan semakin kuat mata uangnya dan sebaliknya negara-negara yang dianggap tidak aman atau tidak mampu mengatasi Flu Babi akan semakin lemah mata uangnya. 

 

Di-update pada Jum'at, 28 May 2010 07:32
Lanjutnya...
 
« AwalSebelumnya51525354555657585960BerikutnyaAkhir »

Page 52 of 75

feed-image Feed Entries


Powered by GeraiDinar.Com ©2010. All rights reserved.