Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed
Alam semesta yang sudah berusia sangat tua belasan milyar tahun dan sangat besar sehingga bumi yang kita tinggali ini bak butir pasir di padang pasir, bisa dirusak oleh makhluk yang sangat kecil dan berusia sangat pendek - itulah manusia.
Maka Pencipta kita berpesan kepada manusia ini, agar tidak mengganggu keseimbangan alam semesta tersebu. Lebih jauh Dia juga mengamanahkan kepada manusia pula untuk menegakkan kembali keseimbangan yang sudah terganggu dengan keadilan (QS 55 :8-9).
Alhamdulillah sebagian manusia yang hidup di zaman ini menyadari bahwa kita telah mengganggu keseimbangan alam semesta, dan berusaha memperbaikinya.
Di negara industri maju seperti Uni Eropa, kesadaran untuk tidak mengganggu keseimbangan alam itu diwujudkan demgan sistem kompensasi yang tegas bagi pencemar emisi, mereka harus membeli ‘carbon allowance’ yang dananya untuk membiayai proyek-proyek penyerapan carbon.
Sistem yang mereka sebut EU ETS (Emissions Trading System) atau yang lebih dikenal dengan Carbon Trading tersebut kini sudah menjadi pasar carbon yang matang, setelah memasuki dasawarsa kedua sejak diluncurkan 2005. Bahkan dalam 9 bulan terakhir sejak Januari 2021 hingga kemarin, harga carbon melonjak nyaris dua kalinya dari sekitar 33 Euro/ton Januari lalu menjadi 64 Euro/ton per kemarin. Ini mengisyaratkan betapa mahalnya ikhtiar menjaga keseimbangan alam ini.
Kita memang tidak harus mencontoh persis seperti yang mereka lakukan, tetapi kita kudu punya system penjagaan keseimbangan alam ini yang benar-benar ditegakkan dengan keadilan, sehingga minimal sama atau bahkan lebih efektif dari sistem yang mereka buat.
Sambil menunggu pemerintah kita membuat dan menegakkan keadilan yang terkait keseimbangan alam ini, masyarakat awam seperti kita-kita juga bisa berbuat.
Rata-rata kita di Indonesia mengeluarkan emisi setara carbon sekitar 2.2 ton per kapita per tahun. Kalau masing-masing kita menanam 7 pohon yang bisa hidup kurang lebih seusia kita - seperti pohon tamanu atau nyamplung - maka insyaAllah emisi kita telah kita offset dengan serapan carbon yang setara.
Karena tidak semua orang bisa menanam 7 pohon ini, menjadi peluang bagi yang lain untuk mendapatkan janji Nabi SAW berupa pahala yang mengalir hingga hari kiamat, yaitu dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya. Dan gerakan ini kini kita fasilitasi dengan apa yang kita sebut Green Waqf.
Barangkali ini pula hikmahnya, mengapa ketika hari kiamat telah datangpun bagi mereka yang masih memegang bibit pohon tetap diperintahkan untuk tetap menanamnya. Isyarat bahwa akan ada orang-orang yang senantiasa menanam pohon, menjaga keseimbangan alam, hingga hari kiamat yang terjadi dengan tiba-tiba-pun di tangan mereka masih memegang bibit pohon, dan mereka akan tetap menanamnya.