Swasembada Daging Nasional Dari Kambing, Mengapa Tidak…?

Gerai Dinar

Sumber Daya Bebas Bea Untuk Pendidikan, Pelatihan dan Pendampingan Usaha dan Kewirausahaan.
Selasa, 11 Desember 2018

Swasembada Daging Nasional Dari Kambing, Mengapa Tidak…?

Dalam tulisan saya tanggal 17 Maret 2009 lalu dengan judul Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10 % saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini ?, Wa Allahu A’lam – Departemen pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.

Dalam tulisan saya tanggal 17 Maret 2009 lalu dengan judul Dicari : Solusi Ekonomi Yang Tidak Mengandalkan Hutang saya ungkapkan bahwa untuk menurunkan kebutuhan daging impor hanya tinggal 10 % saja tahun 2010 (yang tinggal seminggu lagi), Indonesia membutuhkan tambahan 2.5 juta ekor sapi. Akan tercapaikah target ini ?, Wa Allahu A’lam – Departemen pertanian mungkin yang bisa menjawabnya karena saya cari datanya tidak ketemu.

 

Ketergantungan kita pada daging impor selama ini, bisa jadi karena persepsi yang terbangun selama ini di masyarakat adalah bahwa daging sapi-lah yang paling aman.  Karena pertumbuhan peternakan sapi membutuhkan modal yang besar, dan tingkat kelahiran anak sapi yang relatif rendah – membuat upaya mengejar kebutuhan daging secara nasional ini menjadi berat.

 

Sebenarnya ada sumber daging lain yang tidak kalah menariknya dari daging sapi, yaitu daging kambing. Hanya daging kambing ini selama ini sering dipersepsikan sebagai daging yang berbahaya bagi kesehatan, seperti koleterol tinggi dan lain sebagainya sehingga banyak dihindari.

 

Hal inilah yang harus diluruskan oleh pihak-pihak yang terkait di negeri ini, dengan riset yang memadai, penyuluhan ke masyarakat dlsb. Di Amerika misalnya, United State Department of Agriculture (USDA) telah mempublikasikan  kajiannya sepertti dalam table diatas.

 

Dari table diatas kita tahu bahwa dari kajian mereka ini, ternyata stiap berat yang sama daging kambing mengandung lebih sedikit lemak, lemak jenuh dan kolesterol dibandingkan dengan daging sapi dan bahkan lebih rendah juga dari daging ayam !.

 

Apakah daging kambing, sapi dan ayam di Indonesia berbeda dari yang di Amerika ?, perlu diteliti lebih detil – tetapi dugaan saya sendiri mestinya tidak jauh berbeda. Asumsinya  data dari USDA tersebut memang benar; bukankah ini peluang besar bagi negeri ini untuk bisa mandiri dan mencukupi kebutuhan dagingnya dari dalam negeri sendiri ?.

 

Kambing lebih mudah diproduksi secara masal, karena untuk beternak kambing tidak dibutuhkan modal yang besar. Kemudian kecepatan pertumbuhannya yang mencapai 3/2 ( tiga kali beranak dalam dua tahun) insyallah akan semakin memudahkan pencapaian pemenuhan kebutuhan daging nasional ini.

 

Efek ekonominya akan luar biasa bagi bangsa ini; pertama kita tidak akan lagi menghambur-hamburkan devisa setiap tahunnya untuk mengimpor kebutuhan daging nasional; kedua akan ada penyebaran kesejahteraan yang meluas ke masyarakat – asal mau saja – masyarakat kita pasti bisa pelihara kambing !.

 

Lagi pula memelihara (menggembala) kambing ini juga profesi para nabi sebelum mereka menjadi nabi; pasti banyak pesan yang terkandung didalamnya – yang barangkali belum semuanya bisa kita pahami, tetapi sedikit-demi sedikit pesan tersebut terkuak bila kita terjun kedalamnya.

 

Bagi masyarakat yang ingin belajar perkambingan ini, kami menyediakan fasilitas di lokasi Pesantren Wirausaha kami yang juga secara berkelakar kita sebut sebagai Center of Kambingnomics – di Jonggol, Bogor.  Belajar perkambingan di tempat ini adalah gratis dan Anda bisa membawa anak-anak sambil berlibur…; bagi yang datang dari luar kota tersedia penginapan – hanya harus kontak kami sebelumnya agar tidak bentrok dengan jadwal rombongan lain yang kemungkinan menggunakan fasilitas yang sama.

 

Semoga dengan langkah kecil ini, kita bisa berkontribusi dalam mengerem kebutuhan impor daging nasional  sekaligus juga menyebar luaskan kemakmuran ke masyarakat – Hal jazaa ul’ ihsaani illal ihsaan.