Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Hingga akhir milenium lalu kita membayar percakapan telpon interlokal apalagi internasional dengan sangat mahalnya, saat itu siapa yang sangka bahwa satu dua dasawarsa berikutnya video conference internasional-pun bisa gratis.


Mungkin-kah listrik akan mengalami nasib yang sama? Seorang ‘wali’ di Jawa Timur sudah memprediksi ke arah sana. Tetapi saya menjelaskannya dengan nalar orang awam seperti kita-kita.
Di dasawarsa SDG ini, khususnya menjelang due date NDC (Nationally Determined Contribution) masing-masing negara untuk penurunan emisi yang jatuh tempo 2030, semua akan bergegas untuk mencapai targetnya.
Negara-negara maju seperti Eropa bahkan sudah sangat disiplin menerapkan aturan emisi ini. Dampaknya adalah harga carbon credit melonjak hampir 100% sembilan bulan ini saja.
Satu unit carbon credit yang setara penurunan emisi CO2 satu ton, awal tahun ini harganya baru 33 Euro, sepekan terakhir sudah bertengger di atas 60 Euro.
Kabar baiknya adalah pelaku industri atau komersial yang berbuat untuk menurunkan emisi, biaya listrik mereka akan sangat mungkin bisa dibayar dengan cukup oleh carbon credit yang diterimanya.
Saya beri ilustrasi di bawah untuk industri yang memasang 1 MW solar panel misalnya. Dengan tingkat biaya listrik sekarang dan harga carbon credit sekitar 60 Euro di EU ETS ( emission trading system), biaya penggunaan listrik sudah bisa tersubsidi hingga 44% oleh carbon credit solar energy-nya.
Asumsi saya listrik akan naik antara 5% -7.5% pertahun, sedangkan carbon credit akan naik 10%-20% pertahun setidaknya hingga 2030. Maka kita lihat di grafik, biaya listrik bisa saja sepenuhnya gratis atau ter-offset oleh carbon credit sepenuhnya tahun 2024 atau 2025, yaitu bagi industri yang beralih ke solar panel tersebut.
Ini bisa dilakukan bila seluruh proses peralihan energi termasuk peralatannya terdokumentasi dan tersertifikasi sesuai standar EU ETS - yaitu pasar carbon credit yang saat ini sudah matang, bisa saja kita memiliki pasar sendiri pada waktunya nanti.
Hal yang sama tentu saja sangat bisa dilakukan juga dengan menanam pohon untuk serapan CO2-nya, terutama bila listrik kita masih harus menggunakan fosil.
Lantas aoa masih diperlukan peran utility company seperti PLN, bila listrik bisa gratis? Tentu tetap perlu, hanya PLN harus ancang-ancang untuk merubah bisnis modelnya, PLN bisa belajar dari transformasi model bisnis yang dilakukan oleh Indosat misalnya, semula pendapatannya dari percakapan internasional menjadi dari quota data. PLN bisa berubah dari produsen dan penyedia energi, menjadi marketplace energi misalnya.
Masyarakat industri dan komersial yang sering cemas dengan biaya listriknya, kini sudah bisa mulai bicara dengan kami untuk skema yang disusun oleh teman-teman di Indonesia Net Zero Initiative (INZI) tersebut di atas, untuk solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhannya.