Kelapa Dua Raya 189 Depok, Jawa Barat 16951 Indonesia
+(62) 856-93-010101 admin@geraidinar.com
Mon - Fri 8.30 - 16.00 National Holiday Closed
Diantara teknologi pengolahan pangan yang paling kuno itu adalah keju, yang tertua ditemukan ada yang berusia 7, 200 tahun. Tetapi bagaimana nenek moyang kita bisa tahu bahwa ada rennet - gabungan enzim protease komplek khususnya chymosin, yang diambil dari perut hewan - yang bisa menggumpalkan protein (casein) yang ada di dalam susu?
Manusia modern hanya bisa menduga bahwa itu terjadi kebetulan, konon ketika nenek moyang kita menyimpan susu dalam qirbah - wadah air yang terbuat dari kantung kemih hewan, maka menggumpal-lah protein susu menjadi keju.
Tetapi saya tidak percaya teori kebetulan ini, bahkan bukan hanya manusia , hewan dan tanaman-pun diberi ilham untuk mampu mengatasi persoalan hidup yang dihadapi di jaman masing-masing. Akar jamur yang sangat lemah-pun bisa menembus batu yang paling keras. Ketika tanaman besar yang perkasa tidak bisa hidup di atas batu, jamur hitam yang sangat lemah justru bisa leluasa hidup di atasnya.
Apa persamaan keju dan jamur yang bisa hidup di atas batu tersebut? Keduanya membutuhkan enzim, senyawa universal yang dibekalkan oleh Sang Pencipta alam semesta kepada seluruh penghuni bumi, dari yang paling kecil sampai yang paling besar - agar mereka bisa memecahkan persoalan hidupnya.
Kalau dengan enzim yang nama zatnya-pun belum diketahui pada zamannya - mereka bisa memisahkan protein dari air susu, lantas apa yang bisa kita lakukan dengan enzim di zaman super modern ini?
Di dalam perut ternak kita saja bukan hanya chymosin yang ada, ada ribuan jenis enzim-enzim lainnya. Bila dengan chymosin sudah ribuan tahun manusia bisa membuat keju, apa yang bisa kita lakukan dengan phosphatase, lipase dan decarboxylase misalnya? semuanya ada dalam perut hewan yang sama.
Dengan tiga enzim ini kita akan bisa membuat bahan bakar kita sendiri seperti diesel, bensin dan LPG , semudah kita membuat keju. Untuk ini kita hanya butuh minyak nabati yang mudah kita tumbuhkan di tanah-tanah kita yang paling gersang sekalipun.
Itulah antara lain mengapa kami di Green Waqf mengajak masyarakat untuk menanam tamanu atau nyamplung sebanyak-banyaknya, karena disinilah terletak salah satu harapan terbaik kita untuk masyarakat bisa mandiri energi sampai ke pelosok-pelosok Nusantara ini.
Pohon besar tidak hidup di atas batu, tetapi jamurlah yang tumbuh di sana. Untuk membuat keju tidak membutuhkan perusahaan-perusahaan besar, masyarakat kebanyakan asal mau belajar saja bisa melakukannya, maka demikian pulalah urusan kemandirian energi itu seharusnya.