
25 Artikel Terbaru
- Saya ‘Bermimpi Lagi’ Pak Kyai Di Sidang Kabinet…
- Ketika Orange Florida Menjadi Pahit…
- Budidaya Tanaman Yang Penuh Berkah…
- Beijing Yang Mengambil Tempe Dari Piring Kita…
- Sustainable Development and Poverty Eradication…
- Entrepreneurship ‘Pak Ogah’…
- Ketahanan Pangan A La Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam…
- Yang Berdampingan Dan Yang Diunggulkan...
- NEET : Penyakit Generasi Pemuda…
- Beyond AEC : Pelajaran Dari Kiwi…
- Kebunku Kebun Al-Qur’an…
- Pemerintah Selalu Bisa Menurunkan Harga BBM…
- Antara Marocco, California dan Jonggol…
- Ancaman (Peluang ?) Dari Negeri-Negeri Jiran…
- Mencari Kebahagiaan Dengan Membibit Sendiri Kurma...
- Kurma Untuk Pengentasan Kemiskinan…
- Lean Startup : Mulai Usaha Dengan Resiko Rendah…
- Memakmurkan Bumi Dengan Surat Yaasiin…
- Jalan (Tidak) Menyempit Di Ujung Cakrawala…
- Food, Energy & Water Dari Kurma…
- Menjadikan PetunjukNya Sebagai Panglima…
- ‘Wag The Dog’ Harga Emas…
- Land Grabs : Perburuan Lahan Pertanian Global…
- Harga Emas Dalam Perspektif Jangka Panjang…
- Bukan Harga Dan Bukan Biaya…
Harga Dinar per 6 jam
Harga Dinar
Harga Dinar-
Harga Dinar
Harga Dinar Emas per Thu, 23 May 2013 00:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,902,803 Beli Rp. 1,826,691
-
Harga Dinar
Harga Dinar Emas per Wed, 22 May 2013 18:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,928,553 Beli Rp. 1,851,411
-
Harga Dinar
Harga Dinar Emas per Wed, 22 May 2013 12:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,914,914 Beli Rp. 1,838,317
-
Harga Dinar
Harga Dinar Emas per Wed, 22 May 2013 06:30:00 +0700 adalah : Jual Rp. 1,909,219 Beli Rp. 1,832,850
Secangkir Kopi Pak Kyai…
- Details
- Kategori : Umum
- Published on Friday, 29 June 2012 06:02
- Oleh : Muhaimin Iqbal
Serombongan cendekiawan dan ulama muda datang mengunjungi Kyai Sepuh di sebuah pesantren kecil di desa. Meskipun dari pesantren kecil dan di desa pula, Kyai Sepuh ini kerap sekali menerima tamu dari berbagai kalangan untuk berbagai urusan. Kyai Sepuh ini terkenal dengan kemampuannya menyelesaikan berbagai persoalan yang rumit dengan caranya yang khas – sederhana dan agak mbanyol (ngelawak). Seperti biasa Pak Kyai akan mendengarkan dahulu masalah para tamunya, baru kemudian memberikan solusinya.
Maka satu demi satu rombongan cendekiawan dan ulama muda tersebut mengutarakan problemnya masing masing. Ada yang mengeluhkan problem dakwahnya yang mengalami hambatan di sana-sini karena kekurangan dana, ada yang mengeluhkan problem keluarganya, ada yang mengeluhkan hedonism masyarakat yang berpikiran serba materi, ada yang mengeluhkan kondisi umat yang semakin jauh dari tuntunan agamanya dlsb.dlsb.
Setelah semua tamunya berkesempatan menyampaikan uneg-uneg mereka, Pak Kyai minta ijin tamunya untuk mengambilkan kopi di belakang – saking sederhananya Pak Kyai ini sampai tidak memiliki pembantu. Tidak lama kemudian Pak Kyai datang dengan membawa teko panas berisi kopi, didampingi istrinya yang membawakan sejumlah cangkir.
Karena kesederhaannya pula di antara cangkir-cangkir tersebut tidak ada yang sama bentuk, model maupun ukurannya. Menyadari akan adanya rasa penasaran para tamunya, Pak Kyai-pun menjelaskan : “Anu, itu cangkir-cangkir yang ditinggalkan para santri yang sudah lulus dan keluar dari pesantren ini…”. Kemudian dia menyilahkan tamunya : “Silahkan ambil sendiri kopinya…”.
Setengah berebut, para tamunya memilih cangkir-cangkir yang paling baik untuk mengambil kopinya. Jumlah cangkir memang cukup dan semuanya mendapatkan cangkirnya, tetapi tentu saja yang duluan yang mendapatkan cangkir yang paling bagus.
Sambil memperhatikan tamunya menikmati kopi dari beraneka ragam cangkir, Pak Kyai –pun siap memberikan satu solusi untuk seluruh keluhan dan masalah yang disampaikan oleh tamu-tamu tersebut .
“Dari apa yang saya dengarkan tadi, dan dari cangkir-cangkir kopi yang kalian pegang – masalah kalian sebenarnya sederhana”. Dia melanjutkan : “Selama ini terasa rumit, karena kalian fokus pada cangkirnya bukan pada kopinya”. “Yang kalian butuhkan kopi karena yang meredakan dahaga adalah kopi – sedangkan cangkir hanyalah alat untuk bisa minum kopi”. “Bila kalian terlalu fokus pada alat, kalian tidak akan sampai pada tujuan…”.
“Sekarang fokuslah pada kopi kalian, maka cangkir yang berwarna-warni beraneka bentuk tidak akan mengganggu kenikmatan kopi kalian…!”.
Lalu Pak Kyai membacakan surat Ad Dzariyat – ayat 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
Lalu beliau menutup nasihat pada para tamunya : “Selama kalian tidak kehilangan fokus pada tujuan hidup kalian yaitu menyembah kepadaNya, selama kalian hanya mengajak masyarakat kalian untuk menyembah kepadaNya, insyaallah kalian tidak akan terganggu oleh aneka persoalan, kepentingan, golongan, pemikiran, partai dan sejenisnya.”
Para tetamu hanya manggut-manggut sambil menginstrospeksi diri, mereka mengurai permasalahan mereka masing-masing di dalam hati. Dalam hati pula sebagian mereka berkata : “Jadi selama ini kita berebutan cangkir, sampai melupakan kopinya sendiri”.
Kita ini sesungguhnya seperti para tetamu Pak Kyai tersebut, kita terlalu fokus pada cangkir sehingga malah tidak bisa menikmati kopinya. Pekerjaan kita, usaha kita, komunitas kita dan bahkan juga keluarga kita sesungguhnya hanya cangkir berbagai bentuk tadi. Kopinya adalah tugas kita untuk hanya beribadat kepadaNya.
Boleh saja membagus-baguskan cangkir tetapi tetap harus dalam rangka untuk dipakai menikmati kopi. Semangat membaguskan cangkir tidak boleh melalaikan kita sampai lupa tidak mengisinya dengan kopi. Cangkir-cangkir tersebut juga bukan pajangan, yang dinikmati keindahannya tetapi tidak digunakan untuk fungsi yang seharusnya – yaitu minum kopi.
Sekarang waktunya untuk belajar menikmati rasa ‘kopi’ itu, keindahan cangkir bisa menambah kenikmatannya – tetapi jangan melalaikannya. InsyaAllah.
Bagikan ke teman:
By A Web design Company