GeraiDinar.com

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Jumat, 22 September 2017

Harga Dinar per 6 jam

Harga Dinar

Harga Dinar
  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,182,054 Beli Rp. 2,094,772

  • Harga Dinar Emas per Sat, 23 Sep 2017 00:30:00 +0700 Jual Rp. 2,176,172 Beli Rp. 2,089,125

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 18:30:00 +0700 Jual Rp. 2,180,610 Beli Rp. 2,093,386

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 12:30:00 +0700 Jual Rp. 2,188,594 Beli Rp. 2,101,050

  • Harga Dinar Emas per Fri, 22 Sep 2017 06:30:00 +0700 Jual Rp. 2,169,011 Beli Rp. 2,082,251

Peluang Usaha : Ayam Pop, 100% Ayam – Bukan Tepung...

Sebaliknya masakan dari ayam yang seolah mewabah di mall –mall, food court sampai kaki lima adalah ayam goreng yang dahulu tidak saya kenal semasa kecil, ayam goreng-pun kini di balut oleh tepung yang kadang begitu besar (kelihatannya) – menyembunyikan ayamnya sendiri yang kecil. Dari sisi rasa juga demikian, rasa tepung goreng dan bumbu-bumbu yang dipakai begitu dominannya – sehingga menyembunyikan kelezatan daging ayamnya sendiri.  Bahkan rasa daging ayamnya menjadi seperti hambar bila tidak dimakan bersama tepung pembungkusnya.

 

Inilah dampak dari industrialisasi makanan berbasis ayam yang dipengaruhi oleh budaya asing yang begitu kuatnya merasuk ke negeri ini sampai ke menu makanan kita. Dengan kapital yang begitu perkasa, masakan-masakan yang tadinya asing dapat masuk menguasai pangsa yang sangat besar dari 235 juta penduduk negeri ini. Hal ini juga dipermudah dengan media – yang tentu saja memberi kesempatan seluasnya bagi yang kuat bayar untuk memasang iklan.

 

Lantas dimana masakan seperti ingkung tersebut kini berada ?, ya ndak ada lagi... lha wong sedikit yang bisa masak tidak mampu menjadikannya sebuah bisnis yang berkelanjutan apalagi menjadikannya sebuah industri. Lagipula  anak-anak muda sekarang-pun sudah tidak ada yang mengenal lagi apa itu ingkung. 

 

Yang saya kawatirkan adalah bukan hanya ingkung yang musnah dalam proses alih generasi ini, tetapi juga berbagai masakan negeri ini yang kaya cita rasa sperti gule, gudeg, aneka soto, rawon, tongseng, sate dan lain sebagainya bisa punah dalam satu dua generasi gedepan. Mengapa demikian ?, sederhana alasannya lha wong aneka masakan nusantara yang penuh cita rasa tersebut tidak terbangun industrinya, tidak didukung capital market yang besar dalam pengembangannya, dan nyaris tanpa dukungan industri periklanan untuk mempromosikannya.

 

Sebaliknya makanan-makanan yang dahulu asing seperti French fries, fried chicken, hod dog, burger, steak dlsb. dlsb. terbangun industrinya dengan dukungan capital market yang besar dan anggaran iklan yang juga luar biasa besar. Bila anak saya saja kini tidak mengenal ingkung, saya tidak akan kaget bila cucu saya nanti tidak mengenal gudeg, soto dlsb.

 

Tetapi sesungguhnya peluang sebaliknya bisa juga terjadi, bila kita menyadarinya kini – bahwa selama beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi proses industrialisasi makanan asing yang seperti ‘menjajah’ keaneka ragaman cita rasa masakan asli negeri ini. Kemudian kita dengan semangat yang sungguh-sungguh menggali kembali kekayaan khasanah masakan negeri ini yang luar biasa banyaknya, mengembangkan business modelnya, menyusun dukungan kapitalnya, promosinya dlsb. untuk kemudian bangkit sebagai kekuatan baru dalam industri makanan modern kedepan.

 

Untuk contoh rasa, sayang saya tidak bisa menemukan orang yang bisa masak ingkung di Jakarta – jadi kalau saya beri contoh ingkung – pembaca akan sulit membayangkannya. Tetapi ada masakan dari ayam yang rasanya mirip ingkung karena sama-sama rasa ayam banget, dia juga tidak dimasak dengan tepung apapun, tidak dimasak dengan penyedap masakan – murni bumbu-bumbu nabati – dan rasanya tidak kalah dengan aneka ayam goreng yang dimasak dengan penyedap masakan. Masakan dari ayam ini biasa ada di rumah-makan-rumah makan padang yaitu yang disebut Ayam Pop.

 

Dari sekian banyak masakan dari ayam di jaman ini, menurut saya Ayam Pop inilah yang rasanya bener-bener ayam. Maka bila kita tangani dengan baik, kita bangun proses industrialisasi, proses memasaknya dengan standar keamanan pangan tertinggi – bisa jadi Ayam Pop ini akan benar-benar menjadi masakan dari Ayam yang akan nge-Pop kedepan baik di nusantara ini maupun di manca negara.

 

Peluang untuk ini ada, karena sekarang lagi trend-nya dunia untuk kembali ke yang orisinil – kembali ke alam, kembali ke yang lebih menyehatkan. Apalagi bila ayam pop ini dimasak dari ayam kampung atau ayam organik – maka value proposition -nya sebagai masakan dari ayam yang lezat – yang bener-bener 100% rasa ayam – bukan rasa tepung, dan lagi sehat – maka insyaAllah masakan seperti Ayam Pop ini tidak akan punah seperti punahnya ingkung sekarang – bahkan sebaliknya, siapa tahu kelak ganti anak cucu kita yang menguasai industri masakan dunia karena orisinalitas dan kesehatannya. InsyaAllah...

 

Ayam Pop