Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed

Negeri yang memiliki nyaris 17,500 pulau ini sangat kaya dengan apa yang disebut kearifan lokal. Sayangnya kearifan ini justru belum dimanfaatkan untuk dua kebutuhan utama kita yaitu pangan dan energi.


Dalam pangan kita memaksakan diri untuk makan makanan yang sama, utamanya beras. Bahkan juga mengimpor 100% secara masif bahan pangan yang tidak kita tanam yaitu gandum.
Dalam bidang energi, khususnya bahan bakar - kita masih terlalu fokus di fosil, meskipun kita tahu dia akan habis, meskipun harus nenguras devisa untuk mengimpornya sekitar separuh dari kebutuhan kita.
Waktunya kita untuk kembali menoleh ke kearifan lokal kita untuk mensolusikan masalah ini. Dalam hal solusi bahan bakar misalnya, para wali 6 abad silam sudah mengkampanyekan gerakan penanaman nyamplung atau tamanu. Pohon peneduh yang bisa hidup di pantai yang berair asin sekalipun, buah pohon ini mengandung energi sangat tinggi - yaitu minyak yang bisa mencapai lebih dari 70% dari berat kernel-nya.
Di zaman ini minyak tamanu bisa dengan relatif mudah diubah menjadi bahan bakar renewable diesel, bensin bahkan juga LPG. Teknologi utamanya sudah sangat matang karena juga digunakan di pengolahan industri minyak berbasis fosil.
Hanya di era biofuel, teknologi yang disebut Fluid Catalytic Cracking (FCC) ini tidak harus dibuat dalam bentuk kilang minyak yang sangat besar, bisa dibuat dalam skala micro, sehingga bisa dioperasikan oleh Badan Usaha Milik Desa di desa yang sangat terpencil sekalipun.
Di Indonesia saat ini menurut data pemerintah sudah ada lebih dari 480,000 hektar tanaman ini yang menyebar ke nyaris seluruh provinsi. Kalau ini saja kita olah, kita sudah memiliki minyak baru - atau yang kami sebut Nu Oil - dari Tamanu Oil - yang setara sekitar 40,000 Barrel Per Day (BPD).
Ini tentu sangat cukup untuk mulai proses pembelajarannya, selebihnya ya harus kita tanam lagi di 14 juta hektar lahan kritis dan sangat kritis yang kini menyebar di 33 propinsi. Bila inipun kita lakukan, insyaAllah tahun 2030 kita sudah akan punya produksi sekitar 1.2 juta BPD Nu Oil ini.
Lebih dari sekedar penemuan minyak baru, Nu Oil juga mengusung konsep Local Fuel - yaitu bahan bakar yang diproduksi dan digunakan di daerah yang sama. Dengan demikian Nu Oil akan menjadi solusi yang sangat efektif di era Net Zero, dimana setiap emisi CO2 yang kita keluarkan, harus diimbangi dengan serapannya yang sepadan.
Nu Oil menekan emisi CO2 melalui dua hal, yang pertama dia sendiri bersifat carbon neutral karena emisi pembakarannya di-offset dengan CO2 yang diserap oleh pertumbuhan tanamnya. Kedua, dia diproduksi dengan konsep Local Fuel, yaitu dengan carbon tracing yang sangat rendah dalam pengangkutan dan logistiknya, karena diproduksi dan digunakan di daerah yang sama tersebut.
Kami sudah mengidentifikasi satu kepulauan terpencil untuk pilot project-nya, namun bila daerah Anda juga tertarik untuk memulainya lebih awal, Anda dapat juga belajar bareng kami.