Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Sejak diputuskan hampir 20 tahun silam, bahan bakar utama untuk rumah tangga Indonesia yang berbasis LPG terus menyedot subsidi dan menguras devisa. Subsidi tahun lalu lebih dari Rp 40 trilyun, dan impor masih akan membengkak sampai beberapa tahun ke depan.


Setidaknya sampai tahun 2024, kebutuhan LPG kita yang akan mencapai sekitar 12 juta ton saat itu, kurang dari 2 juta ton yang bisa diproduksi dalam negeri. Artinya kita masih akan impor lebih dari 10 juta ton per tahun hingga saat itu.
Kalau saja kita bergerak dengan cepat dalam riset dan pengembangannya, mestinya kita bisa punya solusi yang jauh lebih awal. Setidaknya saya melihat dua rute yang bisa kita tempuh untuk memproduksi renewable LPG yang 100% produksi dalam negeri, yang selain carbon neutral, ramah lingkungan juga memberdayakan masyarakat, inilah yang saya sebut Bio-LPG.
Rute pertama menggunakan minyak nabati non-pangan seperti tamanu. Dengan catalytic cracking antara lain akan dihasilkan propane dan butane, yang campuran keduanya adalah LPG.
Kalau bahan baku minyak nabati non-pangan belum cukup, bahan baku yang melimpah adalah limbah pangan, sampah pasar dan bahkan endapan lumpur limbah cair perkotaan. Bisa juga ditanam khusus biomasa yang tumbuh sangat cepat seperti microalgae.
Melalui proses Anaerobic Digestion dengan microbial community tertentu, bahan-bahan tersebut bisa diubah menjadi Volatile Fatty Acids (VFAs), yaitu asam lemak rantai pendek seperti acetic, propionic, butyric acids dlsb.
Ketika VFAs tersebut dilepas CO2-nya melalui proses enzymatic misalnya, maka keluarannya antara lain akan berupa propane dan butane, yang campuran keduanya menjadi LPG, sama dengan yang di atas. Adapun limbah CO2-nya agar tidak
mencemari udara, bisa di re-cycle untuk menjadi ‘makanan’ yang sangat dibutuhkan untuk budidaya microalgae.
Begitu seterusnya siklus ini berputar, mengatasi sampah organic, limbah perkotaan dan merintis jalan untuk energi bersih yang mandiri.
Tentu implementasinya butuh R&D dan skills yang mumpuni, namun semakin cepat kita mulai, akan semakin cepat pula kita mandiri. InsyaAllah.