Barakah Bukan Musibah…

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Ahad, 25 Agustus 2019

Barakah Bukan Musibah…

Artikel ini saya tulis di lapangan terbang karena untuk menghindari kemacetan akibat banjir, saya harus berangkat jauh lebih awal agar tidak ketinggalan pesawat. Hari-hari ini mayoritas penduduk Jakarta lagi berjuang mengatasi masalahnya sendiri-sendiri yang terkait dengan banjir ini. Tetapi benarkah kita harus melihat banjir ini hanya sebagai masalah ?, bisakah kita melihat ada peluang besar sekali yang tersembunyi di belakangnya ?.

 

Do’a yang diajarkan ke kita ketika melihat hujan adalah “Allahumma Shayyiban Naafi’an” atau terjemahan bebasnya “Ya Allah jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat”. Seolah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ingin mengabarkan bahwa ada hujan yang bermanfaat dan ada hujan yang tidak bermanfaat.

 

Hujan hari-hari ini di Jakarta nampaknya menjadi hujan jenis yang kedua, bisa jadi karena kita lalai bahwa hujan ini sebenarnya bisa menjadi hujan jenis pertama yaitu hujan yang bermanfaat.

 

Hujan jenis pertama ini juga kita jumpai dari sejumlah ayat antara lain : “Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam…” (QS 50:9) dan “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS 51:22).

 

Pertanyaannya adalah lantas bagaimana kita bisa mengambil manfaatnya yang lebih besar dari hujan ini, ketimbang efek sampingnya berupa mudharat seperti banjir yang saat ini kita hadapi  ?.

 

Pertama adalah merubah sikap dahulu, bahwa hujan itu adalah barakah dan melalui hujan inilah antara lain rezeki kita diturunkan dari langit. Yang kedua adalah kemudian mengelolanya dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di jaman ini agar yang seharusnya barakah sumber rezeki tersebut tidak malah menjadi musibah.

 

Bayangkan kalau Anda punya lahan yang luas dan subur, Apa yang Anda akan lakukan dengan lahan ini ? apakah membiarkannya ditumbuhi ilalang, dijarah orang dlsb sehingga Anda hanya sibuk mengeluarkan biaya untuk menjagainya tanpa memperoleh hasil dari lahan tersebut  ?.

 

Atau di  lahan negeri ini ada cadangan gas alam yang sangat besar, apakah kita biarkan menjadi letupan-letupan kebakaran di sana –sini atau kita mengelolanya sebagi sumber energi yang melimpah ?.

 

Makanan (Food), Energy dan Air (Water) atau disingkat FEW adalah tiga sumber pemenuhan kebutuhan pokok manusia yang teramat penting yang bahkan menjadi alasan-alasan perang sepanjang masa. Sumber –sumber FEW itu melimpah di negeri ini, masa kita persepsikan sebagai sumber musibah ?.

 

Bahwa ketiganya harus dikelola bersama, ini juga diajarkan oleh uswatun hasanah kita melalui sabdanya :Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput, air dan api” (Sunan Abu Daud, no 3745).

 

Maka setelah kita menyikapi air hujan sebagai sumber rezeki yang penuh barakah, sama dengan sumber-sumber pangan dan sumber-sumber energy, insyaAllah kita akan semangat menyongsong dan mengelolanya.

 

Para ahli kemudian dapat merumuskan bagaimana mengelola air yang turun berlimpah secara musiman ini, agar manfaatnya bisa di-spread sepanjang tahun sebagai sumber air baku untuk minum, untuk pengairan, untuk perikanan, penunjang berbagai industri dlsb.

 

Bayangan saya yang perlu dibuat tidak harus waduk yang sebesar-besarnya seperti yang disampaikan Gubernur DKI kemarin jawabannya, bisa saja waduk-waduk skala kecil tetapi menyebar di sejumlah lokasi yang tepat – insyaallah akan lebih efektif dan doable dengan melibatkan masyarakat luas. Tetapi ya Wa Allahu A’lam, diserahkan ke ahlinya untuk merancangnya yang paling efektif.

 

Untuk menyiapkan waduk-waduk dan sarana pengelolaan air yang paripurna ini tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit, untuk inipun saya sudah pernah menulis sarana pengumpulan dana’nya yang melibatkan masyarakat DKI melalui dana ta’awun.

 

Salah satu dari tiga sarana pemenuhan kebutuhan pokok manusia itu lagi tersedia melimpah ruah di Jakarta hari-hari ini, akankah kita biarkan terus menjadi musibah padahal sesungguhnya dia sumber rezeki yang penuh barakah ? Jawabannya bukan hanya ada pada para pemimpin kita, tetapi juga ada pada diri-diri kita.

 

Mulai menyikapinya secara benar, kemudian berikhtiar secara maksimal dengan ilmu dan petunjukNya – InsyaAllah air hujan yang melimpah ini akan kembali menjadi sumber rezeki yang penuh barakah. Amin.